
Kami sampai di kafe sekitar pukul delapan malam. Jauh juga rupanya Mami mengajakku jalan-jalan tadi. Kalau ditanya sudah sampai mana saja, aku juga bingung. Abis, aku cuman duduk manis saja di samping Mami yang mengemudi. Walaupun dia menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati, tapi aku tetap nggak mengerti. Makanya aku hanya diam saja. Jangan terlihat terlalu udik di matanya.
Begitu turun dari mobil, aku buru-buru naik ke atas untuk segera mandi dan bersih-bersih. Para karyawan lain sudah banyak yang menunggu tamu di luar. Terutama Dewi, dia terlihat sangat cantik malam ini. Katanya tadi siang, dia ada janji dengan tamu yang kemarin malam. Apa Bang Johar mau datang lagi, ya?
Sebenernya, tadi Mami menyuruhku untuk tidak masuk kerja. Dia menyuruhku untuk istirahat saja dulu karena khawatir aku kelelahan. Tapi yang namanya kerja itu harus profesional. Jangan bermalas-malasan apalagi sampai mengular segala.
Setelah turun dan bergabung dengan yang lain, ada sebuah mobil mewah singgah persis di depan kafe kami. Beberapa orang Om-Om turun dari sana. Ada lima orang tepatnya. Mereka dari etnis Tionghoa. Pasti banyak duitnya, tuh.
Seperti biasa, Mami langsung menghampiri menyambut kedatangan mereka. "Selamat malam Om! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mami ramah.
"Saya mau pesan lima orang cewek, berapa harganya?" jawab salah satu dari mereka dengan logat khas tionghoa. Di setiap pengucapan kata yang mengandung huruf R terdengar berubah menjadi huruf L.
"Boleh Om! Mau yang short time atau long time?" tanya Mami lagi.
"Sampai tutup aja ini tempat," jawabnya.
"Sampai tutup ya, Om?" Mami melihat ke arah kami. Mungkin berpikir mau di kasi harga berapa? Soalnya jarang-jarang dapat pelanggan yang seperti ini.
"Sewa kamar juga, Om?"
"Kalo ada kamar untuk karaoke aja. Buat senang-senang aja. Nggak usah sampai ML segala," ucapnya lagi.
"Oh, kalau begitu, satu juta aja, Om! Untuk satu orang."
Om-om berkulit putih itu memalingkan wajah ke arah teman-temannya yang masih berkumpul di dekat mobil yang mereka tumpangi. Seperti ingin meminta persetujuan.
"Sebentar ya! Saya tanya teman-teman saya dulu," ucapnya menunjuk ke arah teman-temannya dengan kepala sembari berbalik arah.
"Alah, gaya aja datang naik mobil. Sok orang kaya. Taunya kere. Cuman sopir. Kacung." Melihat itu, Dewi berucap sinis merendahkan.
"Mungkin mereka patungan, Wi," ucap Ratna menjawab.
__ADS_1
"Alah, tetap aja dia kacung," jawab Dewi ketus, tidak mau kalah.
Beberapa menit kemudian, Om yang tadi datang lagi, mendekati Mami. "Oke lah. Kami mau. Lima juta, kan?" tanyanya lagi, memastikan.
"Iya, Om! Silahkan pilih aja mau yang mana!" Mami mempersilahkan pria kulit putih dan bermata sipit itu untuk memilih diantara kami yang sudah bersiap-siap berbaris menunggu.
Dengan menggunakan bahasa ibu, dia memanggil teman-temannya untuk mendekat. Tentu saja dia yang pertama kali datang menghampiri kami.
"Aku sama lu aja!" Kemudian pria bermata sipit itu menarik tangan Dewi.
"Eh, enak aja! Aku udah ada yang booking, tau," ucap Dewi menepis tangan Oom yang tadi.
"Wah galak bener ini cewek!" ucapnya kaget. "Tapi aku suka yang galak-galak. Emang dia bayar lu berapa? Biar nanti aku ganti dua kali lipat kalau lu mau menemani aku."
"Bukan masalah harga, Om! Tapi ini masalah kepuasan," ucap Dewi dengan gaya angkuh.
