Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 32 Bali 3


__ADS_3

Adam yang baru keluar dari toilet, melihat Anin yang sudah tertidur di atas tempat tidur. Sesaat Adam pun tersenyum, karena Anin sudah mau tidur di tempat tidur dan tidak memilih tidur di atas sofa.


"Drt... drt." Adam menatap layar ponselnya yang bertuliskan Alya dan segera mengangkatnya.


"Sayang, aku rindu padamu" ucap Alya.


"Ada apa kau menelepon ku?" tanya Adam.


"Mas, kok tumben kau tidak membalas perkataanku?" tanya Alya dengan nada suara yang sedih.


"Ya, aku merindukan mu juga," ujar Adam yang tidak mau melukai hati Alya.


"Gitu dong Mas, oh ya aku menghubungimu karena ingin memberitahu kalau Kak Anin sampai detik ini belum juga pulang." ujar Alya dengan senyum liciknya.


"Anin, ---- " Baru saja Adam akan menjawab kalau Anin ada bersamanya di Bali, namun Alya sudah memotong pembicaraannya terlebih dahulu.


"Mas apa kau tidak curgia sama sekali dengan Kak Anin dan teman laki-lakinya yang tempo hari itu? apa saat ini Kak Anin sedang bersama pria tersebut, karena tahu kau sedang di Bali," ujar Alya berusaha memanas manasi Mas Adam.


"Alya, kau tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain." ucap Adam dengan tajam.


"Maaf mas bukan maksudku menjelekkan Kak Anin," lirih Alya dengan wajah yang kesal. "Mas, apa kau sudah mencintaiku?" tanya Alya kembali.


Adam yang mendengar pertanyaan Alya, hanya terdiam sambil menatap Anin yang masih tertidur di hadapannya.


"Mas... kau mendengar perkataanku kan?" tanya Alya karena tidak ada suara Mas Adam yang menyahutinya.


"Al, maafkan aku karena sampai detik ini aku belum mencintaimu." ucap Adam. "Alya kau wanita yang cantik dan baik, aku rasa kau akan,--- "


"Aku tidak ingin mendengar ucapanmu Mas," Alya langsung menutup ponselnya.


Adam yang melihat ponselnya di matikan hanya bisa menarik nafasnya dengan panjang, Adam pun mendekati Anin dan mengelus wajah Anin dengan perlahan.


"Seandainya kau mencintaiku? aku akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia ini," ujar Adam dan mengecup kening Anin. Dan segera membaringkan tubuhnya di samping Anin.


Anin yang sebenarnya belum tertidur, mendengar dengan sangat jelas semua perkataan Mas Adam padanya.


"Kenapa Mas Adam berkata seperti itu? Apa Mas Adam mencintaiku?" gumam Anin dalam hati. "Kalau dia mencintai ku, lalu alasan apa yang membuat Mas Adam menikah dengan Alya? gumam Anin pada dirinya sendiri.


Ada banyak sekali pertanyaan dalam diri Anin, dan semua itu mengenai Mas Adam. Mas Adam yang sangat misterius menyimpan banyak rahasia padanya.

__ADS_1


"Besok, aku harus menanyakan semuanya pada Mas Adam." ucap Anin pada dirinya sendiri.


.........


Jakarta.


Alya yang sudah menutup ponsel, merasa sangat emosi atas perkataan Mas Adam. Sudah satu bulan lebih mereka mereka menikah, tapi Mas Adam masih belum mencintainya.


Alya kembali mengingat kejadian disaat dirinya menjebak Mas Adam, dengan menaruh obat tidur di dalam minuman yang diminum oleh Mas Adam. Akhirnya Alya bisa menikah dengan Mas Adam, walaupun sebenarnya Mas Adam tidak melakukan apa pun padanya.


Sifat Mas Adam yang bertanggung jawab dan tidak pernah berprasangka buruk pada orang lain. Membuat rencana Alya berjalan dengan baik, tapi semua rencananya sekarang akan sia-sia belaka jika Mas Adam belum juga mencintainnya.


"Aku harus berbuat sesuatu," gumam Alya dengan senyum liciknya.


Alya tidak ingin kehilangan Mas Adam, Alya tidak ingin kehilangan semua kenyamanan yang dia dapat dari semua fasilitas Mas Adam yang di berikan padanya. Karena kekayaan Mas Adam jugalah yang membuat dirinya menjebak Mas Adam untuk menikahinya, selain untuk menyakiti Anin tentunya.


