PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Patah Tumbuh Hilang Berganti


__ADS_3

Setelah kami bercerita tentang kisah masing-masing selama dua tahun terakhir, akhirnya Bang Ega mengajakku untuk menjenguk Bang Johar ke sebuah ruangan khusus tempatnya di rawat. Setelah membuka pintu dengan menggunakan sidik jari, Bang Ega mempersilahkanku untuk masuk.


Seketika, aku sangat takjub saat melihat ruangan tempat Bang Johar terbaring. Ruangan ini lebih mirip seperti sebuah kamar hotel bintang lima atau sebuah kamar apartemen mewah yang sering aku lihat di posting oleh Amel di akun Instagramnya. 


Ruangan ini memiliki fasilitas lengkap seperti ruang tamu, sofa yang empuk, televisi, ac, wifi gratis, kulkas dan banyak lagi. Apalagi, ruangan ini terletak persis di pinggir bangunan gedung sehingga memiliki jendela kaca yang lebar. Dari sini, kita bisa leluasa melihat aktifitas manusia di bawah sana. Selain itu, kita juga bisa melihat pemandangan yang indah berupa gedung-gedung pencakar langit perkotaan yang menawan.


Pantas saja Bang Johar betah tinggal di sini hingga bertahun-tahun lamanya.


"Bang Joharnya, mana?" tanyaku kepada Bang Ega saat melihat Bang Johar tak ada.


"Masuk aja ke dalam, Ra! Kamarnya ada di dalam!" Dia mempersilahkanku untuk masuk lebih ke dalam lagi.


"Lho, ini ada tempat tidurnya?" tanyaku keheranan. 


"Itu tempat tidur buat yang jaga di sini, Ra!" ucapnya menjelaskan.


Aku yang melihat itu lagi-lagi merasa takjub. Kalau begini kenyamanan yang di tawarkan, aku juga mau di rawat di sini. Nggak apa-apa sakit. Anggap aja sedang piknik.


Setelah masuk ke dalam ruangan yang ke dua, yang mirip seperti kamar sungguhan. Kulihat ada seseorang yang sedang terbaring di tempat tidur dengan di kelilingi oleh alat-alat canggih berupa komputer, yang biasa di pergunakan untuk alat pembuatan robot atau alat penelitian manusia yang akan di jadikan robot dalam film science fiction yang sering aku tonton. Dia sedang terlelap tidur. Saat aku mulai mendekat, kulihat wajahnya kini tampak berubah. Tidak seperti dulu lagi. Dia terlihat sangat kurus dan kulitnya terlihat keriput seperti orang yang sudah tua. 


"Ini, Ra! Pakai pengaman dulu!" Bang Ega menghentikan langkahku dan menyodorkan sebuah masker dan sarung tangan karet untukku.


"Untuk apa ini, Bang?"


"Untuk jaga-jaga saja."


"Memangnya Bang Johar sakit apa?"


"Awalnya dia terinfeksi penyakit raja singa, tapi karena tidak cepat di tangani oleh pihak medis, akhirnya jadi komplikasi."


"Kenapa tidak langsung berobat?"


"Katanya dia malu, Ra! Itu penyakit yang menjijikkan."


"Raja singa itu, apa sih? Bukannya itu nama samaran Bang Johar?"


"Tidak, itu salah satu jenis penyakit kelamin, Ra."


Ha? Penyakit kelamin? Kenapa Bang Johar bangga mengenalkan nama itu sebagai nama samarannya.


Aku kembali mendekati Bang Johar yang masih tertidur dengan ragu-ragu. Kemudian, Bang Ega mendahuluiku dan membukakan selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Dan saat itu kulihat jelas kondisi Bang Johar sangat memprihatinkan. Jika di lihat dari kondisi fisiknya, mungkin dia tidak akan lama lagi. Mungkin usianya hanya tinggal menunggu waktu saja. Sungguh, aku tidak tega untuk melihatnya lama-lama dengan keadaan yang seperti ini.


"Yara...,Yara...." Terdengar suara serak memanggil namaku keluar dari celah bibirnya yang pucat. Aku sempat terkejut mendengarnya.


"Tidak apa-apa. Dia sering mengigau seperti itu memanggil-manggil namamu. Makanya abang bawa kamu ke sini. Abang ingin sekali kamu melihat keadaannya langsung dan mau memaafkan semua kesalahannya selama ini padamu. Sudah hampir setahun ini dia menginap di sini, tapi keadaannya tetap seperti ini saja. Abang berkeyakinan, dia sanggup bertahan sampai saat ini karena hanya ingin menunggu kedatanganmu ke sini."


