PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Karena Wanita Ingin Di Mengerti


__ADS_3

Aku tersadar dari lamunan ketika mendengar suara dua orang pria dari arah luar, sedang mengobrol. Bergegas aku bangkit untuk melihatnya. Mana tau, mereka juga merupakan tamu atau kenalan Mami yang ingin berkunjung. Setelah pintu terbuka, aku terperanjat kaget saat melihat Sobirin bersama seorang temannya sedang berdiri persis di depan pintu. Dan laki-laki yang sedang mengenakan jaket bomber berwarna hijau army itupun tak kalah terkejutnya denganku, jika di lihat dari raut wajahnya.


"Yara!" ucapnya sembari menunjuk ke arahku. Memastikan tentang apa yang sedang dia lihat. "Kamu Yara, 'kan?"


"Bapak, kok kenal sama Mbak ini?" tanya Sobirin kepadanya. 


"Bang Ega! Kok kamu ada di sini?" tanyaku keheranan. Sebelum dia sempat menjawab pertanyaan Sobirin tadi.


"Kan beneran Yara," ucapnya sambil tersenyum, seperti masih tidak percaya. "Kamu ngapain di sini?"


"Mas Sobirin, tolong jaga Mami sebentar ya! Mbak ada urusan sama orang ini."


Spontan aku langsung menarik lengannya dan membawanya pergi menjauh dari depan kamar Mami di rawat. Setelah berjalan agak jauh, aku langsung memberondonginya dengan berbagai pertanyaan.


"Bang Ega ngapain ada di sini? Kenapa kenal sama Sobirin? Ada hubungan apa Bang Ega sama Sobirin, ha?"


Mendengar pertanyaanku yang bertubi-tubi, Bang Ega tampak kebingungan untuk menjawab.


"Kenapa abang diam, ha? Ayo, cepat jawab!" Entah kenapa, aku merasa emosi saat melihatnya. Tensiku tiba-tiba naik dan emosiku meluap-luap.


"Abang mau jawab yang mana dulu? Kalau kamu juga nanyanya emosi seperti itu," ucapnya dengan lembut dan seperti merasa bersalah.


Mendengar tutur katanya yang lembut itu, membuatku merasa sedikit malu. Baru sadar kalau Bang Ega tidak berbuat salah apa-apa kepadaku. Kenapa aku harus marah-marah kepadanya. Mungkin aku hanya terlalu kebawa perasaan karena terlanjur kecewa pada temannya dulu yang sudah membohongiku selama bertahun-tahun, sehingga aku melampiaskan kekesalan padanya.


"Maaf, kalau Yara tadi sempat lancang. Yara lagi banyak pikiran." Aku merendahkan intonasi suaraku dan menundukkan kepala menatap lantai.


"Sudah, tidak apa-apa. Oh, iya. Memang yang lagi sakit siapa?"

__ADS_1


"Bang Ega belum tau?" Aku memberanikan diri untuk menatapnya kembali.


Kulihat dia menggeleng.


"Sobirin belum ada bilang?" tanyaku lagi.


"Sobirin?" Dia terlihat seperti sedang mengingat-ingat. " Oh, iya. Sobirin bilang  ibunya sakit, lagi di rawat di sini. Apa kamu saudara dengan Sobirin?"


Aku menarik napas dalam. Merasa lega. Berarti Bang Ega  belum mengetahui jika yang sakit adalah Mami. Untung saja dia tidak sempat masuk tadi. Kalau tidak, bisa panjang urusannya.


"Bang Ega kok kenal sama Sobirin?" Aku kembali bertanya karena merasa penasaran. Ada hubungan apa di antara mereka berdua? Kenapa Mami tidak pernah cerita? Padahal, selama ini dia selalu menceritakan tentang anak-anaknya kepadaku.


"Oh itu, dia pernah jadi anggota abang dulu waktu di kapal."


"Anggota?" Aku mengulang kembali ucapannya yang terdengar janggal. Kenapa dia menyebut Sobirin sebagai anggotanya. Berarti dia bos, dong. Setahuku, Sobirin itu baru saja lulus kuliah dan juga belum bekerja. 


"Kantor?" Aku kembali mengulang ucapannya yang lagi-lagi terdengar janggal di pikiranku.


"Oke. Oke. Aku jujur sekarang. Tapi kita ngomongnya di bawah aja biar rileks. Kita bisa ngopi-ngopi dulu. Oke?" Dia menawariku.


