PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Penyakit Lama


__ADS_3

"Terus, Om! Mereka bertempat tinggal di mana?" tanyaku antusias.


"Ya, di tengah laut sana."


"Di pulau, gitu maksudnya?" Aku semakin penasaran.


Dia tersenyum menatapku yang..., nggak tau lah ya, untuk mengatakannya.


"Bukan, Bestie. Mereka tinggal dan menjalankan semua misinya dari sebuah kapal besar nan megah. Semua ada di sana. Mau Mall, water park, diskotik, tempat perjudian dan tempat hiburan lainnya. Pokoknya, banyak lagi dech. Apalagi di sana itu bebas. Tidak perlu takut ketauan sama pihak kepolisian. Pokoknya bebas."


"Kapal apa itu, Om? Kok Lia jadi pengen untuk melihatnya langsung."


"Kalau kamu mau, biar nanti sekali-sekali Oom ajak jalan-jalan. Asal kamu bisa nyenengin hati Oom, aja. Mau?"


"Kalau jalan-jalannya mau, Om! Tapi kalau buat nyenengin hati Oom, nggak usah dech."


"Lho, kok gitu sama Oomnya?"


"Abis, Lia aja belum bisa untuk nyenengin hati sendiri."


*


Baru saja rasanya mataku terlelap dari kegalauan yang melanda jiwa dan ragaku tadi, tiba-tiba saja terdengar suara memanggil berteriak dari luar kamarku.


Dengan setengah sadar, aku segera bangkit untuk membukakan pintu untuknya.


"Ada apa, In?" tanyaku pada Indah setelah membuka pintu.


"Itu, Li! Mami...." Napasnya tersengal sambil menunjuk ke arah kamar Mami.


"Mami kenapa?" tanyaku dengan jantung yang mulai berdebar-debar.


"Nggak tau. Tadi pas aku mau ngantar sarapan, aku lihat Mami menggigil dan menyebut-nyebut namamu, Li! Pas aku sentuh, keningnya terasa panas sekali. Makanya aku panik dan langsung lari ke sini. Karena Mami manggil-manggil namamu. Mana tau kau banyak dosa sama dia, Li! Jadi, dia mau ninggalin pesan sama kau," ucapnya terbata-bata.


"Hustt, ngomong apa? Ada-ada aja," sergahku padanya dengan jantung yang semakin berdebar tidak karuan.

__ADS_1


Kenapa Mami menyebut namaku? Apakah dia ingin menyampaikan sesuatu seperti yang Indah katakan? Tapi kenapa harus aku? 


Hatiku ikut bertanya-tanya dan perasaanku pun semakin tidak karuan. Seketika itu juga, pikiran negatif langsung menyerang hati dan pikiranku. Dengan langkah yang gemetaran, aku datang untuk melihat keadaan Mami di kamarnya. Kami berjalan di sebuah lorong kecil melewati beberapa buah kamar yang saling berdempetan berjejer teratur. Seperti bentuk kamar yang ada di hotel-hotel tetapi ukurannya jauh lebih kecil.


Saat sampai di kamar Mami, kulihat dia masih menggigil dan meracau. Tapi kali ini bukan menyebut namaku, melainkan memanggil-manggil nama kedua orang anaknya, Sobirin dan Sabrina. Aku sudah tidak asing dengan nama dua orang itu. Walaupun belum pernah bertemu secara langsung, tapi aku tau banget semua tentang mereka. Itu semua berkat Mami yang selalu terbuka untukku perihal anak-anaknya.


"Mi! Mami kenapa?" tanyaku pelan sembari menyentuh keningnya.


"Yara panggilin Dokter ya! Biar Mami cepat dapat perawatan." Aku meminta izin. 


Namun tidak ada tanggapan darinya. Melihat itu, aku semakin panik.


"In! Coba bangunin yang lain dulu! Biar bisa kita diskusikan, mana yang terbaik untuk Mami!" Perintahku pada Indah yang masih berdiri mematung di belakangku. Bengong.


Aku tidak tau harus berbuat apa lagi. Biasanya, yang bertanggung jawab penuh di sini hanya ada Mami. Dialah yang memutuskan semuanya. Kami hanya tinggal mengikuti saja apa yang dia perintah. Tapi, di saat genting seperti sekarang ini, aku malah jadi bingung sendiri. Siapa yang akan kami jadikan sebagai panutan di sini, apalagi jika sampai Mami pergi untuk selamanya. Tanpa di perintah, air mataku jatuh begitu saja. Tidak dapat ku bayangkan apa yang akan terjadi pada kami saat Mami sudah tidak ada lagi.


