
"Oh itu ya! Yang kemarin. Anu...." Dia terlihat gugup.
"Tadi siang 'kan kamu pergi seharian sama Mami. Aku jadi lupa memberinya. Kamu juga, sih. Tidak mengingatkan." Dia beralasan. Padahal tadi siang, sudah jelas-jelas dia sempat masuk ke kamarku untuk menitipkan sumbangan pada Mami. Masak iya, dia lupa.
Hmmm....
Aku hanya menyunggingkan bibir. Merasa semakin enek melihatnya. Ternyata dia benar-benar munafik. Hanya mencari pembenaran saja untuk menutupi kesalahannya dengan berdalih menyalahkan orang lain. Dasar licik.
*
'Selamat tinggal kota Batam. Kota yang akan selalu aku rindukan. Tunggu aku datang kembali.'
Kulihat sebuah postingan baru saja lewat di beranda media sosialku. Di posting oleh seseorang yang malam tadi baru aku temui. Tak lupa dia menyelipkan sebuah foto icon kebanggaan pulau ini yang di ambil dari tengah lautan. 'Raja Singa' nama pemilik akunnya.
Aku tersenyum melihat caption yang dia tulis. Berharap itu dia tujukan khusus untuk diriku. Walaupun dalam hati kecilku terasa sepi, seperti ada sesuatu yang hilang. Ya, mungkin aku merasa kehilangannya.
'Jadi berangkat, Bang?' Segera ku balas postingan itu.
'Jadi. Ini baru saja bergerak,' balasnya cepat.
'Ya udah, hati-hati di jalan ya! Jangan lupa berdoa,' balasku lagi dengan emoticon melambai.
'Iya, terima kasih ya! Sudah mengingatkan. Uangnya sudah Abang transfer. Coba cek rekeningnya. Nanti kalau perlu sesuatu, jangan sungkan menghubungi Abang. Kabar darimu selalu abang tunggu.'
Aku kembali tersenyum membaca balasan darinya. Betapa romantisnya Bang Johar rupanya.
'Terima kasih juga ya, Bang! Atas semua yang telah Abang berikan untuk Yara.' Cepat ku balas pesan darinya, supaya dia tidak terlalu lama menunggu. Tak lupa ku selipkan emoticon love banyak-banyak.
'Oh iya, Ra! Abang ketinggalan sesuatu tadi di sana. Tolong Yara jaga ya!'
'Ketinggalan apa, Bang?'
'Hati Abang.' Lagi-lagi aku tersenyum membacanya. Kenapa Bang Johar berubah jadi romantis seperti ini. Padahal dari kemarin-kemarin hanya kaku seperti batu.
'Seperti Kapten Davy Jones ya, Bang!'
'Ssttttt.' Dia mengirim emoticon kepala sedang menempelkan jari telunjuk di bibirnya. 'Gak boleh ngomongin itu di tengah laut. Tabu. Takut takabur.'
'Oh, maaf,' balasku cepat beserta emoticon kepala sedang menutup mulut dengan tangan.
__ADS_1
Tadi pagi, Bang Johar datang lagi. Dia membawa uang yang telah ia janjikan tadi malam sekalian menebus jam tangan mahalnya. Aku yang baru saja tertidur, terpaksa bangun untuk menemuinya.
"Uang untuk Yara, abang transfer aja ya! Adakan nomor rekeningnya?"
"Kenapa nggak uang cash aja, Bang?"
"Tidak enak sama yang lain. Takutnya mereka merasa iri sama Yara karena Abang bedakan," ucapnya beralasan.
"Ya udah. Tapi langsung di kirim ya, Bang! Nanti lupa kalau kelamaan."
"Iya...iya....Yara percaya 'kan sama Abang?"
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Cuma bercanda lho, Bang! Baper amat?"
"Abisnya, Yara matre banget."
"Namanya juga cewek."
*
Aku menghampiri Mami yang ada di kamarnya. Ku lihat dia masih mengenakan mukena dan masih bersimpuh di atas sajadah sambil menengadahkan tangan, berdoa. Aku duduk di atas kasur menunggunya selesai beribadah.
"Kamu udah shalat, Ra?" tanyanya setelah selesai sembari membereskan perangkat shalatnya.
"Belum, Mi! Yara baru bangun."
"Shalat dulu, gih! Jangan di tunda-tunda."
