
Mobil yang di tumpangi Adam dan Anin pun sudah sampai di depan rumah Pak Salim. Adam langsung menurunkan koper Anin dan berjalan di belakang istrinya.
"Ingat ya Mas, jangan bicara apa pun pada Ayah ku. Biar aku yang menjelaskan semuanya secara perlahan." Pinta Anin, yang di jawab anggukan kepala oleh Mas Adam.
Anin tidak ingin Ayahnya yang baru sembuh akan kembali terkena serangan jantung saat tahu kalau pernikahan dirinya yang baru berjalan kurang dari dua bulan akan segera berakhir.
"Anin," seru Ibu Tika dengan terkejut saat membuka pintu rumah.
Anin yang di sapa hanya diam dan langsung masuk kedalam rumah, Anin tidak bisa memungkiri hati kecilnya yang saat ini sangat membenci Alya. Dan saat melihat Tante Tika kebencian itu pun semakin merasuk ke dalam hatinya.
"Anin sayang," ucap Pak Salim saat melihat putrinya itu berada di dalam rumahnya.
Dengan perasaan bahagia Pak Salim langsung memeluk Anindita. Namun perasaan bahagia itu hilang saat melihat Adam yang masuk dengan membawa sebuah koper.
"Ada apa ini?" tanya Pak Salim menatap putrinya dan Adam secara bergantian.
"Pak, Anin dan Adam itu baru datang. Biarkan mereka istirahat dulu," ujar Ibu Tika.
Ibu Tika pun mempersilahkan Adam untuk duduk, sementara Anin langsung masuk kedalam kamarnya dengan membawa kopernya.
"Anin, boleh Ibu masuk." tanya Ibu Tika yang melihat Anin sedang melamun di balkon kamarnya.
"Bukankah Tante sudah masuk.... !" jawab Anin melihat kearah Tante Tika yang sudah ada di dalam kamarnya.
"Maaf Ibu sudah lancang masuk, tapi ada yang ingin Ibu tanyakan padamu?"
"Mau bertanya apa?" Anin berjalan menghampiri Tante Tika yang masih berdiri di dekat tempat tidurnya.
__ADS_1
"Ibu ingin bertanya, apa Alya sering main ke tempatmu? atau apakah kau tahu kabar Alya? karena sudah dua hari ini Alya tidak mengangkat telepon dari Ibu." ujar Ibu Tika dengan hati-hati.
"Alya.... " cibir Anin dengan tersenyum sinis. "Apa Tante itu tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?" Anin berkata dengan sangat ketus.
Ibu Tika yang mendengar ucapan Anin yang terlihat sangat membenci Alya, tidak mengerti dengan yang Anin bicarakan. "Tidak tahu apa Anin?" tanya Ibu Tika dengan mengerutkan keningnya.
"Tante, anak kesayanganmu itu bukan hanya sering main kerumahku. Tapi dia itu tinggal di rumah aku dan Mas Adam.... " ujar Anin dengan suara yang bergetar.
"Tinggal di rumah mu? Apa maksud mu nak?" tanya Ibu Tika semakin binggung.
"Alya putri kesayanganmu itu sudah menikah dengan suamiku. Lebih tepatnya lagi Alya adalah istri sirih Mas Adam," ujar Anin dengan tajam, membuat Ibu Tika langsung terkejut.
"Kau tahu? bahkan Alya menikah dengan Mas Adam seminggu sebelum hari pernikahanku. Bisa kau bayangkan perasaanku saat itu? saat tahu wanita yang menjadi maduku itu adalah Alya... !" seru Anin dengan wajah yang memerah menahan rasa sakit di hatinya. "Dan apa kau tahu, alasan ku pulang ke rumah Ayah? Karena Alya saat ini sedang mengandung anak Mas Adam," tak terasa mata Anin pun meneteskan air mata.
Ibu Tika yang sedari tadi mendengarkan semua ucapan Anin, tidak percaya sama sekali dengan yang di ucapkan oleh anak tirinya itu. Ibu Tika yang masih terkejut terjatuh dan terduduk di lantai dengan wajah pucatnya.
