
"Berapa Bu, semuanya?" tanyaku pada Buk Siti setelah selesai memilah-milih belanjaan yang akan aku beli untuk keperluan hari ini.
"Ayam sekilo tiga puluh ribu, bumbu kari tiga ribu, santan tiga ribu, itu aja?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Jadi, semuanya tiga puluh enam ribu," ucap Buk Siti. "Ayam lagi naik soalnya," lanjutnya kemudian.
Aku hanya tersenyum sembari merogoh kocek, mengambil dompet bermerek toko emas dari saku daster kesayangan yang aku punya, segera membayar tagihan belanjaan yang disebutkan Buk Siti barusan.
Maklum sih, soalnya beberapa hari terakhir, harga pangan memang lagi pada melambung tinggi. Minyak goreng aja susah nyarinya apalagi yang ada diskonnya itu. Semua jenis bahan pokok pada ikutan naik, tinggal uang belanja dari suami aja yang masih stabil, nggak naik-naik.
Untuk kaum Ibu-Ibu seperti saya ini, ya harus pandai-pandai berhemat, memutar outak biar bahtera rumah tangga nggak oleng apalagi sampai bubar.
"Loh." Betapa kagetnya aku saat mendapati isi dompetku hanya tinggal beberapa lembar uang pecahan dua ribuan, seribuan dan beberapa keping uang recehan.
Padahal seingatku malam tadi, Bang Diki_ Suamiku_ sudah memberikan jatah uang belanja untuk hari ini. Yaitu berupa uang bulat lima puluh ribuan seperti biasa dan langsung aja aku masukin ke dalam dompet ini.
"Kenapa, Mbak?" tanya Buk Siti saat melihatku sedang kebingungan.
"Uangnya ketinggalan, Buk. Sebentar ya!" jawabku sambil garuk-garuk kepala yang tiba-tiba terasa gatal, bergegas pergi meninggalkan kedai sampah miliknya, juga beberapa orang ibu-ibu yang masih asyik memilah milih barang belanjaan yang mau dibeli sambil ngobrol.
Dalam perjalanan menuju rumah, aku mengingat-ingat kembali uang itu. Apakah aku salah letak atau jangan-jangan uangnya malah hilang dicuri Tuyul. Aduh, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Mumet.
Bukan cuma sekali ini uangku lenyap begitu saja. Kemarin dulu juga pernah hilang mulai dari uang sepuluh ribuan, dua puluh ribuan dan pernah juga seratus ribuan. Menurut tetangga di sekitar sini, uang mereka juga sering hilang seperti aku. Bahkan, ada juga seseibu yang pernah bilang kalau uang tabungan anaknya yang dalam celengan berbentuk reflika ayam itu hanya tersisa sepuluh ribuan saja setelah ditabung beberapa tahun lamanya.
Sampai-sampai rasanya aku pengen nangis aja bawaannya membayangkan jika uang itu benar-benar hilang dan nggak ketemu di rumah. Sedikit memang nominalnya, hanya lima puluh ribu rupiah saja. Akan tetapi, uang sejumlah segitu sudah banyak dan sangatlah berarti untukku.
.
"Bang! Liat uang Yara nggak?" teriakku pada suami yang masih enak enakan tidur di kamar, begitu aku sampai.
Senyap, nggak ada jawaban.
"Bang! Liat uang Yara nggak?" ulangku lagi sambil terus mencari disekitaran dapur dan kamar mandi.
Sepi, nggak ada jawaban.
Aku segera masuk ke dalam kamar dan mendapati Bang Diki masih bergulung nyenyak didalam selimut.
"Bang!" teriakku sembari memukul punggungnya dengan guling hingga dia tersentak. Enak aja, sudah siang begini masih mendengkur seperti nggak punya tanggungan sama sekali.
__ADS_1
Nggak peduli sedikit pun kepada istrinya yang lagi kesusahan seperti ini.
"Liat uang Yara, nggak Bang?" Bentakku dengan nada jengkel.
"Uang apa?" Dia terlihat seperti orang bodo.
"Uang belanja."
"Tapi, udah Abang kasi tadi malam!"
"Nggak ada di dompet loh, Bang!" ucapku setengah frustasi bercampur sedih dan kesal juga. Bingung mau nyari kemana lagi.
Kulihat dia bangkit dan kemudian duduk bersandar di sisi ranjang, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Abang nggak ada lihat?" tanyaku penuh selidik.
"Nggak ada loh, Dek."
"Sumpah!" Aku memastikan.
"Sumpah."
"Iya."
"Iya, apa?"
"Yang tadi."
