
Rumah Pak Salim.
"Tante Tika dimana Yah?" tanya Anin menengok kedalam kamar Ayahnya dan tidak melihat Tante Tika sama sekali.
"Pagi-pagi sekali dia sudah pergi ke Jakarta," jawab Pak Salim.
"Ke Jakarta?" gumam Anin dengan mengerutkan keningnya.
"Dia bilang ingin mendengar penjelasan langsung dari anaknya," Pak Salim menatap kesembarang arah, Anin dapat melihat dengan jelas kesedihan di wajah Ayahnya itu.
"Yah, Anin minta maaf karena masalah rumah tangga Anin sudah membuat Ayah dan Tante Tika --- " Anindita menundukan kepalanya.
"Ayah yang seharusnya minta maaf padamu, karena pernikahan Ayah sudah membuat kau memiliki saudara tiri yang justru merebut suamimu." Pak Salim mengusap rambut Anin. "Ayah pikir dengan Ayah menikah lagi, kau akan mendapatkan sosok Ibu pengganti sekaligus adik yang bisa menjadi temanmu. Tapi kenyataan justru --- " Pak Salim menundukan kepalanya menahan rasa sedih di hatinya.
Anin langsung memeluk Ayahnya dengan perasaan yang sangat sedih, Anin tidak pernah menyangka Ayahnya menyalahkan dirinya sendiri karena nasib pernikahannya.
"Ayah tidak boleh berkata seperti itu, ini semua sudah takdir dari yang di atas." Anin menghapus air mata Ayahnya yang terjatuh, wajah tua yang seharusnya hidup bahagia kini bersedih karena dirinya.
"Kapan kau akan mengurus perceraianmu?" tanya Pak Salim dengan mengusap air matanya.
"Secepatnya," jawab Anin dengan tersenyum getir.
"Bagus Nak, kau berhak melanjutkan hidupmu dengan bahagia."
Anin hanya tersenyum mendengar ucapan Ayahnya, Anin sendiri tidak yakin apa dirinya bisa hidup bahagia tanpa Mas Adam di sisinya.
............
Jakarta.
__ADS_1
Alya yang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Restaurant Red Mample untuk bertemu dengan mantannya. Dikejutkan oleh kedatangan Ibunya yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Bu... !" seru Alya menatap Ibunya.
Ibu Tika langsung masuk kedalam rumah dan disusul oleh Alya yang masih terkejut Ibunya berada di rumahnya. Tanpa banyak berkata Ibu Tika langsung membalikan tubuhnya dan menampar Alya dengan sangat keras hingga membuat Alya terkaget dengan apa yang di terimanya.
"Bu... " pekik Alya dengan memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Ibunya.
"Alya kusumawati.. ! apa yang sudah kau perbuat nak?" tanya Ibu Tika dengan mata yang memerah dan wajah yang sedih.
"Bu," lirih Alya.
"Jangan panggil aku Ibu," seru Ibu Tika dengan tangis yang mulai kencang. "Aku tidak pernah punya anak yang tidak tahu terima kasih," ucap Ibu Tika dengan tajam. "Kenapa kau tega melakukan semua ini pada Anindita? kenapa Alya?" jerit Ibu Tika.
"Bu, jadi kau menamparku karena Anindita?" ucap Alya dengan suara yang meninggi. "Aku ini anakmu bu? kenapa kau malah membela Anin?" ujar Alya yang mulai ikut menangis.
"Membantu apa Bu? aku tidak pernah meminta Pak Salim membantu keluarga kita!" ucap Alya dengan sinis. "Dan untuk Anindita, dia pantas mendapatkan semuanya karena selalu membuat Ibu menangis karena perbuatannya yang kasar pada Ibu."
"Alya, kenapa kau jadi seperti ini? Anin bersikap seperti itu pada Ibu karena dia merasa Ibu sudah mengambil Ayahnya. Dan Ibu memakluminya," jawab Ibu Tika.
"Ibu dapat memakluminya, tapi aku tidak pernah terima Ibu di perlakuan seperti itu." ucap Alya masih dengan tangisnya. "Aku terluka setiap Anin mengacuhkanmu, setiap Anin berkata kasar padamu bu," isak Alya dengan kencang.
