
Akhirnya Mami jadi di bawa ke Rumah Sakit. Setelah keadaannya mulai membaik, dia langsung di rujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar lagi di Singapura untuk pengobatan lebih lanjut.
Ternyata, dugaan Buk Siska benar. Mami mengidap kanker serviks stadium akhir.
Sewaktu akan di rujuk ke Singapura, Mami sempat menolak keras. Katanya, dia tidak sakit. Dia masih bersikeras dengan mengatakan kalau dia tidak apa-apa. Kami yang hadir di situ, secara bergantian membujuknya agar dia mau berobat. Kedua putra putrinya juga sudah di beritahu dan sudah datang hadir di sini untuk menjenguk.
"Mami tidak apa-apa, Ra! Mami akan baik-baik saja. Mami tidak ingin di bawa ke sana. Mami masih banyak kewajiban di sini yang tidak mungkin Mami tinggalkan," ucapnya saat giliranku yang membujuknya.
"Mami tidak usah mikirin itu dulu! Biar tugas Mami semua Yara yang gantikan untuk sementara. Yang penting, Mami fokus untuk kesehatan Mami dulu. Nanti kalau sudah sehat, baru Yara serahkan kembali pada Mami." Aku masih berusaha untuk merayunya.
"Tapi, bagaimana dengan anak panti, Ra? Mereka akan menunggui Mami setiap awal bulan. Mereka akan kecarian." Tiba-tiba kulihat dia menangis sesenggukan dengan berlinang air mata.
Aku menarik napas dalam. Salut dengan prinsip hidup Mami. Walaupun dalam keadaan kritis seperti ini, dia masih sempat memikirkan orang lain. Teringat waktu dulu pernah mendengar seorang Ustadz saat ceramah. Dia bilang, bahwasanya diakhir hayat nabi, beliau juga masih sempat memikirkan umatnya. Mudah-mudahan, Mami termasuk di antara golongan umat nabi yang beruntung. Amin.
Doaku dalam hati.
"Mami tidak usah mikirin itu dulu. Kan sudah Yara bilang, Yara yang akan menggantikan peran Mami untuk sementara. Setidaknya, sampai Mami benar-benar pulih betul." Aku masih berusaha keras untuk meyakinkannya.
"Yara, serius?" Dia menatap wajahku lekat.
Aku mengangguk sambil tersenyum kepadanya. "Yara janji akan melakukan yang terbaik demi Mami. Mami harus percaya sama Yara. Yara tidak akan mengecewakan Mami," ucapku tulus dengan bersungguh-sungguh dari hati yang paling dalam.
Kemudian, dia memelukku erat. "Mami percaya sama kamu, Ra! Mami titip anak-anak panti untukmu dulu. Maaf kalau Mami sudah banyak merepotkanmu!"
Aku menggeleng. "Tidak, Mi! Mami tidak merepotkan siapapun. Justru, kamilah yang selalu merepotkan, Mami."
*
Sudah sebulan Mami di rawat di Rumah Sakit. Dan ternyata benar, semua tugas Mami selama ini, sekarang menjadi tanggung jawabku. Mulai dari menyambut tamu hingga mengingatkan mereka untuk tetap beribadah. Kadang capek juga menasehati mereka semua. Tapi seperti pesan Mami, aku harus banyak-banyak bersabar untuk menghadapinya. Demikian juga dengan Dewi. Dengan sifatnya yang keras kepala seperti itu membuat kami sering bertengkar. Tapi, untuk yang kemarin, akhirnya dia mau menuruti permintaanku.
Dia bersedia untuk tinggal menetap di panti dulu. Sudah aku konsultasikan dengan kepala yayasan sebelumnya dan mereka setuju. Aku khawatir dengan kesehatan ibu dan anaknya jika dia tinggal di Kafe. Taulah dengan kondisi Kafe bagaimana. Sudah bising, banyak polusi dan banyak pula godaannya. Aku tidak yakin jika Dewi sanggup melewatinya jika tetap tinggal di Kafe. Makanya aku usulkan agar dia mau tinggal di panti dulu untuk sementara. Biar dia bisa merasakan ketenangan di sana.
__ADS_1
Dan syukurnya, setelah mendapat nasehat dari kepala yayasan, dia mau.
"Biar aja di sini dulu. Sambil belajar untuk dekat dan mencintai anak-anak. Biar tau juga bagaimana cara merawat mereka dengan baik dan benar. Agar saat menjadi orang tua nanti sudah tidak panik lagi dalam merawatnya," ucap Bu Hajjah menasehati.
Setelah mendengar itu, dia mau untuk tinggal. Sedih juga sebenarnya saat meninggalkannya di sana sendirian. Walaupun sifatnya keras seperti itu, tapi aku tau bahwa dia merupakan sosok seorang yang peduli. Namun cara mengekspresikan rasa kepedulian itu mungkin kurang tepat sehingga terlihat kasar. Dia ikut mengantarkan kepergianku sampai pagar. Kulihat dia masih tetap berdiri mematung, menatap kami sampai jauh. Kasihan sebenarnya melihatnya seperti itu. Tak ku sangka bahwa seorang Dewi yang terkenal galak dan barbar seperti dia punya sisi lemah juga.