"Iya, sebentar lagi."
"Ada apa? Tumben datang ke sini menemui Mami?"
"Mau nanya sesuatu."
Aku meminta pendapat kepadanya tentang rezeki yang baru saja aku dapatkan, kira-kira mau di pakai buat apa.
Mami menyarankan agar aku melunasi hutang piutang yang belum di bayar. Seingatku, aku memang tidak memiliki hutang kepada siapapun. Terkecuali hanya pada Mami yang sudah sering dan tanpa jemu-jemu membantuku. Tapi kata Mami, bahwasanya hutang Bang Diki merupakan hutangku juga. Jadi wajib hukumnya bagiku untuk membayarnya. Sebenarnya, aku enggan untuk melakukannya. Tapi mendengar nasehat dari Mami, aku mau juga.
__ADS_1
"Jangan pikirkan tentang kelakuan suamimu itu, Ra! Tapi pikirkan mereka yang sudah mau meminjamkan uang itu untuk suamimu. Mana tau mereka saat ini sedang butuh uang. Kasian jika mereka yang sudah berniat baik membantu malah menjadi kecewa dan merasa trauma untuk menolong jika ada orang lain yang benar-benar sedang butuh sesuatu pada mereka. Takutnya, mereka beranggapan bahwa semua orang itu sama. Baik saat ada maunya saja."
Mendengar itu, aku luluh juga. Memang ucapan dan pemikiran Mami selalu bersifat positif dan berbaik sangka kepada siapapun. Dia selalu memandang sesuatu itu dari segi kebaikannya saja. Aku merasa sangat kagum dengan pemikirannya yang sangat jarang dimiliki oleh orang kebanyakan. Apalagi aku, yang memang selalu memandang dan berfikir dari sisi negatifnya saja.
Segera ku hubungi adikku_Ambang_di kampung untuk menanyakan, apakah masih banyak orang yang datang ke rumah untuk menagih hutang.
"Ada, Kak! Banyak. Tapi kami nggak tau berapa-berapa. Kemarin Kak Rena juga ada datang ke sini nyariin Bang Diki. Katanya mau nagih uang yang Bang Diki pinjam dari dia untuk biaya melahirkan," jawab Ambang setelah mengangkat panggilan video call yang aku lakukan.
"Kapan dia datang?"
"Sudah ada 'lah sekitar dua hari yang lalu."
"Kenapa nggak kau kasi tau sama kakak?"
"Kata mamak tidak usah. Takut kakak jadi kepikiran dan nggak fokus kerja. Apalagi itu menyangkut urusan keluarga mereka."
"Berapa Bang Diki minjam sama dia?"
"Katanya sekitar lima jutaan. Lain lagi cicilan utang Bang Diki yang sudah tiga bulan tidak di bayar di pegadaian."
"Kapan dia minjam?"
"Mungkin waktu orang kakak bertengkar itu. Dia ada pulang ke kampung, bilang kalau motornya di begal waktu kakak yang bawa. Makanya dia minjam uang untuk beli motor baru. Karena uang kak Rena masih kurang, dia menggadaikan surat rumah Mamaknya untuk nambahin. Itupun belum ada di bayar sama sekali. Mamaknya 'lah yang nutupin setiap bulan."
Ya Allah, tega sekali dia menjual namaku ke keluarganya demi mendapatkan uang. Padahal, dia sendiri yang merampas paksa motor itu dariku.
"Tau orang itu kakak merantau?"
"Tau, sudah di ceritakan Mamak semuanya."
"Bilang apa kakak itu?"
"Minta-minta maaf 'lah dia sama mamak karena kelakuan adiknya. Kasihan sebenarnya melihat kakak itu, Kak! Apalagi dia lagi hamil besar. Katanya, mau operasi pulak itu. Sedangkan uang tabungannya buat biaya operasi belum di balikin Bang Diki. Tapi, apa yang mau awak bilang? Awak aja pun pening tiap hari ada saja orang yang datang nagih hutang."
Ya Allah, sedih juga mendengar cerita adikku itu. Apalagi dia yang memang mudah tersentuh hatinya jika melihat orang lain lagi dalam kesusahan.
Tidak ada hal yang paling menyakitkan, selain melihat orang lain yang sangat membutuhkan bantuan, akan tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa....
****
__ADS_1