
"Ayah tidak papa," jawab Pak Salim.
Pak Salim menatap dan mengusap wajah Anindita dengan perasaan bersalah di hatinya. Seandainya dirinya tidak menikah dengan Tika dan membawa Tika dan Alya kedalam rumah mereka. Pasti saat ini Anin masih bersama dengan suaminya tanpa ada Alya yang menggagunya.
"Pak minum dulu obatnya.... !" ucap Ibu Tika dengan setengah berlari menuju suaminya dan Anin, lalu menyerahkan obat pada suaminya.
Ibu Tika dari tadi sebenarnya mendengar semua yang di bicarakan suami dan anak tirinya itu, ingin dirinya mendekat kepada suaminya dan Anin. Tapi dirinya tidak berani sama sekali.
"Tidak perlu," ucap Pak Salim dengan suara yang terdengar marah.
"Pak jangan seperti itu... ! minumlah obatmu dulu. Kau boleh marah padaku dan putriku, tapi jangan sampai penyakitmu itu kambuh." ucap Ibu Tika dengan wajah yang khawatir.
Melihat Tante Tika yang terlihat begitu khawatir pada Ayahnya, membuat Anin tersadar kalau Tante Tika ternyata tulus menyayangi Ayahnya.
"Biar Anin saja Tante," Anin mengambil obat dari tangan Tante Tika dan memberikannya pada Ayahnya. Pak Salim pun langsung meminum obatnya, membuat Ibu Tika dan Anin bisa bernafas dengan lega.
"Aku minta maaf Pak atas kelakuan Alya pada Anin," ucap Ibu Tika dengan menggenggam tangan suaminya. "Dan aku akan ke Jakarta, untuk membawa Alya kembali pulang kesini dan meminta maaf padamu dan juga Anin."
"Tidak perlu Tante, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin aku dan Mas Adam memang tidak berjodoh," ucap Anin lalu menatap pada Ayahnya.
Pak Salim membelai rambut Anin dengan penuh kasih, Pak Salim merasa bangga karena putrinya bisa berlapang dada menerima semua kenyataan pahit dalam hidupnya. "Ayah bangga padamu Anin," ucap Pak Salim dengan tersenyum.
Anin pun langsung memeluk Ayahnya, setelah itu Anin pamit untuk masuk kedalam kamarnya. Karena harus merapihkan pakaiannya yang masih berada di dalam koper.
Pak Salim yang kini berada diruang tengah bersama dengan Ibu Tika menatap tajam pada istrinya itu.
"Aku tidak pernah menyangka, kalau tujuan baikku menikah denganmu dan membawa Alya kerumah ini akan membuat masa depan putriku sendiri menjadi hancur." Pak salim masih menatap tajam pada istrinya dengan mata yang berkaca-kaca, sejak tadi dirinya ingin menangis namun harus ditahannya karena tidak ingin membuat Anin semakin bersedih.
"Pak, aku --- " Ibu Tika menundukan kepalanya dengan perasaan malu dan bersalahnya pada suami dan anak tirinya.
"Aku tidak akan mengijinkan Alya untuk menginjakan kakinya di rumah ini lagi, dan kalau kau merasa keberatan dengan keputusanku. Kau boleh pergi dari rumah ini untuk tinggal bersama dengan putrimu itu," ucap Pak Salim dengan tegas dan langsung masuk kedalam kamarnya. Meninggalkan Ibu Tika yang masih duduk di atas sofa yang sedang menangis dan meratapi kelakuan putrinya.
"Alya... "Lirih Ibu Tika masih dengan tangisnya.
Jakarta.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu no ponselku?" tanya Alya dengan sangat terkejut, saat tahu orang yang menghubunginya dengan no yang tidak dikenalnya adalah mantan kekasihnya.
"Aku tahu no ponselmu, setelah aku berjuang dengan sangat keras Alya Dharmawan." ucap suara pria yang berada di seberang sana.
"Kau... bagaimana kau tahu nama belakang suamiku?" tanya Alya lagi dengan terkejut.
"Tentu aku tahu, bahkan aku sudah mendapatkan alamat rumahmu!" ucap pria tersebut dengan tersenyum. "Apa aku boleh berkunjung kerumah mantan kekasihku?" tanya pria tersebut.
"Kamu jangan gila," pekik Alya dengan tangan yang gemetar.
"Kalau begitu temui aku di Cafe Red Maple besok jam lima sore.... ! kalau kau tidak datang, maka aku yang akan datang kerumahmu Alya Dharmawan." ucap pria tersebut dan langsung menutup ponselnya.
