
Sudah dua tahun berlalu sejak perjanjian dengan Bang Johar itu batal bertemu, namun sampai sekarang dia tak kunjung kembali. Walaupun uang jajan yang dia kirimkan setiap bulan hingga kini masih tetap berjalan, namun hubungan komunikasi antara kami sudah tidak begitu lancar lagi seperti yang dulu.
Dia pun berbuat sama, sepertinya sudah mendapatkan pengganti yang lain di sana. Selama dua tahun belakangan ini, kami hanya berbicara sekedarnya saja. Hanya bertanya tentang kabar atau saling berbalas komentar saja. Sudah tidak ada lagi kata-kata manis tapi palsu yang kami ucapkan sebagai penyemangat hidup. Seperti sudah makan, sudah mandi, sudah shalat, lagi ngapain dan lain-lain sejenisnya. Walaupun kini hari-hariku terasa kosong dan sepi.
Untung ada Riki yang selalu memberi semangat padaku, Bundanya. Sekarang dia tumbuh besar, sudah duduk di kelas dua sekolah dasar. Beberapa giginya pun sudah mulai ada yang rontok. Kadang saat melakukan panggilan video call, dia terlihat sangat lucu dengan gigi depannya yang ompong. Seperti kakek-kakek.
Sedangkan adikku sudah remaja sekarang, sebentar lagi dia akan menjadi seorang mahasiswa dan pengusaha muda. Dia sedang merintis usaha bengkel otomotif di depan rumah. Dulu, sewaktu dia katakan tidak ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA, aku mengiriminya uang sebagai modal untuk buka usaha sampingan di rumah. Uang kencan yang di berikan Bang Johar pada waktu itu, aku serahkan padanya. Karena dia sudah terbiasa bekerja sebagai tukang cuci motor, maka usaha itulah yang aku suruh untuk dia buka sendiri. Alhamdulillah, selama tiga tahun belakangan ini, berjalan dengan lancar.
Untuk itu, dia berencana ingin menambah usaha lagi dengan membuka bengkel otomotif sebagai hobi dan sekaligus pekerjaan. Dia juga ingin memperdalam ilmunya secara akademik dengan mendaftar di universitas negeri dengan jurusan yang sama. Aku sangat senang mendengar kemajuan yang dia capai. Mudah-mudahan dia bisa menjadi kebanggaan untuk keluarga kami kelak.
Sedangkan ibuku, sudah tidak bekerja di rumah orang tuanya Bang Johar lagi. Sejak memutuskan hubungan untuk yang pertama kalinya dengan Bang Johar, aku menyuruh ibuku berhenti bekerja di rumah orang tuanya juga. Pada waktu itu, aku memang benar-benar ingin memutuskan hubungan dengannya dalam bentuk apapun. Walaupun terlihat egois memang, tapi aku sudah terlanjur kecewa berat padanya.
"Makanya, Li! Tidak usah ke baperan jadi orang. Biasa aja. Semua laki-laki itu sama aja. Sayang karena ada maunya." Berkali-kali Dewi meledekku seperti itu.
Sedangkan dia sendiri, masih berhubungan baik dengan_Ega_temannya Bang Johar waktu itu. Menurutnya, Ega juga mengirimi uang setiap bulan untuknya. Tapi aku tidak tau berapa jumlahnya. Untuk itu, dia masih mau berkomunikasi dengan Ega sampai sekarang.
"Kalau nggak ada duitnya, untuk apa aku mau melayaninya ngobrol lama-lama. Cuma buang-buang waktu aja. Bagusan aku tidur." Alasannya saat aku bilang dia bucin juga.
Sedangkan Mami, akhir-akhir ini sering sakit-sakitan. Mungkin karena usianya yang sudah tidak lagi muda dan sering bergadang sampai pagi membuat daya tahan tubuhnya jauh berkurang. Dia juga tidak mau jika di suruh berobat atau sekedar memeriksakan diri pada Dokter langganan kami yang rutin datang ke sini untuk memeriksa kesehatan kami.
Seperti malam ini, Mami drop lagi. Sehingga kami harus bergantian untuk menyambut para tamu yang datang. Biasanya, aku yang sering mereka sodorkan untuk menyambut para pria hidung belang itu. Selain usia yang lebih tua, aku juga masih yang paling baru di sini. Sehingga, mereka tidak segan-segan untuk menyuruhku. Sejak kedatanganku ke sini, sudah tidak ada lagi wanita yang tertipu atau menyasar ke tempat ini. Akupun tidak tahu penyebabnya. Entahpun itu karena faktor pandemi yang tidak berkesudahan, sehingga ruang lingkup pergerakan manusia jadi jauh berkurang.
"Ada apa, Om? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dewi ramah pada pengunjung pertama yang datang. Tak biasanya dia seperti itu. Biasanya, kalau dia sudah maju duluan, pasti lagi butuh banyak uang. Kalau sudah butuh banyak uang, dia lebih mudah tersinggung dan terpancing emosi. Mungkin isi dalam kepalanya hanya ada uang, uang, uang dan uang saja.
