
"Kamu yakin?" Dia memegang bahuku dengan lembut dan menatap wajahku serius.
Aku hanya mengangguk dan menunduk. Merasa malu dengan keputusan yang baru saja kuambil.
"Kalau kamu melakukan ini karena butuh uang lagi, bilang saja kamu butuh berapa? Mami masih punya sedikit tabungan. Kamu bisa pakai itu dulu!"
"Nggak usah, Mi! Yara juga pengen punya penghasilan sendiri. Yara pengen seperti Mami yang suka bantu orang dengan hasil jerih payah sendiri. Yara juga pengen seperti teman-teman lain, yang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya di kampung walau berapapun yang mereka pinta. Yara juga pengen seperti Amel yang serba berkecukupan dan bisa membanggakan orang tua. Dan Yara juga pengen menyekolahkan anak Yara sampai Sarjana seperti anak Mami juga. Setelah menimbang lama, siap nggak siap, Yara harus melakukannya. Yara sudah terlanjur di sini seperti yang Mami katakan dulu. Yara sudah terlanjur masuk dalam lembah, Mi!" Aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mataku yang dari tadi sudah mau tumpah. Dadaku terasa sesak dan sulit untuk bernapas.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Yang penting, kamu harus selalu ingat pesan Mami, serendah apapun pekerjaan yang sedang kita tekuni ini, jangan sekali-kali dirimu menyalahkan Tuhan karena telah memberimu jalan hidup yang sulit untuk kau lewati. Tetap syukuri walaupun itu pahit kenyataannya. Dan satu lagi, jangan pernah lupakan Tuhan bagaimanapun keadaanmu. Mami yakin, Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang indah di depan sana tanpa kita sadari. Percayalah, Dia akan senantiasa ada jika kita selalu mengingatnya." Dia mengelus-elus pundakku dengan lembut. Menenangkan agar aku bisa lebih kuat menerima kenyataan pahit ini.
Benar seperti yang Mami katakan. Jika bisa untuk memilih, tak ada seorangpun wanita di dunia ini yang sudi menjadi seorang pelacur. Tapi tak ada pilihan lain, aku sudah telanjur berada di sini, bukan hanya sekedar mendekati, tetapi sudah masuk dalam kubangan gemerlapnya dunia malam. Aku sudah terperangkap dan sulit untuk keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali bertahan. Biarlah dunia memandang hina. Tidak apa-apa, anggap saja ini merupakan takdir dari Tuhan yang harus aku percaya.
*
"Singgah Mas! Minum-minum dulu, yok!" ucap Mami menggoda dua pria hidung belang yang baru saja menghentikan mobilnya di depan kafe kami.
"Berapa, Mbak?"
"Mau yang long time atau short time, Mas!"
"Kalo long time, berapa?"
"Kalo long time tiga ratus aja, Mas!"
__ADS_1
"Kalo short time?"
"Kalo short time seratus lima puluh aja, Mas!"
"Short time itu kek mana?"
"Yaelah, belum ngerti Mas ini rupanya. Kalo tidak, turun aja dulu, Mas! Di dalam aja ngobrolnya, biar enak."
Mami terus saja menggoda mereka dengan ramah dan sabar. Itulah kelebihan Mami sehingga dia di percaya untuk menyambut para tamu yang berkunjung. Beda halnya jika teman lain yang melayani, bisa saja mereka berbicara kasar jika tamu yang datang kesannya bertele-tele atau cuman iseng-iseng doang. Apalagi kalau sedang menawar harga, murah kurang murah. Emosi teman-teman pasti akan mudah terpancing karena merasa di rendahkan.
"Nanti dulu ya, Mbak! Nanya di tempat yang lain dulu!"
"Ya, udah. Kalo belum ada yang cocok, nanti balik lagi ya, Mas!"
Mami kembali bergabung dengan kami setelah mobil berwarna hitam itu menutup kembali kacanya dan pergi menjauh.
