Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 31 Bali 2


__ADS_3

"Aku tidak papa," jawab Anin.


"Syukurlah," ucap Andre yang masih menatap Anin dengan intens.


"Eehem.... " Adam berdehem dengan sangat keras. "Pak Andre perhatian sekali dengan sekertarisnya?" tanya Adam dengan suara datarnya, tanpa menatap Anin.


"Oh ini... ,karena dia juga adalah temanku" ucap Andre sedikit grogi.


"Oh.... " ucap Adam.


"Tadi anda belum menjawab pertanyaan ku, apa benar anda sudah menikah?" tanya Andre lagi.


"Ya," jawab Adam singkat.


"Wah, selamat Pak Adam." ujar Andre dengan mengulurkan tanganya.


"Terima kasih," jawab Adam, menerima uluran tangan Andre.


"Siapakah wanita yang beruntung itu, yang membuat seorang Pak Adam Dharmawan mau menikahinya?" canda Andre dengan terkekeh.


"Wanita itu adalah sekertaris anda," jawab Adam menatap Anin yang terlihat terkejut mendengar perkataannya.


Andre yang mendengar ucapan Pak Adam pun sama terkejutnya dengan Anin. Suasana pun langsung hening seketika, tidak ada yang bersuara sama sekali dan mereka hanya saling menatap dalam diam.


"Anda pasti bercanda," ujar Andre yang berusaha mencairkan suasana.


"Aku tidak bercanda, coba tanyakan pada sekertaris anda! apa benar yang aku ucapkan?" ujar Adam yang menatap Anin dengan intens.


Andre pun menatap Anin, karena ingin meminta jawaban dari sekertaris sekaligus wanita yang dicintainya itu.


"Benar Anin?" tanya Andre masih menatap Anin dengan intens.


"Benar Pak," ujar Anin dengan lirih.


Seketika itu juga Andre tidak bisa berkata-kata lagi, dirinya hanya bisa menatap Anin yang sedang menundukan kepalanya. Andre tidak pernah menyangka, pria yang menjadi suami Anindita adalah Adam Dharmawan orang yang baru saja menjadi partnernya dalam berbisnis.


Andre merutuki dirinya yang tidak mencari tahu siapa suami dari Aninidita, karena Mita hanya memberitahu permasalahan rumah tangga Anin saja tanpa memberitahu lebih detail sosok suami Anindita.

__ADS_1


"Maafkan aku, karena tidak tahu jika sekertarisku adalah istri anda," ucap Andre berusaha untuk terlihat tenang dengan menekan gejolak yang ada dihatinya.


"Tidak papa," ucap Adam. "Baiklah Pak Andre jika sudah tidak ada yang di bicarakan, boleh aku berbicara dengan sekertaris anda?" tanya Adam.


"Tentu saja boleh" jawab Andre. Dirinya tidak mungkin melarang seorang suami berbicara dengan istrinya sendiri bukan.


"Aku akan menunggumu di mobil," ujar Andre pada Anin. Yang di jawab anggukan kepala oleh Anindita.


"Saya rasa tidak perlu, karena Anin akan bermalam di sini. Benarkan Anin?" tanya Adam dengan tatapan tajamnya menatap Anin dan Andre secara bergantian.


Andre yang mendengar ucapan Adam merasa sedikit emosi, walaupun dirinya tahu Adam suami Anin. Tapi tetap saja membuat hatinya tidak terima.


"Itu... " Anin merasa binggung dengan kondisinya yang terjepit di antara pergi bersama atasannya atau tetap di sini bersama suaminya.


"Anindita....!" ucap Adam dengan suara yang tegas


"Pak Andre, aku.... " Anin menatap Andre dengan tatapan yang tidak enak hati.


"Aku tahu Anin, kalau kau sudah selesai cepatlah hubungi aku. Karena besok kita akan kembali ke Jakarta." ucap Andre lalu pergi meninggalkan Anin bersama dengan Adam.


.........


"Baik Pak," Intan pun langsung pergi setelah pamit pada Anin dan Pak Adam.


"Mas aku,.... " Anin kembali terdiam karena tidak tahu apa yang ingin di bicarakannya.


"Ikutlah dengan ku," ucap Adam menggandeng tangan Anin menuju pintu lift.


