PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Terjerat Hutang


__ADS_3

"Ya udah, nggak apa-apa. Biar nanti mamak bawa aja. Kasihan kalau ditinggal sendiri di rumah. Malah jadi pikiran pula nanti," jawab ibuku setelah kami sampai dan kuberitahu maksud dan tujuanku datang ke sini.


Tadinya, aku usulkan agar Riki ditinggal sendiri aja di rumah. Nanti, sesekali akan aku lihat saat belum ada orderan. Tapi, kata ibuku lebih baik dia bawa saja ke rumah majikannya, di sana pun memang nggak ada siapa-siapa.


Majikan ibuku sama-sama bekerja di kantor kecamatan. Sedangkan anak-anaknya sudah pada besar dan sudah berkeluarga juga. Hanya tinggal satu orang lagi yang belum menikah, itupun sudah kerja juga. Kalau tidak salah, dia bekerja di perkapalan yang jarang sekali pulang ke kampung sini.


"Jangan nakal ya sama nenek!" pesanku pada Riki sebelum aku pergi.


"Bunda, nanti pulang bawa es krim ya!" pintanya. Aku mengangguk dan mencium kedua pipinya.


"Doain Bunda ya, sayang! Dadaaa...."


*


Aku sampai di tempat biasa Bang Diki mangkal. Sebuah warung nasi yang sekaligus tempat berkumpulnya para driver Ojol. Beberapa wajah mereka memang nggak begitu asing bagiku, tapi nggak begitu juga aku kenal. Walaupun Bang Diki sering menyebutkan nama mereka satu persatu saat berpapasan di jalan, namun aku nggak begitu hapal.


"Diki mana, Kak? Kemarin nggak narik," tanya salah satu dari mereka saat aku baru saja turun dari motorku.


"Lagi nggak enak badan, Bang."


"Ah, Diki modus aja itu Kak," seloroh yang lain.


"Oh, iya Bang. Boleh kan aku yang gantikan dia dulu buat sementara?"


"Aman itu, Kak. Cuman kakak ambil makanan aja ya, Kak!" Saran mereka. 


Aku hanya mengikuti anjuran mereka saja. Maklumlah karena masih anak baru juga. Harus kalem dan nurut sama senior. Apalagi mereka juga terbilang ramah- ramah. Mereka nggak keberatan saat aku minta diajarin cara menggunakan aplikasinya. Walaupun jantungku sebenarnya dag... dig... dug... serrrrr.., sih karena merasa grogi.


Dari tadi, orderan yang masuk ke ponselku lumayan banyak. Baru setengah hari saja aku sudah mengantongi puluhan ribu rupiah, bahkan sudah hampir mencapai ratusan ribu rupiah. Lumayanlah buat memenuhi kebutuhan untuk esok hari.


Walaupun terasa lelah di badan, tapi bagiku itu bukanlah apa-apa. Soalnya, lebih capek lagi kalau harus meminta dan mengemis uang sama Bang Diki yang belum tentu mau memberi begitu saja. Sebelum dia puas merendahkan, mencaci-maki, menyumpah serapah serta mengungkit-ungkit kembali apa yang telah dia beri.


"Nasi satu ya, Uni!"


"Pakai apa nih?"


"Dencis aja, deh. Sambalnya yang banyak ya!"


Saking asyiknya mengantar orderan pelanggan yang masuk, aku sampai melewatkan jam makan siang. Mungkin masih merasa kemaruk karena baru kali ini bisa memegang uang sebanyak ini. Apalagi jerih payah sendiri.

__ADS_1


Saat baru saja menikmati nasi padang buatan Uni Anik, aku teringat lagi pada Bang Diki. Apakah dia sudah makan di sana apa belum? 


Sedangkan aku sendiri nggak meninggalkan uang sepersen pun untuknya tadi. Bagaimana kalau dia belum makan dan kelaparan? Berdosakah aku sebagai istri berbuat seperti ini padanya? Apakah aku termasuk istri yang durhaka? Hatiku berkata-kata dan merasa begitu bersalah.


Mengingat kebaikan yang pernah dia perbuat selama ini. Waktu awal-awal menikah dulu, Bang Diki selalu saja membawakan makanan untukku. Apalagi saat kami baru pindah ke rumah kontrakan, sedangkan sebiji perkakas dapur pun belum punya. Setiap hari dia selalu membawakan sebungkus nasi padang untuk kami santap berdua, dimakan bersama-sama. Sungguh sangat-sangat romantis perasaanku waktu itu. Walaupun porsinya sedikit. Entah kenapa, itu sangat mengenyangkan bagiku.


Dan sekarang, saat dia sedang kelaparan di sana. Bersalah kah diriku jika hanya mengabaikannya saja?


Seribu tanda tanya dan rasa bersalah berkecamuk di pikiranku. Apakah aku harus mengalah dan melupakan sakit hatiku yang sudah dia gores kan kemarin dan kembali seperti semula lagi?


"Kenapa Mbak? Kok melamun." Suara Uni Anik menyadarkanku.


"Nggak apa-apa, Uni." 


"Oh, Uni kira tadi kenapa-napa?"


