PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Mengulang Masa Lalu


__ADS_3

Aku masih diam. Semakin merasa muak mendengarkan manis mulut wanita ini.


"Ra! Kamu dengar Mami ngomong kan?" Aku masih acuh tak acuh dan fokus memainkan ponselku.


Tak putus asa sampai di situ, Mami terus saja menasihatiku dengan berbagai alasan. Tapi aku masih diam saja. Tetap tak peduli dengan semua ucapannya. Berkali-kali dia bertanya 'kamu kenapa?' Tapi aku tetap tak bergeming sama sekali untuk menanggapinya.


"Eh, ternyata Mami di sini? Dari tadi juga di cariin." Dewi masuk ke kamarku.


"Kamu udah ibadah?" tanya Mami padanya.


"Sudah, Mi. Baru saja selesai."


"Dasar munafik," gumamku bersungut-sungut. Tapi masih bisa terdengar oleh mereka.


"Lho, masih ngambek, Li! Belum move on juga dari yang tadi malam?" Dewi kembali meledekku. Tidak, dia bukan meledek. Dia hanya bertanya, tapi aku merasa pertanyaan itu seperti meledekku. Aku makin kesal dengan wanita-wanita munafik ini.


"Memangnya, Yara kenapa tadi malam?"


"Gini Mi, ceritanya...." Dewi menceritakan kronologi kejadian malam tadi kepada Mami. Mami yang memang dituakan dan sangat di hormati di tempat ini hanya menyimak penuturan Dewi. Hingga sampailah Dewi bercerita tentang aku yang terbawa perasaan dan merampas benda yang sedang mereka gunakan. Kalau tidak salah, Dewi tadi menyebutnya dengan ' Bong'.


"Yara ikut makainya?" tanya Mami nggak percaya. Dewi mengangguk meyakinkan.


"Ya Allah, Ra! Apa yang sudah kamu lakukan? Pantas saja hari ini kamu susah di bilanginnya!" seru Mami padaku.

__ADS_1


Tak tinggal diam, karena merasa sudah terpojokkan kembali seperti malam tadi, aku membela diri. "Nggak usah sok munafik kamu, Wi! Pura-pura baik di depan orang-orang. Padahal kamu sendiri juga ikut melakukannya!" bentakku berapi-api.


"Hahahaha..." Dia menertawakanku. "Lia...Lia..., kok sifat lugumu itu belum hilang juga, sih?" ucapnya terkekeh. "Aku itu cuman ekting, tau! Biar mereka senang kalau aku bersedia menuruti kemauan mereka. Bukankah mereka mau membayar kita hanya sebagai hiburan saja. Tak lebih dari itu. Jadi tugas kita itu cukup hanya membuat mereka merasa terhibur saja agar mereka senang. Nggak usah sok kebaperan segala, deh," ucapnya sinis membela diri.


"Ngeles," jawabku tak mau kalah.


"Dasar bloon," balasnya lagi. "Buktinya aja, kenapa aku nggak mabuk, coba? Nggak seperti kamu, untuk bangkit aja susah."


Iya juga, sih. Kelihatannya Dewi seperti biasa saja. Tetap terlihat segar bugar dan bersemangat. Tak seperti diriku yang mungkin saat ini terlihat murung dan lesu.


"Oh, iya Mi. Hari ini Mami jadwal ke panti, kan? Dewi nitip ya!" Ku lirik Dewi mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Seperti amplop berwarna putih dan memberikannya pada Mami.


"Kamu tidak ikut?"


"Tidak dulu, Mi! Dewi mau istirahat dulu. Nyiapin tenaga untuk nanti malam. Katanya orang yang tadi malam itu mau dateng lagi. Kan lumayan, Mi! Sesekali dapat tamu sultan seperti tamu Mami!"


"Itu aja di ajak, Mi! Supaya jangan baperan jadi orang." Perintah Dewi pada Mami sembari menunjukku dengan mengerucutkan bibirnya yang seksi. Seksi, sih. Tapi banyak bacot, nyinyir.


"Kamu mau, Ra? Menemani Mami? Nanti kita jalan-jalan sekalian. Belum pernah kan' kamu keliling Kota Batam?"


Aku yang mendengar tawarannya tergiur juga. Apalagi, selama di kota ini aku belum pernah bepergian kemana-mana. Tidak pernah ada yang mau mengajakku bepergian. Padahal aku lihat, mereka sering bepergian beramai-ramai bahkan melancong hingga sampai ke luar negeri, seperti Singapore atau Malaysia misalnya.


