PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Pesona Gadis Sintai


__ADS_3

"Memangnya suami Mami pergi kemana?" tanyaku penasaran.


"Mami dengar dia pergi ke Pekan Baru bersama istri barunya."


"Kenapa Mami tidak menyusul saja," tanyaku lagi.


"Buat apa? Buat apa Mami mengejar laki-laki yang tidak memiliki rasa tanggung jawab seperti itu, Ra! Hanya buang-buang waktu saja. Lebih baik Mami fokus sama diri sendiri dan anak-anak dari pada menghabiskan waktu untuk mengurusi laki-laki yang tidak berguna seperti itu. Biarlah Tuhan yang membalas semuanya. Asal kita bisa ikhlas dan pasrahkan semua pada-Nya."


Aku merasa tidak enak sendiri karena sudah bertanya seperti itu tadi. Seperti sebuah tamparan keras untukku. Aku merasa bahwa Mami sedang menyindirku karena belum bisa menerima seutuhnya tentang kenyataan pahit yang sudah terjadi dalam hidupku. Aku belum bisa menerima dengan ikhlas jalan hidup yang sudah Tuhan takdir kan untukku hingga saat ini.


Aku masih sering mengeluh dan belum bisa menerima semuanya. Atau bahkan menyesali banyak hal yang sudah terjadi. Padahal semua itu sudah lewat dan tak mungkin bisa di putar kembali.

__ADS_1


"Kamu tau, Ra kenapa Mami memilih bekerja di Sintai?" Lagi-lagi aku menggeleng.


"Karena suami Mami banyak meninggalkan hutang pada Pak Asiong. Dulu kami membuka usaha di ruko yang di kelola oleh Pak Asiong. Berjualan, usaha warung bakso. Usaha kami maju dan ramai. Hingga akhirnya suami Mami selingkuh dan membawa kabur semua uang Mami. Parahnya lagi, dia meninggalkan banyak hutang di mana-mana sebelum pergi, tanpa Mami ketahui. Padahal, semua modal awal untuk membuka usaha itu kepunyaan Mami. Termasuk uang sewa ruko pada Pak Asiong pun ternyata sudah menunggak hingga dua tahun lamanya tanpa Mami ketahui. Makanya Mami memohon pada Pak Asiong agar mau memberi Mami pekerjaan untuk melunasi hutang. Ya, pada waktu itu, Mami beranggapan bahwa Pak Asiong merupakan malaikat penolong untuk Mami karena sudah bersedia memberikan pekerjaan. Tapi setelah Mami tau pekerjaan yang harus Mami kerjakan, Mami sempat merasa kecewa padanya. Sama halnya seperti kamu kecewa pada Amel waktu itu. Makanya, Ra! Mami sangat sayang padamu. Mami merasa kamu itu seperti gambaran Mami di masa lalu. Apalagi, banyak sesuatu yang terjadi sama kamu, pernah Mami alami sebelumnya. Jadi Mami berharap agar kamu jangan sampai mengambil suatu keputusan yang salah seperti keputusan yang telah Mami lakukan," ucapnya mengingatkanku.


"Keputusan apa itu, Mi?" tanyaku penasaran.


"Ada deh, tapi itu merupakan suatu aib bagi Mami yang harus Mami tutupi. Kamu tau Ra! Doa Mami selama ini apa?" Dia bertanya lagi padaku. Aku kembali menggeleng.


"Mami selalu berdoa pada Tuhan agar semua aib Mami Dia jaga dan Dia tutupi agar kedua anak Mami tidak sampai mengetahuinya. Dan alhamdulillah, hingga saat ini anak Mami tidak tahu. Mereka anak yang sholeh dan sholeha yang di titipkan Tuhan untuk Mami. Mereka sangat penurut juga pada Mami. Sempat beberapa kali mereka ingin datang ke sini, mengunjungi Mami. Tapi, setelah Mami bilang 'tidak', mereka hanya menurut saja dan tidak pernah bertanya 'kenapa tidak boleh'. Alhamdulillah, Mami merasa doa Mami di ijabah oleh Tuhan." Aku tertegun mendengarkan cerita Mami, berharap aibku juga Tuhan jaga agar sanak keluarga jangan sampai tahu. Terutama Riki, anak semata wayangku. Aku berharap dia juga tumbuh sebagai anak yang sholeh dan penurut seperti anak Mami. Ya, itulah harapanku untuk saat ini.


