PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
To The Point


__ADS_3

Dia menatapku dengan tatapan serius.


"Ha, untuk apa?" tanyaku penasaran.


"Ya..., jadi istri abang!"


"Abang nggak lagi mabok 'kan?"


"Walaupun mabok, tapi abang masih sadar dengan apa yang baru saja abang katakan, Ra! Abang serius," tegasnya meyakinkan.


Mendengar penuturannya membuat diriku merasa tersanjung, seolah-olah seperti ada suatu harapan yang besar terbersit di dalam hatiku untuk hidup bahagia dikemudian hari sedang menantiku. Harapan untuk memiliki keluarga baru yang jauh lebih baik.


Andai saja aku belum menikah dan punya anak seperti saat ini, tanpa pikir panjang lagi, aku pasti akan menerima dengan senang hati. Ikut dengannya mengarungi luasnya lautan samudra. Membina rumah tangga bersama dalam sebuah bahtera sungguhan. Itu pasti sangat menyenangkan.


Setiap hari melakukan perjalanan yang jauh, seperti Marco Polo yang menaklukkan lautan. Bertemu dengan banyak tokoh-tokoh bajak laut yang melegenda. Melihat berbagai macam jenis ikan dan hewan air lainnya, seperti lumba-lumba, itu pasti sangat menyenangkan. 


Ditambah lagi saat melintasi pulau-pulau kecil di tengah lautan sana, yang memiliki hamparan pasir putih yang luas, seperti hamparan berlian yang berkilauan. Memiliki air bersih berwarna ke biru-biruan untuk berenang. Serta di tumbuhi oleh pohon-pohon kelapa yang melambai-lambai menjulang tinggi dari kejauhan. Pasti asyik kalau singgah dan beristirahat sejenak di sana sambil memetik buah kelapa muda langsung dari pohonnya. Itu hal yang sangat luar biasa. Bukan main indahnya.


"Kamu kenapa, Ra? Kok senyum-senyum sendiri?" Lagi-lagi suara Bang Johar mengacaukan impianku. 


"Nggak, kok. Nggak kenapa-kenapa," ucapku berbohong sambil memalingkan wajah. Merasa malu atas kekonyolan pikiranku tadi.


"Oh, abang kira kamu senang atas pengakuan abang."


"Yara ini istri orang, Bang! Yara masih punya suami."


"Tapi 'kan, sudah pisah?"


"Iya, Bang! Tapi kan belum resmi!"


"Kalau begitu, biar abang tunggu sampai kamu benar-benar resmi bercerai," ucapnya yakin tanpa merasa canggung di hadapanku.


"Abang masih lama di sini?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan. 


Menurutku terlalu cepat untuk membahas masalah serius seperti ini, apalagi itu soal pernikahan. Aku juga belum mengenal dia secara pasti. Belum terlalu dekat juga. Walaupun masih satu kampung, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Dulu seperti yang dia bilang, memang benar aku masih anak-anak saat dia pergi dari sana. Belum mengerti masalah orang dewasa. Apalagi masalah rumah tangga.


Mungkin karena dia merasa usianya sudah terlalu tua, makanya dia langsung saja mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Tapi buatku, ini terlalu cepat. Aku juga tidak bisa mengambil keputusan seorang diri. Aku masih punya keluarga dan teman-teman untuk meminta pendapat dari mereka. Aku tidak mau hal yang dulu terulang untuk yang kedua kalinya.


"Besok abang sudah akan pergi lagi, Ra!"

__ADS_1


"Kemana?"


"Berlayar ke arah timur. Kami akan menyusuri perairan Natuna, Malaysia, Laut china selatan, Brunei hingga ke perairan Filipina."


Mendengar itu, aku merasa sedih. Seperti merasakan akan kehilangan sesuatu dari dalam hidupku. Entah apa itu?


"Mungkin, masih lama akan kembali lagi ke sini?" katanya melanjutkan ucapannya yang tadi, dengan raut wajah murung.


"Mungkin sekitar satu tahunan, Ra! Baru kembali ke perairan Indonesia." Lanjutnya kemudian. Menatap dalam ke arahku.


Melihat itu, aku mencoba mencairkan suasana yang rasanya mulai tidak mengenakkan.


"Jadi, kalau abang besok pergi, uang yang abang janjikan itu, gimana?"


Barulah kulihat dia agak tersenyum, tipis. 


"Nggak salah 'kan jika abang katakan kalau wanita itu munafik. Abang kira tadi, Yara itu sedih karena akan kepergian abang. Ternyata abang salah. Ternyata Yara bersedih hanya karena uang yang belum abang bayarkan. Abang merasa kecewa." Dia menyalakan korek dan membakar candu yang terselip di jarinya. Ini sudah entah yang ke berapa kalinya dia melakukan itu.