Tapi, iyalah. Siapa juga yang mau mengajakku. Selama ini kan' gajiku memang tidak seberapa. Itupun sebagiannya harus aku kirim buat bayar hutang yang masih menumpuk di kampung. Hampir setiap hari, ada aja yang datang menagih hutang sama ibuk. Sedangkan Bang Diki sendiri belum tau kabarnya ada dimana. Mudah-mudahan lebih baik dia mati saja, sudah. Biar statusku bisa lebih jelas. Tidak seperti sekarang ini, di gantung.

__ADS_1


"Kamu mau, Ra?" Mami kembali menawariku.


Aku mengangguk setuju. Kapan lagi juga ada seseorang yang mau mengajakku jalan-jalan. Apalagi perginya sama Mami yang terkenal baik dan juga dermawan. Pasti dia yang akan mentraktir semuanya. Jadi, aku hanya tinggal duduk manis saja.


*


Kami sampai di sebuah yayasan atau panti asuhan. Di sana sudah banyak anak-anak kecil yang berkumpul. Sepertinya mereka sudah tau bakalan ada tamu yang datang untuk mengunjungi mereka. Kami juga di sambut oleh beberapa pembina yayasan ini, mungkin.


Tadinya aku pikir kami akan pergi naik becak. Tapi ternyata pikiranku salah. Kami datang ke sini naik mobil. Dan aku tidak menyangka kalau Mami bisa nyetir juga. Walaupun mobil ini aku tau merupakan mobil inventaris dari perusahaan. Tapi setahuku, hanya pak Gontro yang sering membawanya. Pak Gontro itu kepala keamanan  di tempat aku bekerja. Tapi bukan kepala sekuriti, melainkan kepala preman. Soalnya dia nggak pernah pakai seragam sekuriti.


Setelah turun dari mobil, Mami memberikan beberapa parcel jajanan dan pakaian untuk anak-anak. Tadi kami singgah-singgah juga di jalan untuk shoping. Aku sendiri juga ikut memilih pakaian-pakaian yang kami bawa itu. Abis pakaiannya lucu-lucu, sih. Menggemaskan. Walaupun kebanyakan yang aku pilih hanya pakaian anak laki-laki yang berkisaran untuk anak empat atau lima tahunan. Aku berkhayal Riki lah yang akan memakainya. Apa ya kabar Riki di sana? Kapan aku bisa mengajaknya jalan-jalan dan membelikan pakaian yang banyak untuknya. Sungguh, aku sangat merindukannya sekarang.


Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu di panti. Mami terlihat sangat sayang pada anak-anak itu. Terlihat dia sangat antusias dalam menghibur dan memberi semangat pada anak-anak yang ada di sana. Padahal bukan anak dia juga. 


"Kamu tau, Ra! Kenapa Mami sering datang ke sini?" Aku menggeleng, karena dia belum pernah cerita juga. "Dulu anak Mami pernah tinggal di sini juga."


"Lho, anak Mami pernah tinggal di Batam? Bukannya Mami bilang tinggal sama neneknya di pulau jawa?"


"Iya, itu dulu waktu Mami masih punya suami. Tapi setelah suami Mami pergi dengan perempuan lain meninggalkan Mami dan anak-anak. Mami harus kerja cari nafkah sendiri. Jadi, Mami memutuskan untuk menitipkan anak-anak di sini untuk sementara, sampai Mami punya uang yang cukup untuk mengantar mereka pulang kampung ke pulau Jawa," ucapnya dengan haru dan menitikkan air mata.


Aku memegang pundaknya untuk menguatkan. Ternyata Mami korban pelakoran juga. Memang di mana-mana pelakor itu selalu saja meresahkan. Aku juga tidak menyangka bahwa Mami memiliki masa lalu yang kelam. Aku menjadi merasa bersalah karena sudah terlalu abai padanya siang tadi. Aku benar-benar menyesal dengan sikapku sendiri. Seperti seseorang yang tidak tau berterima kasih, padahal sudah banyak di bantu.


"Maafkan Yara, Mi! Tadi sempat berburuk sangka sama Mami," ucapku tulus dan ikut menangis dengannya. Ya, sekarang kami sama-sama menangis dalam mobil yang belum bergerak dari parkiran Panti Asuhan. Meratapi masa lalu kelam yang sulit untuk di lupakan. Kenapa laki-laki selalu berbuat egois dan sesuka hati pada wanita?

__ADS_1


Apa karena mereka pikir wanita itu lemah?


*****


__ADS_2