
"Biasa aja kali Ra," ucapnya sungkan. "Oh iya, kamu udah vaksin kan? Biar minggu depan kita tinggal berangkat aja."
Aku mengangguk. "Udah kok, Mel!"
Sebenarnya tadi, dia bilang belum ada lowongan saat kutanya untukku. Tapi, karena sudah terlanjur malu, aku sekalian curhat saja sama dia tentang derita hidup yang sedang aku jalani. Mana tau dia merasa kasihan dan berubah pikiran setelah mendengar ceritaku. Dan alhamdulillah cara itu ternyata jitu.
"Tunggu ya, aku tanya sebentar sama temen aku yang di kerjaan lama. Mana tau masih butuh orang," ucapnya dengan wajah prihatin melihatku. Lalu pergi sebentar untuk menghubungi temannya. Dan ternyata lowongan itu ada. Rezeki anak sholehah.
Setelah pengajian selesai, kamipun keluar dari kamar dan melanjutkan perbincangan di ruang tamu. Kali ini kami ditemenin sama ibu dan ibunya Melly juga. Sedangkan tamu yang lain sudah pulang semua.
"Untuk apalah nikah terlalu muda kalau akhirnya berpisah juga. Anak malah sudah ada. Kasihan. Bagus seperti si Melly ini, nggak mau dia nikah cepat-cepat kali katanya, karena dia mau membahagiakan orang tua lebih dulu. Baru nanti nikah belakangan. Kau tengoklah sudah berhasil dia sekarang. Sudah sukses dia. Bos kerjanya sajapun sayang kali sama dia. Selama disini saja pun dia, setiap hari ditelepon sama Bos besarnya dari sana nanyakin kapan balik kerja lagi. Bawa hoki si Melly ini kata orang itu. Kalau si Melly pulang kampung begini, sepi hotel itu nggak ada tamu yang menginap." Bu Paimah dengan bangga menyanjung-nyanjung anaknya.
Kulirik Melly, sekilas hanya tersenyum kepadaku. Dia hanya ikut mendengarkan celoteh ibunya yang menurutku terlalu berlebihan. Tapi karena aku sedang butuh sama anaknya, aku dengerin saja apa yang ingin dia katakan. Biar hatinya senang dan mempermudah langkahku untuk merubah nasib di kampung orang bisa berjalan dengan mulus.
*
"Jangan ambil hati ucapan Mamak kemarin itu ya, Ra!" ucap Melly saat kami dalam perjalanan. "Mamak memang gitu kalau cerita sama orang, lebay banget, suka melebih-lebihkan."
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Kalau dia malu diomongin ibunya seperti itu, kenapa nggak ditegur saja langsung kemarin. Kenapa dia diam saja. Pasti dia juga merasa bangga disanjung seperti itu.
"Sebenarnya, Mamak itu hanya ingin mengangkat derajatku saja di depan orang-orang , dia ingin orang-orang memandang aku ini wanita sempurna dimata mereka. Dia selalu ingin melindungiku agar tidak direndahkan lagi seperti dulu. Kau tau, Ra! aku sempat kena mental karena bullyan itu." Melly bicara serius, sorot matanya terlihat sendu olehku. "Makanya, sekarang aku tau siapa yang tulus sayang padaku. Dari itu, aku akan melakukan segala-galanya untuk mereka agar mereka semua bahagia. Kau tau Ra, siapa mereka itu?" Aku menggeleng. "Mereka itu keluargaku. Aku akan melakukan apapun untuk membuat mereka selalu bahagia. Apapun itu," ucapnya penuh dengan keyakinan.
Aku agak terkejut juga mendengar pengakuan darinya. Pantas saja waktu itu mereka memutuskan untuk pindah dari kampung kami ke tempat yang mereka tinggali sekarang. Tapi, lihatlah sekarang korban bullyan ini. Dia bisa melewatinya, dengan bangkit dan tumbuh besar menjadi gadis yang cantik serta jutawan juga. Aku sangat kagum dengan semangat juangnya. Aku berharap bisa belajar banyak darinya kelak.
"Ra! Kamu sudah pernah naik pesawat sebelumnya?" Aku menggeleng. Jangankan naik pesawat, naik mobil pribadi pun aku sangat jarang-jarang sekali.
