
Setelah selesai berperang hebat tadi dan sudah merasa puas mengeluarkan semua jurus andalan. Aku bergegas mandi dan berpakaian rapi, kemudian pergi meninggalkan rumah tangga yang rasanya sudah seperti neraka jahanam itu.
Aku pergi ke rumah ibuku yang terletak di kampung sebelah. Kutinggalkan putraku_ Riki_ bersama bapaknya di rumah itu. Biar bang Diki tau bagaimana rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus terkurung seharian dalam rumah. Biar dia bisa menghargai betapa beratnya perjuangan menjadi seorang istri itu.
Itupun dia sudah terbilang enak, karena beberes rumah dan prosesi masak memasak sudah aku yang ngerjain semua. Tinggal urusannya hanya memandikan Riki dan mencuci perkakas dapur yang belum sempat aku bersihin tadi.
Tiba-tiba saja aku merasa menyesal. Menyesal karena tadi sudah mengerjakan banyak, bahkan hampir semuanya. Menyesal juga kenapa perang itu telat datangnya. Seharusnya, perang itu datang lebih awal digelar biar aku bisa bebas lebih cepat dan pekerjaan rumah untuk Bang Diki lebih banyak dan tambah berat.
Kenapa juga aku tadi hanya memecahkan sebiji gelas saja, seharusnya aku bisa memecahkan lebih banyak lagi. Entah selusin atau dua lusin sekalian. Biar bang Diki tau siapa aku sebenarnya. Kalau perlu, biar rumah itu aku bakar sekalian saja tadi, biar rumah tangga itu nggak ada lagi. Jadi, aku bisa benar-benar terbebas dari sebuah belenggu yang bernama sebuah ikatan pernikahan itu.
Sepanjang perjalanan, hanya itu saja yang aku pikirkan berulang-ulang.
****
"Nenek Riki belum pulang, Buk!" seru salah seorang tetangga sebelah rumah ibuku, saat menyadari keberadaanku yang dari tadi memanggil-manggil dari luar.
"Oh, iya Buk. Makasih ya!"
"Riki mana? kok nggak keliatan?"
"Dia nggak ikut, Buk. Tinggal di rumah sama Bapaknya."
"Oh, pantas nggak keliatan. Bapaknya nggak kerja?"
Aku menggeleng." Lagi libur, Buk. Mau istirahat dulu, katanya."
"Enaklah ya kalo kita kerja sendiri, nggak terikat sama orang lain, bisa libur suka-suka hati. Kalo seperti bang Nanda, nonstop nggak ada liburnya," katanya menceritakan suaminya yang bekerja di bengkel sepeda motor.
Sebenarnya, usia kami nggak jauh berbeda. Dia di atas aku hanya beberapa tahun saja. Tapi, karena sudah punya suami dan masing-masing sudah memiliki anak, kami lebih nyaman jika satu sama lain saling menyapa dengan sebutan Ibu. Kesannya, lebih dewasa aja, dan anak-anak juga bisa meniru.
"Sini lah, singgah dulu! Menggosip kita dulu." Dia menawari.
Karena merasa segan, akupun mampir kerumahnya. Sudah lama juga kami nggak ngobrol bareng karena aku sendiri pun memang sudah jarang main kesini. Andaipun pulang ke sini, kami nggak sempat kumpul-kumpul lagi seperti dulu.
"Enaklah ya, tinggal di rumah sendiri. Nggak ada yang mengganggu."
"Sama aja loh, Buk. Kalo masih ngontrak, mana ada enaknya."
"Setidaknya kan Buk, bisa bebas. Nggak diusik sama mertua juga ipar."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum, karena dia nggak tau aja bagaimana sikap Bang Diki terhadapku. Apa saja yang telah dia perbuat kepadaku selama ini. Tapi, apalah gunanya jika aku ceritakan padanya. Kalau semua itu tidak mendatangkan manfaat sedikit pun sama sekali. Alangkah baiknya jika semua itu aku simpan saja sendiri, agar orang-orang nggak tau betapa buruknya perangai suamiku itu.
Bagaimanapun, dia tetaplah suamiku dan ayah dari anakku yang tentu saja harus kututupi segala keburukannya. Bukankah Aib suami itu merupakan Aib kita juga?
"Nggak kaya aku, Buk! Malah kejebak di rumah ini," curhatnya lagi.
"Tapi kan enak, Buk. Nggak mikirin uang sewa kontrakan."
