PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Cerita Bang Johar


__ADS_3

"Tidak, Bang! Orangnya tidak ada di sini. Orangnya ada di kampung." 


"Oh, kirain orangnya ada di sini! Emang siapa laki-laki itu? Pacar kamu?"


Aku hanya menyunggingkan bibir, tersenyum melihatnya. Ternyata dia belum tau kalau aku sudah menikah.


"Suami, Bang. Mantan suami," ucapku berterus terang. Ku pikir memang tidak ada yang perlu ku sembunyikan darinya. Jujur itu lebih baik, dari pada berbohong yang akhirnya ketahuan juga.


Kulihat dia mengusap rambutnya dari depan hingga belakang. Dan berhenti di atas tengkuknya. Menggaruk-garuk kepalanya seperti seseorang yang terlihat kecewa.


"Kamu sudah nikah?"


"Udah punya anak, pun," sahutku cepat.


"Oh, kirain masih gadis. Jadi suamimu kemana?" Aku menggeleng sembari meneguk kembali minuman yang ada di hadapanku. Rasanya pahit. Sepahit kehidupan yang sedang kujalani.


"Aku tidak tau, Bang! Sudah malas mengurusinya. Lebih baik aku fokus pada diri sendiri saja dulu."

__ADS_1


Dia mengangguk-anggukkan kepala." Bagus itu. Ngapain juga di urusin laki-laki yang nggak tanggung jawab seperti itu. Lebih baik cari yang lain saja. Mana tau ada yang serius dan mau menerima kamu apa adanya!" Dia mencoba memberikan nasehat padaku. Padahal, kelihatannya dia juga sedang diselimuti kegalauan yang sama. Kalau tidak, ngapain juga dia datang ke tempat seperti ini?


Kami melanjutkan perbincangan selanjutnya. Kali ini tentang perjalanan hidup Bang Johar. Ternyata dia beneran kerja di perkapalan. Aku pikir kerja kapal ikan begitu, seperti nelayan. Ternyata aku salah. Dia bekerja di sebuah kapal pesiar berbendera asing. Gajinya sudah pasti besar karena memakai mata uang Dollar. Pantas saja dia jarang pulang ke kampung. Menurutnya, mereka berlayar hingga berbulan-bulan lamanya di lautan dan bahkan hingga keliling dunia, seperti kapal Titanic.


Dia menceritakan banyak hal lagi. Seperti keinginan ibunya yang memaksanya untuk kuliah dengan jurusan Tehnik Perkapalan di luar provinsi. Padahal, awalnya dia menolak. Tapi karena permintaan ibunya tidak dapat di bantah, akhirnya dia menurut juga. Dari situ dia sudah menganggap wanita itu egois. Munafik. Suka memaksakan kehendak dengan alasan yang berbanding terbalik dengan keinginan sesungguhnya.


Beberapa bulan setelah dia lulus kuliah, Bang Johar di terima untuk bekerja di kapal asing tersebut. Tentu saja atas bantuan ibunya. Menurut Bang Johar, ibunya rela melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya. Tak peduli harus mengeluarkan biaya yang banyak, dia akan melakukannya asal keinginannya terpenuhi dan dia merasa puas. Makanya Bang Johar enggan pulang kampung. Dia merasa tidak begitu di harapkan di sana. Asal setiap bulan uang yang dia kirimkan lancar, ibunya tidak akan protes. 


Selama bekerja di perkapalan, Bang Johar pernah pulang kampung satu kali. Waktu itu dia baru beberapa bulan berkenalan dengan seorang wanita penghibur di sana. Mereka sangat dekat dan akrab. Sewaktu kapal yang mereka tumpangi berlabuh di Aceh, Bang Johar menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Medan. Selain rindu dengan orang tua, sekalian ingin mengenalkan wanita yang baru dia kenal.


Tapi melihat siapa yang dia bawa, ibunya tidak setuju. Wanita itu memiliki beberapa buah tatto di bagian tubuhnya. Termasuk satu buah di atas dada dan mendekati leher gadis itu. Sehingga ibu Bang Johar melihatnya. Dan dia tidak suka.


"Apapun alasannya, ibu tidak setuju. Masih banyak wanita baik yang pantas untuk kau nikahi. Jika kau tidak bisa menemukannya, serahkan pada ibu. Biar ibu carikan. Yang penting, tinggalkan dulu gadis itu!" Tegas ibunya.


