
Satu bulan kemudian.
Di sinilah Anindita berdiri, di sebuah mesjid yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Memandang pada orang-orang yang duduk mengelilingi sepasang pengantin yang hendak melangsungkan prosesi ijab kabul pernikahan. Ditatapnya pria tampan yang memakai jas hitam dengan peci di kepalanya.
Pria tampan itu tidak lain adalah Mas Adam, suaminya yang sebentar lagi akan menikah dengan gadis yang baru berusia dua puluh dua tahun bernama Mutia. Ada perasaan sakit melihat pria yang dulu menikahinya, kini duduk disamping wanita yang akan menjadi istri keduanya.
Anin yang tidak bisa menahan kesedihannya kini sudah menitikan air matanya, sungguh berat ujian yang harus dilewati oleh Anindita. Melihat suami yang dicintainya menikahi wanita lain, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena memang itulah yang diinginkannya.
"Bunda, Bunda kenapa menangis?" tanya Bayu.
"Bunda tidak papa sayang," ucap Anin dengan berjongkok dan memeluk Bayu. Dengan memeluk Bayu, Anin berharap punya kekuatan untuk bisa melihat kenyataan pahit yang ada didepannya ini.
Adam yang menatap Anin dari tempat duduknya dapat melihat dengan jelas kesedihan dimata istrinya itu. Ingin sekali Adam menghampiri Anindita dan memeluknya, tapi keinginannya itu harus ditahannya karena acara yang akan dimulai. Adam hanya bisa berdoa agar semua yang terjadi nanti adalah memang yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa.
"Anin sayang, apa kau tidak papa Nak?" tanya Ibu Tika sambil mengelus rambut Anin dengan menahan sedihnya. Putri tirinya kini harus melihat suaminya menikah dengan wanita lain.
"Anin tidak papa Bu, Anin sudah ikhlas. Ayah pernah berkata pada Anin, jika Anin ikhlas dalam melakukan sesuatu. Maka Anin akan mendapatkan jalan yang terbaik yang di ridhoi oleh yang diatas," jawab Anin dengan tersenyum tipis diwajahnya, yang semakin memeluk Bayu dengan erat. Karena saat ini Mas Adam sedang mengucapkan ijab kabul pernikahannya.
"Saya terima nikahnya Mutia binti Almarhum Bapak Sutrisno dengan mas kawin --- "
Hanya ucapan itu yang Anin dengar, dan dirinya tidak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Mas Adam. Entah apa yang terjadi, karena saat Anin membuka matanya dengan perlahan dirinya sudah berada disebuah kamar dan dengan tangan yang sudah diinfus. Anin melihat Mas Adam yang berbicara dengan seseorang yang berpakaian Jas putih dan disebelah Mas Adam ada Mutia yang masih mengenakan pakaian pengantin. Ingin sekali Anin memanggil Mas Adam, namun tubuhnya begitu lemah dan tak terasa matanya kembali terpejam.
Entah sudah berapa lama dirinya tertidur, dengan perlahan Anin membuka matanya yang terasa berat. Dilihatnya Mas Adam yang tertidur disamping dirinya.
"Mas," lirih Anin mengusap rambut suaminya.
__ADS_1
Adam yang mendengar suara Anindita, langsung terbangun dan memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat dan mengecup kening Anin. "Kau sudah bangun sayang?" tanya Adam yang terus mencium seluruh wajah Anin.
"Mas, kenapa aku ada disini?" tanya Anin dengan suara yang lemah. Anin tahu kalau dirinya berada disebuah kamar rawat inap.
Mas Adam tidak menjawab pertanyaan Anindita. Mas Adam masih sibuk dengan menatap wajah Anin dengan sangat intens sambil mengelus rambutnya dengan lembut. Dapat terlihat dimata Mas Adam ada sebuah senyuman dengan air mata yang menetes di kedua matanya.
Anin yang melihat suaminya menangis, langsung merasa cemas. Apakah dirinya itu punya penyakit yang berbahaya sehingga Mas Adam menangis. Lalu dimana Mutia? Apakah mereka sudah sah menjadi suami istri? Semua pertanyaan melintas dibenak Anindita secara bergantian.
"Mas, Aku kenapa? Di mana Mutia? Apa kalian --" suara Anin tertahan karena Mas Adam mencium bibir Anin dengan penuh kelembutan. "Mas?" lirih Anin menatap suaminya yang kini menatap matanya dengan intens.