"Orang tuanya sudah tau, Bang?" Bang Ega menggeleng. 


"Abang tidak berani memberitahunya, Ra. Abang juga tidak tega. Orang tua mana yang akan sanggup jika melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan seperti ini."


Aku duduk di kursi yang ada di sisi ranjangnya dan memberanikan diri untuk menyentuh tangan Bang Johar. Seketika itu Bang Johar tampak tersentak kaget seperti kesetrum aliran listrik. Dia membuka matanya dan melihat kearahku.

__ADS_1


"Yara!" Dia kembali menyebut nama itu.


Aku mengangguk dan menggenggam tangannya dengan erat, lalu membawanya untuk menyentuh pipiku. Rasanya sangat damai walau hanya sekedar menyentuh kulitnya saja.


"Kamu benar Yara 'kan? Abang tidak sedang bermimpi 'kan?" Dia kembali bertanya seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mungkin hatinya bertanya-tanya kenapa aku bisa sampai ke sini untuk menemuinya.


Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman termanis untuknya. Walaupun mungkin dia tidak bisa melihatnya secara langsung karena aku sedang mengenakan masker, namun aku yakin bahwasanya dia bisa merasakannya karena ada getar-getar cinta di sana. Mengalir seperti layaknya anak sungai yang bermuara ke laut lepas.


Lama kami saling menatap dan saling terpaku dalam diam tanpa sepatah katapun juga. Namun, banyak yang tidak tahu bahwasanya kami sedang memadu kasih melepas rindu dalam sebuah ikatan cinta yang tulus.


*


"Ra! Bangun Ra!" Ku dengar suara Mami membangunkanku dengan menyentuh pundakku, seperti apa yang sering dia lakukan setiap hari.


Aku langsung membuka mata dan melihat ke arahnya. Tampak Mami sedang mengenakan busana serba putih bersih dan terlihat bercahaya.


"Mami mau kemana? Kok dandannya cantik banget Yara lihat hari ini?" tanyaku keheranan. Tak biasanya Mami berpenampilan seperti ini. 


"Mami mau pergi, sayang. Sudah saatnya Mami pergi!" ucapnya kepadaku.


"Mau pergi kemana?"


"Mami akan pergi ke suatu tempat yang sangat jauh bersama dengan suami Mami. Dia sudah menunggu Mami di sana." Dia menunjuk ke arah suatu tempat dan aku melihat ada seseorang yang sedang berdiri di sana.


"Itu Sobirin kah?"


Mami tersenyum sembari menggeleng. " Tidak sayang. Itu ayahnya Sobirin. Mirip kan?"


Mami tersenyum lagi. "Tidak sayang, yang kamu ketahui itu hanya sebatas jasadnya saja. Iya, memang jasadnya sudah mati. Tapi dengan kebaikannya kepada Mami semasa hidupnya, membuat dia selalu hidup di hati Mami. Selalulah berbuat baik kepada siapapun agar dirimu selalu di kenang dan tetap hidup di hati orang lain." Pesan Mami padaku.


"Oh, iya Ra! Mami titip semua anak-anak Mami kepadamu ya! Tolong bimbing mereka jangan sampai lalai melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka di dunia ini. Karena hidup di dunia ini tidak akan lama. Cuma sebentar. Hanya sementara saja. Dan satu lagi pesan Mami, jangan pernah menilai seseorang itu dari luarnya saja sebelum kamu tahu bagaimana dia sebenarnya." Suara Mami terdengar begitu nyaring dan terngiang-ngiang di telingaku. Membuat aku teringat sesuatu. Aku sudah berjanji akan menggantikan posisi Mami siang tadi. Kenapa aku sampai lupa. 


Aku terjaga dan melirik jam sudah pukul dua belas malam. Segera kubangunkan Bang Ega agar mau mengantarkanku kembali ke kamar Mami. Aku menjadi merasa tidak enak kepada Mami karena sudah melupakan tujuan awalku datang ke sini hanya untuk merawatnya. Kenapa aku malah enak-enakan tidur di kamar orang lain. Aku benar-benar merasa menyesal.


Sesampainya di kamar Mami. Ku lihat Sobirin dan Sabrina sedang ikut tertidur juga. Segera ku hampiri Mami di atas ranjangnya. Dan setelah ku amati dengan jelas, sepertinya ada yang tidak beres dengan Mami. Cepat kubangunkan Sobirin dan Sabrina agar ikut melihatnya.