"Kenapa, Li? Mami kenapa?" teriak yang lain ikut histeris saat melihatku bersimbah air mata.


"Nggak tau ini, Rat! Di panggilin nggak mau nyahut," jawabku menjelaskan.


"Mi! Mami kenapa?" Ratna menggoyang-goyang tubuh Mami.


"Tapi selama ini, Mami nggak pernah mau di periksa sama Dokter! Takutnya nanti kita lancang. Kalau Mami marah, bagaimana?"


"Kalau tidak, telepon anaknya saja. Mungkin dia sedang kangen sama anak-anaknya karena sudah lama nggak pulang kampung." Usul yang lain lagi.


"Jangan. Anaknya jangan sampai tau dulu. Nanti aja di kasi tau kalau kondisinya sudah mulai membaik. Atau setidaknya jika Mami sudah keluar dari tempat ini." Sergahku cepat agar mereka jangan sampai melakukannya. Bukankah itu juga sesuatu yang selalu Mami hindari selama ini. Jangan sampai anak-anaknya tau jika dia bekerja di tempat seperti ini.


"Tapi kalau di biarin kek gini terus, bisa fatal akibatnya, lho!" ucap salah seorang lagi, seperti menakut-nakuti.


"Mindsetnya harus di jaga! Kalian ingat pesan Mami 'kan, agar kita selalu berpikiran positif."


"Ya udah. Kalau tidak, telepon Buk Siska aja dulu, biar dia yang menentukan, bagaimana sebaiknya. Lagi pula, Buk Siska 'kan kenal dekat sama Mami dari dulu. Nggak mungkinlah Mami marah sama dia!" Ratna mencoba menengahi diskusi kami.


"Aku telepon, nich?" Dewi yang saat ini sedang memegang hape menawari.

__ADS_1


"Ya udah, telepon aja. Kalau Mami marah, biar Yara yang tanggung jawab," ucapku yakin. Bagiku, kesehatan Mami yang lebih utama dan nomor satu.


*


Menunggu sekitar dua puluh menitan, barulah Buk Siska datang. Dokter langganan kami dari perusahaan. Rumahnya juga tidak terlalu jauh dari sini. Dengar-dengar dapat inventaris dari perusahaan juga.


"Udah lama Mami sakit?" tanya Buk Siska sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Sudah sekitar satu mingguan, Dok!"


" Sudah lama, kok sekarang baru bilang?"


"Biasa, Dok! Mami 'kan gitu orangnya."


"Makanya, kalian bilangin. Kalian pujuk biar Mami mau untuk berobat."


"Susah, Dok! Bilanginnya."


Setelah berkonsentrasi memeriksa beberapa menit, Buk Siska kembali bersuara.


"Di rujuk ke Rumah Sakit aja, ya! Biar dapat perawatan lebih tepat di sana. Kalau di infus di sini, takutnya nggak ada yang bisa mengontrol. Lagian, saya curiga kalau ini, bukan penyakit biasa."


"Maksudnya, Dok?"


"Sebenarnya belum pasti, makanya harus di rujuk ke Rumah Sakit besar dulu untuk memastikan. Biar bisa di periksa di laboratorium. Tapi saya curiga kalau ini merupakan gejala penyakit yang sudah lama di derita oleh Mami."


" Sakit apa, Dok?"


"Kanker serviks atau kanker leher rahim."


Mendengar nama itu dia sebutkan, kami semua merasa kaget. Tak menyangka kalau Mami selama ini ternyata mengidap penyakit ganas seperti itu. Apakah penyakit itu yang pernah dia ceritakan tempo hari kepadaku? Pada saat dia bilang tidak bisa datang ke panti asuhan karena sedang di rawat di rumah sakit. Dan dia juga katakan kalau anak-anak panti asuhan itulah yang menjadi sumber kekuatan dan semangat baginya.


Apakah itu yang Mami maksud? Dan sebab itu pulalah dia enggan untuk memeriksakan diri selama ini ke Dokter. Karena dia takut mengetahui perkembangan penyakitnya itu?


Oh, Mami! Jangan pergi dulu. Kami masih membutuhkanmu.

__ADS_1


Seketika, kami menangis barengan, beramai-ramai walau tanpa suara.


*****


__ADS_2