
Anin yang mendapatkan amanat dari Ibu Tika untuk mengabari hasil usg Alya, langsung memberitahukan semuanya pada Ibu Tika lewat sambungan telepon. Ibu Tika yang shock langsung di tenangkan oleh Pak Salim. Ibu Tika tidak pernah menyangka putri satu-satunya itu sudah melangkah terlalu jauh kelubang dosa yang besar.
Setelah menutup ponselnya, Anin berjalan keluar dari kamarnya untuk menghampiri Mas Adam yang masih menunggu Alya keluar dari kamar.
"Mas, kau berangkat ke kantor saja, biar aku yang coba bicara pada Alya." Bujuk Anin pada suaminya.
"Baiklah, tapi kau harus jaga dirimu baik-baik. Aku takut Alya akan menyakitimu!"
"Kau tenang saja Mas, aku akan menjaga diriku" jawab Anin.
"Baiklah aku berangkat! aku akan secepatnya pulang." Adam mengecup kening Anin, dan langsung pergi menuju kantornya.
Anin kini berdiri di depan pintu kamar Alya, diketuknya pintu kamar dengan perlahan. "Al, buka pintunya... ! Mas Adam sudah pergi. Bukalah pintunya," pinta Anin.
Dengan perlahan pintu kamar pun terbuka dan menampakan wajah Alya yang berantakan, terlihat jelas kesedihan dan kemarahan di mata Alya.
"Bagaimana? Apa kau sudah puas sekarang sudah membuat hidupku hancur!" Alya menatap tajam pada Anindita. "Sekarang Mas Adam sudah menceraikanku," bentak Alya yang sudah berjalan mendekati Anin.
"Al, kenapa kau tidak bisa berdamai dengan hatimu? Kau harus menerima semua ini dengan lapang dada. Lupakan semua kebencianmu, aku minta maaf karena sudah membuatmu terluka atas perlakuanku pada Ibumu." ucap Anin dengan tulus.
"Percuma kau meminta maaf padaku! Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan satu hal lagi yang harus kau ingat, anak yang sedang ku kandung ini anak Mas Adam." ucap Alya dengan tegas.
"Kalau memang anak yang kau kandung itu anak Mas Adam, kau harus mau melakukan tes DNA atau paling tidak kita lakukan usg untuk mengetahui dengan jelas usia kandunganmu," Anin memegang tangan Alya.
"Cih, aku tidak akan melakukan apa yang kalian minta." Alya menghempaskan tangan Anin. "Agar kalian dan terutama kau Anin, kau akan selalu dihantui perasaan bertanya-tanya di dalam hatimu. Karena kau pun tidak bisa membuktikan kalau anak ini bukan anak Mas Adam." Alya tertawa dengan sangat keras.
"Aku percaya pada Mas Adam, Al. Aku -- "
__ADS_1
"Benarkah kau percaya pada Mas Adam? Bukankah kau tidak tahu jelas kebenarannya dan hanya aku yang tahu dengan jelas kalau anak yang aku kandung adalah anak Mas Adam." Bisik Alya dengan sinis.
"Kau tahu Anin, aku akan sangat bahagia bisa menyiksa hatimu." Alya kembali tertawa dengan sinis. Lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
Anin hanya terdiam menatap pada punggung Alya yang sudah menghilang dibalik pintu kamar. Anin memang yakin kalau anak itu bukan anak Mas Adam karena sikap Alya yang tidak mau diperiksa dan melakukan tes DNA. Tapi setelah mendengar perkataan Alya, hatinya mulai goyah kembali, karena dirinya dan juga Mas Adam memang belum mempunyai bukti tentang kebenaran tentang anak yang di kandunga Alya.
Mas Adam yang sudah pulang dari kantornya kini duduk di sofa menatap pada Alya yang duduk didepan kami. Alya yang dibujuk untuk keluar kamar akhirnya bersedia untuk berbicara.
"Berapa yang kau inginkan?" tanya Adam singkat dan jelas.
"Apanya Mas?" tanya Alya dengan mengerutkan keningnya.
"Berapa yang kau ingikan agar kau pergi dari kehidupan kami?" Adam menatap tajam pada Alya.
"Mas, aku ini tidak sehina itu. Aku tidak menginginkan hartamu, yang aku inginkan adalah cintamu." ucap Alya dengan tatapan sendu.
