PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Merubah Nasib


__ADS_3

Aku bangkit dan memeriksa jam di hape sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Malas sebenarnya untuk pulang ke rumah itu lagi.     


"Aku nginap di sini aja," pintaku pada ibu.


"Nggak bisa," kata ibuku. "Jangan kau ikutin emosi kau aja, kau harus ingat sama anak kau juga."


"Yara mau nyari kerja aja. Yara nggak mau pulang ke rumah itu lagi. Sudah seperti heawan perlakuannya sama Yara." Aku beralasan. Tapi, memang begitulah   kenyataannya.


"Gara-gara apa rupanya perkaranya sampai segitu?" tanya ibuku yang biasa kami panggil mamak.


Aku menceritakan semuanya, agar ibu tahu dan tak memaksaku untuk pulang ke rumah itu lagi. Adikku yang baru pulang dari bekerja sampingan sebagai tukang cuci sepeda motor di rumah teman sekolahnya, juga ikut duduk mendengarkan ceritaku.


"Kau pikirkan lagi halus-halus! Kalau kalian berpisah, siapa yang akan mengurus anak kau itu. Nggak sedih kau rasa rupanya bagaimana sakitnya nggak punya orang tua itu? Apa mau kau rupanya anakmu bernasib sama seperti apa yang sudah kau rasakan?"


Aku hanya tertunduk pilu mendengarkan perkataan ibu. Bagaimana mungkin aku menginginkan anakku bernasib sama seperti yang menimpaku. Sudah menjadi yatim sejak kecil, itu merupakan sesuatu hal yang sangat-sangat menyakitkan.


 Begitulah ibuku, jika sudah mendengar atau melihat kami berantem suami istri. Pasti dia memberi nasehat yang nggak putus-putus, sampai hatiku mencair seperti es batu diterpa cahaya sinar matahari. Meleleh.


"Pergi lah pulang kau! Nanti kemalaman. Kau pikirkan saja masa depan anak kau itu. Kalau dia sudah besar nanti, terserah kau lah mau berbuat apa. Tapi untuk sekarang, sembahku dikau untuk pulang. Kasihan sama anak kau itu, karena belum kau rasainnya bagaimana susahnya jadi janda. Sudah mamak janda, jangan pula kau juga ikut-ikutan jadi janda." Dia terus saja mengoceh panjang kali lebar.


Kali ini, air mataku luluh juga. Setelah puas menghabiskan air mata. Sekarang timbul lagi rasa bersalah dan menyesal dalam hatiku. Menyesal, kenapa aku sampai hati meninggalkan anakku seharian ini. Kenapa juga aku tega berlaku kasar padanya tadi siang dan memukulinya secara membabi buta, padahal dia tidak tahu apa-apa. Penyesalan itu terasa menyeruak di sekujur tubuhku sehingga dadaku terasa sesak untuk bernapas. Aku terburu-buru pamit ijin untuk pulang.


"Nah Kak! Buat belanja kakak besok." 


Fauzan _ adikku _ menyodorkan selembar uang kertas berwarna biru untukku.


"Nggak usah Dek, buat kebutuhan sekolah kamu aja."


"Sudah, kakak bawa aja dulu. Nanti kalau ada rejeki, baru kakak ganti," ucapnya tulus, sambil terus menyodorkan uang itu.

__ADS_1


Dengan berat hati, aku terpaksa menerimanya. Karena aku memang sangat-sangat membutuhkan uang ini.


"Makasih ya, Dek!" ucapku terharu pilu.


Baru beranjak remaja saja dan masih duduk di bangku SMP, tapi sifatnya sudah sangat dewasa. Mungkin, keadaanlah yang mengajarinya berpikir sedewasa itu. Nggak seperti laki-laki yang aku tinggalkan di rumah sana, sudah pandai buat anak tetapi sifatnya masih kanak-kanak.


Sesampai di rumah, hari sudah malam. Kulihat ruangan tamu dari luar terlihat gelap. Semua lampu terlihat mati. Apakah mereka sudah tertidur? 


Setelah pintu terbuka, segera kunyalakan saklar lampu dan menuju ke dalam kamar. Tetapi, bang Diki dan Riki tidak ada. Kemana mereka?


Aku kembali ke luar, berniat ingin memasukkan motor yang masih terparkir di halaman depan. Tiba-tiba saja seseorang berteriak mengejutkanku.


"Kemana kau seharian? Anak dititipin ke rumah orang. Kalian enak-enak keluyuran. Kalian pikir ada pembantu gratisan kalian, iya?" Mak Anto , tetangga sebelah rumahku datang sambil menggendong Riki yang sedang tertidur.


"Tapi tadi, ada Bang Diki yang ngasuh." Aku membela diri.