Ibu Tika yang mendengar isi suara hati anaknya yang terluka, langsung memeluk Alya dengan perasaan bersalahnya. Ibu Tika baru menyadari, pernikahannya dengan Pak Salim tidak hanya melukai Anindita tapi juga Alya.
"Bu, apa aku salah mendapatkan sedikit kebahagian? Anin sudah memiliki semuanya Bu, aku pun ingin memiliki seperti yang Anin punya. Dengan aku menikahi Mas Adam, aku punya semua yang aku butuhkan. Dan aku bisa membawamu ke rumah ini untuk tinggal denganku, agar Ibu tidak lagi mendapatkan penghinaan dari Anindita." Ucap Alya menatap pada Ibunya dengan wajah yang bersedih.
"Tapi bukan seperti itu caranya Alya!" ucap Ibu Tika mengelus rambut putrinya. "Dan Ibu pun tidak bisa meninggalkan Pak Salim, karena sudah begitu banyak jasa Pak Salim pada keluarga kita." Ibu Tika menghela Nafasnya dengan sangat panjang. "Kalau tidak ada Pak Salim entah jadi apa kau ini Nak? Ibu yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak punya uang sama sekali merasa bersyukur dengan kedatangan Pak Salim. Yang dengan baik hati mau menerima Ibu dan juga kau Nak, membiayai sekolahmu dan tidak pernah membeda-bedakan antara kau dan Anin," ucap BuTika panjang lebar.
"Aku bilang, aku tidak pernah memintanya. Dan bila perlu aku akan menghitung semua uang yang sudah di keluarkan olehnya dan aku akan menggantinya." Ucap Alya dengan sombong.
__ADS_1
"Alya," lirih Ibu Tika dengan mengelengkan kepalanya. Ibu Tika merasa Alya sudah banyak berubah, Alya yang sekarang sudah dibutakan oleh dendam dan harta.
"Sudah cukup Bu, aku harus pergi sekarang karena aku ada janji dengan seseorang. Aku harap Ibu mau tinggal di sini bersama denganku, karena saat ini aku sedang mengandung Bu. Aku yakin Anin pasti sudah memberitahu tentang kehamilanku! aku butuh Ibu disampingku." Pinta Alya.
"Ibu tidak bisa Nak, ibu justru datang kesini untuk membawamu pulang dan meminta maaf pada Pak Salim dan terutama Anindita."
"Apa? jadi Ibu datang kemari hanya untuk menyuruhku meminta maaf pada mereka?" pekik Alya dengan tersenyum sinis. "Sampai kapan pun aku tidak akan meminta maaf pada mereka," ucap Alya dengan tegas.
"Alya Ibu mohon sayang," pinta Ibu Tika.
"Bu, aku bilang tidak ya tidak... ! Aku -- " belum sempat meneruskan perkataannya Alya mendengar suara ponselnya yang berdering dan melihat pada layar ponsel dengan wajah yang pucat.
"Bu, aku harus pergi sekarang. Dan terserah Ibu jika Ibu tidak mau tinggal di rumahku." Alya langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar dari rumahnya dengan terburu-buru meninggalkan Ibu Tika yang masih menangis diruang tamu. Ibu Tika tidak pernah menyangka kalau putrinya benar-benar sudah sangat berubah.
..........
Restaurant Red Mample.
Dengan terburu-buru Alya masuk kedalam Restaurant dan melihat ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang di kenalnya.
"Ada apa kau memintaku kemari?" tanya Alya setelah berada di depan sebuah meja. Dimana seorang pria sedang duduk dengan senyum di wajahnya.
"Duduklah dulu," pinta pria tersebut.
"Aku tidak punya banyak waktu, jika tidak ada yang ingin kau katakan maka aku akan pergi sekarang juga?" ujar Alya yang sudah ingin melangkahkan kakinya, namun tangannya langsung di tahan oleh pria tersebut.
"Apa ini?" tanya pria tersebut menyerahkan sebuah amplop pada Alya.
Alya yang menerima Amplop itu langsung terkejut saat melihat tulisan Rumah Sakit Ibu dan Anak Grand Family, karena Alya tahu betul apa isi di dalam amplop tersebut.
__ADS_1