
Anin yang menunggu di dalam kamar hotel, akhirnya bosan dan memutuskan untuk keluar dari kamar. Anin berjalan menuju belakang hotel untuk menikmati udara laut, dan ketika berjalan kearah belakang hotel. Dirinya sempat melihat Mas Adam yang masih berbicara dengan rekan bisnisnya.
Anin yang sudah berada di belakang hotel, menatap hamparan laut yang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Angin laut yang menyegarkan pun langsung menerpa tubuhnya.
"Apa kau suka berada di sini?" tanya seorang pria dari belakangnya.
Anin pun langsung menengok kearah belakang, dan mendapati Mas adam yang berdiri dengan satu tangannya yang di masukan kedalam saku celana.
"Tentu saja aku suka," jawab Anin yang kembali menatap kearah laut.
"Duduklah," ujar Adam menarik tangan Anin dan mendudukan Anin tepat di sampingnya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Anin menatap wajah Mas Adam.yang terlihat tampan dengan kemeja putihnya dengan kancing atas yang terbuka.
"Sudah," jawab Adam dengan singkat.
"Kenapa kau melarangku untuk pulang ke Jakarta?" tanya Anin yang masih menatap lekat wajah suaminya itu.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang indah yang ada di Bali," jawab Adam dengan wajah yang menatap lautan lepas. "Aku ingin memberikan kenangan yang indah untuk mu walaupun hanya sekali, karena aku tidak ingin kalau kita bercerai nanti. Hanya ada kenangan buruk tentangku yang ada di ingatan mu," ucap Adam yang kini menatap pada wajah Anin. Membuat pandangan mata mereka saling bertemu.
"Mas, kalau aku minta satu permintaan apa kau akan mengabulkannya?" tanya Anin.
"Kalau aku bisa tentu aku akan mengabulkannya," jawab Adam. "Apa yang kau inginkan?" tanya Adam yang masih menatap mata Anin yang juga sedang menatap dirinya.
"Aku ingin kau jujur padaku, apa kau mencintaiku?" tanya Anin.
Adam yang sempat terkejut mendengar pertanyaan Anin, langsung tersenyum pada wanita yang kini menatapnya dengan wajah yang serius.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihat fotomu, bahkan mungkin sejak dulu aku sudah tertarik pada seorang gadis yang berusia dua belas tahun yang bernama Anindita yang sangat keras kepala," jawab Adam masih dengan senyumnya.
"Kau pernah bertemu dengan ku saat aku kecil?" tanya Anin penasaran dengan perkataan Mas Adam.
"Ya, aku dulu pernah menginap di rumahmu bersama Kakek ku, aku pun baru mengingat kembali setelah Ibu memperlihatkan foto lama kita saat berfoto di depan rumahmu." ucap Adam.
"Kenapa aku tidak ingat ya," ujar Anin dengan mengeryitkan keningnya.
"Tentu saja kau tidak mengingatnya, karena sejak dulu mau pun sekarang kau tidak pernah menganggap ku ada." ucap Adam dengan terkekeh.
__ADS_1
"Maaf," lirih Anin.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku, aku tahu kalau perasaan cinta itu tidak dapat di paksakan," ucap Adam yang kini menatap kembali kearah lautan yang di depannya.
"Kalau kau mencintaiku, kenapa kau menikah dengan Alya? bahkan dulu kau bilang kau sangat mencintai Alya?" tanya Anin.
Adam yang mendengar pertanyaan Anin langsung terdiam wajahnya berubah tanpa ekspresi apa pun, matanya menatap lurus kearah lautan lepas.
"Mas, jawablah pertanyaanku!" seru Anin dengan setengah memaksa.
"Kalau aku menceritakan semuanya, aku takut kau akan semakin membenciku." ucap Adam tanpa menoleh kearah Anin.
"Kalau kau tidak menceritakan padaku yang sebenarnya, maka aku akan semakin membencimu!" seru Anin dengan tegas.
Adam yang kini menatap Anin, akhirnya menceritakan semuanya yang terjadi antara dirinya dan juga Alya. Dari pertemuan pertama mereka sampai kejadian di mana Adam harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada alya.
Anin yang mendengarkan semua perkataan Mas Adam hanya terdiam tanpa bisa berkata apa pun, dari semua yang di katakan Mas adam. Entah mengapa dirinya merasa sangsi jika Mas Adam sudah memperkosa Alya, karena Anin sudah merasakan sendiri betapa Mas Adam bisa menahan hawa nafsunya kepada dirinya kemarin malam.