"Itu karena anak-anak itu!" Dia menunjuk ke arah anak-anak panti yang masih berkumpul di halaman yayasan. Yang terlihat bersuka cita membuka hadiah yang baru saja kami serahkan tadi. "Mereka lah alasan Mami untuk tetap bertahan di sini. Bagaimana mungkin Mami rela meninggalkan anak-anak yang bernasib kurang beruntung itu untuk pergi dengan alasan ingin bertaubat. Bagaimana mungkin Mami akan khusuk beribadah jika mengingat wajah-wajah polos mereka membutuhkan uluran tangan orang tua angkat. Setiap awal bulan mereka selalu menunggu para donatur datang ke sini untuk memberi nafkah buat mereka. Pernah dulu, waktu Mami telat datang ke sini untuk memberi sumbangan. Mereka sangat ke carian dan bertanya-tanya kepada pengurus yayasan kenapa Mami belum datang. Padahal waktu itu Mami sedang di rawat di rumah sakit. Mereka datang menjenguk Mami beramai-ramai dan mendoakan Mami agar segera sembuh. Support mereka itulah yang membuat Mami semangat lagi untuk sembuh, karena Mami berpikir bahwa Mami masih di butuhkan oleh banyak orang. Walaupun Mami tau apa yang Mami kerjakan bukanlah hal yang baik, tapi Mami ikhlas melakukannya demi rasa kemanusiaan. Cukuplah Tuhan yang akan menilainya. Karena Tuhan sendiri menciptakan seluruh Mahkluk karena cinta, cukup lah kita menjalani hidup ini dengan cinta pula." Dia kembali diam. Seperti memikirkan sesuatu. 

__ADS_1


Dan aku juga diam, menunggu cerita selanjutnya yang ke luar dari mulutnya. Sungguh, sekarang aku sangat mengagumi prinsip Mami. Ternyata, seseorang itu tidak bisa dinilai dari luarnya saja sebelum kita tahu bagaimana isi dalamnya. Mungkin casingnya terlihat buruk tetapi belum tentu isinya juga buruk.


"Hidup ini hanya seperti sebuah lukisan di atas kertas yang putih, Ra! Di sana kau akan menemui banyak goresan warna. Ada merah, kuning, hijau, biru, dan ada juga warna hitam. Dan kita ini merupakan coretan yang berwarna hitam. Tanpa coretan hitam itu, sebuah lukisan tidak akan terlihat sempurna. Dan kamu tahu siapa yang melukisnya?" Aku kembali menggeleng. Hanya itu lah yang bisa aku lakukan sedari tadi ketika Mami bertanya. Karena aku memang fakir ilmu dan masih minim pengalaman.


"Pelukisnya adalah Tuhan. Dialah yang Maha berkuasa dan Maha bijaksana. Dialah yang menentukan hidup. Kita hanya bisa berusaha, akan tetapi tidak bisa menentukan. Karena Dia jugalah seadil-adilnya Hakim." Dia menarik napas dalam seperti habis mengeluarkan suatu beban yang berat dalam pikirannya.


"Dari itu, jangan pernah menyalahkan keputusan Tuhan, Ra! Cukuplah kita berbaik sangka saja pada-Nya. Menerima keputusannya dan jangan sampai berputus asa. Jika pun kelak Tuhan memutuskan untuk menghukum Mami di akhirat karena sudah melanggar larangan-nya. Insya Allah Mami ikhlas. Hanya satu harapan Mami dan selalu Mami mohonkan kepada-Nya. Agar Dia menjaga hati Mami untuk selalu ingat dan berbaik sangka pada-Nya. Biarlah tangan Mami Dia potong, tubuh Mami Dia bakar, lidah Mami Dia gunting. Asalkan hati Mami tetap Dia jaga. Itulah harapan Mami hingga saat ini." Aku kembali menangis mendengar penuturan Mami. Sungguh penuturan Mami ini sangat mendalam dan merupakan pengalaman spiritual yang sangat berharga untukku. Aku benar-benar salut dengan keteguhan hati Mami.


"Sebuah Intan Berlian akan tetap berkilau walau dalam lumpur sekalipun." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


Mami mengarahkan pandangannya padaku. Menatap dengan sorot mata serius.

__ADS_1


Apa? Aku salah ngomong ya? Intan Berlian atau Emas ya?


*****


__ADS_2