
Anin yang baru pulang dari kerjanya merasa sangat lelah, pekerjaan di kantornya sangatlah banyak. Bahkan ada beberapa berkas yang belum sempat dikerjakannya ia bawa pulang.
"Ada apa kau kemari?" tanya Anin yang terkejut saat Alya memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Aku hanya ingin memanggilmu karena makan malam sudah siap," jawab Alya yang sudah duduk di sofa kecil yang ada di kamar Anin.
"Jangan berbasa basi lagi, apa mau mu?" tanya Anin, yang tahu betul jika Alya sudah memasuki kamarnya pasti ada yang ingin dikatakannya.
"Kapan kau akan bercerai dengan Mas Adam?" tanya Alya.
"Ohh, jadi kau kemari hanya untuk menanyakan hal itu." Anin duduk di tempat tidurnya dengan tatapan tajamnya ke arah Alya.
"Jadi kapan kau akan mengurus perceraianmu?" tanya Alya kembali.
"Kenapa kau bertanya padaku? seharusnya yang kau tanyakan itu Mas Adam, kapan dia akan menceraikan ku?" jawab Anin dengan tenang.
Alya yang mendengar perkataan Anin hanya terdiam, dengan tatapan matanya yang penuh emosi kearah Anin.
"Kenapa kau diam? bukankah Mas Adam sangat mencintaimu. Seharusnya dia akan mengabulkan permintaanmu untuk bercerai dengan ku?" tanya Anin dengan sinis.
"Mas Adam memang sangat mencintaiku, tapi aku tidak ingin terlihat memaksanya. Jadi aku minta kau lah yang mengurus perceraian kalian, bukankah kau bilang pada ku akan bercerai dengan Mas Adam secepat mungkin.... !" ujar Alya.
"Aku rasa aku berubah pikiran," ucap Anin membuat Alya membelalakan kedua matanya.
"Apa maksudmu?" tanya Alya dengan suara yang tinggi.
"Apa kau tidak dengar? aku bilang aku berubah pikiran," ujar Anin tersenyum penuh arti pada Alya.
"Maksudmu kau tidak ingin bercerai dengan Mas Adam?" tanya Alya dengan wajah yang terkejut
"Iya," jawab Anin singkat.
"Kenapa kau berubah pikiran? bukan kah kau tidak suka di poligami?" tanya Alya mengerutkan keningnya karena tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
__ADS_1
"Aku memang tidak suka di poligami, karena aku paling tidak suka berbagi suami dengan orang lain. Maka dari itu aku akan berusaha membuat Mas Adam memilih ku dan meninggalkan dirimu," ucap Anin dengan suara yang tegas.
"Hahaha... apa aku tidak salah dengar Anin? kau ingin membuat Mas Adam memilihmu? bahkan Mas Adam saja tidak mencintaimu sama sekali!" ujar Alya dengan tersenyum sinis.
"Bukan tidak mencintai, tapi belum mencintai. Jadi aku akan membuat Mas Adam mencintaiku," ujar Anin.
"Apa kau yakin bisa membuat Mas Adam mencintaimu? karena kau lihat sendirikan tiap malam Mas Adam bersama ku, dan aku yakin Mas Adam pasti belum pernah menyentuhmu bukan?" ejek Alya dengan tertawa keras.
Anin yang mendengar ejekan Alya mengepalkan kedua tangannya. "Saat ini Mas Adam memang selalu tidur bersamamu, tapi aku akan membuat Mas Adam tidur di kamar ku," ucap Anin dengan suara yang terdengar menyakinkan, padahal Anin sendiri tidak yakin dengan apa yang diucapkannya.
"Membuat Mas Adam tidur di kamarku, memikirkannya saja adalah hal yang sangat mustahil. Apalagi membuatnya menjadi kenyataan" gumam Anin dalam hati tapi tetap berusaha setenang mungkin di hadapan Alya.
"Hahaha... kau itu lucu sekali Anin. Membuat Mas Adam mau tidur denganmu, jangan mimpi... ! karena cinta Mas Adam itu hanya untuk ku, Jadi jangan berbuat yang macam-macam." ucap Alya yang sudah berdiri dari sofa dan mendekati Anin dengan tatapan yang penuh emosi.
"Kenapa kau emosi? kalau memang Mas Adam hanya mencintaimu, bukankah kau tidak perlu takut pada apa yang akan aku lakukan untuk membuat Mas Adam mencintaiku dan mau tidur di kamar ku!" ujar Anin masih dengan sikap yang tenang tapi penuh dengan penekanan di setiap perkataannya.