"Iya. Orang luar selalu mikirnya kek gitu, Buk. Padahal, semua-semua musti mertua yang ngatur. Gaji suami aja pun dia semua yang pegang. Kalo aku di sini nggak ubahnya seperti pembantu aja, Buk. Itu pun masih mending pembantu di rumah orang dapat gaji. Lah, di sini malah dapatnya caci maki."
"Yang sabar aja lah Buk, kita! Gitulah yang hidup berumah tangga ini, nggak ada yang lurus-lurus aja. Yang banyakan tikungannya," ucapku menghiburnya. Padahal, kata-kata itu lebih pantas aku tujukan buat diriku sendiri.
Lama kami mengobrol ngalor-ngidul ke sana kemari sampai kulihat ibuku sudah pulang.
Ibuku bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah orang terpandang di desa sini. Tapi, dia hanya bekerja setengah hari saja saat pagi, dan nanti sekitar jam empat-an sore datang lagi buat mengangkat jemuran sekalian menyetrikanya. Lumayanlah buat menutupin kebutuhan ibu dan biaya sekolah adikku sehari-hari.
"Riki mana?" tanya ibu padaku.
Aku hanya diam nggak menyahut. Terus berjalan masuk kedalam rumah yang baru saja dia buka.
"Mamak masak apa?"
"Dari tadi. Ku pikir nggak kerja mamak." Aku mengambil sebuah piring dan mulai menyendok nasi. Perutku memang sudah terasa perih dari tadi karena belum sarapan dari rumah. Aku lupa sarapan pagi, gara-gara emosi melihat tingkah laku suamiku yang nggak tahu diuntung itu.
"Riki kok ditinggal? Sama siapa dia di rumah?"
"Sama siapa lagi," jawabku datar. Karena masih males sebenarnya menyinggung tentang suami unfaedah itu.
"Nggak kerja dia?"
"Nggak." Aku menggeleng.
"Kenapa?"
"Entah."
Ibuku menarik napas dalam. "Berantem lagi?"
"Hu-uh."
__ADS_1
Dia diam, membiarkanku menikmati makanan yang ada dihadapanku kini. Padahal aku tahu, sebentar lagi dia akan bertausyiah menceramahi aku.
"Mamak nggak makan?"
"Bentar lagi."
Lama ibuku diam dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang belum sempat dia kerjakan tadi pagi. Setelah selesai makan, ibu kembali menghampiriku di dalam kamar yang baru saja ingin rebahan meluruskan badan.
"Jadi, makan apa orang itu di sana?"
"Ada, aku sudah masak tadi."
"Jadi, anak kau bagaimana?"
"Biar aja dia yang urus, biar tau dia bagaimana rasanya ngurus anak."
Ibuku menarik napas dalam lagi dan mulai menyalakan sebatang rokok ditangannya.
Ibuku memang seorang perokok aktif. Namun, walaupun begitu, dia bukanlah wanita murahan. Dan aku juga nggak tau sudah sejak kapan dia candu nikotin itu.
"Aku mau tinggal disini aja," pintaku padanya.
"Jadi, anak kau bagaimana?"
"Biar bapaknya aja yang ngurus."
Kami saling diam, aku pun mulai berselancar di dunia maya dan mulai mencari-cari lowongan pekerjaan yang sedang membutuhkan karyawan. Banyak sebenarnya iklan lowongan pekerjaan yang tersedia. Akan tetapi, memiliki syarat yang tidak bisa kupenuhi.
Rata-rata lowongan pekerjaan itu memiliki syarat yang begitu rumit. Harus singel, belum menikah, berpenampilan menarik dan memiliki ijazah. Sedangkan aku sendiri, apalah daya yang hanya tamatan SMA saja pun belum sempat lulus.
Ku kirimi pesan inbox satu persatu kepada teman-teman yang aku kenal, baik teman sekampung ataupun teman sekolah dulu yang sudah sukses merantau ke luar kota untuk menanyakan pekerjaan. Namun, belum ada yang membutuhkan karyawan baru apalagi yang hanya memiliki ijazah SMP. Kok sulit ya mencari pekerjaan di negara ini?
Semua-semua harus mengandalkan ijazah melulu. Kalau nggak punya ijazah seperti aku, alamat nasibnya akan menjadi ibu rumah tangga sejati, yang hanya akan ditindas dan diperbudak oleh suami.
Lelah mengirimi pesan dan menunggu balasan dari beberapa pesan yang belum dibaca, akhirnya aku tertidur pulas hingga ibuku membangunkan aku dikala hari sudah agak sore.
"Kok belum pulang kau?"
****
__ADS_1