Mendengar pernyataan ibunya, Bang Johar merasa kecewa. Dia kembali ke kapal dengan gadis itu. Namun hubungan mereka masih tetap berlanjut. Walaupun posisinya sangat sulit untuk di pertahankan. Seperti sebuah kapal yang diterpa badai besar di tengah lautan, begitulah cinta mereka. Jika nahkoda tidak siap, maka kapal akan hancur tenggelam.


Gadis yang dia cintai itupun merasakan hal yang sama. Untuk mengusir kegelisahan di hatinya, dia menambah lukisan yang ada di tubuhnya itu lagi. Semakin hari, semakin banyak luka yang menggores kulitnya. Bang Johar yang melihat itu sudah berkali-kali melarang, mengingatkan agar dia jangan melakukannya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak ingin di atur-atur. Jangan pernah melarangku. Hubungan kita hanya sebatas teman, tidak bisa lebih. Aku merasa puas dengan melakukan ini!" Tegasnya waktu itu, yang membuat Bang Johar pun harus membiarkannya, tidak bisa berbuat apa-apa.


Sekitar tiga tahun mereka mengarungi lautan bersama, tanpa status yang jelas. Dari pulau ke pulau dan dari samudra yang satu ke samudra yang lain. Hingga tibalah mereka kembali ke tanah air. Tepatnya berlabuh di pulau jawa. Baru saja jangkar di turunkan, tiba-tiba beberapa buah speed boat datang mendekati kapal mereka. Para petugas yang ada di sana memaksa naik ke atas kapal untuk merazia sesuatu yang mereka curigai ada di dalam.


"Dan kau tau, Ra? Siapa yang mereka cari?" Tiba-tiba saja suara Bang Johar membuyarkan konsentrasiku.


Aku menggeleng, tidak berani berasumsi atau sekedar menebak-nebak. Karena ini merupakan masalah yang serius menurutku.


"Mereka mencari, Lidia. Gadis yang sudah abang anggap sebagai istri walau tanpa ikatan yang sah. Kami sudah terbiasa berbaur dengan warga asing dalam kapal sehingga hal yang demikian sudah tidak menjadi masalah lagi. Asal mau sama mau. Rela sama rela dan tidak ada yang keberatan tidak masalah. Tapi, setelah petugas menemukannya, baru abang tau jika selama ini Lidia sudah berbohong pada abang. Dia katakan bahwa dia di jual oleh ayahnya pada seorang konglomerat yang ikut dengan kapal itu waktu dulu, sebelum abang bekerja di sana. Tapi kenyataannya, dia melarikan diri dari rumah seorang konglomerat yang sangat di hormati di pulau jawa sana. Ternyata dia telah bersuami dan suaminya itu bukan orang sembarangan pula. Nyawa abang saja hampir melayang karena sudah berani menghalang-halangi para utusan suaminya itu untuk membawanya. Dan abang di tuduh karena telah menyembunyikan dan membawa kabur istri orang. Untung saja waktu itu, banyak para konglomerat dari golongan atas yang dekat dengan kapten kapal kami, sehingga aku mereka bebaskan walau harus dengan surat perjanjian. Dan tentu saja kapten kami yang menjadi jaminannya jika abang berani nekat membawanya untuk kabur. 


Sejak saat itulah abang sudah tidak percaya lagi dengan perkataan wanita. Mereka bisa saja bersilat lidah demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan itu juga penyebabnya kenapa abang tidak pernah pulang ke kampung lagi. Sesungguhnya abang sudah terlanjur malu dan merasa bersalah sama ibu. Karena demi mempertahankan seorang wanita yang salah, abang jadi ikut-ikutan berbuat salah. Abang jadi kecanduan seperti sekarang ini, memakai narkoba, minum minuman keras, pesta-pesta dan bermain judi, itu semua  karena pengaruh dari wanita itu. Dia sudah berhasil menjebak abang dalam permainannya. Dan itu sulit untuk abang terima." Dia mengepal tangannya dan kemudian menumbuk meja yang ada di hadapan kami dengan rasa geram.


Aku yang masih duduk di depannya hanya diam tak bereaksi, membiarkan dia mengekspresikan kekecewaannya.


"Sayang, Ra! Pada waktu itu kamu masih kecil. Kalau abang tau kamu cepat tumbuh dewasa dan cantik seperti ini, mungkin abang akan rela menunggumu."


Ha! Apa yang baru saja dia katakan? Apa dia akan menungguku? Untuk apa?

__ADS_1


****


__ADS_2