Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 51


__ADS_3

Kini Alya sudah banyak berubah, tidak ada lagi kebencian dan kemarahan di hati Alya. Alya pun menjalani hidupnya di dampingi oleh Rizal yang mau menerima Alya dan bayi yang ada di dalam kandungan Alya, bahkan Rizal pun sudah melamar Alya, dan Alya pun menerima lamaran Rizal dengan catatan mereka menikah setelah anak yang di kandung Alya lahir kedunia.


Tapi sayangnya rencana pernikahan Alya dan Rizal yang sudah disiapkan sedemikian rupa, harus kandas ditengah jalan manakala takdir berkehendak lain. Alya yang mengalami pendarahan hebat saat melahirkan, akhirnya meninggal dunia meninggalkan bayi laki-laki yang begitu tampan.


Bayi laki-laki itu pun diberi nama Bayu, sesuai dengan keinginan Alya. Alya pernah berkata pada Ibu Tika, jika anaknya laki-laki maka akan di beri nama Bayu dan jika anaknya perempuan maka diberi nama Anindita. Nama orang-orang yang pernah disakitinya, Alya berharap anaknya kelak mempunyai hati yang baik seperti Bayu atau Anindita.


Rizal yang ditinggal pergi oleh Alya hanya bisa mengikhlaskan segalanya dan menerima semua takdir yang sudah di tuliskan oleh yang di atas. Keinginan Rizal untuk menikah dengan Alya harus terpisahkan oleh suratan takdir.


Ibu Tika pun meminta Anin dan Adam untuk mau mengurus Bayi Alya, karena hanya Anin dan Adam yang bisa di percaya oleh Ibu Tika. Dan setelah dua tahun berlalu, kesedihan Anin pun bertambah saat sang Ayah dan Ibu mertuanya meninggal dunia. Satu persatu orang yang dekat dengannya menghadap sang pencipta.


Flash back off.


Dan sekarang setelah tujuh tahun berlalu, Anin yang berharap kehidupan pernikahannya akan berjalan mulus harus menelan kenyataan yang pahit. Dirinya belum juga di karunia anak, sudah banyak yang dilakukan oleh Adam dan Anin untuk mendapatkan buah hati. Sampai mereka pun menjalani program bayi tabung sebanyak dua kali, namun semuanya pun gagal.


Tiga hari yang lalu Anin pun bertengkar dengan Mas Adam, dan membuat Mas Adam tidak pulang kerumah sampai dengan saat ini. Mas Adam marah pada permintaan Anin agar Mas Adam menikah lagi agar mendapatkan keturunan, karena dari pemeriksaan Dokter. Anindita lah yang di vonis susah untuk mendapatkan keturunan.


Anin masih menatap pada Bayu yang masih bermain bola, tapi tatapan matanya kini beralih pada mobil yang baru saja masuk ke halaman rumah. Dilihatnya Mas Adam keluar dari mobil dan langsung dipeluk oleh Bayu, sungguh pemandangan yang sangat menentramkan jiwa. Seandainya saja Anin tidak melihat Bapak Mas Adam yang sudah tua dan ingin menimang cucu, mungkin Anin tidak akan meminta Mas Adam menikah lagi. Suatu permintaan yang tidak akan pernah terpikir sama sekali di benak Anindita walau hanya secuil.


"Mas, kau sudah pulang?" Anin menyambut Mas Adam didepan pintu.


"Aku sangat rindu padamu sayang," Adam langsung memeluk Anindita.

__ADS_1


"Mas, ada Bayu?" bisik Anindita.


"Oh iya ada jagoan Ayah, Bayu rindu tidak dengan Ayah?" tanya Adam dengan mengelus rambut Bayu.


Anin sangat bahagia Mas Adam sangat menyayangi Bayu layaknya seorang Ayah kandung.


"Bayu kangen Ayah! Kita main bola yu Yah?" ajak Bayu dengan menarik tangan Adam.


"Bayu main sama Pak supri dulu ya! Ayah lelah baru datang," jawab Adam dengan tersenyum pada Bayu.


