
Adam menatap pada wajah istrinya itu, sungguh Adam tidak tega melihat Anindita menangis seperti itu. Sudah banyak cobaan yang dihadapi olehnya dalam pernikahannya bersama Anindita, tapi cobaan kali ini benar-benar menguras air mata dan pikirannya. Adam tidak menampik jika dirinya sangat menginginkan seorang anak, tapi Adam hanya ingin mendapatkan anak dari rahim seorang Anindita bukan perempuan lain.
"Baiklah kalau itu mau mu, aku akan menikah lagi!" ucap Adam dengan suara beratnya, membuat Anindita terkejut.
Ada perasaan lega dan sakit dihatinya secara bersamaan saat mendengar Mas Adam mengabulkan permintaannya. Sebagai wanita biasa Anin pasti merasakan sakit yang teramat dalam, tapi Anin berusaha untuk menekannya. Karena yang terpenting baginya kini hanyalah kebahagian Mas Adam dan Bapak mertuanya yang sudah tua.
"Tapi ada syaratnya, aku ingin kau yang memilihkan calon pasanganku." ujar Adam masih dengan suara beratnya.
"Tapi Mas,"
"Itu syarat yang mutlak, dan jika kau tidak bersedia aku tidak akan menikah lagi." Adam pun berdiri dari duduknya. Sungguh perasaan Adam pun hancur mengatakan semuanya itu pada Istri tercintanya.
"Baik Mas, aku akan mencarikan wanita itu." Ucap Anin dengan menundukan kepalanya.
Setelah mendengar perkataan Anindita, Adam pun langsung meninggalkan kamar dan menuju ruang kerjanya. Adam hanya terdiam dengan menatap foto keluarga kecilnya, foto dirinya bersama Anindita dan Bayu.
"Kenapa kau memberikan cobaan yang begitu berat padaku?" gumam Adam dalam hati. "Tapi aku yakin kau tidak akan memberikan cobaan pada umatnya melebihi kemampuannya!" gumam Adam kembali yang sudah berpasrah diri pada yang kuasa atas jalan kehidupan pernikahannya bersama Anindita.
Keesokan harinya.
Anin kini berada di Cafe tempat dirinya biasa bertemu dengan Mita sahabatnya.
"Ya ampun Anindita, kau serius meminta Mas Adam menikah lagi?" tanya Mita dengan terkejut.
"Aku hanya ingin melihat Mas Adam bahagia Mit, aku tidak bisa memberikannya keturunan." jawab Anindita.
"Anindita, kau itu baru tujuh tahun menikah. Banyak di luaran sana yang sudah menikah sepuluh tahun, tiga belas tahun belum mempunyai anak! tapi mereka masih bersabar." ucap Mita dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
"Mita ini bukan masalah waktu tujuh tahun, sepuluh tahun. Masalahnya tidak semudah itu, aku sudah divonis Dokter untuk susah hamil Mita ada penyumbatan tuba falopi dirahimku. Dokter sudah melakukan operasi tapi hasilnya sampai sekarang aku tetap tidak bisa mengandung," lirih Anin yang mulai meneteskan air mata. Mita yang melihat Anin menangis langsung memeluk sahabatnya.
"Aku tidak ingin karena keegoisanku yang tidak ingin di madu, membuat Bapak mertua ku tidak bisa merasakan memiliki cucu." ujar Anin kembali.
"Tapi apa kau siap, Berbagi suami dengan wanita lain?" Tanya Mita dengan hati-hati.
"Mau tidak mau aku harus siap Mit, hanya itu yang bisa aku lakukan. Karena Mas Adam tidak akan pernah mau menceraikanku," Anin mengusap air matanya. "Oh iya bagaimana kabar Shasa?" Anin menanyakan kabar putri Mita yang sudah berusia tiga tahun.
"Kabar Shasa baik," jawab Mita dengan tersenyum.
"Kau begitu beruntung Mita, memiliki putri yang sangat cantik." Ucap Anin, "Dan sampai detik ini aku tidak menyangka kalau kau dan Rizal ternyata berjodoh!" Anindita tersenyum pada sahabatnya.
"Aku sendiri pun tidak pernah menyangka bisa menikah dengan seorang pria yang bernama Rizal. Pria yang awalnya akan menikah dengan Almarhum Alya." Ujar Mita dengan tersenyum.
