
Tidak ada yang istimewa dari seorang Anindita, anak perempuan berumur dua belas tahun tentu saja sama seperti anak kebanyakan. Namun yang menarik perhatian Adam adalah sifat keras kepala dari seorang Anindita, walau hanya dua hari dirinya di rumah teman Kakeknya. Namun Adam bisa melihat dengan jelas seorang Aninidta yang sangat susah jika sudah berkata A maka A.
Dan saat Ibu Adam memberikan foto Anindita yang sudah dewasa, entah mengapa Adam langsung jatuh cinta pada Anindita. Padahal baru fotonya yang di perlihatkan oleh Ibu nya, tapi Adam sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Walau hanya lewat foto, Adam dapat melihat wajah Anin yang cantik alami tanpa make up yang menghiasi wajahnya.
Dan setelah mengetahui perjodohan itu, Adam selalu menyimpan foto Anin yang di berikan oleh Ibunya di layar ponselnya, dan sampai sekarang pun dirinya masih menyimpan foto tersebut.
Satu bulan setelah mengetahui perjodohan tersebut, ada seorang wanita yang menemuinya dan mengaku sebagai adik tiri Anin. Alya namanya, saat itu dia datang ke perusahaannya karena disuruh oleh Ayah Anin untuk mengetahui lebih jelas tentang pekerjaan Adam di Jakarta.
Adam pun menerima Alya dengan baik di kantornya, Adam memperlakukan Alya layaknya kakak ke adiknya. Dan setelah selesai Alya pun langsung pulang kembali ke kotanya, dan tidak ada satu hal apa pun yang terjadi antara dirinya dan juga Alya.
Sampai di saat tiga minggu lagi acara pernikahan dirinya dengan Anin, Alya datang kembali ke Jakarta menemuinya. Alya berkata dirinya sedang ada keperluan mencari seseorang di Jakarta, dan meminta bantuannya untuk mencari orang tersebut.
Adam yang di mintai tolong oleh Alya, dengan sigap membantu dan menemaninya seharian mencari orang yang di katakan Alya adalah sahabatnya yang meminjam uang padanya, tapi sudah lama tidak membayarnya. Makanya Alya mencari sahabatnya itu untuk menagih uangnya.
Setelah lelah mencari dan tidak ketemu, Adam pun mengantarkan Alya kembali ke hotelnya. Saat itu Adam di suruh masuk terlebih dahulu kedalam kamar Alya, Adam sempat menolak karena tidak baik berada di satu kamar bersama wanita lain yang bukan mukhrimnya. Tapi karena Alya terus memaksa, dan mengatakan ingin memberikan minum dulu untuk ku sebagai rasa terima kasih karena sudah membantu dirinya. Dan mau tidak mau Adam pun masuk kedalam kamar hotel Alya.
Dan setelah mengobrol sebentar dan meminum minuman yang di berikan oleh Alya, Adam tidak tahu lagi apa yang terjadi. Sampai pada akhirnya dirinya terbangun dalam keadaan tidak memakai busana sama sekali di atas tempat tidur bersama dengan Alya yang juga tidak mengenakan apa pun yang sedang menangis di sampingnya.
Adam yang saat itu binggung dengan apa yang terjadi hanya bisa terdiam, pikirannya benar-benar kacau. Adam sekuat mungkin mengingat kembali apa yang terjadi, tapi tetap saja dirinya tidak mengingat apa pun.
Setelah hari itu, Adam yang merasa sangat bersalah pada Alya. Akhirnya memberanikan diri mangatakan pada Ibu nya untuk membatalkan pernikahannya dengan Anin, Adam berkata dirinya sudah mencintai wanita lain, tapi Ibunya tidak mau menerima alasan apa pun dan akhirnya jatuh pingsan dan sampai harus di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Dalam keadaan yang sulit Adam tidak bisa memutuskan apa pun, di satu sisi Adam tidak ingin Ibunya sampai kenapa-kenapa dan di satu sisi Adam ingin bertanggung jawab atas perbuatannya pada Alya.
