Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 39 Keputusan Anindita


__ADS_3

"Mas aku senang mendengar keputusanmu, hanya itu yang ingin aku dengar dari bibirmu." Anin memeluk Adam dengan sangat erat. "Terima kasih Mas, kau sudah mencintaiku sebesar itu," ujar Anin melepaskan pelukannya dan mencium pipi suaminya.


"Aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan apa pun demi dirimu." ucap Adam.


"Kalau begitu ceraikan aku," ucap Anin, membuat Adam terkejut menatap wajah Anin dengan rasa tidak percaya.


"Kau itu bicara apa?" Adam mengelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan yang diinginkan oleh Istrinya itu.


"Aku sudah bilang Mas, aku minta kau ceraikan aku."


"Anindita... ! Bukankah aku sudah memilihmu?" tanya Adam masih dengan binggung.


"Aku tahu Mas, kau sudah memilihku. Aku pun sangat terharu dengan keputusanmu, tapi aku bukan wanita yang egois. Aku tidak bisa bahagia diatas penderitaan orang lain, terlebih pada seorang wanita yang sedang hamil," ujar Anin menatap wajah suaminya dengan dalam.


"Tapi Anin, --- "


"Mas dengarkan aku, aku juga sangat mencintaimu. Tapi kalau kau menceraikan Alya, akan ada bayi yang tidak berdosa yang akan merasakan dampak dari perceraian itu. Dan aku tidak bisa Mas jika hidup dalam perasaan bersalah." Ucap Anin dengan menundukan kepalanya.


Adam hanya terdiam mendengarkan perkataan Anin, karena dirinya pun membenarkan perkataan yang di ucapkan oleh Istrinya itu.


"Aku tahu kau itu orang yang sangat bertanggung jawab, dan aku tidak bisa jika melihatmu menanggung perasaan bersalah pada Alya dan anakmu." tutur Anin kembali. "Mas lihatlah aku," pinta Anin dengan memegang wajah suaminya untuk melihat dirinya.


"Kalau kita memang berjodoh, sejauh apa pun aku pergi dan seberat apa pun masalah yang di hadapi. Yakinlah pada yang di atas akan ada caranya untuk kita bersatu kembali." Lirih Anin yang mulai menangis kembali. "Ingat Mas... ! jodoh, maut, rejeki sudah diatur oleh yang di atas. Kita yang hanya manusia biasa tidak akan bisa merusak apa yang sudah di ditakdirkan yang di atas, percayalah Mas."


Adam langsung memeluk Anin dengan erat, Adam merasa bangga karena sudah mencintai wanita yang baik hati seperti Anin. Yang selalu memegang prinsip di dalam hidupnya dan percaya pada apa yang sudah di takdirkan oleh yang di atas.


"Aku percaya pada takdir, tapi aku tetap tidak akan menceraikanmu." Bisik Adam lalu mencium kening Anidita dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau kau mau aku bahagia, kau harus melepaskan ku."


"Aku ingin melihatmu bahagia, tapi tidak dengan kata-kata perceraian. Aku akan membiarkanmu pergi untuk melihat sejauh apa takdir kita, dan aku akan tetap menunggumu." Adam memeluk Anin dengan air mata yang menggenang di kelopak matanya. "Aku akan selalu menjaga cintaku untukmu, dan akan selalu mengunggumu," ucap Adam mencium kedua pipi Anin.


Adam memutuskan untuk membiarkan Anin pergi, tapi tidak untuk menceraikannya. Adam merasa Anin butuh ketenangan dan biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.


"Tapi Mas, kau jangan menungguku dan kau harus menceraikan ku. Tata kembali rumah tanggamu dengan Alya, kau harus ingat Alya sedang mengandung anakmu. Dan cepat atau lambat kau harus menikahi Alya dengan resmi agar anak yang akan lahir nanti status nya akan jelas." ucap Anin, membuat Adam terdiam dan baru sadar kalau status pernikahannya dengan Alya masih sirih. Dan ketika anak itu lahir, mau tidak mau Adam harus menikah resmi dengan Alya agar status anaknya jelas.


"Sekarang kau mengertikan kenapa aku meminta cerai darimu, karena aku tidak ingin status pernikahan ku itu sama dengan Alya. Yaitu menjadi istri sahmu dimata hukum dan negara."


