Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 43


__ADS_3

"In- ni... " Alya meremas amplop yang berisi keterangan kehamilan dirinya. "Ini bukan urusanmu," ucap Alya menatap tajam pada pria yang berdiri di hadapannya.


"Apa itu anak ku?" tanya pria tersebut.


"Cih, anakmu?" sinis Alya. "Kau itu bicara apa? tentu saja ini anak suamiku!" jawab Alya.


"Duduklah dulu," pinta pria tersebut pada Alya.


"Aku bilang aku tidak punya waktu!" ketus Alya sambil berjalan keluar dari restaurant.


Pria tersebut sempat terdiam, namun setelah melihat punggung Alya keluar dari restaurant. Dia pun langsung berlari mengejar Alya.


"Al.... !" Pria tersebut menarik tangan Alya dan mencengkramnya dengan kencang. "Anak itu anakku kan?" tanya pria itu dengan tatapan tajamnya.


"Sudah aku katakan, dia anak suamiku!" bentak Alya.


"Kau itu jangan berbohong! jelas-jelas tertulis usia kandunganmu dua bulan." ucap pria tersebut. "Ikut aku!" pria tersebut menarik Alya dan membawanya ke kursi di taman yang ada di depan restaurant.


Alya yang sudah duduk di samping mantan kekasihnya itu hanya bisa terdiam dengan wajah yang penuh amarah.


"Kenapa kau diam? anak itu pasti anakku kan?" tanya pria tersebut. "Aku ingat betul ketika kita melakukannya tepat -- "


"Diam.... !" teriak Alya dengan keras.


"Al," lirih pria tersebut.


"Aku bilang diam, diam!" bentak Alya masih dengan tatapan amarahnya.


"Aku bilang anak ini anak suamiku, kami melakukannya saat aku masih bersamamu." seru Alya dengan penuh emosi.


"Maksudmu, kau berhubungan dengannya dan juga denganku?" tanya pria tersebut dengan terkejut.


"Ya, apa kau puas!" Alya tersenyum dengan sinis.


"Kau bohong Al, aku yakin kau sedang berbohong. Anak itu pasti anak ku." ucap pria tersebut dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Aku tidak berbohong!" seru Alya.


"Aku akan melakukan tes DNA untuk membuktikan anak itu adalah anakku,"


"Tes DNA?" Alya langsung tertawa dengan sangat keras. "Kau sadar tidak dengan ucapanmu? apa kau lupa kalau kau itu tidak punya uang. Mau bayar pakai apa hah!" ejek Alya kembali.


"Aku -- " pria tersebut terdiam. Dirinya baru tersadar untuk melakukan tes DNA, biaya yang di keluarkan itu sangatlah mahal.


"Tidak punya uangkan? makanya kalau ngomong di pikir pakai otak!" cecar Alya.


"Ingatlah satu hal, kita itu sudah lama putus. Dan aku sudah punya suami yang sangat mapan, jadi aku minta kau jangan menggangguku lagi." Alya hendak pergi dari hadapan mantan keksihnya itu.


"Tunggu.... !" ucap pria itu lagi.


"Apa lagi!" jawab Alya dengan malas.


"Keyakinanku cukup kuat kalau anak itu anak ku, dan aku akan mencari uang untuk melakukan Tes DNA Itu,"


"Terserah," ucap Alya dan langsung pergi dari hadapan Bayu.


Alya pun mengingat kembali saat dirinya menyerahkan mahkotanya yang paling berharga saat Alya hendak memutuskan jalinan asmaranya itu. Alya ingin punya kenang-kenangan terindah saat bersama Bayu dan tidak pernah berfikir kalau perbuatanya itu justru membuat dirinya hamil.


Kehamilan yang hanya berbeda satu minggu dari waktu penjebakan Mas Adam, Karena itulah Alya yakin semua orang tidak akan curiga padanya tentang usia kehamilannya.


Sementara itu Bayu yang masih berada di bangku taman hanya bisa terdiam. Tujuannya datang ke Jakarta adalah untuk mencari Alya mantan kekasihnya yang pergi meninggalkan dirinya, karena akan menikah dengan pria asal Jakarta yang lebih mapan darinya. Bayu yang tidak tahu apa pun tentang Alya dan keluarganya bermodal nekat datang ke Jakarta karena rasa bersalahnya karena sudah mengambil keperawanan Alya.


