
Dewi yang menyaksikan kejadian itu terlihat sewot. Seolah-olah merasa iri dengan harga jual yang kami peroleh. Dia yang berdandan habis-habisan, malah kami yang ketiban hoki.
"Om jadi kan sama aku?"
"Iya, Om. Ayo dong buruan!"
"Aku juga kan, Om?"
"Om mau pesan kamar nomor berapa?"
Gadis-gadis belia itu terus saja menggoda Bang Johar dengan manja. Benar-benar merusak suasana hati dan membuat ilfil melihatnya.
"Nggak usah, Oom mau satu aja buat nemenin minum!" ucap Bang Johar menolak tawaran mereka dengan lembut.
"Yah, jadi nasib kita gimana, Om?" Mereka mulai protes.
"Kalian cari yang lain aja seperti biasa."
"Uang yang tadi, gimana, dong?"
"Iya, saya bayar. Jangan takut. Pasti saya bayar," ucap Bang Johar menenangkan.
"Mana?" Tanpa malu-malu, mereka mengulurkan tangan meminta jatah yang di sepakati tadi.
"Sekarang saya tidak bawa uang sebanyak itu, tapi besok pasti saya antar!" serunya lagi pada mereka.
"Yah, gak bisa gitu dong, Om! Masak bayarnya ngutang. Kek kredit motor aja." Lagi-lagi mereka protes.
"Sudah....sudah, biar Mami yang jamin kalau besok Oom ini datang lagi." Mami datang menengahi.
Sengaja aku hanya diam membiarkan mereka melakukan apa saja sesuka hati. Sebab aku tahu, jika sudah berurusan dengan uang, tidak ada yang namanya persahabatan. Apalagi tujuan kami di sini hanya untuk itu. Jadi, bukannya aku tidak mau membela Bang Johar. Hanya saja aku takut terjadi salah paham di antara kami. Biarlah aku serahkan pada mereka saja. Aku tau Mami merupakan orang yang paling bijaksana di sini. Juga sangat di hormati. Tapi tadi dia juga diam tidak bereaksi. Mungkin masih mengamati tindak-tanduk Bang Johar dari kejauhan. Apakah dia merupakan orang yang dapat di percaya atau tidak.
"Kalau tidak percaya, pegang ini saja!" Bang Johar membuka jam tangan yang sedang di pakainya dan menyerahkan pada Mami.
"Buat apa jam tangan, cuma tiga puluh lima ribu." Para gadis belia itu masih saja protes.
"Ini harganya dua ratus juta. Ini, lihat mereknya. Ini asli." Bang Johar menunjukkan pada mereka.
"Ah mosok. Nggak coyo," ledek mereka lagi.
"Udah, Om. Nggak usah pakai jaminan. Pakai saja lagi," ucap Mami menolak.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mbak. Ini pegang saja. Nanti aku di teror terus sama bocil-bocil ini," ucap Bang Johar menyindir.
"Udah, Mi! Pegang aja. Entar Oom ini kabur." Para gadis belia itu memaksa setelah bertanya harga benda itu pada Mbah Google.
Dengan berat hati, Mami terpaksa menerimanya juga. Sangat sulit jika harus menjelaskan sesuatu hal kepada anak-anak yang masih berusia labil seperti mereka. Untuk itulah salah satu alasan Mami kenapa masih berada di sini. Dia masih berkeinginan untuk membimbing agar anak-anak ini tumbuh dan berpikir lebih dewasa.
*
Kami duduk saling berhadapan di sebuah meja bundar hanya berdua saja. Di iringi oleh lagu dan musik yang memekakkan telinga. Serta di selingi oleh kelap-kelip lampu disko di atas sana.
Sedangkan teman Bang Johar dan Dewi tadi entah sudah kemana. Mungkin mereka lebih memilih untuk menyewa sebuah kamar saja. Walaupun kami karyawan di sini, tapi jika untuk urusan kamar kami harus bayar juga. Tapi tidak mahal. Hanya sekitar tiga puluh ribuan saja sekali pakai.
"Abang nggak nyewa kamar juga?" tanyaku membuka percakapan.
"Untuk apa?"
"Ya untuk senang-senang, seperti teman abang."
"Nggak lah. Abang gak seperti itu orangnya," ucapnya santai.
"Apa nggak rugi sudah bayar mahal, tapi cuma dianggurin?" Aku mencoba memancingnya. Teringat seperti yang Dewi katakan siang tadi. Aku harus bersikap profesional untuk membuat mereka merasa terhibur saja. Tidak perlu bawa perasaan segala apalagi sampai berharap lebih. Itu semua hanya halusinasi semata.
