Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 22 Alya Tinggal Di Rumah Mas Adam


__ADS_3

Setelah Dua hari berada di rumah Ayahnya, Anin pun kembali pulang ke Jakarta bersama dengan Mas Adam dan juga Alya.


Di sepanjang perjalanan Anin hanya diam saja, sementara Alya terus saja mengobrol dan memanas manasi Anin. Dan Adam hanya sesekali melirik ke arah Anin yang tampak sudah tertidur di kursi depan.


Setelah sampai Anin pun langsung masuk kedalam, tanpa mempedulikan Mas Adam dan Alya yang berjalan di belakangnya.


"Tunggu Anin," ujar Adam, membuat langkah Anin terhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Mulai hari ini Alya akan tinggal bersama dengan kita di rumah ini," ujar Adam menatap lekat pada wajah Anin yang terlihat tidak ada ekpresi apa pun.


"Terserah," jawab Anin singkat dan langsung meninggalkan Alya dan Mas Adam.


Adam yang melihat sikap Anin yang tidak perduli dengan apa yang baru di katakannya, hanya terdiam menatap punggung Anin yang sudah menaiki tangga.


"Sayang, ayo masuk!" ujar Alya menggandeng tangan Mas Adam dengan mesra.


"Kau masuklah, aku akan keruang kerja ku dulu," ujar Adam dengan tersenyum. Meninggalkan Alya seorang diri dengan wajah yang terlihat kesal.


Di dalam ruang kerjanya, Adam duduk di kursi kerja dengan menatap foto di layar ponselnya.


"Andai waktu bisa aku ulang kembali," gumam Adam masih menatap foto yang selalu berada di dalam ponselnya.


Anin yang sudah berada di dalam kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Alya tinggal di rumah ini," gumam Anin dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya. "Apa aku cari kontrakan rumah saja dan pindah dari sini?"


Anin pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Mita.


"Mit, besok setelah pulang kerja. Bantu aku cari kontrakan rumah," pinta Anin.


"Kontrakan rumah untuk siapa?" tanya mita.


"Untuk aku," jawab Anin.


"Untuk mu? memangnya kau sudah tidak tinggal bersama dengan Mas Adam?" tanya Mita dengan suara yang terkejut.


"Sekarang masih, tapi rencananya aku akan pindah," ujar Anin.


"Memangnya ada apa sampai kau pindah dari rumah Mas Adam?" tanya Mita penasaran.


"Alya, karena Alya sudah tinggal di sini." ujar Anin


"What? gila ya tuh mereka berdua. Bener-bener tidak punya hati," gerutu Mita dengan ketus.

__ADS_1


"Memang mereka gila!" ujar Anin dengan suara yang kesal.


"Tapi kok bisa Alya tinggal di rumah kalian? kenapa aku merasa curiga ya dengan Alya," ujar Mita.


"Sudahlah, besok aku akan menceritakan semuanya padamu," ujar Anin lalu menutup ponselnya.


Keesokan harinya,


Anin yang biasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan buat Mas Adam, merasa terkejut saat melihat Alya yang sudah berada di dapurnya sedang menggoreng sesuatu.


"Sedang apa kau disini?" tanya Anin.


"Tentu saja aku sedang menyiapkan sarapan pagi untuk suami tercintaku," jawab Alya dengan senyuman sinis di wajahnya.


"Baguslah, jadi aku tidak perlu repor-repot untuk menyiapkan sarapan. Oh ya jangan lupa buatkan untuk ku juga," ujar Anin dengan tertawa kecil langsung beranjak dari dapur.


"Sialan, dia pikir aku pembantunya!" gerutu Alya dalam hati, sambil menahan emosinya yang sudah meluap luap.


Setelah selesai mandi Anin pun langsung turun dan melihat Mas Adam dan Alya yang sudah duduk di meja makan.


"Kak kemarilah.... ! nasi gorengnya sudah jadi," ujar Alya dengan tersenyum.


Anin yang melihat senyuman Alya semakin ingin muntah, dirinya tidak pernah menyangka. Sosok Alya yang pendiam kini berubah seperti serigala berbulu domba.


"Iya enak," jawab Mas Adam tersenyum pada Alya, sebuah senyuman yang tidak pernah di perlihatkan Mas Adam pada Anin.