.........


Keesokan harinya, saat Anin terbangun dari tidurnya. Anin tidak melihat Mas Adam sama sekali di dalam kamar. Anin yang merasa binggung menatap kesekeliling dan berjalan kearah balkon hotel dan melihat pemandangan laut dari atas balkon.


"Kemana Mas Adam?" gumam Anin yang kembali masuk kedalam kamar dan melihat secarik kertas diatas meja.


#Adam.


"Mas Adam itu pekerja keras sekali." Anin pun langsung menaruh kembali kertas tersebut dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Pak Andre.


"Pak Andre, aku mau meminta ijin padamu. Aku tidak bisa ikut pulang ke Jakarta hari ini," ujar Anin.


"Apa ada masalah?" tanya Andre.


"Tidak ada, hanya saja ada yang harus aku selesaikan dengan suamiku." ucap Anin.


"Baiklah, lagi pula aku menunda kepulangan ku ke Jakarta. Karena masih ada urusan yang harus aku kerjakan." ucap Andre. "Kalau urusan mu sudah selesai, kau bisa hubungi aku agar kita bisa pulang bersama," ujar Andre.


"Baik Pak, dan sekali lagi terima kasih." ucap Anin lalu menutup ponselnya.


"Tok... tok " terdengar suara pintu kamar hotel Anin di ketuk dari luar. Anin yang sudah membuka pintunya, terkaget saat melihat Intan yang berdiri di depan pintunya.


"Maaf Bu, aku kemari karena disuruh oleh Pak Adam untuk memberikan ini." ucap Intan menyerahkan paper bag yang dia bawa kepada Anin.

__ADS_1


"Untuk ku?" tanya Anin, yang di jawab anggukan kepala oleh Intan.


"Pak Adamnya mana?" tanya Anin.


" Pak Adam masih meeting di bawah, dan aku tidak bisa lama-lama di sini." ujar Intan.


"Oh ok, terima kasih Intan," ujar Anin yang dibalas sebuah senyuman oleh Intan.


Anin yang sudah menutup pintu kamarnya, membuka paper bag yang di di berikan oleh Intan yang berisi pakaian ganti untuknya.


"Ternyata dia perhatian juga," gumam Anin dan langsung menuju toilet untuk segera mandi dan berganti pakaian.


Setelah selesai mandi, Anin mengecek ponselnya yang berisi tiga panggilan tidak terjawab dari Mita. Lalu menghubungi kembali Mita.


"Aninidita.... " teriak Mita dengan sangat kencang.


"Mita, berisik amat sih!" protes Anin dengan menjauhkan ponselnya dari telingannya.


"Kau itu jahat sekali, ke Bali tapi tidak mengajak ku." rengek Mita.


"Mita sayang, aku ini ke Bali untuk bekerja bukan liburan. Masa aku harus membawamu!" ketus Anin.


"Iya sih... Oh ya Nin, Kak Andre bilang kalau Mas Adam juga di Bali?" tanya Mita.


"Mas Andre memberitahu mu?" tanya Anin.


"Lebih tepatnya bukan memberi tahu, tapi memarahi ku karena aku tidak memberitahu padanya siapa suami mu," gerutu Mita. "Kan bukan salah ku tidak menceritakan siapa suamimu, dia juga tidak pernah bertanya," ujar Mita dengan kesal.


"Lalu apa lagi yang dia katakan?" tanya Anin yang mulai kepo.


"Tidak ada, dia hanya berkata itu saja." jawab Mita. "Bagaimana hubungan mu dengan Mas Adam? apa kalian sudah belah duren?" tanya Mita dengan penuh semangat.


"Belah duren?" tanya Anin dengan binggung.


"Ya ampun ini anak kok polosnya minta ampun, maksudku ml making love,"ujar Mita dengan suara yang pelan, karena saat ini dirinya masih berada di ruangan kantor.


"Ihh... apan sih Mit," Anin langsung menutup ponselnya, wajahnya mulai memerah karena teringat kembali pada kejadian tadi malam saat dirinya dan Mas adam yang hampir melakukannya.


"Hari ini aku harus tahu apa alasan Mas Adam menikahi Alya? dan apa benar dia mencintaiku?" gumam Anin dengan wajah yang penuh semangat. Karena sudah saatnya bagi Anin untuk mengambil keputusan dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2