Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 35 Kejutan Dari Alya


__ADS_3

Di dalam pesawat, Anin yang duduk di sebelah Pak Andre mengerjakan semua pekerjaan yang tertunda. Dan Adam duduk bersama Intan yang sesekali menatap ke arah Anin dan Andre dengan tatapan yang cemburu.


Setelah sampai di bandara Soekarno hatta, Anin pun meminta ijin pada suaminya untuk langsung berangkat ke kantor Pak Andre.


"Mas, aku berangkat dulu." Anin mengambil tangan Mas Adam dan mengecup punggung tangan suaminya.


"Hati-hati sayang, aku usahakan untuk menjemputmu pulang." ucap Adam membelai wajah Anin dengan lembut.


Setelah berpamitan, Anin pun langsung masuk kedalam mobil Pak Andre untuk menuju ke kantornya. Sedangkan Adam langsung masuk kedalam mobilnya bersama Intan.


Di dalam mobilnya, Andre beberapa kali mencuri pandang pada Anin. Andre ingin sekali menanyakan hubungan Anin dengan suaminya yang terlihat semakin intim.


"Pak, apa ada yang salah dengan ku?" tanya Anin, yang menyadari Pak Andre dari tadi melihat padanya.


"Tidak ada," jawab Andre dengan singkat.


Andre memutuskan untuk tidak bertanya pada Anin, dirinya akan bertanya pada Mita sepupunya. Karena Andre yakin Anin pasti menceritakan semuanya pada Mita.


Setelah sampai di perusahannya Andre pun langsung masuk kedalam ruangannya begitu pun dengan Anin. Anin yang berada di ruangannya langsung di kejutkan oleh kedatangan Mita.


"Udah pulang Non?" tanya Mita, yang langsung duduk di kursi.


"Ya sudahlah, kalau belum aku tidak akan ada di sini." Anin mengeluarkan paper bag yang tadi dibawanya dan memberikannya pada Mita.


"Buat aku?" tanya Mita dengan wajah yang bahagia, yang di jawab anggukan kepala oleh Anin.


"Terima kasih Anin," Mita langsung memeluk sahabatnya itu.


"Ucapan terima kasihnya sama Mas Adam, karena oleh-oleh itu dibeli pake uang dia." ucap Anin dengan terkekeh.


"Cie... cie yang udah makin mesra aja." goda Mita. "Ceritain dong Nin gimana rasanya belah duren?" tanya Mita penasaran.


"Rasanya ya manislah, nama nya juga duren." jawab Anin dengan tertawa.


"Anindita bukan duren buah, tapi duren ---- " Mita pun tertawa cekikìkan.


"Rasanya.... " Anin pun membisikan sesuatu ketelinga Mita.


"Ah, jadi tidak sabar pengen cepet nikah." Mita senyum senyum sendiri entah membayangkan apa.

__ADS_1


"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Bayu?" tanya Anin.


"Hubungan kami berjalan dengan lancar. Bayu itu pria yang sangat baik, walaupun dia masih menjadi staf biasa. Tapi aku akan mendukungnya sampai nanti dia menjadi orang sukses." ucap Mita.


"Kalau boleh tahu kalian bertemu di mana?" tanya Anin penasaran. Karena selama ini Anin tidak pernah mendengar Mita berbicara tentang Bayu.


"Kami bertemu di Cafe depan, tempat kita biasa nongkrong," jawab Mita.


"Oh.... " Anin mengangguk anggukan kepalanya.


"Satu lagi, Bayu itu sama loh dengan kita. Dia berasal dari bandung."


"Oh ya!" seru Anin.


"Bayu itu baru empat minggu di sini, dia bilang awalnya datang ke Jakarta untuk mencari temannya. Tapi karena tidak ketemu, dia pun akhirnya memutuskan untuk kerja disini sambil mencari temannya itu.


Anin yang mendengarkan semua cerita tentang Bayu, hanya mengangguk anggukan kepalanya. Mita dan Anin pun terus berbicang-bincang sampai jam waktu istirahat selesai, dan Mita pun meninggalkan ruangan Anin dengan membawa oleh-oleh di tangannya.


Dan setelah selesai jam kerja, Anin pun pulang dengan di antar oleh Mita, karena tadi Mas Adam menghubunginya dan berkata tidak bisa menjemputnya dan kemungkinan akan pulang larut malam.


Anin yang sudah sampai di rumahnya, langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alya.


"Dari mana saja kau? sudah tiga hari baru pulang?" tanya Alya dengan ketus.


"Kamu itu tuli ya! Aku ini bertanya padamu," seru Alya dengan menarik tangan Anin.