"Yara di sini 'kan hanya untuk itu, Bang! Mana mungkin Yara mau gratiskan. Abang pikir Yara ini youtuber yang suka bagi-bagi give away gratis, apa? Mana yang kemarin juga belum bayar," ucapku berterus terang. Sekalian menyindirnya karena tarif yang kemarin malam belum aku terima.


"Apa? Tapi Ega sudah bayar!"


"Nggak ada."


"Dewi?"


"Iya, yang tadi! Yang kencan sama Ega."


Oh, ternyata dia tuh orangnya yang sudah berani korupsi jatah aku. Pantas saja dia banyak uang dan terlihat sangat bersemangat.


"Emangnya, kemarin bayar berapa?"


"Abang tidak tau pastinya, karena Ega yang bayar semuanya. Nanti tanya saja sama Ega, ya!"


Melihat raut wajahku yang mungkin berubah, tiba-tiba saja Bang Johar kembali menarik ucapannya. "Ya sudah, tidak usah ditanya lagi. Biarin saja. Biar abang saja yang ganti. Kamu mau berapa?"


"Tapi itukan hak Yara!"


"Orang kamu juga, belum apa-apa sudah tepar duluan," ucapnya seperti menyindir.

__ADS_1


"Abisnya, Yara dicuekin, sih," jawabku tak mau kalah.


"Ya udah, besok aja abang ganti. Abang genapin jadi lima puluh juta buat kamu! Mau?"


Aku tersenyum mendengar ucapannya.


 "Serius, Bang?" Dia mengangguk. 


Tanpa sadar, aku langsung saja meloncat dan mendaratkan dua buah kecupan di pipi dan bibirnya karena girang.


"Eh, maaf...," ucapku setelah tersadar atas perbuatanku barusan sembari menepuk-nepuk mulutku perlahan dengan tangan.


Kulihat dia hanya tersenyum dan memandangku dengan tatapan dalam. Dan aku pun melakukan hal yang sama. Menantangnya. Kami pun larut dalam pikiran masing-masing.


"Woi....Ngapain? Kok malah bengong!" Suara Dewi kembali mengacaukan khayalanku, sembari menggebrek meja.


Aku yang sedang berkonsentrasi penuh dengan segala pikiranku merasa sangat terkejut. Padahal tadi adegannya lagi seru-serunya. Aku dan Bang Johar baru saja akan memadu kasih di haluan kapal seperti layaknya pemeran bintang film Titanic. Dimana akulah yang menjadi pemeran utamanya menggantikan pemeran wanita_Rose_ yang fenomenal itu. 


Dasar Dewi, sukanya hanya mengganggu saja. Tidak bisa melihat orang bahagia walau hanya sekejap. Menyebalkan.


"Apa kalian dari tadi begini terus? Hanya diam-diaman? Nggak ngapa-ngapain?" tanyanya kepo.


"Jadi, mau ngapain lagi?" jawabku ketus.


"Ya, ngapain aja, kek. Yang lebih menantang, gitu!" ucapnya sembari menarik kursi, ikut bergabung dengan kami.


 Padahal tidak ada yang menawarinya untuk duduk, atau setidaknya meminta ijin terlebih dahulu, kek. Dasar nggak ada akhlak. Tidak menghargai orang lain. Padahal, aku masih ingin berduaan terus dengan Bang Johar.


"Boleh kami ikut bergabung?" tanya teman Bang Johar yang masih berdiri di samping Dewi. Mungkin merasa tidak enak saat melihat raut wajahku yang cemberut.


"Oh, silahkan! Ngapain juga minta ijin segala, seperti orang lain saja." Bang Johar yang menjawab. 


Laki-laki yang mengenakan kaos berwarna hitam itu menarik kursi dan duduk tepat di sisi Dewi. Lengket terus tak ubahnya seperti lem setan yang sulit untuk di pisahkan.


"Enak dong si Lia! Nggak ngapa-ngapain dapet dua puluh juta." Dia melirik ke arah laki-laki yang sedang duduk di sampingnya.


"Enak apaan! Yang kemarin aja belum bayar, kok," sindirku padanya. Merasa sudah enek melihat sikap lebainya.


Bukankah tadi dia sendiri yang bilang, bahwasanya dia tidak memperkarakan masalah harga, melainkan rasa. Yaitu berupa kepuasan.

__ADS_1


Dasar wanita munafik.


****


__ADS_2