"Nggak, Uni. Yara baik-baik saja, kok," ucapku meyakinkan. " Oh, iya Uni. Yara pesen satu bungkus lagi ya, buat dibawa pulang!"


"Sekarang, apa nanti Mbak?"


"Sekarang aja, Uni. Sekalian hitung ya, semuanya!"


Setelah selesai makan, aku segera menghampiri Uni Anik untuk mengambil pesananku tadi dan membayarnya. Aku ingin cepat-cepat pulang dulu mengantar makanan ini untuk Bang Diki. Biar nanti bisa narik lagi. Kan lumayan kalau masih bisa menghasilkan sepuluh atau dua puluh ribu lagi sebelum petang.


"Haaa." Mataku melotot kaget mendengar tagihan yang di katakan Uni Anik barusan.


"Semuanya kan?" Dia memastikan kepadaku dan menghitung-hitung kembali buku catatan yang ada dihadapannya.


Aku hanya bisa bengong melihatnya. Nggak menyangka kalau Bang Diki punya hutang sampai sebanyak itu di warung ini.


"Boleh lihat catatannya, Uni!" pintaku.


Uni Anik menyodorkan buku catatan itu kepadaku.


Ya ampun, kenapa banyak sekali hutang Bang Diki di sini. Aku sampai pusing melihatnya.


"Besok aja ya Uni, tagih sama Bang Diki aja. Soalnya, Yara nggak tau dia punya hutang sebanyak itu." Aku merasa sangat malu dan nggak enak sama uni Anik jadinya. Tapi kalau mau aku bayarkan pun, uang penghasilanku hari ini saja masih belum cukup.


"Iya, nggak apa-apa. Tapi, tolong nanti di ingetin ya sama Diki, soalnya Uni segan kalau harus nagih tiap hari."

__ADS_1


"Iya, Uni, nanti Yara bilangin."


Aku sampai di rumah dengan membawakan sebungkus nasi padang buat Bang Diki. Sebenarnya, aku sudah malas mau pulang kesini setelah mengetahui dia punya banyak hutang di warung Uni Anik tadi. Tapi, karena nasi padangnya sudah sempat aku pesen, jadi nggak enak kalau mau dikembalikan lagi.


Aku masuk kerumah dan meletakkan bungkusan tadi di atas meja. Kulihat Bang Diki masih rebahan santai dalam kamar sambil bermain hape yang aku tukar dengan hape milikku tadi pagi. Padahal, ini sudah hampir jam dua siang, dia belum makan sama sekali. Benar_benar aneh manusia satu ini, dia bisa kenyang hanya dengan bermain hape saja.


Setelah meletakkan bungkusan tadi, aku kembali pergi meninggalkannya tanpa menegur sedikitpun. Jijik rasanya aku melihat tingkah lakunya itu yang nggak punya pikiran sedikitpun. Kenapa lah dulu aku mau kawin sama dia. Aku merasa sangat-sangat menyesal.


Tak lama setelah meninggalkan rumah, ada orderan lagi yang masuk. Segera aku bergegas untuk mengerjakannya. Betapa senang rasanya hatiku bisa menghasilkan uang sendiri dan bisa bebas keluar dari rumah itu.


*


"Diki mana? nggak masuk lagi?" tanya seseorang yang baru saja datang ke warung Uni Anik. Postur tubuhnya besar tinggi dan memakai jaket kulit berwarna hitam yang sudah retak-retak.


"Nggak, kenapa?"


"Belum bayar dia utangnya yang kemarin. Katanya, dia mau bayar hari ini. Brengsek kali tuh anak," ucap lelaki itu kesal.


Aku hanya diam mendengarkan celotehnya. Nggak berani berkata apapun. Takut kalau dia akan menagih hutang Bang Diki kepadaku.


"Ini ada motornya! Mana dia? Apa sembunyi dia di dalam?" selidik orang itu sembari turun dari motor besar yang dia tunggangi, masuk ke dalam warung.


"Woi, Dik. Keluar kau" teriaknya.


"Ada apa Bang, nyariin Bang Diki?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Kakak siapa?"


"Ini istrinya Diki, dia yang narik hari ini." Uni Anik yang menjawab.


"Diki mana Kak? Kok dua hari ini nggak narik?"


" Lagi nggak enak badan, Bang!" Aku beralasan.


"Minta tolong lah ya, Kak. Bilang sama dia lunasin utang-utangnya dulu. Soalnya aku lagi butuh duit ini, Kak! Sudah bolak balik aku ditipuin sama si Diki itu, Kak! Katanya mau bayar hutang tapi nggak jadi-jadi dia transfer." Si abang itu malah curhat.


" Memang hutangnya Bang Diki berapa, Bang?"


"Ada dua juta Kak. Sudah tiga kali minjem dia tapi nggak pernah dibayar. Jadi, totalnya sudah tiga juta sama bunganya."

__ADS_1


Ya Tuhan betapa terkejutnya aku mendengar hutang bang Diki begitu banyak. Satu hari ini saja sudah dua orang yang mengadu padaku. Padahal selama ini, dia sendiripun nggak pernah terlihat memiliki uang berlebih sama sekali. Kemanakah uang itu dia habiskan?


****


__ADS_2