"Ngasuh apa? Begitu kau pergi, tak lama dia datang ke rumah nitipin anak kau. Katanya dia mau pergi sebentar keluar. Tapi, sampai sekarang belum pulang juga. Ada yang bilang, dia sedang minum-minum di kafe pinggir sungai sana. Anak nggak dikasih makan, nggak dimandiin. Sama aja kalian aku tengok laki bini. Sama-sama nggak ada outak," kata Mak Anto  mengomel.


Aku membaringkan diri di ranjang dan menatap lekat-lekat wajah Riki yang sedang terlelap pulas. Sesekali, ku kecup keningnya yang terlihat masih imut-imut itu. Ku periksa sekujur tubuhnya yang siang tadi sempat ku sakiti. Aku menemukan beberapa bekas biru lebam di bagian tangan serta pahanya. Aku kembali terisak tangis, sesenggukan. Merasa bersalah meratapi nasib anakku seharian ini, setelah ditinggal oleh ayah dan bundanya. Bagaimanakah perasaannya saat diasuh oleh orang lain?


Aku terbangun setelah mendengar suara gedoran pintu dari luar. Aku segera bangkit dan melirik jam yang sudah menunjukkan sekitar pukul satu malam. 


Setelah pintu kubuka, Bang Diki masuk dengan sempoyongan, tubuhnya beraroma bau asam khas minuman memabukkan. Membuat perutku terasa mual dan ingin muntah. Bau tubuhnya menyeruak ke seluruh isi ruangan. Bergegas aku meninggalkannya dan cepat-cepat mengunci pintu kamar dari dalam agar dia nggak bisa masuk. Aku takut jika nanti dia nekat berbuat yang macem-macem saat dalam keadaan mabuk seperti itu.


Begitulah kelakuan Bang Diki jika sedang ada masalah. Selalu saja lari dari tanggung jawab dengan cara minum-minuman keras dan mabuk-mabukan seperti anak muda yang nggak punya beban sama sekali.


Hari ini, aku sengaja bangun pagi-pagi sekali. Setelah selesai mandi dan berkemas pakaian ganti buat Riki, aku bergegas pergi sebelum Bang Diki bangun. Kuambil hapenya yang sedang dia charger di atas tivi. Begitu juga dengan jaket Ojol yang setiap hari dia pakai. Iya, aku berinisiatif untuk menggantikannya sebagai Driver Ojek Online untuk beberapa hari ke depan.


Ngapain juga aku harus terus menerus bergantung sama suami unfaedah seperti itu. Mendingan aku cari uang sendiri saja buat kebutuhanku dan kebutuhan Riki. Kalau ada lebihnya bisa aku berikan buat ibuku nanti.

__ADS_1


Sebenarnya, aku juga belum mengerti bagaimana cara menggunakan aplikasi Ojol ini. Akan tetapi, aku optimis saja dulu. Mudah-mudahan, di pangkalan Ojol sana banyak teman-teman driver yang mau ngajarin aku nanti.


Sebenarnya, pekerjaan ini sudah aku pikirkan semalaman suntuk. Setelah malam tadi, saat pulang dari rumah ibu, aku melihat seorang Driver Ojol wanita ditengah perjalanan. Aku jadi kepikiran terus. Kalau dia bisa, kenapa aku nggak? Pertanyaan itu memenuhi isi kepalaku. Makanya, hari ini tekad itu aku bulatkan untuk mencoba langsung, agar tidak hanya menjadi angan-angan saja.


Mudah-mudahan ini merupakan jalan awal yang harus aku tempuh agar bisa keluar dari belenggu yang menderaku selama ini.


"Kemana kita, Bunda?" tanya Riki saat dalam perjalanan.


"Ketempat Nenek."


"Ketempat Nenek?" tanyanya kebingungan, sambil melihat ke sekeliling jalan yang kami lintasi.


"Iya. Riki mau kan tinggal sama Nenek dulu?"


"Memang, Bunda mau kemana?"


"Bunda mau kerja dulu."


"Bunda mau kerja?"


"Iya. Bolehkan Bunda kerja, biar bisa beli es krim buat Riki!"


"Riki sama siapa?"


"Nanti, Riki sama nenek dulu. Tapi, Riki jangan nakal ya kalau Nenek pergi kerja!" Dia mengangguk. Baik budinya lah anak lanang aku ini. Dia sangat penurut, nggak seperti kemarin saat dekat sama bapaknya. 


Aku sampai ke rumah Ibuku masih sangat pagi. Sengaja aku berangkat lebih awal agar ibu belum pergi bekerja. Biasanya dia berangkat sekitar pukul delapan atau pukul sembilan pagi gitu.


Aku ingin menitipkan Riki padanya dulu untuk hari ini. Kalau Riki nggak boleh dibawa ke rumah majikannya, terpaksa ibu lah yang akan ku pinta ijin dahulu untuk hari ini.

__ADS_1


Ya Robbi, permudah lah langkah hamba ini, Ya Allah....


*****


__ADS_2