Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 26 Pertanyaan Mas Andre


__ADS_3

Hari minggu adalah hari yang paling menyenangkan untuk Anin. Tapi itu dulu ketika Mas Adam selalu pergi untuk menemui Alya, dan juga Alya yang belum tinggal di rumah ini.


Anin menatap kebawah dari arah balkon kamarnya, ingin rasanya turun kebawah untuk sekedar menonton televisi atau paling tidak untuk sekedar bermalas malasan di kursi ruang tengah dengan cemilan ditangan.


Tapi keinginannya itu harus ditahannya, karena dirinya tidak ingin turun kebawah dan melihat kemesraan Mas Adam dengan Alya, walaupun Anin tidak pernah sekali pun melihat Mas Adam bersikap romantis pada Alya. Tapi melihat sikap Alya yang dengan sengaja bersikap manja pada Mas Adam mampu membuatnya merasa emosi, bukan emosi karena cemburu. Tapi marah karena Anin tahu Alya melakukannya dengan sengaja.


"Kak Anin .... " Alya mengetok pintu kamar Anin dengan keras.


Anin yang mendengar panggilan Alya hanya diam saja tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.


"Kak, buka pintu nya!" seru Alya yang semakin kencang mengetuk pintunya.


Karena merasa berisik, Anin pun akhirnya membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" tanya Anin dengan suara yang malas.


"Aku hanya ingin memberitahumu, aku dan Mas Adam akan pergi jalan-jalan jadi tolong jaga rumah," ucap Alya dengan tersenyum.


"Ada lagi?" tanya Anin.


"Tidak ada," jawab Alya lalu segera pergi dari hadapan Anin.


Anin menatap punggung Alya dengan kesal, "Kau pikir aku tidak tahu, kau sengaja mengatakan ingin pergi dengan Mas Adam karena sengaja memanas manasiku," gumam Anin yang langsung menutup pintu kamarnya.


"Lebih baik aku juga keluar jalan-jalan," gumam Anin lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Mita, setelah selesai membuat janji ketemuan dengan Mita. Anin pun langsung bersiap-siap.


Mall Pacific Place.


"Anin, disini!" teriak Mita melambaikan tangannya kearah Anin.


Anin menengok kearah suara yang memangilnya, dan melihat Mita dan juga Mas Andre yang berjalan kearahnya.


"Pak Andre," ujar Anin yang terkejut dengan kehadiran Pak Andre.


"Sorry Nin, aku ajak Andre." bisik Mita di telinga Anin.


"Tidak papa," jawab Anin.


Mereka pun akhirnya jalan-jalan bertiga, dan setelah selesai berbelanja. Andre membawa Anin dan mita ke Restaurant Cork & Screw Country Club, yang terletak di daerah senayan.


"Wah tempat nya enak juga ya!" seru Anin yang sudah duduk di tempatnya sambil memandang area disekitarnya.

__ADS_1


"Kamu belum pernah kesini?" tanya Andre.


"Belum," jawab Anin.


"Mas Andre, Anin ini selama ada di jakarta cuma tahu tiga tempat. Satu rumahnya, dua perusahaan mu, dan tiga Mall." ujar Mita dengan tertawa kecil.


"Memangnya suami mu tidak pernah mengajakmu jalan-jalan?" tanya Andre.


"Tidak pernah," jawab Anin masih dengan senyum kecil di bibirnya.


"Mas, kau itu kan tahu kalau Anin dan suaminya ...." ujar Mita menepuk bahu sepupunya itu.


"Oh iya aku lupa," ucap Andre yang merasa tidak enak pada Anin.


"Maaf Anin, kalau pertanyaan ku membuatmu bersedih," ujar Andre yang merasa tidak enak pada Anin.


"Membuat Anin bersedih? yang benar saja. Anin ini wanita kuat, makanya kau tidak salah jika mencintainya." ucap Mita keceplosan.


Anin dan Andre yang mendengar ucapan Mita langsung terdiam dan menjadi salah tingkah.


"Maaf keceplosan," lirih Mita pada Andre.


Setelah selesai makan, Andre pun mengantar Anin pulang ke rumahnya. Karena Mita dijemput oleh kekasihnya Bayu, Mita baru menjalin hubungan dengan Bayu sudah satu minggu ini. Dan Anin pun baru tahu ketika Mita mengenalkan Bayu kepadanya ketika menjemput Mita.


