Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 50


__ADS_3

"Bagaimana Dok?" tanya Adam pada Dokter yang tadi memeriksa Alya.


"Sepertinya Nona Alya mengalami suatu tekanan emosi didalam jiwanya karena suatu masalah atau kejadian dan Nona Alya tidak bisa mengeluarkan emosinya tersebut. Sehingga membuat mentalnya sedikit terganggu, dan saya sarankan Nona Alya harus segera di bawa ke Dokter Spesialis Psikiater agar bisa secepatnya ditangani." Dokter Ridwan menerangkan panjang lebar pada Adam.


"Tapi jika ditinggalkan begini, apa tidak papa Dok? Saya khawatir kalau Alya melukai orang lain atau melukai dirinya sendiri."


"Anda tidak perlu khawatir, tadi saya sudah suntikan obat bius agar Nona Alya bisa tertidur dan beristirahat."


"Baiklah terima kasih Dok," ucap Adam mengantarkan Dokter itu sampai diruang tengah.


Saat Adam hendak masuk kembali ke dalam kamar, dirinya baru tersadar ada Mita dan Rizal yang masih duduk diruang tengah.


"Maaf Pak Rizal, Mita. Saya tadi sempat lupa kalian masih disini." Adam ikut duduk di kursi bersama Rizal dan Mita.


"Tidak papa Pak Adam," jawab Rizal.


Mita hanya terdiam tidak menjawab perkataan Adam, dipikirannya masih berputar tentang kejadian tadi. Mantan kekasihnya kini sudah meninggal dunia akibat kecelakaan di depan matanya.


"Mas Adam, boleh saya ke kamar Anin." pinta Mita.


"Boleh, silahkan masuk." jawab Adam.


Mita pun langsung bergegas masuk kedalam kamar untuk menemui Anindita. Karena Mita ingin pamit pada Anin, Mita ingin mengurus jenazah Bayu yang sekarang masih berada di rumah sakit.


"Jadi bagaimana?" tanya Adam pada Rizal mengenai interogasi polisi.


Rizal pun menjelaskan semuanya secara rinci pada Adam apa yang tadi dibicarakan antara dirinya dan pihak kepolisian.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Ibu Alya?" tanya Rizal, membuat Adam mengerutkan keningnya.


"Alya, dia terguncang dengan apa yang terjadi. Kami secepatnya akan membawanya ke Dokter Psikiater," Jawab Adam sambil menatap wajah Rizal yang terlihat jelas khawatir pada Alya.


"Baiklah Pak saya pamit pulang," ucap Rizal. Dan secara kebetulan Mita pun sudah pamit kepada Anin dan berjalan kearah Adam untuk pamit pulang juga.


Mita dan Rizal kini berada di depan rumah Adam, Mita yang tadi tidak bawa mobil. Sedang berusaha mencari taksi online.


"Mau saya antar?" tanya Rizal, karena melihat Mita yang sedang terburu-buru.


"Apa tidak merepotkan anda?" tanya Mita.


"Tentu saja tidak," jawab Rizal


Akhirnya Mita pun ikut bersama Rizal, karena Mita sedang terburu-buru sedangkan taksi online sangat susah didapatkannya.


Entah mengapa Rizal merasa sosok Alya adalah wanita yang sangat kesepian, Alya terlihat tidak pernah tersenyum. Dan Rizal pun tahu Alya tidak punya teman di Jakarta ini karena Alya tidak pernah bertemu orang lain saat jalan-jalan ke Mall atau ketempat lain. Tapi ada satu hal yang selalu menggelitik perasaan Rizal, sikap Alya yang selalu memberi uang pada setiap orang tua yang meminta-minta di jalanan, dan juga pengamen. Dibalik sosoknya yang tidak pernah tersenyum dan pendiam Alya memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Dan kini melihat sosok Alya yang terlihat depresi tadi membuat hati Rizal bersedih, dan Rizal pun sudah memutuskan untuk membantu Alya untuk sembuh dari penyakitnya.


Keesokan harinya.