Adam menghela nafasnya dan menatap pada Anin yang duduk disampingnya. "Alya, kita ini sudah bukan suami istri. Aku sudah menalakmu! Dan cepat atau lambat kau harus pergi dari rumah kami."
"Alya, kau benar-benar membuat kesabaranku habis!" Adam langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Anin yang melihat sikap Alya hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, Anin pun segera berdiri dari duduknya hendak menyusul Mas Adam. "Kau tahu Al, perbuatanmu itu sudah menyakiti hati Ibu mu." Ucap Anin, yang langsung berjalan meninggalkan Alya yang masih terduduk dilantai.
"Apa aku salah menginginkan cintaku," gumam Alya dalam hati. "Dulu aku hanya berniat menyakiti Anin dan bisa hidup nyaman jika menjadi istri Mas Adam. Tapi sekarang aku benar-benar mencintai Mas Adam, aku tidak ingin jauh darinya. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah," gumam Alya yang mulai menangis. Walaupun bayi yang dikandungnya itu anak Bayu, tapi hanya Mas Adam yang diinginkan oleh Alya untuk menjadi Ayah dari anaknya. Alya tidak ingin nasib anaknya sama seperti dirinya yang dibesarkan tanpa kasih sayang dari seorang Ayah.
Sementara itu Anin yang sudah masuk kedalam kamar, merasa terkejut saat Mas Adam memasukan pakaian kedalam koper.
"Mas, kau mau kemana?" tanya Anin mendekati suaminya.
__ADS_1
"Bukan aku tapi kita, Alya tidak ingin pindah dari rumah ini. Maka kita yang pergi, kita akan tinggal di Apartemenku dulu sebelum membeli rumah yang baru." jawab Adam masih sibuk memasukan pakaian kedalam koper.
"Percuma Mas, aku yakin Alya pasti akan ikut dengan kita kemana pun kita pergi." Ujar Anin menatap suaminya yang kini terdiam.
"Lalu kita harus bagaimana sayang?" tanya Adam dengan frustasi.
"Kita harus menjalankan rencana awal untuk mencari orang yang menghamili Alya, jika memang orang itu ada." lirih Anin yang terdengar ditelinga Adam.
"Apa maksudmu?" tanya Adam dengan tatapan tajam.
"Mas, aku takut kalau anak itu ternyata benar anakmu!" ucap Anin dengan suara pelan.
Perkataan Anin membuat Adam menggelengkan kepalanya. "Aku akan buktikan anak itu bukan anakku." Adam langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Anin dengan sejuta perasaan bimbang.
Satu minggu setelah kejadian itu Alya masih tinggal dirumah Anin dan Adam, dan masih berusaha mengambil hati Mas Adam. Anin dan Adam pun masih tetap bersabar dan terus mengawasi Alya.
"Mas, sepertinya Alya mau keluar!" ucap Anin pada Mas Adam melalui ponselnya. Karena melihat Alya yang memakai tas berjalan menuju pintu depan rumah.
"Iya sayang, orangku sudah bersiap untuk membuntutinya." Adam yang berada di kantor menjawab perkataan Anin.
"Aku juga ingin mengikutinya boleh?" tanya Anin meminta ijin.
"Jangan sayang, biar orangku saja yang mengikutinya." Adam melarang Anin karena takut Anin kenapa-kenapa. "Ingat kau dirumah saja!" Ucap Adam. Anin pun mengiyakan dan menutup ponselnya.
Namun karena perasaan Anin yang tidak tenang, Anin pun memutuskan mengikuti Alya walaupun Mas Adam sudah melarangnya.
Anin langsung keluar dan memanggil tukang ojek untuk mengikuti taksi yang membawa Alya pergi. "Kenapa perasaan aku tidak enak?" gumam Anin dalam hati. Sambil menatap taksi yang ditumpangi Alya yang berjalan di depannya.
__ADS_1
"Apa? Istriku mengikuti Alya?" tanya Adam dengan terkejut pada orang suruhannya. "Sekarang kalian berada di jalan apa?" tanya Adam dengan cemas.
Setelah mendapatkan informasi Anin berada di mana, Adam pun langsung keluar dari kantor menuju mobilnya. Di sepanjang perjalanan Adam berusaha menghubungi no Anin namun tidak diangkat-angkat.