Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 38 Keputusan Adam


__ADS_3

Anin yang sudah berada di dalam taksi terus saja menangis, harapan satu-satunya hilang sudah saat dirinya mengetahui kalau Alya memang sedang mengandung. Ponsel Anin yang terus berdering karena Mas Adam yang menghubunginya pun tidak diangkat sama sekali oleh Anin.


Adam yang sudah menunggu di depan kantor Anin, melihat Anin yang turun dari taksi berjalan cepat kearah gedung tempatnya kerja.


"Anin tunggu.... !" teriak Adam


"Mas, kita bicarakan ini nanti malam. Kepalaku pusing mas." Anin kembali berjalan namun tangannya langsung di tarik oleh Mas Adam.


"Sebentar saja," pinta Adam.


"Aku bilang nanti malam Mas." Anin menghempaskan tangan Mas Adam dan kembali masuk kedalam kantornya.


Adam pun hanya bisa terdiam menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. Setelah melihat Anin yang sudah masuk kedalam kantor, Adam pun masuk kedalam mobil menuju perusahaannya.


Di ruang kerja Pak Andre.


Anin yang tadi sempat ijin sebentar ke Rumah Sakit langsung di tanya oleh Pak Andre. Andre yang sudah tahu dari Mita kalau Anin sudah bersama dengan suaminya, sudah bisa mundur dari perasaan cintanya. Tapi Andre tetap perduli dengan keadaan Anin.


"Aku tadi sempat mengira kalau kau yang sakit," ujar Andre.


"Bukan Pak," jawab Anin dengan singkat.


"Baiklah kau boleh kembali keruanganmu," ucap Andre setelah menerima semua berkas dari tangan Anin.


"Pak, aku ingin memberikan ini." Anin menyerahkan sebuah amplop pada Pak Andre.


"Apa ini?" tanya Andre membuka amplop yang di berikan oleh Anin.


"Itu surat pengunduran diriku," jawab Anin dengan suara yang terdengar pelan.


"Pengunduran diri? kenapa kau mengundurkan diri dari perusahaan ku?" tanya Andre dengan terkejut.


"Aku sudah terlalu banyak merugikan perusahaan dengan cara kerjaku yang sering meminta ijin." Ucap Anin dengan menundukan kepalanya.


"Tapi aku tidak keberatan, kau tidak perlu sampai mengundurkan diri." Andre menaruh surat pengunduran diri Anin di atas mejanya.


"Tapi Pak, ada beberapa alasan lagi yang tidak bisa aku katakan."


"Apa karena suamimu melarangmu untuk kerja di tempatku?" tanya Andre menatap intens pada wajah Anin.

__ADS_1


"Aku, --- " Anin kembali terdiam.


"Baiklah, kau tidak perlu mengatakan apa pun. Aku tidak bisa menahanmu lagi jika itu sudah berkaitan dengan urusan pribadimu." Andre menghela nafasnya dengan panjang. Sebenarnya Andre sudah dapat menebaknya, cepat atau lambat Anin pasti akan mengundurkan diri dari kantornya.


Setelah selesai berbincang dengan pak Andre, Anin kembali ke dalam ruangannya dan mengerjakan semua tugas yang masih harus diselesaikannya. Anin juga harus membereskan semua barangnya, karena mulai besok dirinya sudah tidak bekerja di kantor Pak Andre lagi.


"Anin, aku itu lama sekali menunggumu di kantin. Kau malah masih di ruanganmu?" gerutu Mita yang sudah masuk kedalam ruangan Anindita dan melihat semua barang-barang yang di masukan kedalam box.


"Kenapa barang-barangmu di masukan kedalam Box?" tanya Mita menatap pada Anin yang sibuk di depan laptopnya.


"Mulai besok aku tidak lagi bekerja disini," jawab Anin, tanpa menoleh kearah Mita.


"Tidak lagi bekerja di perusahaan Mas Andre? maksudmu kau di pecat atau bagaimana?" tanya Mita dengan terkejut.


"Aku mengundurkan diri," jawa Anin, yang masih sibuk di depan laptopnya dengan jari lincahnya mengetik di atas keyboard laptop.


"Kenapa kau mengundurkan diri? ada apa nin?" tanya Mita dengan wajah yang cemas. Membuat Anin menghela nafasnya dan menghentikan tangganya yang sejak tadi berada di keyboard laptop dan langsung menatap kearah Mita.


"Kau tahu Mit, Alya memang sedang mengandung anak Mas Adam." lirih Anin.


"Apa kau sudah memastikannya ke Dokter kandungan?" tanya Mita.


"Sudah, dan hasilnya memang Alya sedang mengandung." Ucap Anin.