"Apa kamu pernah bercita-cita ingin menjadi orang kaya?" Aku juga menggeleng, bahkan untuk memimpikannya saja pun rasanya aku kurang pantas. Malu sama keadaan.
__ADS_1
"Jadi orang kaya itu ternyata nggak mudah, Ra! Terlalu banyak godaannya. Apalagi bagi kaum laki-laki. Makanya sampai saat ini aku enggan menikah walaupun Mamak sudah selalu mendesak. Aku hanya nggak mau disakitin lagi sama laki-laki."
Benar seperti apa yang dia katakan. Aku sendiripun masih merasa trauma sama yang namanya suami. Masih merasa terpukul dan sakit hati pada Bang Diki. Dan sekarang, aku juga nggak tau status kami apakah masih suami istri atau tidak.
*
"Ini Mi! yang Amel ceritain kemarin." Melly memperkenalkanku pada seorang wanita yang kelihatannya sudah berumur, saat kami baru sampai di tempat tujuan.
Kulihat bibirnya yang merah merona karena tebalnya gincu, membulat, memandangi tubuhku dari atas sampai bawah secara detail. Jelas aku merasa malu dan sangat gugup saat diperhatikan oleh orang lain dari jarak sedekat ini.
"Ya udah, kamu naik aja dulu keatas untuk istirahat. Besok kamu baru mulai kerja. O iya, nama kamu tadi siapa?"
"Namaku Yara, Buk!"
"Yara?"
"Jangan panggil saya ibuk. Kamu panggil saja saya Mami!"
"Iya, Mi!" Aku masih gugup.
"O iya, satu lagi. Nama kamu diganti saja kalau lagi kerja!"
Ha, nama aku di ganti? Buat apa?
*
Aku berbaring di atas kasur yang disediakan oleh perusahaan di lantai paling atas. Dari lantai dua tadi, aku melihat banyak sekat kamar disini seperti tempat kos-kosan. Kalau di lantai bawah seperti sebuah kafe tempat orang ngopi atau nobar, mungkin. Tapi suara musiknya sangat keras, terdengar sampai ke lantai atas.
__ADS_1
Sebenarnya aku merasa penasaran dengan pekerjaanku disini itu apa. Tapi aku juga takut untuk turun ke bawah karena belum kenal dengan karyawan yang lain. Jadi, aku memutuskan untuk rebahan di kamar saja walaupun perutku sudah terasa lapar.
"Mbak! Mbak!" Terdengar panggilan dari luar dengan diiringi suara ketokan pintu.
Cepat aku bangkit dan membukakan pintu untuknya, agar dia bisa masuk.
"Ini Mbak, makan malam untuk Mbak!" ucap seorang gadis muda sembari menyodorkan nampan berisi makanan.
Aku segera menerimanya dengan senang hati dan senyuman termanisku. " Terima kasih ya Mbak!" ucapku kembali padanya.
Dia juga tersenyum manis dan kurasa lebih manis dari senyumanku tadi. Apalagi, wajahnya terlihat imut-imut sekali seperti boneka berbi. Wow aku merasa iri.
"O iya ,Mbak. Habis makan nanti, Mbak disuruh turun sama Mami biar dikasi tau apa saja kerjaan Mbak buat besok malam!"
"Iya, Mbak. Nanti aku nyusul."
Setelah selesai makan, aku memberanikan diri untuk turun ke bawah melihat keadaannya seperti apa. Apalagi, ada alasan juga dengan berpura-pura membawa piring kotor. Lagian tadi juga sudah dipesenin buat turun. Jadi, ngapain takut.
"Itu Mbak, Mami ada di depan," ucap seseorang menunjukkan posisi keberadaan Mami.
Aku pun berjalan keluar gedung untuk menemui Mami yang sedang duduk berjejer dengan karyawan lain menunggu tamu datang. Perasaanku mulai tidak enak saat melihat suasana tempatku akan mengais rezeki ini. Tempat ini bukan seperti kafe-kafe pada umumnya, akan tetapi lebih mirip seperti tempat hiburan malam yang sering dirazia Satpol PP di tivi-tivi apalagi saat menjelang bulan ramadhan.
Apakah aku telah dijual dan akan dijadikan sebagai wanita penghibur ditempat ini? Jantungku kembali berdebar-debar membayangkan hal buruk dipikiran. Apakah aku sudah tertipu?
Mamak, tolongin Yara Mamak! Yara pengen pulang.
*****
__ADS_1