
"Kenapa, Kak?" Barulah seseorang datang menghampiriku yang masih terduduk lemah di depan warung nasi padang uni.
"Kakak nggak kenapa-napa kan?" tanyanya lagi sembari mengulurkan tangannya untuk membantuku agar bisa bangkit.
"Kenapa Bang Diki tadi?" ucapnya lagi, saat pertanyaannya yang pertama dan yang kedua tadi belum sempat ku jawab.
Aku hanya menggelengkan kepala saja tak menjawab satupun pertanyaan yang dia lontarkan. Lagipula, aku sendiri nggak tahu apa yang harus aku bilang untuk menjawabnya.
"Dari tadi malam dia nyariin kakak kesini. Katanya, kakak larikan motor sama hapenya. Apa benar kek gitu, Kak?" tanya laki-laki yang sedang mengenakan jaket berwarna hijau muda itu lengkap dengan helmnya penasaran.
Apa? Dari tadi malam Bang Diki mencari aku kesini? Kenapa dia nggak langsung aja datang ke rumah ibuku untuk menemuiku. Bukankah dia tahu kalau aku menginap di sana.
"Naik apa dia ke sini, Bang?" tanyaku berbasa-basi. Merasa tidak enak karena dari tadi hanya banyak diam nggak merespon ucapannya.
"Ada kawan dia yang bonceng, Kak. Aku pun nggak kenal. Bukan kawanan yang biasa nongkrong disini."
"Oh."
*
Aku sampai di rumah ibuku setelah diantar abang yang tadi. Namanya Riko, itupun aku baru tau karena dia yang bilang tadi ditengah jalan. Sewaktu di sana tadi, dia menawariku untuk mengantarkan aku pulang. Entah itu tulus atau ada maksud dan tujuan tertentu aku pun nggak tau. Tapi, karena aku juga lagi butuh tumpangan dan ingin segera pulang, jadi aku terima saja. Lagipula, nggak enak juga rasanya kalau harus menolak tawaran dari orang jika kita sendiri lagi butuh. Itu jual mahal namanya.
Tapi sebenernya orangnya sih asik, ramah dan banyak cakap juga. Katanya dia masih lajang, padahal aku nggak ada nanya. Katanya juga kalau cewek-cewek cantik banyak yang ngejar-ngejar dia, tapi dia tolak. Katanya nggak seru kalau pacaran sama anak abege, tantangannya kurang gede. Entah apa maksudnya. Menurutku sih, orangnya agak aneh juga pemikirannya.
"Kok pulang kau, Ra? Mana motormu?" Ibu keluar dari rumah dan langsung menanyaiku dengan raut wajah cemas.
"Kenapa kau pincang? Jatuh kau?" tanyanya lagi saat melihat aku jalan terpincang-pincang.
Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang terakhir saja. Aku juga masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi menimpaku, rasa-rasanya malah seperti mimpi disiang bolong.
"Mana motormu?" Ibu mengulang pertanyaannya kembali.
"Dibegal," jawabku asal.
"Ha, siapa yang membegal kau? Dimana kau dibegal? Udah dilapor polisi?" Ibuku terlihat sangat khawatir dan memberondongiku dengan banyak pertanyaan. Sebenarnya aku nggak bermaksud membuatnya panik seperti itu. Tapi, karena dia terus bertanya, aku asal jawab saja. Apalagi, hatiku juga masih kesal banget gara-gara si Monyet itu.
*
__ADS_1
Setelah hatiku agak tenang, barulah kuceritakan kejadian yang sesungguhnya pada ibu. Mendengar ceritaku, ibu sangat marah saat mengetahui anaknya dianiaya seenak jidatnya saja, apalagi di depan umum .
"Kalau nggak sanggup dia ngasi makan kau lagi, bagus-bagus dipulangkannya kau ke sini. Ngomong muncungnya itu, sudah nggak sanggup lagi dia mencarikan makan untuk kalian. Biar kutampung. Masih sanggup lagi aku mengasih makan untuk anak dan cucuku. Masih kuat aku. Jangan pulak main pukul-pukul saja dia." Ibu terlihat berang dan ngomel-ngomel sendiri. Aku pun nggak tau dia marah pada siapa. Setidaknya aku agak tenang sedikit, sebab kali ini aku merasa dapat pembelaan dari ibu dan tidak menyalahkan aku lagi seperti yang sudah-sudah.
"Jangan kalian buka nanti pintu kalau dia datang kemari ya! Kalian kunci aja rumah dari dalam kalau dia nekat datang kesini. Jangan kau kasi si Riki keluar-keluar rumah. Diculiknya nanti anak kau itu." Pesan ibu sebelum dia berangkat bekerja.
