
"Alya... !" teriak Adam dengan sangat kencang berjalan kearah kamar Alya.
"Mas ada apa?" tanya Alya yang langsung keluar dari dalam kamarnya berusaha untuk tenang dan seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Kau tanya Ada apa?" bentak Adam. Anin yang baru kali ini melihat sosok Mas Adam yang sangat marah, hanya bisa terdiam di samping suaminya itu.
"Iya ada apa Mas?" tanya Alya tanpa rasa bersalah.
"Kau," Adam mencengkram tangan Alya dengan kencang.
"Mas sakit," lirih Alya.
"Kenapa kau pergi dari rumah sakit?" tanya Adam dengan suara yang berat dan tatapan tajamnya pada Alya.
"A... Aku tadi -- "Alya tidak bisa meneruskan perkataannya, saat ini Alya benar-benar merasa ketakutan. Mas Adam yang dikenalnya baik dan tidak pernah sekali pun membentaknya, kini mencengkram tangannya dengan kencang dan menatap Alya dengan sangat tajam penuh dengan kebencian.
"Kau harus ikut aku kembali ke Rumah Sakit," ucap Adam, langsung menarik tangan Alya dan menyeretnya keluar dari rumah.
"Mas, aku tidak mau mas." Ucap Alya berusaha melepaskan tangannya. Namun Mas Adam terus menyeret Alya hingga membuat Alya jatuh terduduk.
"Mas," pekik Anin melepaskan tangan Alya dari cengkraman suaminya.
"Kau tidak papa Al?" tanya Anin dengan wajah yang khawatir. Namun pertanyaannya tidak dijawab oleh Alya yang sudah mulai menangis.
"Apa salahku padamu Mas, kenapa kau tega menyeret diriku yang sedang mengandung anakmu?" isak tangis Alya membuat Adam mengusap keras wajahnya.
"Itu bukan anakku!" ucap Adam dengan menahan emosinya, karena melihat Alya yang menangis dan terjatuh akibat perlakuan kasarnya.
"Mas, dia anakmu!" ucap Alya dengan tegas. "Siapa yang mengatakan kalau anak ini bukan anakmu? apa Kak Anin yang meracuni pikiranmu agar tidak mengakui anakmu," tuduh Alya dengan menatap tajam pada Anindita.
Tuduhan Alya pada Anindita semakin membuat Adam emosi, dengan menundukan tubuhnya Adam menatap tajam pada Alya. "Kalau dia anakku, maka sekarang juga kita ke Rumah Sakit untuk mengecek usia kehamilanmu!" Adam kembali mencengkram tangan Alya.
__ADS_1
"Aku tidak mau Mas," ucap Alya dengan ketakutan.
"Kenapa kau tidak mau? apa kau takut kalau aku tahu yang sebenarnya kalau anak itu bukan anakku," sinis Adam.
"Aku tidak mau, bukan berarti anak ini bukan anakmu!" jawab Alya dengan gugup.
"Alya... !" teriak Adam dengan keras mengepalkan kedua tangannya.
"Mas sabar," ucap Anin mengelus dada suaminya itu.
"Anin, tapi dia -- " Adam terdiam saat Anin menggelengkan kepalanya.
"Al, kalau memang kau merasa benar kenapa kau tidak mau membuktikannya? lebih baik kau ikut dengan kita ke Rumah Sakit, supaya semuanya menjadi jelas." ujar Anin dengan perlahan.
"Diam kau,!" bentak Alya pada Anin, Alya berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada Anindita. "Ini pasti ulahmu kan? kau yang sudah meracuni otak Mas Adam agar dia curiga padaku agar kau bisa menyingkirkan ku!" ucap Alya dengan sinis mencengkram tangan Anin dengan kencang.
"Lepaskan Anindita!" perintah Adam menarik tangan Alya pada Anin. "Aku baru tahu ternyata kau itu wanita yang penuh dengan tipu muslihat."
Adam yang sudah muak dengan perkataan Alya langsung masuk kekamar atas untuk mengambil kertas hasil periksaan kehamilan Alya. Alya yang melihat Mas Adam berjalan kelantai atas, hanya terdiam dengan wajah bingung dan penuh tanda tanya, apa lagi yang akan dilakukan oleh Mas Adam.