Mencari Alya di kota yang luas ini tidaklah mudah, sampai akhirnya Bayu berhasil menemukan jejak Alya dari sebuah amplop yang terjatuh dari seorang wanita. Dan ketika melihat nama yang tertera di isi amplop tersebut, di tambah rekaman cctv yang dia minta di rumah sakit tersebut. Akhirnya Bayu pun memastikan orang tersebut adalah Alya yang ternyata sedang mengandung dua bulan.


"Anak itu anak ku atau bukan?" gumam Bayu dengan wajah binggungnya. "Kalau itu benar anakku, bagaimana dengan Mita?" gumam Bayu kembali.


Tidak bisa dipungkiri kalau hatinya kini sudah mencintai Mita, wanita baik hati yang mau menerima dirinya apa adanya. Dan mau memulai semuanya dari nol.


........


Alya yang sudah sampai di dalam rumahnya tidak melihat Ibunya sama sekali, "Apa Ibu sudah pulang?" gumam Alya yang langsung duduk di atas sofa menatap jam di dinding.

__ADS_1


"Apa Mas Adam tidak pulang lagi?" gumam Alya kembali.


Dari kemarin Mas Adam tidak pulang kerumah, dan setiap dihubungi oleh Alya. Mas Adam pun tidak mengangkatnya. Dan saat Alya berdiri hendak masuk kedalam kamar, dirinya mendengar suara mobil Mas Adam dari halaman rumah.


"Mas Adam," gumam Alya. Dengan senyum bahagianya Alya langsung berlari keluar rumah untuk menyambut kepulangan suaminya itu.


"Mas akhirnya kau pulang!" ucap Alya dengan tersenyum, yang hanya di jawab sebuah senyuman oleh Adam. Mereka pun langsung masuk kedalam rumah.


"Mas kok keatas?" tanya Alya saat Mas Adam melangkahkan kaki kelantai atas.


"Aku lelah aku mau tidur," jawab Adam.


"Tapi kamar kita kan --- "


"Aku lelah Alya, dan aku ingin tidur sendiri dulu." Adam langsung menaiki lantai atas menuju kamar dirinya dan juga Anin.


"Sial!" umpat Alya dengan kesal. "Kenapa kau begitu mencintai Anin, tidak bisakah kau mencintaiku sedikit saja." Alya bergumam dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya.


Alya yang langsung masuk kedalam kamarnya, langsung melempar tasnya kesembarang arah hingga membuat isi didalam tasnya berceceran di lantai. "Aku harus tetap sabar, setidaknya Anin sudah keluar dari rumah ini dan mereka akan bercerai," gumam Alya dalam hati.


Sementara itu Adam yang berada di dalam kamar Anin, melihat kesekeliling ruangan yang begitu sunyi tanpa adanya sosok Anindita.


"Aku sangat merindukanmu," gumam Adam membuka ponselnya dan menatap foto pernikahan dirinya. Adam pun membuka isi pesan wa nya yang sama sekali tidak ada balasan satu pun dari Anin. Bahkan sejak kemarin telepon darinya tidak diangkat sama sekali.


Adam yang tidak bisa tidur karena terus memikirkan Anindita, memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Dan setelah larut malam, Adam yang merasa gerah memutuskan untuk mandi. Adam pun berjalan menuju kamarnya yang di bawah untuk mengambil pakaian gantinya.


Dengan perlahan Adam membuka pintu, dan masuk kedalam kamarnya. Adam melihat Alya yang sedang tertidur pulas, dan saat dirinya hendak berjalan menuju lemari. Pandangan matanya tertuju pada tas yang tergeletak di lantai dengan isinya yang berantakan, Adam yang tadinya acuh melihat sebuah amplop yang lucek. Karena rasa penasarannya Adam pun mendekat dan mengambil amplop yang di depannya bertuliskan Rumah Sakit Ibu dan Anak Grand Family.


"Apa ini hasil dari pemeriksaan kandungan Alya?" gumam Adam dalam hati.


Dengan perlahan Adam pun membuka hasil pemeriksaan kandungan Alya. Dan melihat dengan jelas usia kandungan Alya.


"Delapan minggu?" gumam Adam dengan mengerutkan keningnya. Adam pun mulai menghitung disaat pertama kali dirinya melakukannya bersama Alya. "Kenapa lebih satu minggu," gumam Adam kembali.


Adam pun menatap Alya yang masih tertidur di atas tempat tidurnya, Adam langsung mengambil surat pemeriksaan tersebut dan keluar dari kamar Alya.

__ADS_1


"Besok aku harus tanyakan ini ke Dokter kandungan," gumam Adam yang langsung berjalan masuk kembali kedalam kamar Anindita.


__ADS_2