
Keesokan harinya.
Anin yang sudah pulang dari rumah sakit, memutuskan untuk ke rumah Mutia. Dengan diantar oleh Pak Supri Anin pun masuk kedalam rumah yang tampak sederhana.
Anin meminta maaf karena pernikahan Mutia dan Adam tidak jadi di laksanakan, sebagai rasa terima kasih Anin pun memberikan uang yang semula dijanjikannya pada Mutia agar Mutia mau menikah dengan Mas Adam.
"Tapi Bu aku kan tidak jadi menikah dengan Pak Adam!" Mutia menolak uang pemberian Ibu Anindita.
"Tidak papa Mutia, anggap ini sebagai tanda persaudaraan kita. Dan maafkan jika ternyata harus seperti ini." Anindita menyodorkan kembali amplop uang berisi uang pada Mutia.
"Ta-tapi Bu," Mutia bingung untuk menerima atau menolak uang tersebut. Karena jujur dirinya membutuhkan uang itu, tapi dirinya malu untuk menerimanya.
"Tidak papa Mutia, dan kalau kau butuh apa pun. Jangan sungkan menghubungiku." Anin memegang tangan Mutia.
Anin sudah menganggap Mutia seperti adiknya sendiri, selama satu bulan lebih dirinya mengenal Mutia sebagai sosok wanita yang baik dan sopan. Anin juga tahu Mutia mau menjadi istri kedua Mas Adam karena membutuhkan uang untuk berobat penyakit adik laki-lakinya, makanya Anin tetap memberikan uang tersebut pada Mutia walaupun pernikahan itu gagal. Karena Anin tahu Mutia membutuhkan uang tersebut.
"Terima kasih banyak Bu," Mutia secara reflek memeluk Ibu Anindita sebagai rasa bahagianya. Kini dirinya mempunyai uang untuk biaya pengobatan penyakit adiknya.
Setelah mengobrol Anin pun pamit pulang, Anin tersenyum bahagia. Kini dirinya sudah tidak punya beban perasaan bersalah pada Mutia. Anin mengelus perutnya yang masih rata dengan perasaan bahagia, usia kandungannya baru berjalan enam minggu dan Anin sudah tidak sabar menunggu anak yang dikandungnya itu lahir kedunia.
"Drt..Drt..." Bunyi suara ponsel Anin, ditatapnya layar ponselnya lalu tersenyum.
"Sayang, kau dimana?" tanya Adam dengan cemas.
"Aku arah pulang Mas, tadi habis dari rumah Mutia." jawab Anin.
"Bilang pada Pak Supri, bawa mobilnya pelan-pelan saja. Aku tidak mau terjadi apa pun pada kalian," ujar Adam.
"Iya Mas, Pak Supri juga sudah mengerti. Kau itu kenapa jadi overprotektif begitu Mas?" Anin tersenyum geli membayangkan wajah suaminya.
"Tentu saja, aku tidak ingin sampai kau dan anak kita kenapa- kenapa."
"Uh.. so sweetnya suamiku ini." Goda Anindita.
__ADS_1
Dan disepanjang perjalanan pulang, Adam terus berbicara dan tidak mau memutus sambungan teleponnya. Membuat Anin merasa bahagia atas perhatian suaminya itu.
Satu bulan kemudian.
"Yang benar Dok? istri saya mengandung baby kembar?" tanya Adam pada Dokter Syamsul. Dokter Spesialis Kandungan.
"Benar Pak, lihatlah ini!." Dokter menggerakan kursor kearah dua bulatan kecil.
"Alhamdulilah," ucap Adam dan Anin bersamaan.
Adam begitu bahagia saat tahu istri tercintanya mengandung bayi kembar. Digenggamnya kedua tangan Anin dan diciumnya kening Anindita.
Disepanjang perjalanan pulang Adam tidak berhenti terus mencium tangan Anin. Dan begitu sampai di rumah Adam memberitahu Bayu, kalau Bayu akan punya dua adik sekaligus.
"Hore, Bayu punya dua adik." teriak Bayu.
"Iya sayang, makanya Bayu harus jaga Bunda. Kalau Bunda tidak mau makan obat dan susu, Bayu harus lapor Ayah."