Dengan cepat, Sobirin segera menghubungi petugas Rumah Sakit yang berjaga agar memeriksa keadaan ibundanya. Setelah petugas medis itu tiba dan memeriksa Mami, dia menyimpulkan bahwasanya Mami sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mami sudah pergi untuk selamanya, seperti bayangan yang selama ini menghantui pikiranku sekarang menjadi kenyataan.


Rasanya, aku benar-benar tidak berdaya untuk saat ini. Sungguh tidak menyangka bahwa Mami benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


*


Ini merupakan hari ketiga setelah kepergian Mami. Perusahaan memilih untuk tutup sementara selama lima hari berturut-turut karena masih dalam keadaan berkabung.


Sedangkan aku sendiri, sudah tiga hari ini menginap di panti asuhan bersama Dewi. Selama tiga hari ini pula kami bersama-sama mengadakan pengajian untuk mengirimkan doa kepada Mami.


Khusus untuk hari ini, kami sedang menyiapkan sesuatu jamuan untuk menyambut tamu dari luar negeri. Bang Ega rencananya akan datang bersama kerabatnya dari Singapura hari ini untuk menikahi Dewi secara resmi. Dia benar-benar mau bertanggung jawab sepenuhnya dan mau menerima Dewi apa adanya. Dia memang benar-benar merupakan sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan setia. Aku sangat senang melihatnya.


Sedangkan Bang Johar sendiri belum bisa ikut hadir di sini. Dia harus lebih semangat lagi untuk melawan penyakit yang dia derita. Kata dokter, dia harus menerima banyak support oleh orang-orang terdekat agar dia cepat pulih kembali. Dan aku menjadi orang yang nomor satu dan paling terdepan untuk mendukungnya agar dia cepat sembuh seperti sedia kala. Tak lupa, di saat acara kirim doa kepada Mami, ku selipkan juga doa spesial untuknya agar dia segera sembuh dan bisa datang ke sini untuk menjemputku.


*

__ADS_1


"Ra! Yara....Kudengar suara Indah memanggil dari arah luar kamarku. Dengan setengah sadar aku segera bangkit dan membukakan pintu untuknya.


" Apa?"


"Kamu di telepon Pak Asiong."


"Ha....Untuk apa?" tanyaku kaget dan langsung siuman dari rasa kantuk tadi. Soalnya, ini pertama kali Pak Asiong menghubungiku. Dia merupakan HRD di tempat ini dan beberapa cabang perusahaan lainnya. Termasuk hotel tempat Amel bekerja.


"Nggak tau. Kenapa nomor kamu tidak aktif?"


"Hmmm....Biasa, waktu istirahat."


"Udah, cepetan turun sana. Pak Gontro sudah menunggu kamu di bawah."


"Ha....Untuk apa?"


"Udah turun aja dulu. Soalnya aku juga tidak tau."


Setelah mencuci muka dan sikat gigi, aku bergegas berganti pakaian. Tak lupa ku semprotkan parfum banyak-banyak agar tidak ketahuan aku belum mandi.


Pak Gontro membawaku menuju sebuah hotel salah satu milik perusahaan. Di sana aku menemui tiga orang wanita remaja sedang di sekap oleh orang tidak di kenal.


"Sudah berapa lama kalian di sini?" tanyaku pada mereka.


"Sudah dua bulanan, Kak," jawab salah satu dari mereka takut-takut.


"Udah diapain aja kalian rupanya?" tanyaku lagi dengan logat khas Medan. Karena ketiga narasumber juga berasal dari sana. Biar terasa lebih akrab dan lebih dekat, tidak ada salahnya jika aku pakai saja gaya bahasa daerah.


"Sudah ditidurin, Kak!"


"Ya ampun, Dek...Dek! Kok maulah kalian?"


"Kami di paksa, Kak."


"Jadi, kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Apa mau kalian kakak dampingi buat melapor ke kantor polisi?"


"Jangan, Kak! Jangan." Salah satu dari mereka terlihat menangis.


"Kenapa?"


"Takut viral, Kak. Nanti cowokku di kampung tau kalau aku sudah ternoda," ucapnya terbata-bata.


"Jadi, mau bagaimana lagi? Kalau di kasi ongkos untuk pulang, Mau?"


"Kalau bisa janganlah, Kak. Kami malu kalau pulang sekarang. Kalau ada, maulah kami kerja di sini dulu. Kerja apa aja pun jadi, asal halal."


"Dek....Dek. Lugu-lugu kali lah kelen jadi orang."


Persis seperti kata pepatah. "Patah tumbuh hilang berganti. Mati satu tumbuh seribu."


Sekarang, tugas dan tanggung jawabku yang sebenarnya baru saja akan di mulai....

__ADS_1


            *****Selesai*****


__ADS_2