Entah lah. Entah hanya aku saja yang terlalu bersimpati melihatnya.
Saat ini aku sedang berada di atas kapal feri penyeberangan Batam-Singapore untuk menjenguk Mami. Aku pergi bersamaan dengan Amel. Rencananya, aku akan menginap untuk malam ini dan malam besok di Singapore. Kangen juga sama Mami setelah satu bulan tidak bertemu. Walaupun masih sering melakukan panggilan video call, namun rasanya belum puas kalau belum bertemu langsung.
Sedangkan Amel sendiri, dia tidak ikut menginap. Dia sudah sering mondar mandir Indonesia-Malaysia-Singapure untuk urusan bisnis. Jadi dia sudah sering menjenguk Mami selama berada di sini. Hari ini, dia akan singgah sebentar untuk mengantarku saja. Setelah itu, dia akan pergi lagi karena sudah ada janji sama klien perusahaan. Hidupnya memang benar-benar enak bisa jalan-jalan gratis setiap hari. Dapat gaji lagi.
Teringat kembali seperti yang pernah Mami katakan dulu, saat dia menyuruhku untuk mengurus paspor agar bisa jalan-jalan ke Singapore. Tapi, hal itu tidak pernah aku lakukan. Dan sekarang, berkat Mami di rawat di sana, mau tak mau aku harus mengurusnya juga. Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki juga di negara itu walaupun dalam suasana yang kurang menyenangkan. Yah, mungkin kalau tidak ada kejadian darurat seperti ini, aku tidak akan pernah sampai di sana. Padahal dekat, tidak terlalu jauh dari pulau Batam.
Tapi, dengan menumpangi kapal dan mengarungi lautan seperti ini, aku kembali teringat pada seseorang. Entah di mana dia kini. Sudah beberapa minggu ini, akun sosial medianya tidak pernah aktif. Walaupun jarang berkomunikasi secara langsung dengannya, namun aku masih saja selalu kepo untuk mengintip rutinitasnya sehari-hari. Tentang apa yang sedang dia lakukan di sana. Apakah dia baik-baik saja?
Tiba-tiba saja aku merasa rindu.
Aku berdiri di pinggir kapal yang sedang berlayar untuk memandang lautan luas. Ku tinggalkan Amel yang dari tadi asyik telponan dengan pacarnya. Ku tujukan pandangan pada setiap kapal yang melintas jauh di sana, berharap salah satu kapal-kapal itu membawa Bang Johar untuk bertemu denganku di sini. Sungguh sampai saat ini tak bisa aku pungkiri bahwa aku masih menunggunya. Berharap dia datang menemuiku. Apalagi, baru kemarin uang yang setiap bulan dia kirimkan itu masuk dalam rekeningku. Jika aku bisa bertemu dengannya, tentu aku akan sangat bahagia dan akan langsung memeluknya, kemudian mencium keningnya. Memaafkan semua kesalahannya.
"Ada apa, Dek?" tanyaku setelah menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"Kakak masih tidur?"
"Nggak. Kakak lagi di jalan mau ke Singapura."
"Mau ngapain?"
"Jenguk teman sakit."
"Oh. Kakak udah dapat kabar?"
__ADS_1
"Kabar apa?"
"Kabar buruk."
"Apa?" tanyaku tak sabaran. Karena Adikku menyampaikannya dengan bertele-tele.
"Bang Diki terciduk."
"Kenapa?"
"Biasa. Kasus investasi bodong sama penipuan."
"Udah kek artis itu kasusnya. Emang barang buktinya ada berapa M?" Aku teringat kembali akan ucapan Bang Diki tempo hari saat kami sedang bertengkar. Bahwasanya dia juga pernah menyinggung uang sebanyak milyaran rupiah. Mana tau itu semua betul dan dia menyembunyikannya dariku. Karena takut aku terlalu boros dan ceroboh menggunakannya.
" M, apa? Ember iya."
"Jadi?"
"Cuma transaksinya aja, Kak! Yang di jadikan barang bukti. Udah itu, banyak juga yang laporin dia karena kasus penipuan tadi. Makanya terbongkar semua."
"Kok kau tau?"
"Ada yang datang ke sini. Katanya mereka di tunjuk polisi buat mendampingi Bang Diki di pengadilan nanti."
"Untuk apa orang itu datang?"
"Biasalah, Kak. Minta duit."
"Nggak usah kasi! Biar aja. Nggak usah di urus. Biar busuk sekalian dia di penjara. Kalau perlu, biar di penjara seumur hidup. Bilang sama pengacaranya."
Kesempatan bagiku untuk melampiaskan rasa dendam padanya. Akhirnya, dia mendapat balasan juga dari Tuhan karena sudah memperlakukan anak dan istri dengan semena-mena.
__ADS_1
Rasain kau, Bang.... Kena azab juga akhirnya.
****