"Halo... halo... !" teriak Alya dengan sangat kesal. "Sial ponselnya dimatikan," gerutu Alya membanting ponselnya keatas tempat tidur. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kebahagian yang sedang aku raih ini." gumam Alya dengan mengepalkan kedua tangannya.
Sementara itu di Cafe depan tempatnya bekerja, Mita melangkahkan kakinya sambil mencari sosok yang selama ini dirindukannya.
"Bayu," ucap Mita yang langsung duduk di tempat kekasihnya itu menunggu. "Maaf ya sudah menunggumu lama," ujar Mita menatap wajah kekasihnya itu dengan ekspresi imutnya.
"Tidak juga, aku pun baru saja datang." Bayu menggenggam tangan Mita.
"Kau sudah pesen makanannya?" Tanya Mita.
"Baiklah." Mita mengambil daftar menu, lalu memesan beberapa makanan. "Kau kemana saja? dua hari ini wa ku tidak di balas dan teleponku tidak diangkat?" gerutu Mita dengan mengerucutkan bibirnya.
"Aku sibuk sayang," ucap Bayu dengan tersenyum. "kau kan tahu sendiri, aku ini kan baru bekerja diperusahan farmasi belum lama."
"Iya aku tahu sayang, tapi setidaknya kau harus memberiku kabar." protes Mita masih dengan wajah yang di tekuk.
"Iya sayang, aku minta maaf." Bayu berusaha membuat Mita kembali tersenyum.
"Oke aku maafkan, tapi kau tidak boleh mengulanginya lagi." pinta Mita.
"Aku janji," ucap Bayu dengan tersenyum, membuat Mita pun ikut tersenyum. "Saat aku telepon tadi, kau bilang ingin bercerita sesuatu padaku?" tanya Bayu.
Mita yang teringat akan Anin langsung menghentikan makannya. Mita merasa sangat sedih saat tahu Anin kembali ke Bandung.
__ADS_1
"Mit, Mita... !" Bayu menggerakan tangan Mita yang terlihat sedang melamun.
"Sayang, saat ini aku sedang sedih. Sahabat baikku sudah pulang kembali ke Bandung," ujar Mita dengan wajah yang bersedih.
"Sahabat baikmu Anin?" tanya Bayu.
"Iya," jawab Mita dengan singkat.
"Dia pulang bersama suaminya atau bagaimana?" tanya Bayu sambil memakan makanannya.
"Dia pulang sendiri, karena Anin akan bercerai dengan suaminya." jawab Mita dengan menghela nafasnya.
"Bercerai? tanya Bayu dengan terkejut.
Mita pun akhirnya menceritakan pada Bayu permasalahan yang sedang dihadapi oleh Anin.
"Kasihan juga sahabatmu itu?" ujar Bayu. "Lagi pula suaminya itu, kenapa dia harus menikah dengan wanita lain kalau dia mencintai Anin?" tanya Bayu dengan bingung.
"Entahlah," jawab Mita dengan singkat. Mita memang tidak menceritakan awal mula Adam menikah dengan Alya dan tidak terlalu membicarakannya secara rinci. "Aku itu sangat membenci saudara tirinya itu, dan aku masih sangsi kalau dia itu sedang hamil anak dari suami sahabatku."
"Kau itu tidak boleh berprasangka buruk," Bayu mengacak-acak rambut Mita dengan gemas.
"Aku itu tidak berprasangka buruk, hanya saja melihat caranya merebut suami Anin. Sudah terlihat jelas bahwa wanita itu licik," umpat Mita.
"Kau bisa tahu kalau wanita itu licik dari mana?" tanya Bayu.
"Intinya aku itu tahu," jawab Mita.
"Kau itu," Bayu kembali mengacak-acak rambut Mita. "Oh ya kalau boleh tahu siapa nama suami sahabatmu itu? dan juga nama adik tirinya?" tanya Bayu dengan penasaran.
"Nama suami sahabat ku itu Adam," ucap Mita.
"Adam...?" ucap Bayu dengan pelan.
"Dan Adik tirinya itu bernama --- " belum sempat meneruskan ucapannya.
__ADS_1
Bayu memberikan kode pada Mita untuk diam, karena ponselnya berbunyi dan melihat no ponsel Kepala Bagian Hrd yang menghubunginya.
Mita pun diam, dan melanjutkan makannya. Dan setelah lama menunggu, akhirnya Bayu menutup ponselnya dan langsung pamit pergi karena Kepala Bagian Hrd memintanya untuk kembali ke kantornya.