"Tiga ratus aja, Om! Sampai keluar. Sudah murah itu, Om! Ini pun karena sedang mepet aja. Kalau tidak, untuk pelanggan pertama, biasanya kami banderol lima sampai enam ratus, Om." Suaranya terdengar keras meyakinkan tamu yang masih berada dalam mobil itu.
"Kalau dua ratus, nggak bisa lah, Om! Buat perawatan behelku aja masih kurang kalau segitu. Belum lagi beli skincarenya. Oom kira murah, apa?" Aku tersenyum dalam hati saat mendengar gaya bicaranya yang sudah mulai kasar.
"Ya udah, Om! Cari tempat lain aja. Besok-besok kalau nggak ada uang jangan sok-sokan mau jajan ke sini. Mau enak kok minta murah. Minta tuh sama orang rumah," teriaknya setelah mobil itu mulai berjalan menjauh.
Kami yang masih komplit berkumpul tertawa melihat aksinya itu. Begitulah bentuk hiburan untuk kami sehari-hari. Ada saja tingkah laku dari teman-teman yang selalu terlihat konyol dan aneh-aneh.
__ADS_1
"Besok-besok bisa bangkrut tempat ini kalau pelayanannya seperti itu, Wi!" seru Ratna meledeknya.
"Iya, kesel banget aku melihatnya. Udah capek-capek melayani dengan beramah tamah, eh tak taunya malah nawar sampai separuh. Bete nggak kek, gitu!" jawabnya masih dengan nada kesal.
"Lagi datang bulan apa? Kau, Wi? Kok marah aja bawakannya?" Ledek Ratna lagi.
"Datang bulan apaan! Malah udah telat tiga bulan, nih!"
"Kok bisa?"
"Itulah aku nggak tau. Makanya aku stres banget, nih!" serunya dengan nada frustasi.
"Kamu nggak pakai pengaman?"
"Mas itu nggak mau pakai pengaman. Katanya kalau hamil, dia mau tanggung jawab," ucapnya sembari menutupkan ke dua telapak tangan ke wajah dan duduk menunduk.
"Mas yang mana, sih?"
Yang lain ikut bertanya-tanya.
"Apa Mas yang ganteng kamu bilang itu, ya?" tanya Ratna lagi.
Dia mengangguk.
"Kok bisa, sih kamu seceroboh itu? Katanya nggak mau bucin. Sekarang malah kamu sendiri yang ngebucin." Akhirnya aku bersuara juga. Ikut terpancing juga dengan ke bodohannya. Kok dia bisa percaya begitu saja dengan laki-laki yang tidak begitu di kenal.
"Jadi, Mas itu bilang apa?" tanya Ratna lagi.
"Dia bilang suruh di gugurin, tapi pakai uang aku dulu."
"Kamu mau?"
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi?"
"Tapi dia bilang mau tanggung jawab?"
"Itu dulu, sekarang sudah tidak mau mengaku lagi."
"Udah kamu bilangin baik-baik?"
Dia mengangguk. "Sudah, dia bilang jangan menghubunginya lagi. Takut ketahuan sama istrinya."
"Ya ampun, Wi...Wi...! Kok bisa, sih kamu percaya sama suami orang."
"Aku nggak tau, Li! Kalau dia sudah punya istri. Baru-baru ini saja aku tau kalau dia sudah punya anak dan istri. Mana istrinya terlihat galak, lagi."
"Kok kamu tau?"
"Aku udah bayar orang untuk melacak lokasinya. Aku juga sudah samperin dia ke rumahnya. Makanya dia panik. Cuma istrinya tidak tau kalau aku datang mau minta tanggung jawab sama suaminya."
"Ya ampun, Wi! Berani amat kamu ngelakuinnya," ucap Ratna bersimpati sembari mengelus-elus rambutnya yang di cat berwarna kekuningan.
"Jadi, bagaimana?" tanyaku lagi.
"Ya, digugurin dulu. Jadi, mau diapain lagi?"
"Bahaya lho, Wi! Itu efeknya ke saraf, tau!" Aku mencoba mengingatkan. Karena pernah juga baca masalah begituan bisa berefek ke saraf dan bisa membuat seseorang yang melakukannya mengalami depresi berat hingga bunuh diri.
"Jadi, mau gimana lagi, coba? Kalau di biarin janinnya tumbuh besar, itu juga bisa nyerang mental aku. Ini aja aku sudah stres banget, tau!" Dia menyalakan sebatang rokok yang sedang di pegangnya. Menyesap asapnya. Padahal benda itu tidak baik untuk janin.
Kami semua yang berada di situ ikut merasa stres dan prihatin atas musibah yang sedang menimpanya. Walau bagaimanapun buruk perangainya selama ini, tapi dia merupakan teman kami juga. Kami bisa ikut merasakan apa yang sedang dia rasakan. Karena nasib kami sama.
*****
__ADS_1