
"Ketemu uangnya?" tanya Buk Siti setelah aku kembali kewarungnya.
Aku menggeleng. "Nggak ketemu, Buk," ucapku pasrah.
Kumpulan ibu-ibu yang tadi pagi, sudah nggak ada di sini lagi. Berganti dengan ibu-ibu yang lain yang tampak berbisik-bisik seperti sedang menggosipin aku. Pastilah kejadian yang menimpaku tadi pagi sudah jadi trending topik di kalangan emak-emak sekitar sini.
"Hilang dimana uangnya Mbak ?" tanya salah satu dari mereka.
Aku menggeleng. " Kemungkinan di rumah," jawabku lemah. Paling mereka cuman kepo doang, bukan niat mau nolong atau membantu ngasi solusi gitu.
"Suaminya sudah ditanya, Mbak?"
Aku mengangguk. "Sudah," kujawab seadanya saja.
"Ouh." Dia manggut-manggut. "Bukan apa-apa sih Mbak, laki-laki zaman sekarang udah nggak bisa dipercaya lagi. Aneh-aneh aja kelakuan mereka di luar sana, kalau udah lepas dari pantauan. Main perempuanlah, minum-minumlah, main judi lah, kita ibu-ibu ini yang jadi korban. Terkadang hilang uang kita di dompet, kita tuduh juga tuyul yang nyuri. Eh, nggak taunya malah tuyul gondrong yang ambil."
Seseibu itu terus bertausyiah panjang kali lebar yang membuat kepalaku semakin cenat cenut pusing. Sesekali, ibu-ibu yang lain ikut bertanya atau menyambung isi dari perkataannya. Nggak di rumah, nggak di warung, sepagian ini asyik dengerin tausyiah orang melulu.
Aku pulang menenteng kresek plastik berisi belanjaan yang barusan aku tebus. Setelah tadi bersusah payah mengiba, memohon kepada Bang Diki agar meminjami aku uang.
"Nah, makan sama kau uang itu semua! Biar puas hati kau," katanya sembari melemparkan selembar uang biru yang baru dia keluarkan dari dalam dompetnya.
"Sial kali aku kawin sama kau, cuman nambahin beban aku aja," bentaknya.
__ADS_1
Nyes...lagi-lagi jantungku berdebar seperti tersengat aliran listrik. Sakit rasanya diperlakukan suami sendiri seperti ini. Entah kemana semua janji manisnya dulu yang pernah ia katakan padaku. Dan aku pun nggak tau kenapa Bang Diki tiba-tiba berubah setelah nggak lama kami punya bayi.
Aku masuk ke dalam rumah dan mendapatinya sedang rebahan santai di atas ranjang sambil bermain hape. Kalau giliran dia yang pulang dari bepergian dan memergokiku sedang asyik bermain hape seperti itu, sudah pasti dia bakalan komplain dan bilangin kalau aku cuma pandai main hape saja. Pemalas, jorok dan kata-kata tercela lainnya. Apakah laki-laki selalu berbuat seperti itu saat melihat istrinya lagi bersantai? Atau, apakah cuma suamiku saja yang perangainya seperti itu?
Tapi biarlah, mungkin Bang Diki masih kesal sama aku karena kecerobohanku tadi. Apalagi mengingat sulitnya nyari uang saat ini, karena susahnya nyari penumpang selama masa pandemi yang nggak berkesudahan ini.
Selama ini, Bang Diki bekerja sebagai driver Ojol. Sewaktu awal-awal dulu, pendapatannya lumayan banyak sehingga dia serius untuk melamarku. Walaupun usia kami masih tergolong muda kala itu, aku mau saja menerima lamarannya karena dia sangat baik dan perhatian padaku, begitu juga sama ibu dan adikku. Sedangkan ayahku sendiri sudah lama nggak ada lagi di dunia ini.
Waktu itu, aku merasa sangat membutuhkan bahu seseorang untuk sekedar tempat kepala bersandar, yang dapat menjagaku dan mau menerima keluargaku. Dan Bang Diki menyanggupi semua permintaanku itu. Dia berjanji akan membahagiakan aku dan siap untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Walaupun semua itu, ternyata hanya omong kosong dan janji palsu belaka.
Setelah selesai memasak dan beberes rumah, aku masuk ke kamar lagi buat bangunin anakku yang masih tidur. Kulihat Riki sudah bangun dan bermain sama Bapaknya.
