PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Pesan Terakhir Mami


__ADS_3

"Yara! Di cariin kemana-mana, malah di sini rupanya." Amel datang menghampiriku.


"Iya, maaf tadi nggak bilang. Soalnya kamu serius amat neleponnya. Takut mengganggu." 


"Oh. Kirain tadi kamu ke toilet. Nah, itu lagi nelpon siapa?"


"Adikku, dari kampung."


"Oh." Bibirnya membulat. "Cuman mau bilang, sebentar lagi kita sampai. Kamu siap-siap ya. Udah ada yang nungguin di pelabuhan."


Aku mengangguk. "Udah dulu ya, Dek! Kakak udah mau sampai, nih." 


"Eh, tunggu dulu, Kak! Ada yang mau Ambang bilang."


"Apa?"


 "Masih ada lowongan di tempat kakak?"


"Untuk siapa?"


"Teman."


"Kenapa nggak kamu masukin di bengkelmu aja buat bantu-bantu?"


"Ini buat cewek lho, Kak! Masak cewek mau di jadiin montir. Lagian orang itu sudah sampai Batam. Katanya kena tipu sama agen yang bawa. Makanya mau cari loncatan."


"Oh, di tempat kakak belum ada. Nantilah kakak tanya-tanyakan di tempat lain." 


"Ya udah kalau begitu. Nanti kalau ada lowongan kakak tau, telepon Ambang lagi, ya! Kasian orang itu, mau pulang pun nggak ada ongkos."


"Iya, iya. Nanti kakak kabari lagi. Assalamualaikum." 


Aku langsung menutup panggilan itu setelah dia menjawab salam dariku. Aku hanya tidak ingin merasa iba karena mendengar keluh kesahnya tadi. Mana mungkin aku berani mempekerjakan orang yang kenal dengan dia ke tempatku bekerja. Itu sama saja dengan bunuh diri namanya. 


Begitu turun dari kapal, ternyata benar seperti yang Amel bilang tadi. Sudah ada yang menunggui kedatangan kami. Kami tinggal naik dan duduk manis saja di belakang sopir yang sedang menyetir.


"Kita kemana, Buk?" tanyanya ramah pada Amel.


"Ngantar teman saya ini aja dulu ya, Pak!" jawab Amel dengan menyebutkan nama salah satu Rumah Sakit bertaraf internasional di sini.

__ADS_1


Setelah sampai Rumah Sakit. Amel ikut turun sebentar dan mengantarkanku sampai ke kamar  Mami. Dan setelah itu, dia ijin pamit kembali untuk pergi ke suatu tempat yang tidak dia sebutkan namanya. Mungkin itu merupakan pertemuan rahasia yang bersifat privat. Yang menjadi rahasia perusahaan.


Aku melihat Mami sedang duduk di atas tempat tidur pasien di temani oleh putrinya_ Sabrina_ Sedang menyuapi potongan buah segar ke mulut Mami. 


Setelah memberi salam, aku masuk menghampiri mereka yang berada di ruangan khusus. Entah ini ruangan khusus karena bayarannya lebih mahal atau ruangan khusus untuk pasien yang kronis, aku nggak paham. Yang aku lihat, di ruangan ini hanya ada Mami seorang yang di rawat.


"Mami udah baikan?" tanyaku begitu masuk sembari mencium punggung tangannya sekaligus mencium pipi kiri dan kanan.


"Jangan dekat-dekat sama Mami, Ra! Badan Mami ini kotor," ucapnya mengingatkan.


"Tidak, kok. Malah Mami makin terlihat bersih di sini. Alami lagi," jawabku. Memang seperti itu kelihatannya. Walaupun tanpa memakai make up, tapi Mami kelihatan kinclong dan cantik. Walaupun kulitnya agak pucat dan kurus.


"Tapi tambah langsing 'kan, Mbak!" Sambung Sabrina.


Aku tersenyum padanya. "Orang di suruh makan susah kali. Ini aja tadi malam baru mau makan setelah mendengar Mbak mau datang ke sini. Sebentar-sebentar nanyain Mbak udah sampai atau belum. Padahal masih malam juga. Dari tadi malam belum ada tidur ini, lho Mbak! Katanya mau nungguin Mbak sampai sini dulu baru tidur. Takut Mbaknya nyasar atau kenapa-napa di jalan. Apalagi Mbak belum pernah ke sini." Sabrina terlihat frustasi dalam merawat Mami sehingga dia keceplosan curhat padaku. 


Yah, bisa aku maklumi dengan usia remaja yang masih labil seperti dia, di tuntut untuk merawat orang sakit dengan waktu yang lumayan lama, pasti merasa stres juga.


"Yang sabar, ya! Nanti juga Mami sembuh." Aku mencoba menghiburnya.