Di sepanjang perjalanan pulang, baik Anin dan juga Andre hanya saling terdiam. Suasana di dalam mobil pun sangat canggung karena mereka baru pertama kalinya berdua dalam satu mobil.


"Anin, boleh aku bertanya sesuatu." ujar Andre menatap sekilas pada wajah Anin.


"Boleh, Pak. Eh Mas Andre maksud ku," jawab Anin dengan kikuk.


Anin sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan keadaannya saat ini yang hanya berdua bersama Mas Andre di dalam mobil. Itu sebabnya dati tadi dirinya hanya diam tidak berbicara sama sekali.


"Seandainya kau itu belum menikah, apakah aku termasuk kriteria dalam pria pilihan hatimu?" tanya Andre yang kembali menatap Anin.


Anin sempat terdiam beberapa saat dan memberanikan diri untuk menatap pria yang duduk di sebelahnya, yang sedang konsentrasi menyetir mobil dengan sesekali menatap dirinya.


"Tentu saja kau termasuk dalam kriteria ku, Mas Andre tampan, mapan dan juga baik hati. Tapi itu kalau aku belum menikah," ujar Anin berbicara jujur dengan apa yang dirasakannya.


Andre yang mendengarkan jawaban dari Anin, langsung menghentikan kendaraannya di pinggir jalan.

__ADS_1


"Kalau seandainya pernikahan mu gagal, apa kau mau memberikan ku kesempatan?" tanya Andre dengan wajah yang serius menatap wajah Anin.


"Mas, aku tidak bisa memberikanmu jawaban. Karena aku tidak mau membicarakan sesuatu yang belum terjadi." jawab Anin dengan tegas sambil menundukan kepalanya.


Andre pun langsung tersenyum setelah mendengarkan jawaban dari Anin, Andre merasa pilihan hatinya itu tidak salah. Andre semakin mengagumi sosok Anin yang punya prinsip teguh di dalam hidupnya.


"Bisa kita melanjutkan perjalanannya?" tanya Anin. yang membuat Andre tersadar dari lamunannya.


"Tentu saja," jawab Andre yang langsung menjalankan kembali mobilnya.


Setelah sampai dirumahnya, dan melihat mobil Mas Andre yang sudah menjauh. Anin pun langsung masuk kedalam rumah.


Baru saja Anin melangkahkan kakinya lima langkah, dirinya langsung mendapatkan sindiran halus dari Alya.


"Kak Anin dari mana saja? jam segini baru pulang?" tanya Alya dengan suara yang lembut dan terdengar mengkhawatirkan Anin.


"Aku dari mana itu bukan urusanmu," jawab Anin menatap pada Alya dan Mas Adam yang sedang duduk di ruang tengah.


"Aku tahu ini bukan urusanku, tapi tidak baik Kak jika seorang istri pergi berdua dengan pria lain dan pulang hingga larut malam." ujar Alya.


Anin yang mendengarkan perkataan Alya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya, dirinya teringat akan perkataan Mita yang harus bersikap lembut seperti Alya.


"Alya, aku ini pergi bertiga bukan berdua." ujar Anin dengan suara yang menahan emosi.


"Tapi tadi aku lihat, hanya ada pria yang membukakan pintu mobilnya untukmu?" tanya Alya yang berniat memancing emosi Anin.


"Aku memang pergi bertiga, tapi pulangnya memang hanya diantar oleh pria yang kau lihat itu. Kenapa? apa aku salah?" tanya Anin. "Dan terima kasih kau sudah mengingatkan ku untuk menjadi seorang istri yang baik. Tapi kau lupa satu hal, wanita baik-baik tidak akan merebut pria calon suami kakak tirinya sendiri." ucap Anin dengan tersenyum sinis.


Alya yang mendengar perkataan Anin langsung terdiam, Alya tidak ingin Anin membongkar rahasianya pada Mas Adam. Sementara Adam hanya terdiam dan menatap Anin dengan tatapan misterius nya.


"Aku lelah, apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" ujar Anin dengan senyum manisnya.


"Tidak ada," jawab Alya dengan cepat.


Anin pun langsung masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Alya yang sedang salah tingkah.


"Mas aku, ---" ujar Alya dengan wajah yang tegang.


"Kau tidurlah, ini sudah malam!" ucap Adam.

__ADS_1


Alya pun langsung masuk kedalam kamar Mas Adam, meninggalkan Mas Adam yang masih terdiam diruang tengah.


__ADS_2