"Bagaimana? Apa kamu masih takut?" Aku mengangguk. Dari tadi jantungku berdebar-debar tak karuan sehingga membuatku bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil. Apalagi, saat ada mobil yang berhenti tepat di depan kami. Hati siapa yang tidak takut, jika dia tahu apa yang akan dia lakukan adalah sebuah perbuatan dosa yang di larang oleh Tuhan. Begitu juga denganku, yang saat ini merasa sangat tidak nyaman sekali. Terkadang aku ingat wajah ibuku, anakku dan wajah keluargaku yang lain sehingga aku ragu untuk melakukannya. Tapi di satu sisi, aku juga melakukan ini hanya semata-mata untuk mereka semua yang sangat aku sayangi. Biarlah aku yang merasa sakit seperti ini asalkan jangan mereka.
"Minum saja dulu! Sebentar lagi rasa takutnya juga hilang." Mami menyodorkan seperempat gelas minuman yang baru saja dia tuang dari dalam botol.
Aku menerima gelas yang dia sodorkan itu dan mulai meneguk sedikit demi sedikit minuman berwarna merah itu. Rasanya ya ampun, terasa sangat pahit di tenggorokan. Untuk menelannya saja pun aku merasa sangat kesulitan.
"Pertama aja itu, Kak! Sebentar lagi kakak juga akan merasa ketagihan kalo sudah melihat surga," ucap salah satu teman yang seprofesi denganku ini. Mereka selalu saja menjadikan aku bahan candaan, karena aku merupakan anak yang paling baru dan terlihat kampungan.
__ADS_1
Setelah meminum beberapa teguk, seketika saja jantungku yang berdebar-debar tadi terasa menghangat. Tubuhku terasa bersemangat, apalagi kepalaku rasanya agak pusing. Anehnya, mendengar dentuman suara musik yang keras dari dalam ruangan membuat kepalaku yang pusing tadi terasa nikmat. Apalagi jika sambil di goyang-goyangkan mengikuti irama musik itu, seperti geleng- geleng dan manggut-manggut. Uuuhhh, nikmatnya....
"Jangan terlalu banyak, Li! Takutnya kamu mabok nanti." Terdengar suara seseorang di telingaku dan mengambil gelas yang ada di tanganku. Aku sudah tak bisa mengenali lagi suara itu. Mungkin aku memang sudah terlalu banyak minum untuk malam ini. Dari awalnya hanya seperempat gelas saja, tapi lama kelamaan entah sudah berapa banyak yang aku habiskan hanya untuk menyingkirkan wajah orang-orang yang aku sayangi dari dalam pikiranku.
"Minum, Mas!" Samar-samar terdengar lagi suara menawari. Itu pasti Mami, karena itu memang tugasnya.
"Pilih aja, Mas mau yang mana! Murah aja, cuman tiga ratus sampai keluar."
"Nggak kurang lagi, Mbak?" Terdengar suara laki-laki dewasa itu menawar harga.
"Nggak bisa, Mas. Itu juga untuk anak baru, belum pernah tersentuh ini, lho," ucap Mami meyakinkan.
Ya ampun, hatiku terasa hancur mendengarnya. Merasakan sesuatu, betapa hinanya pekerjaan ini. Aku makin merasa benci sama yang namanya laki-laki. Kok bisa-bisanya mereka hanya merendahkan wanita saja dengan cara seperti itu. Dengan mahar tiga ratus ribu rupiah masih minta dikurangi lagi.
Hingga detik ini, hanya tinggal beberapa orang saja yang belum mendapatkan pelanggan. Yang lain sudah masuk kamar masing-masing. Selain orang lama, mereka juga sudah memiliki budget gede untuk berhias. Sedangkan aku, hanya berhias seadanya saja karena belum punya modal yang cukup. Itu pun minjam alat make up Mami. Ternyata untuk tampil cantik itu mahal harganya.
Sedangkan Mami sendiri sudah lama nggak melayani laki-laki dalam kamar. Tugasnya hanya menyambut tamu dan menemani sekedar minum saja. Itu pun kebanyakan tamu lama kenalannya yang minta ditemani untuk sekedar ngobrol saja. Walaupun uang tips yang dia terima kadang-kadang jauh lebih besar dari pada yang melayani dalam kamar. Tapi itu hanya sesekali saja.
"Ya udah, Mbak. Saya mau..."
Seeerrrr...tiba-tiba saja jantungku serasa mau copot kembali.
***
__ADS_1