"Nggak kerja, Bang?" tanyaku, saat melihat dia masih santai berleha-leha.
"Ayo Riki! sini sama Bunda, biar Bapak mandi dulu." Ku ulurkan tanganku untuk mengangkatnya, tapi dia menolak.
"Kata Bapak, Bapak nggak kerja," ucap anakku dengan celat.
Nggak kerja? jadi, besok mau makan apa?
"Iya Bang, nggak kerja kau?" Aku memastikan ucapan anakku tadi. Tapi, Bang Diki nggak menjawab, dia hanya diam membisu seperti nggak punya mulut saja.
"Iya Bunda, kata Bapak dia mau main sama Riki. Iya kan, Pak?" Anakku yang menjawab seolah-olah juru bicaranya. Sambil menjambak-jambak rambut Bang Diki yang masih asik mainin hape terus dari tadi.
__ADS_1
"Ya udah, ayo sini Bunda mandiin dulu!" aku masih saja memujuknya.
"Nggak mau, Riki mau mandi sama Bapak aja."
"Bapak sebentar lagi mau pergi kerja, sayang. Riki sini sama bunda saja, biar Bapak mandi dulu." Aku masih terus memujuknya. Berharap dia mau menuruti keinginanku dan bapaknya juga mau mengerti kalau kami butuh uang untuk besok.
"Nggak mau. Riki mau main sama Bapak aja. Iya kan Pak?" Lagi-lagi putraku itu berontak dan terus menempel mencari perlindungan pada bapaknya. Padahal, sedikit pun Bapaknya nggak peduli sama sekali sama dia.
Entah karena sudah merasa kesal dari tadi pagi atau merasa nggak dihargai sama sekali oleh anak dan suami. Rasanya the power emak-emakku meronta-ronta nggak terkendali. Kepalaku serasa mau pecah saja dan rasa emosiku pun meluap-luap. Sebenarnya, aku sangat kesal sama suamiku yang terkesan cuek dan nggak peduli sama sekali, akan tetapi anakku lah yang jadi sasarannya.
"Sini kau cepat! masih kecil aja sudah bandel kali kau. Belum besar nanti, nggak usah kau contoh sifat buluk bapak kau itu. Ayo mandi, cepat!" kuteriaki dia sembari menyeret dan mencubit lengannya geram. "Sudah capek aku kerja dari pagi nggak ada kalian hargai sama sekali." Aku semakin jengkel dan ngomel-ngomel.
Anakku menjerit-jerit dan meronta-ronta saat kuseret paksa. Sengaja aku berbuat kasar di depan suamiku, agar dia tahu bahwa aku juga bisa marah. Aku ingin melihat seperti apa reaksinya. Dia kira cuma dia saja yang punya emosi dan bisa berkuasa di rumah ini. Oh, tidak. Aku juga bisa melakukannya. Belum tau dia rupanya seperti apa aku kalau sudah marah.
"Bagus-bagus kau ngurus anak anjir, kau peker nggak capek aku nyariin makan buat kalian. Sehari aja pun aku mau rehat maen sama anak aku di rumah, terus kek gitu perlakuan kau," bentaknya sembari merampas anakku kembali dari genggaman tanganku.
Akhirnya, terpancing juga dia rupanya. Inilah saat yang sejak lama sudah aku nanti-nantikan, setelah sekian purnama hanya diam menahan sakit. Dan hari ini, akan ku buktikan bahwa aku juga bisa melawan. Biar pecah sekalian. Bisa apa dia rupanya.
"Nggak ada yang ngelarang kau santai di rumah bintang, tapi kau cukupi dulu kewajiban kau sebagai suami, baru kau santai." Aku nggak mau kalah, menantang kembali ucapannya. Begitulah akibatnya jika sudah berani membangunkan seekor singa betina yang sedang tidur. Biar mamp*s sekalian.
Aku pun sudah tidak sudi lagi untuk memanggilnya dengan sebutan Abang. Buat apa juga menghargai orang yang nggak mau menghargai kita sama sekali. Durhaka, durhaka deh situ.
Kalau urusan dosa, entar aja perhitungannya diakhirat. Sekarang yang paling terpenting ialah bagaimana caranya untuk memperjuangkan harga diri kita sebagai seorang wanita agar tidak di injak-injak sama para lelaki yang nggak bertanggung jawab. Emansipasi wanita moderen itu harus tetap dipertahankan.
__ADS_1
*****