
" Ya udah, Dek! Nanti kalau masih ada yang datang, kasi aja nomor kakak! Biar urusannya sama kakak aja!"
"Iya, Kak," jawabnya dari seberang sana. "Masih ada lowongan di sana, Kak?"
"Untuk siapa?"
"Untuk Ambang. Nyuci piring atau jaga parkir pun, jadi."
"Kamu nggak sekolah?"
"Bentar lagi 'kan lulus-lulusan. Ini sudah ujian akhir. Biar bisa bantu kakak."
"Udah, nggak usah. Kamu fokus aja lanjut sekolah! Susah nyari kerjaan kalau tidak punya ijazah. Masalah biayanya biar nanti kakak yang kirim. Pokoknya kamu harus fokus belajar." Aku tegaskan padanya, jangan sampai dia putus sekolah sepertiku, hanya sebatas lulus SMP.
Setelah lama mengobrol dengannya, terdengar suara ibuku dan Riki baru saja pulang dari rumah orang tuanya Bang Johar.
"Ini Mamak, Kak! Mau cakap?"
"Iya."
Lama aku mengobrol dengan ibuku. Tak lupa kutanyakan juga kabar majikan tempatnya bekerja. Apakah mereka baik-baik saja? Bagaimana perlakuannya pada ibu dan Riki hari ini? Dan banyak lagi tentang keseharian calon mertuaku itu. Padahal, selama ini aku tak pernah bertanya sama sekali.
Tidak ada salahnya juga 'kan, jika aku mempelajari sifat dan karakter mereka dari sekarang. Agar nanti, saat Bang Johar kembali, aku dapat memutuskan jalan mana yang akan aku pilih.
*
Tak terasa, waktu terus berlalu. Hari-hariku kini terasa semakin ceria, sebab selalu saja ada yang menghiburku dari sana. Walaupun dari kejauhan, tapi terasa sangat dekat di hati. Ini sudah memasuki bulan kesepuluh Bang Johar berlayar menaklukkan lautan luas. Berarti dua bulan lagi, dia akan kembali ke sini untuk menjemput hatinya yang tertinggal. Kadang aku tersenyum sendiri jika mengingat kekonyolan calon imamku itu.
Dia juga senantiasa memberi kabar, di permukaan laut mana saja mereka sedang melintas. Dia juga mengirimkan banyak foto dan video tempat-tempat menakjubkan yang dia lihat. Termasuk memamerkan kemewahan kapal pesiar tempat dia mencari Dollar.
Aku yang melihat itu, terkadang merasa iri. Bahkan, ada kalanya sampai merasa bete karena sudah di suguhi pemandangan eksotis seperti itu, dan pada kenyataannya, aku hanya bisa melihat dari layar ponsel saja.
__ADS_1
"Makanya, Yara ikut sama abang saja. Kita mengarungi lautan samudra bersama. Supaya Yara tau bagaimana kenyataan yang sesungguhnya." Dia merayuku saat aku mulai sewot.
Memang, sih. Bang Johar tidak hanya mengirimiku pemandangan yang eksotis saja. Adakalanya, dia juga mengirimkan foto atau video yang sangat ekstrim. Bagaimana detik-detik ombak yang sangat besar sedang menghantam kapal mereka. Apalagi saat hujan dan badai melanda. Sehingga kapal yang mereka tumpangi itu terombang-ambing seperti buih di lautan.
Tapi, semua itu tidak aku hiraukan. Malah aku merasa sangat tertarik saat melihat hal seperti itu, karena memang terlihat sangat menakjubkan. Adrenalinku merasa tertantang. Walaupun berkali-kali juga, Bang Johar meledekku, dengan mengatakan, 'nanti nangeess' kalau sudah ikut dengannya.
*
Karena waktunya sudah semakin mepet, tidak ada salahnya jika aku putuskan untuk meminta pendapat Mami terlebih dahulu. Biar aku memiliki sedikit waktu luang untuk berpikir dan mengambil sebuah keputusan.
"Apa? Dia serius untuk melamar kamu?" tanya Mami seperti tidak percaya.
Aku mengangguk dan tersipu malu.
Mami menatapku dengan tatapan datar sembari menyunggingkan bibir sedikit, tersenyum tapi terlihat seperti di paksakan.
Dia diam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana, Mi?" tanyaku memastikan.
Aku diam sejenak, memikirkan harus memulai dari mana. Kalau ditanya tentang apa yang aku harapkan dari Bang Johar, tentu banyak sekali. Jika aku katakan satu persatu, mungkin dalam waktu satu bulan ini belum tentu selesai. Iya kalau Mami mau mendengarkannya sampai tamat, kalau dia bosan, bagaimana?
"Apakah kau berharap mendapatkan kebahagiaan darinya?" Suara Mami memecah keheningan.
Aku mengangguk. Itu memang salah satu dari harapanku.
"Terus kau berharap, dia akan bisa membahagiakanmu?" Aku mengangguk lagi. Saat ini pun aku sudah merasa sangat bahagia sejak kehadiran Bang Johar dalam hidupku.
Setiap bulan, dia mengirimiku uang jajan sebesar lima juta rupiah. Agar aku tidak lagi bekerja sampai melayani pria hidung belang dalam kamar. Jadi, semenjak pertemuan malam itu, aku kembali ke pekerjaanku yang semula. Yaitu, hanya sekedar menemani tamu untuk minum-minum saja.