"Itulah yang dinamakan dengan jodoh, kita tidak tahu jodoh kita itu siapa? Kita memang bisa memilih orang yang kita cinta, tapi jika belum berjodoh maka dengan sendirinya akan berpisah dan begitu pun sebaliknya."
"Amin ya roballalamin" Anin mengamini doa Mita.
...........
Satu minggu kemudian.
"Mas kenalkan ini Mutia, keponakan Pak supri yang akan menjadi calon istrimu." Ucap Anin mengenalkan Mutia pada Mas Adam.
Adam hanya terdiam tanpa ekspresi apa pun, bahkan Adam pun tidak melirik sama sekali pada Mutia. Membuat Anin tidak enak hati pada Mutia dan Pak Supri.
"Mas," lirih Anin.
__ADS_1
"Kau atur saja semuanya!" ucap Adam dengan datar. "Aku mau keruang kerjaku dulu." Adam langsung beranjak dari duduknya menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Anin, Mutia dan Pak supri yang masih duduk diruang tengah.
"Mas... !" Panggil Anin, tapi Mas Adam tidak memperdulikan sama sekali ucapan Anin.
Anin yang merasa tidak enak pada mutia langsung meminta maaf atas sikap Mas Adam, dan untungnya Mutia pun mengerti dan memakluminya. Anin pun akhirnya berbincang dengan Mutia, untuk lebih mengenal jauh pada calon madunya itu. Dan setelah mengobrol selama satu jam, Mutia pun pulang diantar oleh Pamannya yang tak lain Pak Supri supir pribadi Anindita.
"Mas, kenapa kau bersikap seperti itu?" tanya Anin yang sudah masuk kedalam ruang kerja suaminya. Dan melihat Mas Adam yang terdiam diatas kursi.
"Kau tahu betul alasanku," jawab Adam dengan datar.
"Tapi Mas, aku tidak enak pada Mutia dan Pak supri." lirih Anin.
Adam hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Anin sama sekali, membuat Anin sangat bersedih. Karena permasalahan ini sudah membuat Mas Adam mendiamkannya selama satu minggu.
"Mas, tidakkah kau rindu padaku? Sudah satu minggu ini kau mendiamkanku. Dan tidak menyentuhku!" lirih Anin dengan menundukan kepalanya.
Adam menatap pada wajah Anin dan menghampiri Istri nya itu. "Aku sangat merindukanmu, tapi aku menahannya agar kau mau merubah permintaanmu! Tapi ternyata aku salah. Kau justru sudah mendapatkan calon untukku tanpa memikirkan perasaanku," ucap Adam sambil mencium bibir Anin dengan penuh gairah yang selama satu minggu dipendamnya.
Anin pun membalas ciuman suaminya itu dengan penuh gairah, entah mengapa tubuh Anin sangat menginginkan suaminya itu. Adam yang tahu Anin pun sedang bergelora, langsung melepaskan ciumannya dan mengunci pintu ruang kerjanya. Di rengkuhnya tubuh Anin dan dibaringkannya di atas sofa panjang yang ada di ruang kerjanya.
Tanpa menunggu lama Adam langsung melepaskan semua pakaian yang dikenakan oleh Anin dan juga dirinya. Adam menatap pada tubuh Anin dengan kilatan membara dimatanya, dan tidak menunggu lama Adam pun menyatukan miliknya dengan Anindita dan memulai perncintaan panas mereka. Anin yang biasanya tidak agresif, kini begitu menuntut pada pelepasannya. Adam pun binggung dengan perubahan Anin yang terlihat sangat agresif. Dan setelah satu jam percintaan mereka Adam pun memeluk Anin dengan erat.
"Sayang, kenapa kau begitu -- " ucapan Adam berhenti karena Anin kembali mencium bibirnya.
"Mas, aku hanya ingin meluapkan semua keinginanku. karena tidak lama lagi kau bukan hanya milikku, tapi milik wanita lain." lirih Anin.
"Sayang, kau masih bisa merubahnya. Lagi pula aku sama sekali tidak ingin menikah lagi!" ucap Adam memeluk tubuh polos istrinya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Tidak Mas, aku tidak akan membatalkannya, insaallah aku sudah siap." Anin menjatuhkan wajahnya dibidang datar Mas Adam, meluapkan segala yang dirasakan dihatinya.