Dan di saat itulah Alya berkata kalau dirinya mau di nikahi oleh nya secara sirih, dan tetap membolehkan dirinya menikah dengan Anin. Adam yang merasa bersalah pada Alya semakin bertambah pula perasaan bersalahnya saat Alya dengan berbesar hati mau di nikahinya secara sirih dan tetap memperbolehkan dirinya menikah dengan Anin.
Dan terjadilah pernikahan sirih itu satu minggu sebelum hari pernikahan ku dengan Anindita, dan disaat malam pertama ku dengan Alya. Aku berkata jujur kalau aku sudah mencintai wanita lain, dan tidak bisa menyentuh Alya sebelum dirinya jatuh cinta pada Alya.
Alya yang mendengar penjelasan dirinya, lagi-lagi menerima apa yang aku katakan tanpa menolak atau pun marah padaku. Kalau di lihat dari fisiknya Alya adalah wanita yang sangat cantik apalagi dengan sifatnya yang lemah lembut dan tidak pernah membantah sedikitpun perkataanku, seharusnya aku bisa dengan mudah mencintainya.
Tapi entah mengapa sampai detik ini aku tidak bisa mencintai Alya, bahkan sekarang rasa cintaku pada Anin semakin besar. walaupun Anin selalu saja cuek dan bersikap keras, Aku memakluminya karena aku tahu Anin sangat membenciku.
Karena di malam pertamaku dengan Anin aku berkata sesuatu yang sangat melukai hatinya,
Perkataan itulah yang di ucapkan Adam pada Anin, walaupun itu semua bohong. Tapi setidaknya lebih baik dari pada aku harus berterus terang pada Anin kalau aku sudah memperkosa adik tirinya.
Dan sekarang, Anin semakin membenciku saat aku memberitahu padanya kalau istri sirih ku adalah Alya adik tirinya.
Dan di sinilah dirinya berada, di satu kamar dan di tempat tidur yang sama dengan wanita yang di cintainya. Adam menatap lekat wajah Anin dengan sangat intens.
"Aku sudah memutuskan untuk bercerai dengan Alya, karena sampai detik ini aku tidak bisa mencintai Alya. Dan aku juga akan menceraikan mu, karena aku tahu kau sangat membenciku." gumam Adam dalam hati, masih mengelus wajah Anin dengan tangannya.
Dan tanpa terasa Adam pun tertidur di samping Anin dengan memeluk pinggang Anin dengan erat.
__ADS_1
Keesokan harinya, Anin yang sudah terbangun dari tidurnya merasakan ada yang memegang pinggangnya. Di lihatnya ada tangan kekar yang memeluk dirinya dari belakang. karena terkejut Anin pun langsung bangun dan menatap si pemilik tangan tersebut yang tak lain adalah Mas Adam.
"Bagaimana bisa aku tertidur di sini," gumam Anin masih menatap wajah Mas Adam yang masih tertidur lelap.
Dengan segera Anin bangun dari tidurnya dan langsung mengambil pakaian ganti menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Anin melihat Mas Adam yang sudah tidak ada di tempat tidurnya.
"Apa dia sudah kembali ke kamarnya?" gumam Anin.
Setelah selesai bersiap untuk berangkat kerja, dirinya keluar kamar dan berjalan ke lantai bawah. Di ruang makan Anin tidak melihat Mas Adam sama sekali, hanya ada Alya yang sedang membereskan dapur.
"Sarapannya mana?" tanya Anin yang sudah duduk di kursi makan.
"Buat saja sendiri," jawab Alya dengan ketus.
"Tumben kau berani bicara keras dan ketus? kau tidak takut Mas Adam melihat sifat aslimu itu?" ujar Anin dengan sinis.
"Kenapa aku harus takut? lagi pula Mas Adam sudah berangkat kerja, dan dia pergi keluar kota selama tiga hari. Jadi aku bebas berbicara sesuka hati ku padamu," balas Alya dengan sengit.
"Oh... pantes," gumam Anin.
"Jadi tiga hari kedepan kau harus masak sendiri untuk makanmu dan aku akan bersenang-senang," ujar Alya yang langsung pergi meninggalkan Anin yang masih berdiri di ruang makan.
__ADS_1