Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 45


__ADS_3

Adam yang sudah sampai di kediaman Pak Salim, kini sedang duduk berhadapan langsung dengan Ayah mertuanya yang terlihat marah padanya.


"Untuk apa Nak Adam kemari lagi?" tanya Pak Salim menatap tajam ke arah menantunya.


"Saya ingin bertemu dengan Anindita, Pak."


"Bapak tidak mengijinkan Nak Adam untuk bertemu dengan Anindita lagi, Bapak sangat kecewa padamu dan Alya." Pak Salim menghela nafasnya dengan panjang berusaha untuk tidak emosi, karena dirinya takut penyakitnya akan kambuh dan justru membuat Anin bersedih kembali.


"Pak, Adam minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Tapi Adam sangat mencintai Anin dan ingin mempertahankan rumah tangga kami," ucap Adam dengan menundukan kepala.


"Lalu mau kau kemanakan Alya? Dia sedang mengandung dan Anin pun tidak akan mungkin mau hidup berpoligami!" seru Pak Adam dengan tegas.


"Adam akan mencari jalan keluarnya Pak, dan Adam janji tidak akan menyakiti siapa pun terutama Anin."


Pak Salim menghela nafasnya dengan berat, dan menatap menantu dengan menggelengkan kepalanya. "Bapak rasa tidak akan semudah itu, lagi pula Anin juga sedang -- " ucapan Pak Salim tertahan saat melihat Anin yang masuk kedalam rumah.


"Anin," panggil Adam menatap wanita yang sangat dirindukannya itu.


"Mas," ucap Anin dengan datar. "Kebetulan Mas ada disini," Anin berjalan mendekati Mas Adam dan menyerahkan berkas ketangan Mas Adam.


"Apa ini?" Adam membuka berkas tersebut dan langsung terkejut.


"Hari ini aku sudah mendaftarkan gugatan cerai kita Mas," ucap Anin dengan suara yang pelan.


"Anin,!" seru Adam menatap tajam pada Anindita. Dan mereka pun saling berpandangan hingga membuat suasana menjadi tegang.


"Anin duduklah dulu... !" pinta Pak Salim berusaha mencairkan ketegangan yang terjadi antara putri dan menantunya itu.

__ADS_1


"Anin lelah yah, Anin mau masuk ke kamar." Anin hendak melangkahkan kakinya namun langsung tertahan dengan teguran dari Ayahnya.


"Kalian aku nikahkan dengan baik-baik, dan kalau memang kalian ingin berpisah. Ayah pun ingin melihatnya dengan baik-baik, selesaikan masalah kalian dengan hati yang dingin." Pak Salim menyentuh pundak Anindita dan langsung masuk kedalam kamarnya meninggalkan anak dan menantunya.


Anin yang merasa tertampar oleh ucapan Ayahnya, langsung duduk tanpa menatap Mas Adam. Anin takut hatinya akan luluh dan tidak akan bisa melepaskan suaminya itu. "Ada apa Mas kemari?" tanya Anin masih dengan membuang tatapan matanya kesembarang arah.


"Apa ini Anindita?" tanya Adam tanpa menjawab pertanyaan Anin.


"Kau sudah membacanya dan mendengar perkataanku tadi," jawab Anin dengan tegas.


"Aku tidak menyangka secepat ini kau urus surat perceraian ini?" lirih Adam menatap Anin dengan intens. "Aku pikir dengan membiarkanmu pulang ke rumah orang tuamu, pikiranmu menjadi lebih tenang. Tapi sekarang? " Adam melempar berkas tersebut keatas meja.


"Mas, bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku -- " Anin terdiam saat Mas Adam langsung berjalan mendekat kearahnya dan berjongkok dengan menggenggam kedua tangannya.


"Sayang, aku mohon kau mau kembali bersamaku. Aku tidak bisa jika harus kehilangan dirimu," Adam mengecup kedua tangan Anin. "Mas sangat merindukanmu," lirih Adam. Membuat Anin tidak bisa berkata-kata.


"Mas, aku mohon jangan membuatku susah. Apa kau tahu aku pun menderita dan hatiku terluka Mas." Anin mencoba melepaskan genggaman tangannya.


"Kau gila Mas, kalau aku kembali ke Jakarta. Aku justru akan semakin terluka," ujar Anin dengan menggelengkan kepalanya.