"Apa kau yakin kalau kau sudah melakukannya pada Alya?"
"Yakin atau pun tidak, tapi semua sudah terjadi dan aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan."
"Kenapa kau menanyakan hal itu? apa kau tidak rela jika aku menikah kembali?" tanya Adam dengan tersenyum.
"Kau sangat tampan jika tersenyum," ujar Anin keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Anindita, apa kau mulai menyukaiku?" goda Adam dengan mendekatkan wajahnya kewajah Anin.
"Mas, menjauhlah," pekik Anin dengan mendorong kuat tubuh Mas Adam, yang justru membuat dirinya terjatuh di pelukan Mas Adam.
Anin yang berada di atas tubuh Mas Adam, menatap dengan lekat kearah sepasang mata hitam yang menatap dirinya. Jantungnya kini semakin berdetak dengan kencang, bahkan jantungnya serasa ingin melompat keluar dari tubuhnya.
"Apa kau mau seperti ini terus?" tanya Adam yang masih berada di bawah dengan memeluk tubuh Anin.
"Eh iya maaf," ujar Anin yang langsung bangkit dan duduk kembali di posisinya yang semula.
"Ayo.... " ajak Adam yang sudah berdiri dari duduknya mengulurkan tangannya pada Anin.
__ADS_1
"Kemana?"
"Aku akan mengajakmu mengelilingi Bali," ucap Adam.
Anin pun tersenyum dan menerima uluran tangan Mas Adam, mereka berdua pun menaiki mobil untuk mengelilingi Bali.
Adam mengajak Anin ke the keranjang Bali untuk mencari oleh-oleh, setelah itu Mas Adam pun membawa Anin ke Bali Safari and Marine Park. Dan tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah Pantai Kuta.
Di pantai itulah mereka menikmati indahnya sunset, dengan duduk di pinggir pantai.
"Adam Dharmawan," ucap Adam mengulurkan tangannya pada Anin.
Anin yang tidak mengerti dengan tindakan Mas Adam pun hanya terdiam dengan wajah bingungnya. Merasa tidak mendapat balasan, Mas Adam pun langsung menarik tangan Anin untuk bersalaman dengannya. Anin yang mengerti pun langsung menjawab uluran tangan Mas Adam.
"Anindita," jawab Anin dengan tersenyum geli melihat tingkah Mereka berdua.
"Anindita, aku harap hari ini awal yang baik untuk kita. Aku ingin kau tidak membenciku lagi, dan aku harap kita bisa berteman jika suatu saat nanti kita berpisah." ucap Adam.
"Mas aku sudah tidak membencimu.... " ucap Anin dengan tulus.
"Syukurlah kalau kau sudah tidak membenciku, hati ku jadi lega sekarang," ucap Adam menatap lekat wajah Anin.
"Mas kalau aku mencintaimu, apa kau tetap ingin berpisah dengan ku?" tanya Anin dengan lirih.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Adam.
"Aku hanya ingin bertanya saja?" ujar Anin dengan salah tingkah. "Jawablah pertanyaanku, Mas?" tanya Anin kembali.
"Tentu saja aku tidak akan menceraikanmu, dan aku akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia ini." ucap Adam dengan tersenyum.
Mendengar perkataan Mas Adam, membuat Anin sangat tersentuh. Dirinya merasa sangat beruntung di cintai oleh Mas Adam dengan begitu besarnya.
"Ayo kita pulang.... !" ajak Adam, karena angin laut yang sudah semakin kencang, Adam takut kalau Anin masuk angin.
Saat Adam mengulurkan tangannya, Anin dengan tiba-tiba memeluk dirinya dengan sangat erat. Membuat Adam terkejut bercampur rasa bahagia di dadanya.
"Kalau kita memulai semuanya lagi dari awal, apa kau bisa berjanji padaku hanya ada kita dan tidak ada orang ketiga di rumah tangga kita?" tanya Anin yang masih memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1
"Aku janji hanya ada kita di pernikahan ini. Dan untuk Alya, beri aku waktu untuk menyelesaikannya tanpa harus menyakitinya," ucap Adam membalas pelukan Anin dengan sangat erat dan tidak ingin melepaskannya.