"Apa kau bisa jelaskan ini?" Adam menyerahkan sebuah kertas pada Alya.
Alya yang menerima kertas tersebut langsung terkejut, kertas yang selama ini dia pikir tertinggal di dalam taksi ternyata ada di tangan Mas Adam. Dan itu berarti Mas Adam sudah lama tahu mengenai usia kandungan Alya yang sebenarnya.
"Mas aku bisa jelaskan semuanya, pada saat itu ada kesalahan dari Dokter yang memeriksa kandunganku. Dokter itu salah tulis, dia -- "
"Mau sampai kapan kau berbohong, sekarang juga kau harus ikut aku. Kita lakukan tes DNA" Adam menarik kembali tangan Alya.
"Aku tidak mau Mas," ucap Alya dengan menahan dirinya.
Anin yang berada ditengah-tengah Mas Adam dan Alya merasa sangat binggung untuk menengahi mereka. Tapi dengan kejadian di depan matanya ini membuat Anin semakin yakin kalau Mas Adam bukan Ayah dari bayi dalam kandungan Alya.
__ADS_1
"Mas sudah," pinta Anin memegang tangan Mas Adam.
Adam pun berhenti karena melihat wajah Anin yang terlihat sedih, Adam pun kembali menatap Alya dengan tajam.
"Karena kau tidak mau diajak untuk melakukan tes DNA, mulai saat ini aku menceraikanmu Alya kusumawati dan mulai detik ini kau sudah bukan istriku lagi," ucap Adam dengan tegas.
Alya dan Anin langsung terkejut mendengar ucapan Mas Adam. jatuh sudah talak pada Alya dan itu berarti Alya sudah bukan istri dari Mas Adam.
"Mas, kau tidak bisa menceraikanku begitu saja!" bentak Alya dengan emosi. Alya merasa tidak terima diceraikan begitu saja oleh Mas Adam.
"Tentu saja aku bisa, karena bagiku sudah jelas semuanya. Bayi yang kau kandung itu bukan anakku! karena kau tidak mau untuk diajak tes DNA atau pun hanya sekedar melakukan usg untuk mengetahui usia kandunganmu." jawab Adam dengan tegas. "Sekarang juga kau keluar dari rumahku, habis sudah batas kesabaranku."
"Aku tidak mau, aku tidak mau pergi dari rumah kita Mas." Alya berlari menuju kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya.
Adam yang hendak menyusul Alya langsung di cegah oleh Anin. "Sudah Mas, biarkan saja Alya berada disini dulu." pinta Anin.
"Tapi Anin dia itu sudah membodohiku, dia menjebakku, dan dia juga sudah hampir membuat pernikahan kita berantakan." Adam menatap mata Anin dengan intens.
"Mas, ingat Alya sedang hamil. Aku tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada Alya dan bayi dalam kandungannya." lirih Anin.
"Tapi Anin, dia -- "
"Mas, bagiku sudah cukup dengan mengetahui kalau bayi yang di kandungan Alya memang bukan anakmu. Dia pun sudah kau ceraikan, anggaplah dia itu adik kita yang butuh tempat tinggal. Ijinkan dia tinggal disini sampai kita tahu siapa Ayah dari anak yang dikandung Alya dan meminta orang tersebut untuk bertanggung jawab pada perbuatannya." pinta Anin dengan tulus.
Adam menatap wanita yang ada di hadapannya itu, wanita yang sudah banyak berubah lebih tenang dan bijak dalam menghadapi masalah.
"Aku bangga padamu sayang," Adam memeluk Anin dengan erat. "Aku bangga memiliki istri yang pemaaf sepertimu."
"Mas, aku hanya tidak ingin kita hidup didalam kebencian. Dan aku ingin kau pun memaafkan Alya, buang jauh rasa amarahmu Mas."
Adam pun semakin memeluk Anindita dengan erat dan mencium kening istri tercintanya itu. Adam sangat berterima kasih pada almarhum Kakeknya dan Kakek Anindita yang sudah menjodohkan mereka berdua.
__ADS_1