Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 28 Pov Adam Part 1


__ADS_3

"Mas, kamu serius mau tidur di kamar Kak Anin?" tanya Alya, dengan suara yang di tekan agar tidak terlihat emosi.


"Bukan kah kau yang menyuruhku untuk tidur di kamar Anin?" tanya Adam dengan suara datarnya.


"Iya, aku.... " Alya dengan binggung berusaha mencari sebuah alasan agar Mas Adam tidak tidur di kamar Anin.


"Terima kasih sayang, kau sudah mengingatkan aku untuk bersikap adil!" ujar Adam yang langsung berdiri berjalan menuju kamar Anin di lantai dua.


Anin yang masih binggung dengan apa yang terjadi, dan hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri.


"Ayo kita ke kamar mu!" ucap Adam yang sudah berjalan lebih dulu di depan Anin. Anin yang masih binggung lalu berjalan mengikuti Mas Adam dari belakang.


"Sial.... ! kenapa jadi begini" umpat Alya mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat karena emosi di dadanya.


Dan Alya hanya bisa menatap Mas Adam yang berjalan masuk kedalam kamar Kak Anin dengan perasaan penuh dengan emosi. Alya tidak menyangka jika perkataan dirinya justru membuat Mas Adam mau tidur di kamar Anin, walaupun Alya yakin Mas Adam tidak akan melakukan apa-apa pada Anin. Tapi tetap saja dirinya emosi karena Anin sudah menang darinya.


"Mau sampai kapan kau duduk di sofa?" tanya Adam yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas Adam, aku ----" Anin benar-benar gugup, karena dirinya tidak menyangka jika Mas Adam mau tidur di kamarnya. Walaupun ini bukan yang pertama kali dirirnya tidur di satu kamar yang sama dengan Mas Adam, tapi tetap saja membuat Anin gugub dan salah tingkah.


"Aku tahu, kau tenang saja aku tidak akan menyentuhmu." ucap Adam lalu duduk di atas tempat tidur Anin.


"Syukurlah," ucap Anin dengan suara yang pelan sambil memegang dadanya yang dari tadi berdetak tak karuan karena ketakutan. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Anin menatap Mas Adam yang duduk di tempat tidurnya.


"Ya!" jawab Adam.


"Di mana kau berkenalan dengan Alya? apa kau tidak tahu kalau Alya adalah Adik tiri ku?" tanya Anin, Anin masih penasaran bagaimana cara Alya mendekati Adam.


Adam terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Anin. "Aku tahu Alya adik tirimu beda Ayah dan Ibu," jawab Adam.


"Lalu di mana kalian bertemu?" Anin mengulangi pertanyaannya.


"Apa begitu penting bagimu, untuk tahu di mana aku berkenalan dengan Alya." ujar Adam

__ADS_1


"Tidak penting juga sih," jawab Anin.


"Kalau tidak penting, untuk apa aku menjawabnya." ujar Adam lalu berjalan mendekati Anin.


"Kau mau apa?" pekik Anin dengan terkejut saat Adam mendekati dirinya.


"Mau sampai kapan kita mengobrol?" tanya Adam yang sudah berdiri tepat di depan Anin yang masih duduk diatas sofa.


"Maksudmu?" tanya Anin dengan gemetar saat Adam menundukan tubuhnya kearah Anin.


"Aku haus, bisa kau ambilkan air minum untuk ku," ucap Adam menatap wajah Anin yang sedang menundukan kepalanya.


"Te... tentu saja," ucap Anin dan langsung berdiri dari duduknya dengan cepat, sehingga membuat dagu Mas Adam terbentur oleh kepala Anin.


"Aww... !" teriak Adam kesakitan. "Kau itu ceroboh sekali.. " ujar Adam mengelus dagunya yang lumayan sakit karena terbentur kepala Anin.


"Maaf..., sakit tidak?" tanya Anin dengan perasaan bersalahnya, menyentuh dagu Mas Adam dengan tangannya.