"Dengarkan aku, kau pernah bilang padaku. Kalau kita berjodoh sejauh apa pun kita berpisah pasti akan ada jalan untuk kembali, itu sebabnya aku datang kemari." Adam pun menceritakan semuanya pada Anin saat dirinya menemukan kertas hasil usg Alya dan memperlihatkannya pada Anindita.


Anin membaca hasil pemeriksaan usg milik Alya dengan terkejut, Anin pun mendengarkan semua cerita dari Mas Adam yang bahkan sampai mendatangi Dokter kandungan yang kemarin memeriksa Alya.


"Tapi Mas, kemungkinan anak itu anakmu masih ada!" seru Anin.


"Aku tahu itu, tapi kemungkinan anak itu bukan anakku pun ada." ujar Adam. "Mas minta kembalilah ke Jakarta, temani aku untuk bisa memperjuangkan pernikahan kita. Jika nanti hasil tes itu sudah keluar, dan apapun hasilnya aku akan menerima keputusan yang akan kau ambil." pinta Adam dengan penuh harap.

__ADS_1


"Aku -- " Anin menatap wajah suaminya itu dengan perasaan bimbang.


"Ikutlah dengan suamimu Anin," ucap Ibu Tika dari arah belakang. Membuat Anin dan Adam langsung terkejut.


"Tante Tika!" seru Anin.


"Kembalilah ke Jakarta, beri satu kesempatan pada suamimu nak, agar suatu saat nanti kau tidak akan menyesali keputusanmu." Ibu Tika berusaha tegar untuk mengucapkan kalimat tersebut, karena apa yang di ucapkannya itu justru akan membuat rumah tangga putrinya sendiri akan hancur.


"Bu, Adam minta maaf atas apa yang terjadi." Adam menundukan kepalanya dengan penuh penyesalan.


"Aku sudah memaafkanmu Adam, apa pun yang terjadi kedepannya. Ibu harap itu semua yang terbaik untuk kalian bertiga," ucap Ibu Tika dengan tersenyum. Dan hendak membalikan tubuhnya untuk kembali kedalam kamarnya.


"Tante tunggu!" Anin berjalan mendekati Tante Tika. "Kenapa Tante melalukan ini? bukankah jika aku kembali ke Jakarta, Alya -- "


"Aku hanya ingin melihat yang terbaik untuk kalian bertiga, dan jika yang terbaik itu ternyata putriku harus berpisah dengan Adam. Mungkin itu sudah jalannya," jawab Ibu Tika dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Anin pun terdiam dengan perkataan Tante Tika, Anin tidak pernah menyangka Tante Tika adalah orang yang baik. Selama ini yang ada di pikiran Anin, Tante Tika adalah wanita yang jahat yang hanya ingin mendapatkan harta Ayahnya. Itu sebabnya Anin selalu memperlakukan Tante Tika dengan seenaknya dan itu membuat Alya membenci dirinya karena selalu membuat Ibunya menangis dengan perkataannya yang kasar.


"Sayang," Adam merangkul pundak Anin. "Jadi apakah kau mau kembali ke Jakarta bersamaku?" tanya Adam kembali. Anin menatap wajah suaminya yang berada disamping dirinya dengan perasaan bimbang.


Jakarta.


Alya yang sudah mempersiapkan semua masakan istimewa untuk makan malam romantis dirinya bersama dengan Mas Adam. Sudah menunggu dengan tidak sabar, Alya sangat yakin kalau Mas Adam pasti akan mengabulkan permintaannya yang ingin status pernikannya mendapatkan pengakuan resmi dari negara. Alya yang menunggu, duduk di meja makan dengan melihat jam di tanganya.


"Kenapa belum pulang juga?" gumam Alya, mengambil ponselnya untuk menghubugi Mas Adam. Namun lagi-lagi telepon itu tidak diangkat oleh suaminya.


Setelah menunggu hampir dua jam, Alya pun langsung bahagia saat mendengar suara mobil Mas Adam. Alya langsung memperbaiki penampilannya dan menunggu Mas Adam di ruang tamu.

__ADS_1


"Mas kau sudah pulang?" tanya Alya dengan senyum manisnya, saat melihat Mas Adam masuk kedalam rumah. Namun senyuman itu langsung hilang saat melihat Mas Adam membawa sebuah koper. "Koper siapa itu Mas?" tanya Alya dengan bingung.


"Ini koper -- " ucapan Adam terhenti saat Anin masuk kedalam rumah, dan membuat Alya sangat terkejut hingga hampir pingsan ditempat. Karena melihat wanita yang dibencinya itu kini berdiri disamping suaminya.


__ADS_2