
"Bagaimana dengan keadaan kampung, Ra?" tanya bang Johar padaku.
"Biasa aja, Bang. Kenapa abang sudah lama nggak pulang?"
Dia menghisap pipet yang terhubung dengan botol bening itu. Seperti botol kaca. Dan pipetnya ada dua, tapi isinya terlihat kosong. Hanya seperti asap saja.
"Malas abang, Ra!" jawabnya singkat.
Aku kembali diam, merasa bingung harus bicara apalagi. Tambah bingung lagi dengan sifat orang ini. Katanya tadi rindu sama kampung. Setelah ditanya kenapa nggak pulang, eh jawabnya malah malas. Jadi aku mau ngomong apalagi kalau jawabnya cuma malas. Sedangkan malas itu penyakit yang nggak ada obatnya.
"Kau mau nyoba?" Dia menyodorkan botol yang ada di genggamannya.
"Apa itu, Bang?"
"Ini namanya obat. Obat segala jenis penyakit. Sakit galau, sakit mala rindu dan penyakit-penyakit hati yang sering menyerang perasaan anak muda bisa sembuh dengan ini." Dia menatap botol itu dan sesekali menatap ke arahku, seperti seorang model yang sedang mempromosikan barang dagangannya di depan kamera.
"Sakit mala rindu? Sakit apa itu, Bang?" Sepertinya, aku baru mendengar jenis penyakit seperti itu. Apa itu jenis penyakit varian baru? Setahuku penyakit yang sudah lama namanya sakit malaria. Bukan mala rindu.
"Sakit mala rindu itu sejenis penyakit galau juga. Gejalanya hampir sama. Bisa menurunkan nafsu makan, susah tidur, bawaannya sedih terus. Yah, yang paling sulit itu, merasa ingin kembali ke masa lalu." Dia kembali menghisap pipet itu.
"Ini coba saja! Biar kamu tau betapa indahnya dunia ini. Hidup ini harus di nikmati. Nggak usah terlalu dipikirkan." Bang Johar kembali menyodorkan benda itu.
__ADS_1
Sebenarnya, aku juga merasa penasaran dengan barang yang dia tawarkan. Apalagi, menurut berita yang kudengar, harga serbuk yang dia bakar tadi cukup mahal. Tapi niatan itu segera aku tepiskan. Aku datang ke sini untuk mencari uang, bukan malah berfoya-foya untuk menghabiskannya.
Walaupun aku masih awam dengan kehidupan dunia malam, tapi jika itu sudah berhubungan dengan sesuatu yang membuat candu, itu tidak bisa di ikuti. Cukuplah Bang Diki dulu yang kecanduan judi online. Jangan sampai aku mengikuti langkahnya yang salah atau malah lebih parah darinya.
"Ayo, coba saja. Ini gratis. Kalau kurang, besok abang bawakan lagi." Dia masih saja menggodaku.
Aku menggeleng, menolak tawarannya. Jika dia ingin marah, marahlah situ. Jika dia merasa kecewa karena aku tidak menerima tawarannya, terserah. Itu menjadi haknya. Yang penting, aku tidak ingin terjebak lebih dalam lagi dengan kehidupan liar seperti ini.
"Sudah lah, Mas! Dia itu kan masih anak baru. Nggak usah di paksa. Entar juga mati karena penasaran sendiri," ucap Dewi sembari mengambil botol itu dari tangan bang Johar. Kemudian dia melakukan hal yang sama seperti yang bang Johar lakukan. Mereka menggunakannya secara bergantian.
Aku hanya menemani mereka saja. Tapi, lama kelamaan aku merasa seperti orang asing di sini. Mereka seperti tidak memperdulikan aku lagi. Aku merasa seperti tidak di hargai sama sekali. Merasa seperti seseorang yang tidak dibutuhkan. Dan itu sakit.
Mereka yang menyaksikan itu, tertawa geli melihatku. Aku benar-benar seperti orang bloon sungguhan di sini. Jujur saja, aku merasa sangat malu dan merasa tidak berguna sama sekali. Ingin rasanya aku berlari keluar dari ruangan ini, kemudian menangis sepuasnya di dalam kamarku di lantai paling atas. Menumpahkan semua air mata yang dari tadi sudah ku tahan agar jangan sampai keluar.