"Yang tadi, apa?" desakku.
"Yang tadi Adek bilang, loh."
Dari gerak- gerik dan cara bicaranya aja sangat-sangat mengundang kecurigaan, nih. Jangan-jangan beneran dia yang mengambil uang itu kembali.
"Serius, Bang? Abang nggak ada ngambil?"
"Duarius lho, Dek. Kan tadi malam Abang udah kasih sama kamu. Emang adik tarok mana?"
Yaelah, kalau aku ingat letaknya dimana, ngapain juga aku sibuk-sibuk nanya.
__ADS_1
Aku duduk disisi ranjang, kembali mengingat-ingat kejadian tadi malam.
Dari saat bang Diki pulang, terus ngasi uangnya, abis itu dia mandi. Waktu itu aku sedang lagi asyik baca-baca cerbung di grup fesbuk. Seketika, semua kejadian malam tadi berkelebatan dikepalaku.
Tapi, waktu dia ngasi uang itukan, aku langsung masukin ke dompet. Iya, aku langsung masukin dompet, nggak salah lagi. Takut kalau tergeletak sembarangan, entar dimainin sama si bocil yang lagi aktif-aktifnya ngerusuh.
Aku kembali meraba saku dasterku dan berulang-ulang membuka isi dompet itu untuk memastikan apakah uangnya ada atau tidak. Atau jangan-jangan terselip di lembaran uang yang lain.
Aku keluarin uang pecahan ribuan itu satu persatu dan memisah-misahnya, namun apa yang kucari nggak juga ketemu. Ya ALLAH, sedihnya minta ampun.
Mungkin, untuk kebanyakan orang diluar sana, uang sebegitu bukanlah apa-apa. Tapi , untuk diriku, uang segitu sangat-sangat berharga dan berarti. Kemana lagi aku akan mencarinya. Ya ALLAH?
Tak terasa, air mataku menetes begitu saja. Kenapa kejadian ini menimpa kepada diriku yang malang ini. Kemana lagi aku akan mencari gantinya?
"Bener Bang, Abang nggak ada lihat?" Aku kembali bertanya pada suami untuk yang kesekian kali dengan air mata yang berlinang. Memastikan bahwasanya uang itu memang benar-benar sudah hilang.
"Sudah kubilang dari tadi, aku nggak ada lihat," jawabnya kasar. "Pikun kali pun kau jadi orang. Entah apa aja yang kau pikirkan? Hape aja isi outak kau." Dia bangkit, kemudian keluar dari kamar sembari membanting pintu dengan sangat keras.
Nyes... darahku berdesir dan terasa menusuk sampai ke ulu hati. Sakit rasanya diperlakukan suami seperti ini. Sudah jelas-jelas dari tadi dia melihatku dalam kesusahan, jangankan untuk membantu mencari atau sekedar menenangkan. Sedikitpun dia nggak peduli sama sekali. Entah dianggapnya apa aku di rumah ini.
Lama aku termenung mematung, pikiranku buntu dan kosong. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa dan bertanya kepada siapa. Aku benar-benar dalam kebingungan.
Sampai aku teringat kembali pada Buk Siti dan belanjaan yang belum aku bayar tadi. Pasti Buk Siti masih menunggui kedatanganku dan menyisihkan belanjaan yang sudah aku pilih tadi. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Pakai apa aku harus membayarnya?
"Tadi waktu kau ke warung, nggak ada jatuh di jalan?" tiba-tiba saja Bang Diki kembali masuk kedalam kamar.
Aku hanya menggeleng. Pasrah.
"Waktu mau bayar tadi? Nggak ada jatuh?"
Aku hanya diam. Merasa pertanyaan itu sudah nggak penting dan terlambat. Disaat hatiku sudah hancur dan merasa jijik walau hanya sekedar mendengar suaranya.
"Bodo kali pun kau jadi orang. Baru disuruh megang duet segitu aja udah nggak becus. Belum aku nyuruh kau megang duit Milyaran. Maulah entah kemana-mana kau buat."
Dia terus saja mengoceh, bertausyiah, ceramah seperti layaknya pejabat atau konglomerat yang lagi diundang sebagai narasumber di acara-acara bergengsi.
Uang belanja aja pun baru sanggup ngasi lima puluh ribu sehari buat anak dan istri. Tapi, gayanya udah songong setinggi langit pakai acara nyebut uang Milyaran rupiah pula. Dasar laki nggak tau diuntung.
Aku terus menjawab dan merutukinya, walau hanya dalam hati. Hanya seperti ini cara yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sedikit beban dan membalaskan sakit hatiku padanya.
__ADS_1
******