"Oke, Bayu main bola sama Pak Supri aja." Bayu pun langsung berlari kehalaman depan.


Anin dan Mas Adam pun masuk kedalam kamar, Anin menyiapkan pakaian ganti untuk Mas Adam yang berada di dalam kamar mandi.


Anin melihat tubuh suaminya tidak banyak berubah setelah tujuh tahun pernikahan mereka, Mas Adam masih tampan seperti saat pertama kali mereka bertemu.


"Kenapa sayang? Kau pasti sangat merindukanku bukan?" tanya Adam menggoda Anin yang masih menatap dirinya.


"Tentu saja aku merindukanmu Mas, kenapa kau tidak pulang selama tiga hari ini? Kalau kau marah padaku seharusnya kau -- " Ucapan Anin langsung terhenti saat Adam menempelkan jarinya di bibir Anin.


"Sayang, aku tidak ingin kita bertengkar lagi. Aku sengaja tidak pulang agar kau bisa berfikiran jernih dan tidak memaksaku lagi untuk menikah dengan wanita lain," ucap Adam tepat didepan wajah Anin dan mencium bibir Anin dengan lembut.

__ADS_1


"Mas, dengarlah! Apa kau pikir aku tidak sakit Mas dengan permintaanku sendiri? Aku yang selalu memegang teguh prinsipku sudah mengikhlaskan kau menikah lagi! Apa kau tidak ingin punya anak Mas? Apa kau tidak ingin memberikan cucu pada Bapak mu?" tanya Anin dengan menitikan air mata.


"Anindita... ! Aku pikir setelah tiga hari aku tidak pulang, kau akan melupakan permintaanmu itu. Tapi nyatanya aku salah!" Adam duduk di samping Anin dengan mengusap wajahnya secara kasar.


"Mas, aku tidak ingin Bapak mu mengalami hal yang sama dengan Ibu yang tidak sempat melihat dan merasakan mempunyai seorang cucu," lirih Alya. "Tujuh tahun Mas, tujuh tahun kita membina rumah tangga dan aku belum hamil karena aku yang tidak subur." Ucap Anin dengan menangis.


Adam yang melihat Anin menangis langsung merangkul pundak istrinya dengan erat. " Sayang, aku sudah cukup bahagia dengan apa yang kita punya sekarang. Kita sudah ada Bayu, dan Bapak pun menyayangi Bayu seperti cucunya sendiri." Ujar Adam mengelus rambut Anindita.


"Mau sampai kapan kau bertahan Mas? Dua tahun lagi atau empat tahun lagi? Aku yakin di hati kecilmu pasti menginginkan seorang anak, sama seperti ku yang ingin sekali merasakan mengandung dan memiliki seorang anak." lirih Anin masih dengan teridak


"Sudahlah lebih baik kita istirahat," ucap Adam. Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Mas tunggu!" Anin menahan Mas Adam agar tetap duduk di sampingnya. "Mas aku harus bersikap tegas padamu, kau pilihlah untuk menikah lagi atau aku akan pergi dari kehidupanmu Mas." Anin berkata dengan sangat tegas.


"Kau itu bicara apa?" Bentak Adam. "Aku tidak akan menikah lagi sampai kapanpun!" ucap Adam yang tak kalah tegasnya.


"Kalau begitu aku yang akan pergi dari hidupmu Mas," ucap Anin.


"Sayang, kenapa kau begitu keras kepala!" seru Adam dengan frustrasi.


"Mas, aku hanya berusaha untuk membuatmu dan Bapak bahagia." lirih Anin.

__ADS_1


"Kebahagiaanku itu hanya bersamamu Anindita, apa kau ingat janjiku padamu. Kalau hanya ada aku dan kau di pernikahan kita," ucap Adam mengelus rambut istrinya dengan lembut.


"Aku ingat Mas, tapi sekarang situasinya berbeda. Aku tidak bisa memberikan keturunan padamu! Dan aku sudah ikhlas untuk di madu." Ucap Anin dengan menundukan kepalanya.


__ADS_2