Pernikahan Anindita

Pernikahan Anindita
Part 46


__ADS_3

Alya yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya, terkaget saat mendengar suara Mas Adam berdehem dengan sangat keras.


"Maaf mas aku -- " Alya pun menatap pada Anin. "Kak Anin, apa kabar?" tanya Alya berusaha untuk tersenyum.


"Kabarku baik," jawab Anin.


"Mas, itu koper siapa?" Alya menatap koper yang dipegang oleh Mas Adam.


"Ini koper Anin, mulai hari ini Anin kembali tinggal dirumah ini." jawab Adam.


Alya pun hanya bisa tersenyum saat mendengar perkataan Mas Adam, sekuat mungkin Alya menahan emosi di hatinya. Alya tidak ingin image nya sebagai wanita yang lemah lembut ternoda hanya karena amarahnya.


"Aku senang mendengarnya Mas, selamat datang kembali Kak." Alya memeluk Anin dengan erat, dengan hati yang panas membara.


"Terima kasih," jawab Anin dengan tulus. Di hati Anin sudah tidak ada perasaan benci terhadap Alya, dengan apa yang telah terjadi di hidupnya dan sikap Ibu Tika yang baru Anin sadari. Membuatnya dirinya tersadar satu hal, rasa benci pada orang lain justru akan membuat hidup kita menjadi berantakan.


"Masuklah, aku sudah menyiapkan makan malam." ucap Alya pada Mas Adam dan Anin.


"Kami sudah makan," ujar Adam menarik koper Anin kearah tangga.


"Mas," Anin menarik tangan Mas Adam dan mengisyaratkan agar Mas Adam mau makan terlebih dahulu. Dan mau tidak mau Adam pun berjalan kearah meja makan.


"Kak Anin juga makanlah dulu," pinta Alya dengan senyum manis di bibirnya.


"Kalian saja duluan, aku harus ke kamarku dulu" ucap Anin yang langsung berjalan menuju kamarnya.


Adam yang sudah duduk di meja makan, hanya terdiam menatap pada Alya yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


"Mas, boleh aku minta satu hal padamu?" tanya Alya. Sambil menatap suaminya yang sedang makan.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Adam.


"Mas, aku ini sedang mengandung anakmu. Apa kau tidak ada niatan untuk meresmikan pernikahan kita?" tanya Alya dengan hati-hati. "Aku kasihan pada anak kita jika status pernikahan kita hanya sah di mata agama," lirih Alya dengan menundukan kepala.


"Beri aku waktu satu bulan untuk mengambil keputusanku," jawab Adam dengan ekspresi datarnya. Yang dijawab anggukan kepala oleh Alya.


"Aku sudah selesai makan, aku keatas dulu." Adam hendak pergi namun tangannya langsung ditahan oleh Alya.

__ADS_1


"Mas, bisakah kau berlaku adil? aku juga istrimu Mas!" lirih Alya. "Selama ini aku selalu menurut apa pun yang kau katakan, bahkan aku tidak pernah protes kau tidak pernah menyentuhku lagi." Alya mulai menitikan air matanya. "Pernahkah kau memikirkan perasaanku sedikit saja Mas, aku pun ingin kau tidur bersamaku dan anak kita." ucap Alya dengan menangis.


Adam menatap wajah Alya dengan perasaan bersalahnya, semua yang dikatakan oleh Alya itu benar. Alya tidak pernah protes padanya yang hanya diperlakukan seperti orang asing.


"Alya, aku minta maaf! tapi kau tahu betul alasan kita menikah, dari awal aku tidak pernah mencintaimu!" ucap Adam dengan suara yang pelan. "Maafkan aku!" lirih Adam, lalu meninggalkan Alya berjalan menaiki tangga.


"Kau itu kejam sekali, Mas." Alya mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya. "Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, tapi kau sama sekali tidak memperdulikan perasaanku," gumam Alya dalam hati dan langsung berlari masuk kedalam kamarnya. Hati


Alya terluka karena penolakan Adam dan juga rencana yang sudah di buat olehnya gagal total karena kedatangan Anin kembali kerumah ini.


"Anindita, aku sangat membencimu!" teriak Alya dengan suara tertahan, dan melemparkan bantal dan guling kesembarang arah.


Sementara itu Adam yang sudah masuk kedalam kamar atas, melihat Anindita yang berdiri di balkon kamar. Dengan perlahan Adam mendekati istrinya itu dan memeluknya dari belakang.


"Mas, kau membuatku kaget saja!" ucap Anin mengelus dadanya.


"Aku sangat merindukanmu," bisik Adam ditelinga Anin.


"Mas, aku pun merindukanmu." Anin membalikan tubuhnya dan menatap dalam wajah suaminya.


Adam langsung mengecup kening Anin dengan lembut. "Maafkan aku yang sudah membuatmu tinggal di satu atap yang sama dengan Alya!" ucap Adam. "Untuk saat ini aku belum bisa memindahkan Alya, karena akan lebih mudah bagi kita untuk mengungkap kebenarannya jika Alya masih tinggal bersama kita."