"Air mataku sudah habis Mit," jawab Anin dengan tersenyum getir.


"Lalu kenapa kau malah mengundurkan diri dari pekerjaanmu?" tanya Mita masih dengan memeluk tubuh sahabatnya.


"Aku harus mengundurkan diri, karena aku tahu kemana semuanya ini akan berakhir."


"Kenapa kau jadi pesimis seperti ini?"


"Aku bukan pesimis, tapi aku harus bersikap realita." Lirih Anin masih dengan senyum sinisnya.


"Realita?" tanya Minta dengan menaikan kedua alis matanya.


"Ya realita, Adam itu seorang pria yang pasti menginginkan seorang keturunan dalam hidupnya. Dan Alya kini sedang mengandung anaknya. Lalu apa lagi yang aku harapkan dari semuanya ini? kau kan tahu aku tidak mau hidup dengan berbagi suami."


Mita yang sudah tahu betul siapa Anin, sudah dapat menebak pilihan Anin saat pertama kali masalah ini di dengarnya.

__ADS_1


"Apa pun keputusan kau dan Adam, mudah-mudahan itu yang terbaik untukmu." Mita kembali memeluk Anin.


"Terima kasih Mit." Anin membalas memeluk Mita.


........


Anin yang sudah pulang dari kerjanya, masuk kedalam rumah dan tidak melihat Alya sama sekali. Anin yang sudah lelah langsung masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan menunggu Mas Adam di dalam kamarnya.


Anin yang menunggu Mas Adam, menatap pada foto pernikahannya yang tidak pernah sekali pun di pajang di dalam kamarnya dan hanya tersimpan di dalam laci lemari.


"Seandainya semua ini tidak terjadi, pasti saat ini aku masih menjadi wanita yang bahagia karena mencintai dan di cintai oleh mu Mas," lirih Anin masih menatap foto pernikahannya.


Anin yang masih menatap pada foto yang ada di tangannya, langsung terkaget saat pintu kamarnya di buka.


"Mas," Anin melihat Mas Adam yang masuk dengan wajah yang terlihat lesu.


"Kau belum tidur?" tanya Adam yang berjalan masuk kedalam kamar dan menaruh tas kerjanya di atas sofa kecil.


"Belum, karena aku menunggumu. Kita harus berbicara," ujar Anin. "Duduk sini Mas," pinta Anin menepuk disampingnya.


Adam yang tahu apa yang akan di bicarakan oleh Anin, mau tidak mau berjalan dan duduk diatas tempat tidur tepat di samping tubuh istrinya.


"Mas, kau harus memilih aku atau Alya." Ucap Anin langsung to the point.


Adam yang mendengar perkataan Anin langsung menghela nafasnya dengan berat. "Kau tahu kalau aku mencintaimu, tapi kalau harus meninggalkan Alya yang sedang mengandung aku -- " Adam tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Kalau kau tidak bisa memilih, biar aku yang pergi Mas." lirih Anin yang sudah meneteskan air matanya.


"Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku." Adam sudah berlutut di depan Anin dengan menggenggam tangan istrinya itu. "Tidak bisakah kita hidup seperti ini, aku akan memindahkan Alya kerumah yang lain."


"Mas, bukan masalah memindahkan Alya kerumah yang lain. Tapi kau kan tahu prinsip di hidupku, aku tidak mau hidup di dalam rumah tangga yang berpoligami." ucap Anin yang masih menangis dengan menundukan kepalanya.


"Tidak bisakah kau melupakan prinsip hidupmu itu, demi cinta kita." pinta Adam dengan memegang wajah Anin dan mulai menghapus air mata yang terjatuh di pipi Istrinya itu.


"Dan bisakah kau tinggalkan anakmu yang ada di dalam kandungan Alya demi cinta kita," balas Anin dengan tangan yang juga memegang wajah Mas Adam.


"Aku -- " Adam tidak bisa menjawabnya.


"Tidak bisakan Mas, begitu juga diriku." lirih Anin. "Aku tidak bisa hidup dengan berbagi suami, walaupun aku tahu kau tidak mencintai Alya." Anin menatap wajah suaminya yang terlihat menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah kalau memang tidak ada jalan keluar yang lainnya, aku akan menceraikan Alya jika itu mau mu," ucap Adam dengan tegas.


Anin yang mendengarkan keputusan Mas Adam, hanya bisa tersenyum pada suaminya itu. Anin merasa sangat terharu seorang Adam Dharmawan yang begitu penuh tanggung jawab dalam hidupnya lebih memilih dirinya dan melupakan tanggung jawabnya pada Alya yang sedang mengandung anaknya.


__ADS_2