"Usiamu masih muda, Ra! Kamu berhak mendapatkan apa yang kamu harapkan. Kalau Mami setuju saja dengan semua keputusanmu! Kamu sudah dewasa dan sudah pernah menikah juga. Jadi, Mami pikir kamu sudah bisa mengambil sebuah keputusan sendiri untuk masa depanmu," ucap wanita yang sudah ku anggap sebagai ibu kandungku itu begitu saja.
__ADS_1
"Tapi, Yara datang ke sini untuk meminta pendapat, Mami!" jawabku, merasa tidak puas dengan penuturannya kali ini. Tidak biasanya Mami memasrahkan sesuatu hal kepada narasumber yang bersangkutan begitu saja tanpa mendapatkan sedikitpun arahan darinya.
"Pendapat apa yang kamu mau?"
"Ya, pendapat Mami yang lebih detail lagi."
Dia diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam untuk yang kesekian kalinya.
"Jangan Yara pikir, Mami ini merupakan makhluk yang bijak. Jangan! Sebenarnya Mami ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Mami tidak sehebat yang kamu lihat. Dan Mami juga tidak secerdas yang kalian pikir. Mami banyak melakukan kesalahan dan membuat sebuah keputusan yang tidak tepat. Jadi, apa yang Yara harapkan dari Mami?" tanyanya lagi. Merendah.
Baiklah, jika Mami memang tidak bersedia memberikan pendapatnya untukku, apa boleh buat. Toh itu menjadi haknya. Tapi, kenapa Mami terlihat aneh, seperti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ya sudah, kalau Mami tidak bersedia memberikan nasehat Mami lagi untuk Yara!" Aku bangkit dari tempatku duduk dan berdiri ingin pergi. " Yara permisi," ucapku dan segera membuka pintu untuk keluar.
"Tunggu!" Tiba-tiba saja suara Mami menghentikan langkahku. Aku membalikkan badan untuk melihatnya kembali.
"Tunggu, Ra! Mami mau cerita sedikit sama Yara. Sini duduk dulu," pintanya sembari mendekat padaku dan membawaku kembali untuk duduk di atas ranjangnya.
"Mungkin pengalaman Mami ini bisa menjadi sedikit pembelajaran untuk Yara buat ke depannya," ucapnya lagi.
Aku hanya menurut dan mengikuti keinginannya. Walaupun tadi aku sempat merasa sedikit kecewa dan bertanya-tanya dalam hati, salahku apa? Sehingga Mami tidak bersedia untuk memberikan saran dan pendapatnya kepadaku, seperti biasanya.
"Yara ingat 'kan waktu Mami pernah cerita waktu pertama kali datang ke Batam dan sampai bekerja di tempat ini?" Aku mengangguk.
"Mami juga pernah bilang kalau tidak ingin menceritakan aib mantan suami Mami itu, karena itu merupakan menjadi aib Mami juga?" Aku kembali mengangguk.
Seingatku, aku dulu memang sempat bertanya tentang hal itu, akan tetapi Mami tidak mau cerita.
"Biar Yara tau, suami yang membawa dan meninggalkan Mami di kota ini merupakan suami Mami yang kedua. Dulu, Mami merupakan seorang janda beranak satu. Anak Mami yang pertama itu laki-laki, sama seperti Yara. Tapi, suami Mami yang pertama meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Waktu itu, Mami sedang mengandung delapan bulan. Dengan peristiwa itu, Mami merasa sangat sedih dan terpukul, apalagi saat itu Mami sedang hamil tua. Tapi, di setiap kejadian pasti ada suatu hikmah yang bisa di petik. Alhamdulillah, uang santunan dari Jasa Raharja almarhum suami Mami keluar dan keluarga yang menabrak suami Mami juga mau bertanggung jawab sepenuhnya. Dari itu, Mami bisa melahirkan dengan lancar di rumah sakit dan setelah melahirkan, Mami mulai membuka sebuah usaha kecil-kecilan dengan membuka warung makanan di depan rumah dari sisa uang santunan itu. Mungkin, berkah rezeki anak sholeh, usaha Mami lumayan ramai. Sehingga sedikit demi sedikit Mami bisa menyisihkan uang pendapatan Mami untuk di tabung kembali. Mami juga bisa membeli perhiasan yang ingin Mami beli. Jadi, pada waktu itu, semua kebutuhan Mami sudah bisa terpenuhi. Sampai pada suatu hari, saat usia_Sobirin_Anak Mami, genap lima tahun, dia sudah mulai bertanya tentang dimana bapaknya karena melihat semua teman-temannya memiliki orang tua yang lengkap. Dan kamu tau, Ra! Pertanyaan itu sangat menyakitkan. Untunglah ibuku bisa menjawabnya dengan berbohong. Mengatakan kalau bapaknya sedang merantau jauh mencari uang biar bisa menyekolahkannya. Karena masih anak-anak, dia percaya," ucap wanita setengah baya itu dengan berlinang air mata.
Aku ikut terharu mendengar ceritanya itu. Cerita yang mungkin ingin dia lupakan dan buang jauh-jauh dari pikirannya.
__ADS_1
Dan aku sudah lancang untuk mengungkitnya kembali.
*****