Ketika Anin menyentuh dagu Mas Adam, tatapan mata mereka pun saling bertemu. Waktu serasa berhenti di sekitar mereka dan hanya terdengar bunyi detak jatung Anin yang terdengar sangat keras.


"Mas lepaskan aku!" pinta Anin dengan lirih, tidak berani menatap wajah Mas Adam.


"Apa kau masih membenciku?" tanya Adam yang tidak melepaskan tangan Anin dan kini justru memeluk tubuh Anin dengan kedua tangannya. "Aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi setidaknya bisakah kau tidak membenciku?" tanya Adam masih dengan menatap wajah Anin.


"Aku,---- !" Anin kembali terdiam tidak tahu harus menjawab apa.


"Lupankalah," ujar Adam yang sudah melepaskan tubuh Anin dari pelukannya.


Anin yang sudah terlepas dari pelukan Mas Adam, langsung berjalan keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum.


"Aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi setidaknya bisakah kau tidak membenciku?ucapan Mas Adam terus terngiang di telinga Anin


Setelah mengambil air minum di dalam kulkas, Anin pun langsung kembali kedalam kamar untuk memberikannya pada Mas Adam.

__ADS_1


Anin yang sudah masuk kedalam kamarnya, menatap pada tubuh Mas Adam yang sudah terbaring di atas tempat tidurnya.


"Kenapa dia cepat sekali tertidur?" gerutu Anin dengan menghelas nafasnya.


"Mas ini air minumnya," ujar Anin berusaha membangunkan Mas Adam.


Karena melihat Mas Adam yang tidak juga terbangun dari tidurnya, Anin pun langsung menaruh gelas yang di bawanya di atas meja.


Anin pun berjalan ke arah sofa kecil di kamarnya dan segera membaringkan tubuhnya di atas sofa, Anin tidak punya pilihan lain selain tidur di sofa itu. Karena dirinya masih belum siap untuk tidur satu ranjang dengan orang yang belum mencintainya.


Setelah beberapa menit menatap langit-langit kamarnya Anin pun mulai mengantuk, dan langsung tertidur dengan tubuh yang meringkuk di atas sofa.


Adam yang tadi hanya berpura-pura tertidur, langsung terbangun setelah melihat situasi yang sunyi karena Anin yang sudah tertidur.


"Kau itu wanita yang unik! memintaku untuk tidur di kamarmu, sedangkan kau sendiri malah tidur di atas sofa." gumam Adam menggelengkan kepalanya.


Adam menunggu beberapa saat sambil terus menatap wajah Anin, dan setelah yakin Anin sudah tertidur lelap. Adam pun berjalan kerah sofa. Dan dengan perlahan Adam menggendong tubuh Anin dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Adam menatap wajah Anin yang tertidur lelap di sampingnya, secara perlahan Adam mengusap rambut Anin yang tergerai indah di atas bantal.


"Kenapa aku harus terjebak di dalam dua pernikahan seperti ini... !" gumam Adam dalam hati.


"Andai aku bisa mengulang waktu, aku pasti tidak akan melakukan kesalahan itu." Adam kini mengelus wajah Anin dengan lembut.


Pov Adam


Adam Dharmawan adalah seorang pembisnis muda yang handal, bahkan perusahaannya menjadi perusahaan no satu di Indonesia.


Saat itu yang ada di dalam hidup Adam hanyalah kerja dan bekerja, hingga suatu hari dirinya di kejutkan oleh sebuah surat wasiat dari almarhum kakeknya yang meminta dirinya menikahi cucu sahabatnya.


"Anindita," nama wanita itu.


Sebuah nama yang tidak asing bagi Adam, apa lagi saat Ibunya memperlihatkan sebuah foto dirinya di sebuah rumah dengan seorang gadis berusia dua belas tahun. Barulah di situ Adam kembali mengingat siapa Anindita.

__ADS_1


Gadis kecil yang pernah di temuinya saat dirinya berusia tujuh belas tahun, dulu Kakeknya pernah membawa Adam ketempat sahabatnya yang tidak lain adalah Kakek Anin.


__ADS_2