Aku menerima tawarannya dan mengikuti kemana kakinya melangkah. Kami turun ke lantai bawah menggunakan lift yang tersedia. Aku tidak tahu entah apa-apa saja yang dipencet Bang Ega tadi sehingga kami sampai di tempat yang berbeda. Di lantai ini tidak seperti rumah sakit pada umumnya lagi, suasananya. Malahan sudah mirip seperti Mal. Banyak tenan-tenan penjual makanan berkumpul di tempat ini. Dan kami memasuki salah satunya untuk duduk.


"Maaf, Ra! Sebelumnya. Sebenarnya apa yang ingin abang ceritakan ini merupakan hal yang sangat privasi dan bersifat rahasia. Tapi, menurut abang, kamu juga perlu tau. Karena ini ada hubungannya denganmu."


"Hal apa itu, Bang?"


"Tentang si Johar." 

__ADS_1


Degh....


Tiba-tiba saja jantungku berdebar seperti kesetrum listrik setelah mendengar nama itu dia sebutkan. Bagaimanapun juga, aku memang sangat merindukannya. Terkadang aku merasa kehilangan, akan tetapi bukan barang. Dan adakalanya pula aku merasa kecarian, akan tetapi bukan uang.


"Ada apa dengan Bang Johar?"


"Begini, Ra! Kamu tahu kenapa kami tidak jadi menemui kalian dua tahun yang lalu?" tanyanya padaku.


"Tau. Yang pertama karena kalian pergi ke Surabaya. Dan yang kedua, karena kalian tidak niat," jawabku.


"Bukan, bukan itu alasannya. Tapi, karena waktu itu si Johar terdeteksi sedang mengidap penyakit menular, makanya kami membatalkan untuk berkunjung. Setelah kapal berlabuh di Batam, kami pergi ke Surabaya hanya untuk membuat sebuah alasan pada kalian. Si Johar takut jika kau tahu dia mengidap penyakit itu, maka kau akan pergi menjauh darinya. Dan Si Johar tidak mau jika itu sampai terjadi. Selama di Surabaya, dia juga sempat berobat di sana. Akan tetapi, dia belum benar-benar sembuh."


"Kalau Bang Johar tidak bisa datang, kenapa abang juga tidak datang? Seharusnya, abang bisa datang sendiri dan mengatakan langsung jika bang Johar tidak bisa ikut. Mungkin kalian tidak tahu bagaimana rasanya menanggung rindu itu seperti, apa! Sakit, Bang! Sakit. Apalagi setelah lama menunggu, apa yang kita harapkan itu tak kunjung datang. Sakitnya itu sampai ketulang-tulang, Bang!"


Dengan mengatakan itu, air mataku ikut berlinang. Merasa lega karena beban yang mengganjal di hati dan pikiranku selama ini terjawab sudah. Ternyata, selama ini Bang Johar tidak hilang di telan lautan luas, akan tetapi dia sedang sakit dan harus di rawat dengan intensif.


"Mungkin Abang juga tidak tahu, dengan kalian ingkar janji, ada masa depan seseorang yang dipertaruhkan. Sungguh malang nasib wanita itu, yang terlalu berharap dengan cinta, akhirnya dia tersesat."


"Dewi?" Bang Ega langsung ke topik pembahasan.


Aku mengangguk dan menceritakan semuanya setelah dia meminta. Ku jelaskan juga alasan kenapa Dewi sampai melakukan hal itu hingga hamil.


"Aku ini sudah tua, Ra! Aku sudah berumur. Aku juga sama seperti wanita yang lain. Aku ingin menikah, punya suami, punya anak dan punya keluarga yang bahagia. Kamu tau, Ra! Kenapa aku melakukannya. Itu karena aku sangat kecewa sama Mas Ega. Dia pembohong. Dia penipu. Janjinya, dia akan datang untuk melamarku dan menikahiku. Dan dia juga berjanji akan menerimaku apa adanya. Tapi, mana buktinya? Semua laki-laki itu sama saja. Semuanya buaya. Dan bukan kali ini aja, Ra! Aku di bohongi sama laki-laki. Aku udah capek ditipu terus. Saat ada laki-laki lain yang lebih dekat denganku, berjanji akan mengabulkan semua impianku itu, apa aku salah jika menerimanya?"


Saat itu, aku tidak bisa lagi menjawab pertanyaan Dewi, sebab aku juga pernah merasakan hal yang sama waktu dulu. Sewaktu Bang Diki berjanji akan mengabulkan semua impianku, dan ternyata itu hanya palsu.


******

__ADS_1


__ADS_2