"Iya, Mbak! Kadang kesel juga. Sudah di bilangin jangan kerja lagi, tapi masih ngeyel. Nggak sadar kalau usianya sudah tidak muda lagi." Dia masih saja mengomel dengan raut wajah cemberut.


"Udah, nggak apa-apa. Maklumi aja! Kalau mau istirahat, istirahat aja dulu sana. Biar Mbak yang jagain Mami. Nanti gantian lagi."


"Ya udah. Eh, Mas Sobirin, mana?" tanyaku. Baru sadar kalau dari tadi tidak kelihatan.


"Lagi nyari sarapan mungkin, Mbak. Anak laki mah, gitu. Sebentar cus sana, cus sini."


Setelah Sabrina keluar, aku kembali mengobrol sama Mami. Kulihat dia sudah mulai lelah duduk. Aku menawarinya agar berbaring.


"Tiduran aja lagi, Mi! Udah capek itu duduknya!"


"Bagaimana keadaan Kafe, Ra?"


"Udah Mi, nggak usah di pikirin lagi. Selama ada Yara, pasti aman dan terkendali."


"Dengan Dewi, bagaimana?"


"Dia juga sehat. Sudah Yara titipin di Rumah Panti untuk sementara. Setidaknya sampai dia lahiran."

__ADS_1


"Dengan anak-anak panti?"


"Iya, mereka juga baik-baik saja. Mereka kirim salam juga sama Mami biar cepat sembuh."


"Wa alaikum salam," jawab Mami.


"Ra! Boleh Mami minta satu hal lagi sama kamu?"


"Mau apa Mi? Bilang aja."


"Sepertinya, Mami tidak akan bisa kembali ke sana lagi, Ra! Apakah kamu mau mengambil peran Mami untuk seterusnya?"


"Mami jangan ngomong begitu. Yara yakin Mami akan sembuh."


"Tidak, Ra. Penyakit Mami ini bukan penyakit sembarangan. Sudah banyak yang tidak sanggup melawannya."


"Mami ngomong apa, sih?"


"Mami serius, Ra! Beberapa hari ini, Mami selalu bermimpi di datangi ayahnya Sobirin. Katanya, dia ingin menjemput Mami. Tapi, Mami bilang tunggu dulu karena Mami masih ada janji sama kamu perihal tugas Mami. Apakah kamu mau mengambil alihnya untuk seterusnya?"


"Kenapa harus Yara, Mi?"


"Karena Mami percaya sama kamu. Kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Mami tau hatimu bersih dan tulus." Aku tepekur mendengar ucapan Mami.


"Apakah kamu bersedia? Biar Mami bisa pergi dengan tenang, Ra." Mendengar penuturan darinya, mataku terasa perih. Posisiku berada dalam keadaan yang sulit untuk saat ini. Apakah aku harus menerimanya atau tidak.


"Bagaimana, Ra? Apakah kamu mau."


"Baiklah, Mi. Kalau itu permintaan Mami akan Yara ikuti. Yang penting Mami lekas sembuh."


"Terima kasih, Ra! Kamu sudah bersedia memenuhi permintaan Mami. Sekarang Mami sudah merasa lega. Mungkin besok Mami akan sembuh. Iya, Mami harus sembuh. Mami harus kuat, karena Mami akan mengarungi perjalanan yang sangat jauh." Kulirik dia menatap ke arah tembok dengan tatapan kosong.


"Tiduran aja lagi, Mi! Biar Yara bantu." Dia mengangguk. Kemudian aku membantunya untuk berbaring.


Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang kurus. Aku mengambil posisi duduk di kursi yang ada di sisi tempat tidurnya. Mami tidur dengan posisi terlentang, matanya tak lekang dari langit-langit ruangan. Pandangannya masih sama seperti tadi. Terlihat kosong seperti sedang melihat sesuatu di alam lain. 


Ku pandangi wajah itu lama-lama. Mengenang kembali saat bersamanya. Saat pertama kali berkenalan dan melewati hari-hari bersama. Walaupun kadang merasa kesal juga padanya, tapi dia tetap sabar dalam menghadapi watak dan karakter kami yang berbeda-beda. Mami merupakan tipe wanita yang penyabar dan luar biasa. Dia sangat tangguh dalam menghadapi suatu masalah. Aku belum yakin apakah aku akan sanggup seperti dia. Mungkin dari kesabarannya itu pula filosofi dari nama kedua putra putrinya; Sobirin dan Sabrina.


Ya Allah, cabutlah penyakit dari tubuh Mami dan berilah dia kesehatan seperti sedia kala! 

__ADS_1


Tak henti-hentinya aku berdoa dalam hati. Yang membuat mataku terasa semakin perih.


*****


__ADS_2