Dadaku terasa sesak melihat mereka yang masih asik bermain dengan benda itu. Karena merasa jengkel, segera ku rampas benda itu dan melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Mengisapnya dengan tergesa-gesa. Sempat ku lirik mereka seperti kebingungan melihat aksiku. Dan setelah itu aku lupa segala-galanya.
*
"Ra...bangun, Ra!" Ku dengar suara Mami membangunkanku. "Sudah adzan di Masjid, cepat keramas sana! Nanti waktu shalatnya kelewatan."
Aku hanya bergerak sedikit saja, memberi respon bahwa aku mendengar suaranya. Kemudian kembali memeluk guling yang ada di sampingku. Rasanya malas sekali untuk bangkit hari ini. Kepalaku masih terasa pusing dan berat.
__ADS_1
"Ra! Cepat bangun. Nggak boleh menunda-nunda waktu seperti itu. Nanti kamu malah lalai untuk melaksanakan kewajibanmu." Dia masih saja berusaha membangunkanku.
Aku yang merasa terganggu akhirnya bangkit juga. Tapi aku hanya berdiam diri saja di atas kasur sembari mengecek ponselku. Kulihat jam di layar ponsel sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Kemudian aku teruskan dengan menscroll media sosialku. Melihat-lihat aktifitas warga dumai yang nggak pernah tidur.
Lima belas menit kemudian, Mami datang lagi ke kamarku. Dia masih mengenakan mukena yang baru saja dia pakai untuk melaksanakan shalat. Begitulah pekerjaan Mami setiap hari. Mondar-mandir ke kamar karyawan untuk mengingatkan agar segera beribadah. Tapi kalau sudah malam hari, dia sendiri yang menawarkan kami kepada pria hidung belang. Anehnya lagi, kalau di siang hari begini, dia memanggil kami dengan nama asli. Tapi kalau malam hari memanggil kami dengan nama palsu. Aneh bukan?
"Ra! Kamu kok belum mandi juga?" Dia duduk di sampingku. "Kamu kenapa?" tanyanya setelah melihatku tak menyahuti pertanyaannya.
"Lagi malas," ucapku ketus.
"Nggak boleh seperti itu, Ra! Kita memiliki kewajiban di dunia, tetapi jangan sampai melupakan kewajiban kita untuk akhirat." Dia mulai bertausiah.
"Kamu masih ingat kan pesan Mami tempo hari?" Dia masih saja mengusikku.
Aku hanya diam saja tak menjawab satu pun pertanyaannya. Merasa aneh dengan pemikiran wanita satu ini. Apa iya diterima ibadah seseorang setelah semalaman suntuk menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan, terus di siang harinya bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Tapi begitu malam tiba, kembali lagi untuk mengulangi kesalahan yang sama. Padahal sudah jelas-jelas di dalam ajaran agama di jelaskan bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan salah dan dosa besar.
Kalau selama ini, aku masih mau mengikuti perkataannya. Karena pekerjaanku hanya sebagai pelayan saja. Tidak minum apalagi sampai mabuk. Walaupun aku tau bahwa itu juga sudah termasuk dalam perbuatan dosa. Tapi untuk kali ini aku tidak akan mengikutinya lagi. Percuma, hanya buang-buang waktu saja. Semua argumentasinya selama ini hanyalah omong kosong belaka. Benar seperti apa yang Bang Johar katakan malam tadi. Wanita itu kebanyakan yang munafik. Buktinya, jika dia tidak munafik, kenapa dia masih berada di sini? Bukankah dia bilang kalau kedua anaknya sudah besar dan sebentar lagi akan wisuda? Tapi, kenapa dia masih bertahan di tempat kotor seperti ini kalau bukan karena uang. Kalau dia memang benar-benar ingin bertaubat, kenapa dia tidak pergi saja dari sini dan mencari pekerjaan yang halal untuknya.
Huh....Dasar wanita munafik.
*****
__ADS_1