Aku menarik napas lega setelah memastikan semuanya aman dan terkendali. Pintu sudah kututup rapat dan menguncinya dengan kuat. Biarlah untuk beberapa hari ini, aku rehat sejenak sambil memikirkan langkah apa yang harus aku ambil untuk ke depan. Yang paling penting adalah aku harus benar-benar bisa memastikan keluar dari rumah itu dan tidak akan kembali lagi ke sana bagaimanapun caranya.
Aku benar-benar sudah muak hidup dengannya. Ini saatnya bagiku untuk hidup bisa bebas tanpa terikat oleh apapun. Aku harus bisa membahagiakan orang tuaku di usia senjanya dan mencukupi kebutuhan Riki untuk masa depannya. Aku harus bisa benar-benar bangkit setelah ini.
"Bunda, kaki bunda kenapa?" Riki datang menghampiriku saat sedang mengolesi luka bakar di kakiku dengan salep antiseptik.
"Nggak kenapa-napa sayang."
"Nggak kenapa-napa, Bunda?"
"Nggak sayang."
"Bunda kok nggak kerja?"
"Udah pulang?"
"Iya."
"Kok nggak bawa eskrim?"
Tiba-tiba saja air mataku jatuh begitu saja mendengar pertanyaan polos darinya. Bagaimana aku bisa membelikannya eskrim lagi, sedangkan semua uangku ada dalam tas yang telah dirampas bapaknya.
"Bunda kok nangis?" Dia menatap wajahku lekat-lekat dengan sorot mata berkaca-kaca.
"Nggak sayang, Bunda nggak nangis kok."
"Tapi, mata bunda berair."
"Iya, tadi mata Bunda kemasukan debu, jadi berair," jawabku beralasan sambil menyeka air mataku yang jatuh.
"Kalau matanya berair, itukan menangis namanya, Bunda," ucapnya lagi dengan polosnya. "Kaki Bunda sakit ya, makanya Bunda menangis?"
__ADS_1
"Iya, kaki Bunda sakit." Dia mengamati gerakan tanganku yang masih mengoleskan salep luka bakar di kakiku itu dengan lembut sambil menahan perih.
"Sini, biar Riki embus!" Kemudian, dia meniup-niup kakiku itu dengan mulut mungilnya. Baik budinyalah anak lajang bunda ini. Setidaknya, melihatnya perhatian seperti ini saja, rasa sakit yang ku derita kini jauh berkurang. Tapi, aku akan selalu mengingat perbuatan Bang Diki ini yang sudah sampai hati menggoreskan luka padaku. Tidak hanya di hatiku, tetapi juga di tubuhku. Aku akan selalu mengingat ini sampai mati.
*
"Jadi Kakak pulang? Biar Aldi temani."
"Nggak apa-apa Dek, kalau kita cuman berdua saja? Takutnya kalau dia ngamuk lagi, gimana?"
"Nanti Aldi ajak teman Aldi. Sekalian minjam becaknya."
"Oh, ya udah. Sekarang ajalah kalau begitu. Biar Riki ada yang jagain."
"Sebentar ya, Kak! Aldi jemput teman Aldi dulu."
"Bawa aja semua apa saja yang bisa dibawa nanti dari sana kalau kau memang nggak mau lagi tinggal disitu! Sayang, busuk nanti barang kamu tuh disitu." Aku hanya mengangguk mendengar nasehat ibu.
Walaupun masih merasa agak trauma dengan kejadian kemarin, tetapi mau nggak mau aku harus kembali ke rumah kontrakan buat mengambil pakaianku dan pakaian Riki yang masih tertinggal. Apalagi, ibu juga sudah mengizinkan kami untuk tinggal lama di rumahnya sebelum Bang Diki datang menjemput dan meminta maaf pada ibu. Ibu juga bilang akan meminta persyaratan berupa surat perjanjian di atas materai kalau Bang Diki benar-benar menginginkan kami berkumpul lagi.
Aku terkejut saat sampai di rumah kontrakan setelah melihat pamflet yang bertuliskan rumah ini disewakan di pajang di depan pintu. Bukankah rumah ini masih menjadi hak kami karena masa jatuh tempo masih lama?
Aku celingak-celinguk melihat kesekeliling, ingin bertanya pada tetangga sekitar sini. Kenapa rumah ini mau disewakan ke orang lain.
"Eh, pindah kemana kamu rupanya? Kenapa barang-barang kamu masih banyak yang ditinggal?"
Kebetulan sekali. Mak Anto, mantan tetangga sebelah datang menghampiri.
"Aku tinggal di rumah Mamak, Buk."
"Oh. Kemarin Buk Mariam datang kesini mau melihat rumahnya. Dia ngomel-ngomel karena isi dalam rumah kalian masih berantakan seperti kapal pecah. Sudah itu katanya, uang kontrakan kalian masih nunggak tiga bulan ya, sama dia?"
Haaa....
*****
__ADS_1