"Terima kasih sayang," ucap Adam mengecup kening Anindita.
Anin yang bingung dengan ucapan Mas Adam, hanya bisa terdiam. Dirinya hendak bangun dari tidurnya, namun langsung ditahan oleh Mas Adam.
"Sayang, kau jangan banyak bergerak dulu!" ujar Adam. "Mulai saat ini kau tidak boleh terlalu lelah." Adam kembali mencium kening Anindita.
"Tidak sayang," jawab Adam.
"Lalu kenapa tadi kau menangis?" Anin mengusap wajah Mas Adam dengan satu tangannya.
"Aku menagis karena bahagia, sangat bahagia. Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah." ucap Adam dengan tersenyum lepas.
"Apa Maksudmu Mas? Kau kan baru menikah dengan Mutia?" tanya Anin dengan bingung.
"Sayang, aku akan menjadi seorang Ayah. Kau sedang mengandung sayang." Adam mencium bibir Anin berulang kali. Dan ciuman itu turun ke perut rata Anin.
__ADS_1
"Benarkah Mas?" Tanya Anin dengan terkejut sekaligus bahagia. Sudah sangat lama Anin ingin mendengar kalimat tersebut, kalimat yang mengatakan kalau dirinya sedang mengandung. Anin langsung mengusap perut ratanya itu dengan penuh kasih.
"Benar sayang," jawab Adam. Yang ikut mengelus perut rata Anin. "Kenapa kau tidak bilang padaku, Kalau kau selalu merasa pusing?" tanya Adam yang baru tahu dari Pak supri kalau Anin sering mengeluh pusing dan hampir pingsan di ruang tengah.
"Aku-aku kira itu hanya pusing biasa karena aku sedang stres mempersiapkan pernikahan -- " Anin langsung terdiam saat mengingat suaminya mungkin sudah menikah dengan Mutia. Semua kebahagian dan senyuman di dirinya hilang sudah.
"Kau kenapa sayang?" tanya Adam yang melihat Anin terdiam dengan wajah yang sedih.
"Mas, di mana Mutia?" Tanya Anin. Adam yang tahu arah pembicaraan Anin, langsung menghela nafasnya dengan panjang.
"Dia sudah pulang kerumah," jawab Adam.
"Kerumah?" gumam Anin dalam hati, lalu menangis dengan sejadi-jadinya. Kebahagiannya karena dirinya sedang mengandung sedikit ternoda, saat mengetahui suaminya sudah sah menjadi suami Mutia. Anin merasa menyesal sudah meminta Mas Adam menikah lagi.
"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Adam yang khawatir melihat Anin menangis dengan sesenggukan. "Sayang kau tidak boleh menangis, ingat kau sedang mengandung." ucap Adam kembali mengusap air mata istrinya.
"Mas, aku dan Mutia --- " Anin kembali menangis.
Adam yang baru tersadar apa yang di pikirkan istrinya langsung tersenyum dengan mencubit gemas pipi istrinya. "Kau bersedih karena suamimu ini sudah menikah lagi? Apa sekarang kau sudah menyesal?" tanya Adam.
"Mas, sakit." ucap Anin melepaskan tangan Mas Adam dari pipinya. "Tentu saja aku bersedih, tapi aku tahu mungkin ini sudah jalannya Mas." Anin berusaha untuk tersenyum.
Adam langsung tersenyum mendengar ucapan istrinya yang berusaha untuk tegar. "Dan memang ini sudah jalannya, kau pingsan hingga membuat aku langsung berlari tanpa meneruskan ijab kabulku." Adam mencium kembali perut rata Anindita.
"Jadi! Jadi Mas belum?" tanya Anin dengan wajah yang tidak percaya pada apa yang didengarnya.
__ADS_1
"Mas belum mengucapkannya sayang! Mana mungkin Mas meneruskannya dan mendiamkan kau yang terjatuh pingsan."
Anin yang bahagia karena suaminya tidak jadi menikah, langsung memeluk suaminya. Anin tidak menyangka semuanya berjalan begitu saja, skenario yang di berikan oleh yang di atas tidak bisa di duga Anindita. Selama tujuh tahun dirinya tidak bisa hamil, dan disaat suaminya akan menikah dengan wanita lain dirinya justru baru tahu kalau sedang mengandung. Dan pingsannya dirinya membuat pernikahan antara Mas Adam dan Mutia batal dengan sendirinya.