Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 37 Kehamilan Alya


__ADS_3

Keesokan harinya Anin yang sudah turun dari kamarnya, melihat Mas Adam yang tidur di atas sofa di ruang tengah. Dengan perlahan Anin pun menghampiri Mas Adam.


"Mas bangun." Anin menggerakan bahu Mas Adam agar terbangun dari tidurnya.


Perlahan Adam pun terbangun dari tidurnya, dan melihat wajah Anin yang sudah di depannya. "Jam berapa sekarang?" Adam langsung duduk di atas sofa sambil mengusap wajahnya.


"Masih jam enam Mas," jawab Anin yang kini duduk di samping Mas Adam. "Mas kenapa tidur di sini?"


"Aku tidak ingin mengganggu tidurmu," jawab Adam, yang membuat Anin terdiam sejenak.


Anin sebenarnya merasa kasihan juga pada suaminya, Anin yakin Mas Adam pun sama sepertinya yang sedang binggung menghadapi situasi ini.


"Mas, kita harus bawa Alya ke Dokter kandungan untuk memastikan semuanya."


"Memastikan untuk apa lagi? saat ini yang sedang aku pikirkan adalah dirimu Anin. Aku tidak ingin karena masalah ini kau pergi dari ku," ujar Adam menggenggam tangan Anin dengan erat.


"Aku akan mengambil keputusanku saat kita sudah memeriksa Alya ke Dokter kandungan," ucap Anin melepaskan genggaman tangan Mas Adam, dan kembali masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan bersiap ke Dokter kandungan karena Anin sudah membuat janji dengan Dokter kandungan.


Setelah selesai bersiap Anin pun kembali ke bawah untuk menyiapkan sarapan, karena Anin tadi melihat Alya belum bangun dari tidurnya. Anin pun langsung menuju dapur dan memasak nasi goreng untuk mereka bertiga.


Saat pintu kamar Mas Adam terbuka Anin melihat Mas Adam keluar dari kamarnya bersama Alya yang terlihat merangkul manja pada lengan Mas Adam.


"Kak Anin terima kasih ya sudah menyiapkan sarapan untuk kami," ujar Alya dengan tersenyum.


Anin pun hanya diam tidak membalas semua ucapan Alya dan langsung duduk di kursi begitupun dengan Adam.


"Alya, setelah makan kau bersiaplah karena Mas Adam dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Mengajakku kemana?" tanya Alya dengan binggung. Karena tidak biasanya Anin mengajak dirinya.

__ADS_1


"Kami akan membawamu ke Dokter kandungan," jawab Anin, yang langsung membuat Alya terdiam.


"Untuk apa ke Dokter kandungan?" tanya Alya dengan gugup.


"Tentu saja untuk memeriksakan kadunganmu?" ucap Anin menatap tajam pada Alya yang terlihat gugup.


"Kalau mau memeriksa kandunganku, nanti saja ya Mas?" ujar Alya mengusap tangan Adam.


"Kenapa harus nanti? Aku ingin tahu kau benar hamil atau hanya.... " Tatapan mata Anin semakin tajam pada Alya.


"Apa maksud perkataan mu kak? Apa kau menuduhku kalau aku hanya berpura-pura hamil?" Alya masih berusaha untuk tetap tenang dan menahan emosinya, karena saat ini Mas Adam ada di samping dirinya.


"Aku tidak menuduhmu Al, kalau kau memang benar hamil. Tentu tidak akan keberatan jika kita pergi ke Dokter Kandungan sekarang."


"Te-tentu saja aku tidak keberatan,"


"Baguslah kalau begitu," Anin kembali memakan nasi gorengnya.


Setelah selesai sarapan mereka bertiga pun langsung masuk kedalam mobil dengan Alya yang duduk di belakang. Anin sesekali menatap kearah Alya yang terlihat gugup dengan wajah yang pucat.