"Apa sekarang tante puas? Tante sudah merebut Ayah ku dan sekarang Alya sudah merebut suamiku...! Kalian Ibu dan anak sama saja," umpat Anin dengan menatap tajam pada ibu Tika yang masih terduduk di lantai kamar Anin.
"Kalau Tante tidak percaya, Tante bisa tanyakan langsung pada putri kesayangan Tante itu." ucap Anin. "Sekarang keluarlah dari kamar ku... !" ucap Anin membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke arah balkon kamarnya.
Dengan susah payah Ibu Tika pun bangun dari duduknya dengan perasaan yang sangat hancur. Ibu Tika merasa Alya tidak akan mungkin berbuat sejahat itu pada Anindita.
"Satu hal lagi, aku harap Tante tidak mengatakan apa pun pada Ayah. Karena nanti aku sendiri yang akan mengatakannya." Anin berkata tanpa menatap kearah Tante Tika.
Setelah Ibu Tika keluar dari kamarnya, Anin langsung menghapus air mata yang ada di kedua matanya. Anin tidak ingin kalau Ayahnya sampai melihat dirinya menangis. Setelah dua puluh menit Mas Adam berbicara pada Ayahnya, Anin pun di panggil kebawah karena Mas Adam akan pulang kembali ke Jakarta.
Dengan langkah berat Anin berjalan di samping suaminya yang masih terdiam dan tidak menatap dirinya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan Mas," ucap Anin menatap Mas Adam dengan lekat. Karena entah kapan lagi dirinya bisa melihat suaminya itu.
Adam pun langsung menghentikan langkahnya dan menatap Anin dengan lekat. "Anindita, cepat atau lambat aku pasti akan menjemputmu.... !" ucap Adam dengan suara yang tegas.
"Mas... " baru saja Anin hendak berbicara, Adam sudah memeluknya dengan sangat erat. Sepuluh menit Mas Adam memeluknya tanpa bicara sepatah kata pun, Anin pun hanya terdiam mendapatkan pelukan dari suaminya itu.
"Mas pergi dulu," ucap Adam setelah melepas pelukannya dan mencium kening Anin, Adam berjalan masuk kedalam mobilnya tanpa menengok kearah belakang.
Anin yang melihat mobil Mas Adam pergi, hanya bisa terdiam menatap mobil yang sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. "Apa ini akhir dari pernikahanku? pernikahan yang usianya baru seumur jagung." gumam Anin yang masih berdiri di depan pintu rumahnya.
"Anin, masuklah... !" ucap Pak Salim yang sudah berada di samping anaknya dan membawa masuk Anin ke dalam rumah.
"Ayah, Anin masuk ke kamar dulu... " ucap Anin yang hendak berjalan kearah kamarnya.
"Tunggu dulu sayang," Pak Salim menarik tangan Anin. "Ada yang ingin ayah tanyakan padamu," Pak Salim menuntun Anin untuk duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Ayah mau bertanya apa?" Anin menatap Ayahnya yang terlihat berwajah muram.
"Ada permasalahan apa antara kau dan Nak Adam?" tanya Pak Salim menatap tajam pada putrinya itu. Membuat Anin langsung terkejut.
"Apa yang sudah Mas Adam katakan pada Ayah?" tanya Anin dengan cemas.
"Nak Adam tidak mengatakan apa pun pada Ayah, Adam hanya menitipkanmu dan akan menjemputmu nanti." ucap Pak Salim. "Tapi ayah sangat memahamimu, kau tidak akan mungkin pulang kerumah ini jika tidak ada masalah yang berat yang tidak bisa kau hadapi." Ujar Pak Salim dengan aura yang tegas.
"Ayah --- "
"Katakanlah Nak, kau tidak perlu khawatir pada penyakitku ini." Pak Salim menggenggam tangan Anin.
__ADS_1
Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Anin pun menceritakan satu persatu semua permasalahan yang terjadi antara dirinya, Mas Adam, dan Alya. Dengan sesekali menatap pada wajah Ayahnya yang terlihat terkejut dengan apa yang di ceritakan olehnya.
"Ayah tidak papa kan? jantung Ayah apa sakit?" tanya Anin saat melihat wajah Pak Salim yang terlihat pucat.