"Aku dari mana itu bukan urusan mu!" jawab Anin yang tidak kalah ketusnya. Langsung naik ke tangga menuju kamarnya.


Alya yang dibawah tangga menatap pada punggung


Anin dengan senyum sinisnya. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau ke Bali dan satu kamar dengan Mas Adam," gumam Alya dalam hati.


Alya teringat kembali saat dirinya sudah menutup ponsel dari Mas Adam, Alya langsung meminta info kegiatan Mas Adam seharian itu kepada orang suruhannya yang selalu mengikuti Mas Adam. Dan orang itu mengirimkan foto seorang wanita yang satu kamar dengan Mas Adam, dan wanita itu adalah Anindita.


"Kau boleh bahagia saat ini, tapi besok pagi kau akan terkejut saat aku memberikan kabar yang akan membuat jantung mu itu berhenti." Gumam Alya dengan tersenyum penuh kelicikan.


Anin yang sudah berada di kamarnya, langsung menuju kamar mandi. Dan setelah mandi Anin pun langsung tertidur dengan pulasnya, entah sudah berapa lama Anin tertidur. Sampai dirinya merasakan ada yang menyentuh pinggangnya yang membuat Anin langsung terbangun dan mendapati Mas Adam sedang memeluknya dari belakang.


"Mas kau sudah pulang?" lirih Anin yang sudah membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf aku sudah mengganggu mu tidur," ujar Adam mencium kening Anin dengan lembut.


"Sayang kau pasti lelah? mau aku buatkan sesuatu?" tanya Anin yang hendak bangun dari tidurnya. Namun tangan Mas Adam menariknya kembali dan langsung memeluknya kembali.


"Tetaplah disini, aku sangat merindukanmu." Adam memeluk Anin dengan sangat erat.


"Kau itu kenapa sih Mas?" tanya Anin yang merasa Mas Adam itu sangat manja.


Adam tidak menjawab pertanyaan Anin sama sekali, Adam justru asik mencium wajah Anin dengan lembut hingga membuat Anin kegelian.


"Mas geli," pekik Anin dengan menahan tawanya.


Ciuman kecil itu berubah menjadi ciuman yang sangat bergairah saat Adam memangut bibir Anin dengan penuh perasaan yang menggebu. Anin yang tahu keinginan suaminya itu pun mulai melepaskan yang di kenakan oleh Mas Adam, begitu pun sebaliknya. Dan memulai percintaan mereka.


Adam dan Anin yang sedang di mabuk cinta, tidak menyadari Alya yang berdiri di depan pintu kamar Anin. Mendengarkan suara yang keluar Adam dan juga Anin.


"Kamu jahat Mas, kamu tidak pernah menyentuhku. Tapi dengan Anin ---- " Alya pun langsung pergi dari kamar Anin dengan perasaan sakit hatinya.


"Aku tidak akan rela melihat kalian bahagia, dan besok aku akan memberikan kejutan pada kalian terutama untuk mu Anin," ujar Alya dengan mengepalkan kedua tangannya.


Keesokan harinya, Adam yang sudah mandi langsung memeluk tubuh Anin dari belakang. "Kapan kau akan keluar dari pekerjaanmu?" tanya Adam yang mulai mencium tengkuk Anindita.


"Mas, geli ah" pekik Anin, membalikan tubuhnya menatap mata Mas Adam dengan intens. "Aku akan bicara dengan Pak Andre secepatnya Mas, dan menyelesaikan dulu pekerjaanku."


"Oke," ucap Adam lalu mengecup bibir Anin dengan lembut.


Setelah selesai memakai pakaian kerja, Adam dan Anin pun turun ke lantai bawah dan melihat Alya yang sudah duduk di kursi makan.


"Sayang, tadi malam kau pulang tidak membangun kan ku malah langsung ke kamar Kak Anin," ucap Alya dengan memasang wajah sedih.


"Alya aku," Adam menatap pada Anin dan Alya bergantian. "Ada yang harus aku sampaikan padamu," ujar Adam menatap Alya dengan intens.


"Tunggu Mas, sebelum kau menyampaikan sesuatu. Aku ingin memberimu sebuah kabar bahagia." Alya pun langsung berjalan menuju kamarnya.


Sementara Adam dan Anin saling menatap dengan binggung.


"Ini Mas," Alya menyerahkan sebuah test pack pada Mas Adam.


"Apa ini?" tanya Adam dengan binggung.

__ADS_1


Anin yang melihat apa yang di pegang oleh Adam, langsung menutup mulutnya dengan kedua tanganya dengan wajah yang terkejut.


"Itu test pack sayang, dan garis dua itu artinya aku hamil. Aku hamil anakmu Mas," ujar Alya memeluk Adam dengan senyuman di wajahnya.


__ADS_2