"Tapi Anin,"


"Mas, ingatlah yang sudah aku katakan. Kalau kita memang berjodoh sejauh apa pun aku pergi dan statusku sudah berubah menjadi mantanmu, Jika yang diatas sudah berkehendak kita bersatu maka kita akan bersatu kembali Mas," lirih Anin.


"Tapi aku tetap tidak akan mengurus perceraian kita," ujar Adam dengan tegas.


Anin yang mendengarnya ucapan Mas Adam hanya bisa pasrah, dan mau tidak mau Anin yang akan mengurus perceraiannya nanti. Suasana pun hening karena Mas Adam yang sudah duduk di tepi ranjang tidak bicara sama sekali


"Apa harus secepat itu kau pergi?" tanya Adam dengan dingin.


"Lebih cepat lebih baik Mas, dan nanti kau tidak perlu menjelaskan apa-apa pada Ayah. Biar aku yang akan menyampaikan sendiri secara perlahan," ucap Anin yang sudah duduk di samping Mas Adam.


"Baiklah," jawab Adam dan langsung membaringkan tubuhnya.


Anin yang melihat perubahan sikap Mas Adam yang terlihat dingin seperti awal mereka bertemu, merasa sangat sedih. Tapi itu lebih baik agar Mas Adam bisa secepatnya melupakan dirinya begitupun sebaliknya.


Anin yang sekarang tidur di samping Mas Adam, memeluk tubuh Mas Adam dari belakang. Mungkin ini terakhir kali dirinya bisa memeluk dan tidur bersama Mas Adam. Dalam keadaan menangis Anin menenggelamkan wajahnya ke punggung Mas Adam

__ADS_1


Adam yang sebenarnya belum tertidur, ingin sekali membalas pelukan Anin. Namun rasa amarah di dadanya menghalangi niatnya itu, Adam merasa marah pada sikap keras kepala Anin yang tetap meminta dirinya untuk menceraikannya.


Keesokan harinya, Anin yang sudah mengepak semua pakaiannya kedalam koper, melihat foto pernikahannya dan segera memasukannya di dalam koper.


"Mas aku sudah siap," ujar Anin saat melihat Mas Adam sudah keluar dari kamar mandi.


"Aku siap-siap dulu," ucap Adam tanpa menoleh kearah Anin.


Anin yang tahu Mas Adam masih marah padanya, hanya bisa pasrah dan keluar dari kamarnya dengan membawa kopernya.


"Kak Anin mau kemana?" tanya Alya saat melihat Anin yang turun dari tangga dengan membawa kopernya.


"Aku akan pulang ke Bandung," jawab Anin.


"Pulang ke Bandung? itu artinya --- ?"


"Ya, aku sudah memutuskan untuk bercerai dengan Mas Adam." jawab Anin dengan suara yang datar.


"Ahh... akhirnya aku menang dan kau kalah Anindita!" seru Alya dengan tersenyum puas.


"Terserah kau mau berkata apa," ucap Anin langsung berjalan ke arah keluar dan memasukkan koper kedalam mobil.


"Yes, akhirnya Anindita pergi. Dan aku akan menjadi Nyonya Adam Dharmawan satu-satunya," gumam Alya dalam hati. "Kau ternyata membawa keberuntungan untukku," gumam Alya kembali dengan mengelus perutnya.


"Mas, ayo kita sarapan," tutur Alya saat melihat Mas Adam turun dari tangga.


"Kau sarapan saja, aku harus mengantar Anin ke Bandung." Ujar Adam yang berlalu pergi meninggalkan Alya yang masih berdiri di ruang tengah dengan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Di dalam mobil, Adam tidak berbicara sama sekali pada Anin begitu pun sebaliknya. Anin sibuk dengan kesedihannya begitu pun dengan Adam, Adam sangat kecewa pada sikap Anin yang tidak membolehkan dirinya menceraikan Alya dan justru menyuruhnya untuk mengurus perceraian mereka.


Hanya satu harapan Adam mudah-mudah selama Anin di Bandung Anin bisa merubah semua keputusannya dan mau kembali menjalani biduk rumah tangga bersamanya.


__ADS_2