Ketika berada di dalam lift, baik Adam maupun Anin hanya saling terdiam. Tidak ada yang berbicara sama sekali, sampai akhirnya mereka berdua sudah ada di dalam kamar hotel.


"Mas Adam aku, ----"


"Apa kau mencintainya?" tanya Adam yang sedang berdiri di kaca jendela kamar hotel menatap kearah luar.


"Apa?" tanya Anin dengan terkejut, karena tidak menyangka Mas Adam akan bertanya pertanyaan yang menggelikan bagi Anin.


"Apa kau mencintai bos mu itu?" tanya Adam kembali.

__ADS_1


"Mas, kau pikir aku ini wanita macam apa? walaupun pernikahan kita hanya kepalsuan saja, tapi aku tahu batasanku." ucap Anin dengan tajam


"Aku tidak akan melarangmu jika kau mencintainya, tapi tunggulah sampai kita bercerai," ucap Adam dengan datar tanpa melihat kearah Anin.


"Kau itu sudah tidak sabar sekali untuk bercerai denganku? sebegitu cintanya kau pada Alya," ujar Anin dengan sinis.


"Aku pun akan menceraikan Alya," ujar Adam yang kini sudah membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Anin.


"Kau akan menceraikan Alya? bukankah kau sangat mencintainya?" tanya Anin, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Cinta!" ujar Adam dengan senyum sinisnya. "Kau tidak tahu apa pun tentangku, Anindita," ujar Adam yang sudah berada di depan Anin, wajahnya bagitu dekat dengan wajah Anin hingga membuat jantung Anin berdetak dengan kencang.


"A... aku memang tidak mengenalmu dan jika memang benar kau akan menceraikan Alya, aku jadi tidak harus susah payah membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Anin menatap wajah Mas Adam yang sangat dekat dengannya. Bahkan karena terlalu dekat jarak diantara mereka, Anin bisa mencium bau mint yang berasal dari nafas Mas Adam.


"Kau tidak perlu susah payah membuatku jatuh cinta, karena aku.... " Adam mencium leher jenjang milik Anin hingga membuat bulu kuduk Anin menegang.


"Karen aku ap ---- " belum sempat meneruskan perkataannya, bibir Anin sudah di bungkam oleh ciuman mendadak dari Mas Adam.


Anin yang terkaget mendapatkan ciuman mendadak dari Mas Adam, sempat memberontak dengan memukul bahu Mas Adam. Namun pukulan itu melemah karena Anin dapat merasakan kelembutan ciuman yang di berikan Adam padanya.


Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman yang penuh dengan gairah, entah karena suasana yang nyaman atau karena faktor yang lain. Ciuman itu berubah menjadi sangat menuntut untuk mendapatkan yang lebih dari hanya sekedar ciuman.


Dengan perlahan Adam pun membaringkan tubuh Anin di atas tempat tidur, Anin yang terlena dengan sentuhan Adam sempat menolak saat Adam membuka pakaiannya. Namun penolakan itu berubah mana kala pikiran dan hatinya tidak sejalan dengan tubuhnya.


"Mas," lenguh Anin saat Adam berusaha melepaskan bawahannya.


Adam yang melihat wajah Anin yang terlihat ragu untuk melakukannya, dengan sekuat hati menghentikan apa yang ingin di lakukannya. Anin yang tersadar pun langsung menutupi tubuh atasnya yang sudah hampir polos dengan selimut.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud ---- " ucap Adam yang sudah duduk di samping tubuh Anin dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku yang seharusnya minta maaf, kau sudah menikahiku dan kau pun sudah bertanggung jawab memberikan nafkah lahir untuk ku. Tapi sampai dengan detik ini aku tidak melakukan kewajiban ku," lirih Anin.


"Kau tidak salah, sekarang tidurlah.... !" ucap Adam yang berjalan memasuki toilet. Sementara Anin langsung memakai pakaiannya kembali.


Anin yang sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, kembali mengingat perkataan Mas Adam yang akan menceraikan dirinya dan juga Alya.


"Apa aku sudah tidak perlu merebut Mas Adam dari Alya? karena Mas Adam akan menceraikan kami berdua." gumam Anin dalam hati.

__ADS_1


Seharusnya saat ini Anin merasa bahagia, karena sebentar lagi dirinya sudah terbebas dari Mas Adam. Tapi entah mengapa hatinya justru merasa gelisah saat tahu Mas Adam akan menceraikannya.


__ADS_2