Ibu Tika yang sudah datang kerumah Adam. Tampak menangis melihat keadaan Alya yang hanya berdiam diri di atas kasur tanpa ekspresi apa pun, diajak berbicara pun Alya tidak menjawab sama sekali. Akhirnya Pak Salim, Ibu Tika, Anin dan Adam membawa Alya pada seorang Psikiater terkenal di Jakarta.


Dokter Psikiater yang bernama Mira mengajak Alya bicara dari hati kehati, agar perasaan yang ditekan oleh Alya bisa dikeluarkan. Tapi sayangnya Alya masih diam tidak mau berbicara hanya air mata yang keluar dari sudut matanya yang membanjiri kedua pipinya. Ibu Tika yang melihat Alya menangis pun ikut menangis di pelukan Pak Salim.


Setelah selesai, Alya pun dibawa kembali pulang kerumah Adam. Karena Adam sudah memutuskan agar Pak Salim dan Ibu Tika untuk tinggal di Jakarta di rumahnya, agar Ibu Tika bisa merawat Alya. Sementara Adam dan Anin akan pindah ke rumah baru, dengan harapan dirumah baru itu kehidupan pernikahan Anindita dan Adam akan selalu rukun dan harmonis dan awet sampai maut memisahkan.


Tujuh tahun kemudian.

__ADS_1


"Bunda, bunda kenapa menangis?" tanya Bayu pada Bundanya yang duduk di tepi ranjang.


"Bunda tidak menangis sayang," jawab Anindita pada anak laki-laki yang berusia enam tahun lebih sambil mengusap air matanya.


"Tapi mata Bunda merah? Apa karena Ayah, Bunda menangis?" tanya Bayu dengan bersedih.


"Mata Bunda merah karena kemasukan debu sayang," ucap Anin dengan berbohong.


"Oh, bunda sakit mata?" tanya Bayu dengan polosnya, yang dijawab anggukan kepala oleh Anin.


"Bayu mau makan?" tanya Anin pada putranya itu, atau yang lebih tepatnya putra Alya.


"Bayu masih kenyang! Bunda, boleh tidak Bayu main bola di halaman depan?" tanya Bayu dengan tersenyum.


"Boleh dong sayang," Anin mengusap rambut Bayu penuh dengan kasih.


Bayu pun langsung berlari ke halaman depan rumahnya dan bermain bola bersama Pak Supri supir pribadi Anindita.


Anindita menatap Bayu yang asik bermain dengan wajah yang masih bersedih, tujuh tahun sudah berlalu banyak kejadian yang terjadi di dalam kehidupan pernikahan Anindita.


Flash back


Anin kembali mengingat saat dirinya dan Adam memutuskan untuk pindah rumah, setiap hari Anin datang kerumah Alya untuk membantu Ibu Tika mengurus Alya yang masih belum menunjukan perubahan. Anin sudah menganggap Alya sebagai adiknya sendiri dan dengan tulus membantu mengurus Alya, dan kegiatan Anin yang membantu mengurus Alya jadi lebih mudah karena ada Rizal yang ikut membantunya. Rizal selalu datang setiap hari untuk menemui Alya dan mengajaknya berbicara, kehadiran Rizal di dalam hidup Alya membawa perubahan besar dan sedikit demi sedikit Alya pun sudah mau di ajak berbicara. Ketulusan hati Rizal mampu membawa Alya kembali ke dunia nyatanya.


Dan dalam waktu tiga bulan Alya pun sudah kembali sehat, dan saat pertama kali tersadar Alya menangis dan menjerit sekuat-kuatnya mengeluarkan semua belenggu emosi di hatinya. Alya merasa sangat bersalah pada Bayu dan terutama pada anak yang dikandungnya karena sudah membuat anak tersebut kehilangan seorang Ayah, sama dengan apa yang dialaminya dulu.


Alya yang sudah sembuh langsung pergi kemakam Bayu ditemani oleh Rizal, Alya menangis di pusara Bayu dengan penyesalan yang teramat dalam. Dan setelah pulang dari makam, Alya pun langsung meminta maaf pada Anin dan Mas Adam. Bahkan Alya sampai bersimpuh di hadapan Anindita dan juga Mas Adam.

__ADS_1


__ADS_2