Aku yang melihat tingkah lakunya hanya tersenyum sinis. Namun tidak berani lagi untuk memvonisnya dengan mengatakan kalau dia itu merupakan wanita yang munafik. Takut salah orang. Soalnya aku juga belum tau latar belakang wanita yang tergolong paling bar-bar itu, seperti apa. Takut salah lagi, seperti aku menilai Mami. Cuma yang aku herankan, kenapa dia menolak uang untuk malam ini. Apa bayaran orang yang tadi malam jauh lebih menggiurkan?
"Ya udah kalau tidak mau. Jangan marah-marah. Nanti cepat tua." Seloroh pria yang memakai setelan kemeja kotak-kotak itu bercanda.
Kami berjalan beriringan dengan yang lain secara berpasang-pasangan. Seperti pasangan muda-mudi yang ingin berkencan dengan pacar masing-masing. Meskipun pasangan kami ini terlihat sangat timpang sekali. Mereka ini lebih cocok menjadi paman atau orang tua untuk kami yang rata-rata masih berusia sekitar dua puluhan tahun. Malah ada yang masih belasan tahun usianya.
Sedangkan aku sendiri, walaupun paling baru di sini, tapi wajahku mungkin terlihat paling tua. Selain faktor usia, faktor ekonomi juga sangat menentukan muda atau tuanya penampilan seseorang. Beda dengan Mami, walaupun usianya sudah memasuki kepala lima, tapi tetap awet muda. Seperti anak gadis abege saja penampilannya. Nggak nyangka kalau sudah punya anak gede-gede.
"Tunggu sebentar!" Tiba-tiba saja terdengar suara bariton seseorang dari belakang. Serempak kami menoleh untuk melihat sumber suara itu. Sepertinya aku mengenal suaranya.
"Tunggu sebentar, Bos! Pacar saya mau di bawa kemana?" tanya laki-laki berbadan tegap dan gagah itu dengan gaya elegan.
Om-Om yang ada di sampingku ini menoleh padaku. Seakan-akan bertanya, laki-laki ini siapa?
Aku yang merasa bingung hanya bisa menggeleng, aku tidak tau harus berkata apa. Apalagi kami memang tidak ada janjian sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanya pria berkulit putih itu.
"Saya pacarnya Yara! Kami sudah janjian sebelumnya," jawab Bang Johar tegas.
"Tapi dia sudah saya bayar. Memangnya kamu berani bayar berapa untuk menebus dia dari saya?" Tua bangka itu menantang Bang Johar yang masih bersikap sopan.
"Memangnya, Bos bayar berapa tadi?"
"Saya bayar lima juta untuk lima orang ini."
"Kalau begitu, saya bayar sepuluh juta," ucap Bang Johar penuh percaya diri.
Mendengar itu, mataku terbelalak takjub. Ternyata Bang Johar banyak duit juga rupanya.
Pria yang ada di sampingku ini kembali diskusi dengan teman-temannya yang lain.Yang ikut berhenti saat mendengar suara Bang Johar memanggil tadi.
"Lu nantangin kami ya!" Salah satu dari mereka mendekati Bang Johar, tapi bukan yang tadi. Tapi yang lain lagi. "Lu belum tau siapa saya. Saya sanggup bayar mereka ini lima puluh juta." Mereka saling bersaing dalam menentukan harga. Tak ubahnya seperti sedang bersaing mendapatkan sebuah barang yang sedang di lelang oleh para artis top papan atas.
"Kalau begitu, saya bayar seratus juta." Tak mau kalah, Bang Johar juga menaikkan harga tawar. Yang membuat cewek-cewek yang sudah di boking tadi berpindah tempat mengerumuni Bang Johar.
"Sama aku aja ya, Om!"
"Sama aku aja, Om!"
"Aku juga ya, Om."
Mereka saling berebut menawarkan diri dengan bergelayut manja di lengan kiri dan kanan Bang Johar. Yang membuat mataku risih melihatnya.
"Oke...,oke..., kalau begitu kami mundur." Pria berkaca mata dan mengenakan kemeja biru dongker itu mundur. Mengajak teman-temannya untuk segera pergi. "Kita cari tempat lain aja!"
Aku yang menyaksikan itu membuang muka. Merasa tersanjung karena sudah di hargai seratus juta walaupun harus di bagi lima. Tapi agak kesal juga melihat sikap teman-temanku yang terlalu berlebihan dengan bergelayut manja, menggoda Bang Johar.
__ADS_1
Ih, sebel....
*****