Anin yang melihat kemesraan suami istri yang ada di depannya, hanya bisa menahan semua kekesalannya dalam hati. Dan tanpa menunggu lama Anin pun dengan cepat menghabiskan sarapannya.


"Oh ya Al, tolong cuci piring ku ya... ! Aku buru-buru" ujar Anin yang langsung pergi dengan setengah berlari.


Anin yakin saat ini Alya pasti sedang menahan amarahnya, "Dua kosong, emang enak jadi pembantu" gumam Anin dengan tertawa, keluar dari halaman rumahnya untuk mencari ojek pangkalan. Karena Anin sudah berusaha mencari ojek online tapi tidak ada satu pun yang mengambilnya.


"Masuklah," ujar sebuah suara yang di kenal oleh Anin.


Anin pun melihat mobil Mas Adam dengan kaca mobil yang di buka dan menyuruhnya untuk masuk.


"Masuklah, kalau kau tidak ingin terlambat ketempat kerjamu!" ujar Adam menatap Anin yang hanya terdiam di tempatnya.


"Aku hitung sampai tiga, satu, dua, ...."


Anin pun langsung masuk kedalam mobil Mas Adam, Anin tidak ingin terlambat masuk kerja dan juga tidak ingin berjalan kaki ke depan karena sangat jauh apa lagi dirinya memakai sepatu hills yang tinggi.


"Kapan kau akan mengurus perceraian kita?" tanya Anin tanpa menatap kearah Mas Adam.

__ADS_1


"Apa kau membenci ku?" tanya Adam tanpa menjawab pertanyaan Anin.


"Tentu saja aku membencimu, kau dan Alya adalah pembohong yang ulung. Pasangan yang sangat serasi," ujar Anin dengan sinis.


"Sudah ku duga kau pasti membenciku," ujar Adam melirik sekilas pada Anin.


"Aku tanya kapan kau akan mengurus perceraian kita? dan aku pun akan mencari kontrakan rumah untuk secepatnya pindah dari rumahmu,"


Tanpa disangkan Anin mobil Mas Adam berhenti mendadak hingga membuat Anin hampir terjedot Dashboard mobil.


"Kau itu bisa bawa mobil tidak?" gerutu Anin.


"Aku tidak akan mengijinkanmu pindah dari rumahku," ujar Adam dengan suara yang tegas.


"Kau tidak berhak melarangku," ujar Anin dengan suara yang tak kalah tingginya.


"Aku suami mu, tentu aku berhak.... !" ucap Adam yang sudah menatap Anin dengan tajam.


"Suami?" ejek Anin. "Suami yang memiliki istri lain," sindir Anin dengan tajam.


"Apa pun itu aku tetap suamimu, dan aku melarangmu untuk pindah dari rumah," ujar Adam yang kembali menjalankan mobilnya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kapan kau akan mengurus perceraian kita?" tanya Anin untuk yang ke tiga kalinya.


Namun tetap tidak di jawab oleh Mas Adam sampai mobil pun sampai di depan perusahaan tempat Anin bekerja.


"Dasar laki-laki gila," umpat Anin menatap mobil Mas Adam yang terlihat semakin menjauh.


Anin pun langsung memasuki perusahaan tempatnya bekerja.


"Bagaimana keadaan Ayahmu?" tanya Pak Andre menatap Anin yang berada di depannya.


"Alhamdulilah sudah membaik," jawab Anin.


"Syukurlah aku ikut senang mendengarnya," ujar Andre tersenyum pada Anin.


"Pak, maafkan saya karena sering meminta ijin," ujar Anin dengan menundukan kepalanya.


"Tidak papa, kau jangan terlalu memikirkannya. lagi pula di sini aku punya tangan kanan ku yang bisa menghandle semuanya." ujar Pak Andre dengan tersenyum


"Sekali lagi terima kasih Pak," ujar Anin


Setelah menerima semua berkas dari Pak Andre, Anin pun langsung keluar dari ruangan atasanya itu.

__ADS_1


Dan pada saat jam istirahat, Mita langsung menarik Anin pergi ke cafe yang berada tepat di depan gedung perusahaan Pak Andre.


__ADS_2