"Tidak juga. Seberapa lah uang segitu. Untuk apa banyak uang kalau hidup kita tidak bahagia!" Dia mengisap sebatang rokok yang terselip diantara jari-jarinya. Kemudian meniupkan asapnya ke udara yang menyerupai bentuk lingkaran hingga beberapa buah banyaknya.
"Boleh..., boleh. Tapi yang ringan-ringan aja."
"Anggur mau?" Dia mengangguk.
Aku bangkit dan pergi menuju bartender untuk memesan minuman. Lega rasanya setelah pergi menjauh dari orang aneh itu. Andai dia tidak membayar mahal tadi, mungkin aku sudah meninggalkannya sekarang.
Aku kembali dengan membawa sebotol minuman berwarna merah dan dua buah gelas. Ku sodorkan pada Bang Johar sebuah gelas yang sudah kuisi penuh. Biar dia cepat mabuk dan aku bisa kabur dari hadapannya.
Dia mengangkat gelas itu tinggi dan mengarahkannya padaku.
"Apa?" tanyaku keheranan.
"Toast," ucapnya dengan posisi tetap seperti semula.
Aku mendekatkan gelas milikku dan membenturkan pada miliknya sehingga terdengar suara dentingan yang nyaring. Kami sama-sama tertawa mendengarnya.
Setelah meneguk beberapa kali benda cair itu kedalam mulutku, Bang Johar menambahnya lagi. Sepertinya sekarang malah dia yang menjadi pelayanku.
__ADS_1
"Lho, brewoknya mana? Kok sekarang keliatan bersih?" Aku mengucek-ngucek kedua bola mataku yang mulai kabur.
Samar kulihat dia hanya tersenyum menatap tingkah lakuku.
Merasa penasaran, aku memberanikan diri untuk menyentuh kedua pipinya. Jari jemariku terus berpindah ke dagunya. Dan berkeliling di sekitar mulutnya. Bersih dan terasa licin.
"Ngapain?" Aku merasa terkejut dan menarik tanganku kembali dengan cepat setelah mendengar suara itu. Menegurku.
"Nggak ada." Aku bersikap cuek, membuang pandangan. Seperti pura-pura tidak terjadi sesuatu.
"Nah, tadi itu. Apa?" Dia bertanya lagi.
"Namanya juga orang mabok! Ya nggak ingat lah. Sudah lupa." Aku beralasan karena sudah tertangkap basah olehnya.
Tapi, dari tadi aku kok nggak sadar ya, kalau Bang Johar baru cukuran.
"Kamu sudah lama kerja di sini?"
"Lumayan lah. Sudah sekitar tiga bulanan."
"Oh, masih baru. Itu kerjanya ngapain aja?"
"Ya seperti ini! Nemenin pria hidung belang minum-minum."
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Kan kemarin Yara sudah bilang, Bang! Kalau Yara butuh uang."
"Itu cuma alasan klasik. Butuh uang, terdesak kebutuhan ekonomi. Terpaksa. Munafik. Apa nggak ada alasan lain kah? Yang lebih masuk logika."
Tanpa sadar, aku membanting botol minuman yang tinggal sedikit ke atas meja. "Jadi maksud abang, apa? Kenapa dari kemarin, abang selalu berkata seperti itu. Selalu menyalahkan wanita, seolah-olah wanita itu semuanya sama. Munafik. Apa abang sudah cari tau tentang latar belakangnya terlebih dahulu. Baru abang bisa menilainya!" Suaraku agak meninggi karena tersulut emosi.
"Maaf, kalau kamu merasa tersinggung dengan perkataan abang tadi. Abang tidak bermaksud seperti itu. Tapi, abang memang sudah tidak terlalu percaya lagi dengan perkataan seorang wanita. Sekali lagi abang minta maaf jika sudah membawa masalah pribadi abang sama kamu." Dia terlihat merasa bersalah atas semua perkataannya.
Melihat itu, aku jadi merasa tidak enak sendiri dan segera meminta maaf juga.
"Maaf, kalau Yara tadi ikut terpancing dan berkata kasar. Yara juga tidak bermaksud begitu. Hanya saja, Yara merasa trauma karena selalu di rendahkan oleh laki-laki," ucapku berterus terang.
"Siapa yang sudah berani merendahkanmu? Bilang saja sama abang. Apa orangnya ada di sini?" Dia terlihat serius dan sangat mengkhawatirkanku.
Eh, maksudnya apa itu?
__ADS_1
*****