Anin merasa sangat beruntung memiliki suami yang begitu mencintai dirinya, Anin sudah mendengar semua percakapan antara Alya dan Adam diruang makan tadi saat dirinya hendak menyusul keruang makan, Anin begitu tersentuh karena Mas Adam dengan teguhnya menolak keinginan Alya.


"Terima kasih sayang," ucap Adam yang membalas pelukan istrinya itu. "Mulai besok, bantu aku untuk mengawasi Alya selama dia berada dirumah." Pinta Adam yang dijawab anggukan kepala oleh Anin.


Adam pun membawa Anin ketempat tidur untuk beristirahat, mereka berdua melepaskan rasa rindu yang selama ini mereka pendam. Mulai saat ini Anin pun berjanji akan menemani suaminya untuk mencari kebenaran, dan jika kebenaran itu sudah terungkap. Mau itu anak Mas Adam atau bukan, Anin tidak akan membenci Alya lagi. Sudah cukup rasa kebencian diantara mereka membuat semuanya hancur, dan Anin ingin berdamai dengan hatinya walaupun seandainya dirinya harus pergi dari kehidupan Mas Adam.


Satu bulan kemudian.


"Kita mau kemana?" tanya Alya yang sudah berada di dalam mobil bersama dengan Mas Adam dan Anin.


"Kita akan ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Grand Family." jawab Adam yang melirik kearah Anin yang duduk di sampingnya.


"Untuk apa Mas?" tanya Alya dengan terkejut.


"Untuk memeriksakan kandunganmu, bukankah tiap bulan wanita hamil itu harus memeriksakan kandungannya." Anin yang menjawab pertanyaan Alya.

__ADS_1


"Kalau untuk memeriksakan kandunganku, aku bisa sendiri. Jadi kalian tidak perlu mengantarku," ucap Alya dengan gugup.


"Aku Ayah dari anak yang kau kandung, bukankah aku berhak untuk tahu keadaan anakku?" ucap Adam dengan tajam. Adam yang melihat gelagat Alya yang panik, jadi semakin yakin kalau anak yang didalam kandung Alya bukan anaknya.


"Tentu saja kau berhak Mas," jawab Alya berusaha tenang untuk menutupi kepanikannya. "Aku harus mencari jalan keluar agar semua ini tidak terbongkar," gumam Alya dalam hati.


Setelah sampai di Rumah Sakit Ibu dan Anak Grand Family. mereka pun menunggu giliran dengan duduk di tempat tunggu.


"Mas, aku mau ke toilet dulu." bisik Alya, lalu langsung berdiri dan berjalan kearah toilet.


"Alya mau kemana Mas?" tanya Anin yang melihat Alya berjalan.


"Dia bilang mau ketoilet," jawab Adam.


Setelah menunggu dua puluh menit dan nama Alya pun sudah dipanggil. Anin pun meminta Mas Adam untuk menjemput Alya di toilet.


"Alya tidak ada di toilet!" seru Adam dengan nafas yang tersengal sengal, karena dirinya mencari keseluruh toilet di lantai ini tapi tidak menemukan Alya.


"Tidak ada? kemana dia Mas?" tanya Anin.


"Aku tidak tahu." Adam langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Alya sedang di jalan menuju arah rumah," ucap Adam setelah menutup ponselnya.


"Loh kok bisa? Dan kau tahu dari siapa?" tanya Anin dengan binggung.


"Nanti aku jelaskan, sekarang yang terpenting kita pulang dulu." Adam menggenggam


tangan Anin menuju mobilnya.


Didalam mobil Adam menjelaskan semuanya pada Anin, kalau sudah sebulan ini dirinya menyewa seseorang untuk mengikuti Alya kemana pun dia pergi. Adam pun tahu kalau Alya ada di jalan menuju arah rumah dari orang bayarannya itu.


"Jadi, selama ini ada orang yang selalu mengikuti Alya?" tanya Anin dengan terkejut.


"Iya sayang," jawab Adam.


"Lalu apa orang itu punya info tentang Alya Mas?" tanya Anin.

__ADS_1


"Tidak ada, selama satu bulan ini Alya hanya pergi ke Mall dan tidak ada yang aneh sama sekali." jawab Adam dengan wajah yang terlihat sedang menahan emosi.


Anin pun menatap Adam dengan perasaan cemas, karena Mas Adam melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dan setibanya dirumah Adam langsung masuk dan mencari Alya dengan penuh amarah di hatinya, dengan kelakuan Alya yang sudah pergi disaat akan menjalani pemeriksaan sudah cukup bukti kalau Alya ingin menyembunyikan kebenaran. Kebenaran kalau dirinya bukan Ayah dari anak yang ada didalam kandungan Alya.


__ADS_2