"Siap Ayah, Bayu akan menjaga Bunda." Bayu memeluk Bundanya dengan erat.
Tujuh bulan kemudian.
Anin yang berada di ruang bersalin sedang menjalani proses melahirkan, setelah mengejan dengan nafas yang terengah-engah dan didampingi langsung oleh Mas Adam. Kedua bayi kembar tersebut lahir dengan selamat dan sehat. Adam dan Anin pun sudah sepakat untuk memberi nama Biru Dharmawan untuk bayi laki-lakinya, dan Jingga Dharmawan untuk bayi perempuannya.
Kini kehidupan pernikahan Anindita sangatlah bahagia dengan kedatangan dua malaikat kembar disisinya. Menambah suasana ramai di keluarga kecilnya, Bapak Mas Adam pun merasa sangat bahagia bisa menimang cucunya dan begitu pula Ibu Tika yang merasa ikut bahagia dengan kehidupan Anindita.
Anindita kini menatap pada Mas Adam yang menggenggam kedua tangannya dan tidak berhenti menghujaninya ciuman. Anin pun melihat Bapak mertuanya dan Ibu Tika yang menggendong bayi kembarnya beserta Bayu yang terlihat bahagia dengan kedatangan kedua adik kembarnya.
"Terima kasih sayang, kau sudah memberikan dua malaikat kecil yang sangat lucu." Adam kembali mencium tangan Anin.
"Terima kasih juga Mas, sudah selalu setia bersamaku dan selalu menerima apa pun keadaanku." Anin tidak bisa menahan rasa tangis bahagianya.
"Jangan menangis sayang!" Adam menghapus air mata Anin. "Mulai hari ini tersenyumlah terus, karena senyumanmu yang membuat hidupku menjadi bahagia." Gombal Adam, membuat Anin menjadi tertawa.
__ADS_1
Lima tahun kemudian.
"Jingga jangan lari," teriak Anin pada putri kecilnya yang sudah berusia lima tahun.
Anin dan Adam yang berada ditepi pantai melihat kedua anak kembar mereka Biru dan Jingga yang sedang berlarian saling mengejar satu dan lainnya yang dijaga oleh Bayu yang kini berusia dua belas tahun.
Karena asik berlari, Jingga pun akhirnya terjatuh dan menangis. Anin yang melihat putrinya menangis langsung berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Adam menarik tangan Anin dan membuatnya duduk kembali.
"Mas, jingga menangis."
"Tidak papa, kau lihat itu." Adam menunjuk pada Jingga dan Bayu.
Anin pun melihat Bayu yang sangat menjaga Jingga dengan penuh kasih sayang, sehingga Anin pun bisa bernafas dengan lega.
"Jingga tidak papa kan?" tanya Bayu dengan mengusap kedua lutut jingga.
"Sakit Kak Bayu," rengek Jingga dengan tersendu-sendu.
"Sudah jangan menangis, Jingga kan anak yang kuat. Nanti Kakak belikan es krim untuk Jingga," bujuk Bayu membuat Jingga tersenyum.
"Aku juga mau es krim," pinta Biru pada Kak Bayu.
"Iya kakak belikan dua, satu buat Biru satu buat Jingga." Bayu mengacak-acak kedua rambut adik kembarnya itu. Dan mereka pun kembali bermain bersama.
Anin dan Adam yang melihat semua itu langsung tersenyum bahagia, Adam merengkuh tubuh Anin kedalam dekapannya. Anin dan Adam pun saling tersenyum menatap satu dan lainnya.
"Aku mencintaimu Anindita," Adam mengecup kening istri tercintanya.
"Aku juga mencintaimu Mas," jawab Anin.
Mereka berdua pun langsung bergabung dengan ketiga anak mereka dan menikmati suasana pantai dengan senyum bahagia di wajah mereka. Anindita berharap kebahagian yang mereka rasakan akan terus berlangsung selamanya, walaupun nantinya akan ada kerikil-kerikil tajam yang selalu menghadang di kehidupan rumah tangganya. Tapi bukankah itu yang dinamakan kehidupan, ada saatnya kita bersedih dan ada saatnya kita bahagia. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani semua itu dengan sabar dan ikhlas.
__ADS_1
...❤️Anindita&Adam❤️...
...🌸 TAMAT🌸...