"Bagaimana ini? Jika aku ketahuan berbohong, Mas Adam pasti akan menceraikan ku saat ini juga." Alya terus saja memikirkan apa yang akan terjadi padanya. Alya pun memutar otaknya untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sedang di hadapinya.


Mobil yang ditumpangi oleh mereka pun sampai di depan Rumah Sakit Ibu dan Anak Grand Family, mereka bertiga pun langsung masuk. Anin yang berjalan di depan bersama Mas Adam menatap kearah belakang di mana Alya berjalan dengan sangat lambat masih dengan wajah pucatnya dan terlihat sangat binggung.


Setelah lima belas menit menunggu antrian, Alya pun masuk di temani oleh Adam dan Anin.


"Bagaimana Dok?" Anin menatap Dokter yang ada di hadapannya dengan harap-harap cemas.


Sementara Alya yang pasrah, sudah bersiap untuk menerima amukan dari Mas Adam. Alya sangat yakin Mas Adam pasti akan memarahi dirinya habis-habisan dan akan menceraikannya.

__ADS_1


"Kandungan Ibu Alya sehat," ujar Dokter.


Membuat Anin dan Adam saling berpandangan, sementara Alya terlihat shock dengan perkataan Dokter kandungan yang duduk di depannya.


"Dokter tidak salah periksakan? Alya benar hamil?"


Anin yang terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Dokter kandungan itu, berusaha untuk memastikan kembali pada apa yang di dengarnya tadi.


"Tentu saja aku tidak salah periksa, Ibu Alya memang sedang hamil dan usia kandungannya --"


Belum sempat mendengarkan perkataan Dokter, Anin yang semakin hancur dan sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa langsung pergi dari ruangan Dokter. Yang langsung di susul oleh Adam.


"Dok, apa benar saya hamil?" tanya Alya setelah melihat Mas Adam dan Anin keluar dari ruangan.


"Tentu saja, kalau dilihat dari USG tadi usia kehamilan anda sudah memasuki delapan minggu,"


Alya pun terdiam sambil mengingat kembali kejadian sebelum dirinya menjebak Mas Adam. "Apakah anak ini?" gumam Alya dalam hati dengan wajah yang terkejut.


"Nyonya anda baik-baik saja?" tanya Dokter kandungan itu pada Alya.


"A-aku baik-baik saja Dok," jawab Alya. "Tapi Dokter, kenapa aku tidak merasakan kalau aku sedang hamil? maksudku aku tidak mengalami mual atau ngidam layaknya seorang Ibu hamil?"


"Kehamilan di setiap Ibu hamil itu berbeda-beda, ada yang mengalami mual-mual bahkan sampai muntah dengan hebat, ada juga yang tidak seperti anda. Itu semua tergantung pada kondisi tubuh masing-masing."


Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Dokter kandungan, Alya pun berjalan keluar dari ruangan dengan langkah gontainya. Saat ini dirinya merasa cukup lega karena bisa lepas dari amarah Mas Adam, tapi yang menjadi masalahnya saat ini adalah dirinya sedang mengandung anak yang bukan darah daging Mas Adam.


"Bagaimana ini? kenapa aku tidak menyadari kalau aku sedang hamil?" gumam Alya dalam hati, Alya memang tidak pernah curiga saat dirinya terlambat datang bulan. Karena memang masa menstruasi Alya yang selalu tidak beraturan, kadang satu bulan haid di bulan berikutnya tidak. Terkadang lancar dan di bulan berikut lagi nya tidak lancar.


Alya yang terus berjalan dengan binggung sampai tidak menyadari dirinya menabrak seseorang yang ada di depannya. Dan menjatuhkan amplop hasil usg dirinya.

__ADS_1


"Nona, kertas anda terjatuh!" teriak seorang pria lain di belakang Alya, yang melihat sebuah amplop yang terjatuh dan berusaha memanggil wanita tadi.


Namun Alya yang sedang binggung terus berjalan dan langsung naik Taxi tanpa mendengar suara orang yang memanggilnya.


__ADS_2