"Aku tidak takut, karena aku yakin cinta Mas Adam hanya untuk ku." ucap Alya.
"Tidak perlu melihat nanti, karena aku yakin aku lah yang menjadi pemenangnya. Karena saat ini dan untuk selamanya Mas Adam hanya mencintaiku" ujar Alya dengan seyum sinisnya meninggalkan kamar Anin.
Anin yang melihat Alya pergi akhirnya bisa bernafas dengan lega, dirinya sempat merasa terhina dengan ucapan Alya tentang Mas Adam yang tidak akan pernah mau tidur di kamarnya. "Apa yang harus aku lalukan agar Mas Adam mencintai ku dan Mau tidur di kamarku," gumam Anin dalam hati dengan tatapan kosongnya.
.........
"Mau tambah sayang?" tanya Alya pada Mas Adam yang sedang makan.
"Tidak usah ini sudah cukup," jawab Adam.
Anin yang juga ikut makan malam di ruangan tersebut, hanya diam sambil menatap cara Alya melayani Mas Adam dan cara Mas Adam memperlakukan Alya.
"Apa kak Anin mau tambah?" tanya Alya membuat Anin tersadar dari lamunannya.
"Tidak terima kasih," jawab Anin singkat.
__ADS_1
"Kapan kau akan kembali masak? kasihan jika setiap hari Alya yang memasak makanan untuk kita," tanya Adam dengan suara datarnya, namun mampu membuat Anin langsung tersedak makanannya.
Apa yang di katakan Mas Adam membuat Anin sangat tertampar, memang semenjak kedatangan Alya di rumah ini. Dirinya sudah tidak pernah memasak, semuanya di lakukan oleh Alya. Dari membersihkan rumah dan juga memasak.
"Mas, jangan berkata seperti itu. Aku tidak keberatan memasak makanan setiap hari untuk suami ku dan juga Kak Anin," ujar Alya dengan tersenyum manis dan menggenggam tangan Mas Adam.
Anin yang melihat akting Alya sudah sangat ingin muntah, akting Alya itu benar-benar sempurna sebagai seorang istri yang baik. Jika ada ajang pemilihan pemain sinetron terbaik Alya pasti akan menjadi pemenangnya.
"Untuk apa aku memasak? karena tugas memasak itu hanya untuk seorang istri bukan?" tanya Anin menatap tajam pada Adam.
Adam yang mendengarkan perkataan Anin, menghentikan makannya dan menatap balik Anin.
"Apa kau lupa? istri mu itu kan Alya bukan aku," ujar Anin kembali penuh dengan penekanan.
"Kak Anin kita ini sama-sama istri Mas Adam," ucap Alya dengan suara yang sangat lembut.
"Hanya kaulah istrinya, karena setiap malam dia berada di kamarmu bukan di kamar ku," ujar Anin yang kini menatap tajam Alya.
"Oh ya aku lupa kalau Mas Adam tidak pernah tidur di kamar mu!" ucap Alya dengan lirih seperti orang yang merasa sangat bersalah. "Mas kau itu bagaimana sih, Kak Anin juga kan istrimu! kenapa kau tidak pernah tidur di kamar Kak Anin? kasihan kan Kak Anin," ujar Alya yang mengelus punggung tangan Mas Adam dengan senyum manisnya.
"Aku akan membuatmu malu karena penolakan Mas Adam yang tidak mau tidur di kamar mu dan membuatmu sadar diri untuk cepat angkat kaki dari rumah ini," gumam Alya dalam hati masih dengan mengelus tangan Mas Adam.
Anin yang mendengar perkataan Alya, hanya bisa menelan salivanya dengan berat. Anin merasa sangat bodoh dengan ucapannya dan kini dirinya harus menguatkan mental untuk mendengar penolakan dari mulut Mas Adam di depan Alya.
"Aku sudah selesai, aku masuk ke kamar ku dulu." ucap Anin buru-buru bangkit dari duduknya, Anin belum siap jika harus mendapatkan penolakan dari Mas Adam dan di permalukan di depan Alya.
Sementara Alya sudah tersenyum penuh kemenangan saat melihat Anin yang terburu-buru pergi dari ruang makan.
"Tunggu.... !" seru Adam.
Membuat Anin menghentikan langkahnya dan menatap kearah Mas Adam.
"Aku akan ikut ke kamar mu" ucap Mas Adam. Membuat Anin dan Alya terkejut secara bersamaan.
__ADS_1