PESONA GADIS SINTAI(Tamat)

PESONA GADIS SINTAI(Tamat)
Tertipu


__ADS_3

Mami tersenyum ramah menyambut kedatanganku. Kemudian, dia mempersilahkan aku duduk di sebelahnya untuk bergabung dengan yang lain.


"Ini anak barunya! Namanya Yara, dari medan," katanya memperkenalkanku ke teman-teman lain yang rata-rata cewek semua.


"Orang Medan ya! Satu kampung dong, sama si Mellow!" seru salah seorang dari mereka.


"Iya, ini temennya si Amel. Dia yang bawa kemari," ucap Mami sebelum sempat kujawab. Kulihat wajah mereka berubah sinis menatapku. Seperti nggak suka dengan kehadiranku di sini.


"Satu kampung! Jangan-jangan sudah join nih sama si Mellow," cibir yang satu lagi.


Karena merasa dikucilkan oleh mereka, aku berinisiatif untuk berkata jujur saja. Bahwa aku dan Melly hanya teman lama, dari pada nggak ditemenin sama mereka nanti. Sepertinya, mereka nggak suka sama Melly, entah apa masalahnya. Lagipula, Melly kan nggak ada di sini, kurasa dia tidak akan marah. Sebagai anak baru, aku harus bisa menyesuaikan diri dengan mereka dan aku juga butuh teman.


"Nggak kok, dia temen aku waktu kecil dulu. Tapi dia udah pindah dan udah lama banget nggak ketemuan lagi. Baru kali ini aja ketemuan lagi dan aku minta kerjaan sama dia. Tapi dia bilang nggak ada. Setelah aku lama memohon, sebab lagi butuh banget, baru dia mau ngasi."


"Kenapa kamu tiba-tiba nanya kerjaan sama dia?"


"Kebetulan ada pengajian dirumahnya waktu itu, aku ikut sama ibu. Karena dia sudah sukses di perantauan, makanya aku pengen ikut juga." Entah kenapa, mulutku malah lancar bercerita semuanya pada mereka yang seharusnya nggak perlu aku ceritakan. Entah apa yang membuatku ingin berkata jujur kepada orang-orang ini, yang sama sekali belum aku kenal perangainya.


"Dia bilang kamu mau dikasi kerjaan apa?" 


"Kerja kafe."


"Lagi?"


"Nggak ada, nanti kamu juga tau sendiri. Cuma itu yang dia bilang."


"Kamu udah tau kita disini kerjaannya apa?"

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Kita tuh disini Bondon. Tau nggak Bondon?"


Aku menggeleng lagi.


"Bondon itu Lacur, Lont*. Kamu tau kan Lont*!" sambung salah satu dari mereka, yang terlihat paling bar-bar dari paras wajahnya.


Seketika darahku berdesir mendengar perkataannya itu. Rasanya tubuhku seperti berguncang dan ingin pingsan. Aku sangat kecewa pada Melly yang sudah tega sekali menipuku. Kenapa dia tidak menceritakan dengan gamblang kemarin, kalau pekerjaan yang dia tawarkan itu seperti ini adanya. Setidaknya, aku bisa berpikir dua kali untuk ikut dengannya.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Tanpa kusadari, tiba-tiba saja air mataku sudah jatuh membasahi bumi. Aku sangat menyesali keputusan dan langkah salah yang telah kupilih. Ternyata, bayanganku selama ini hanya sebatas angan saja. Dan ternyata, kemewahan yang Melly dapatkan selama ini bukan dengan cara yang baik. Kenapa dia harus berbohong, menipuku dengan mengatakan kalau dia bekerja sebagai sekretaris di hotel itu.


"Kasihan kamu Mbak, Mbak. Jauh-jauh datang kesini cuma jadi Bondon." Bukannya merasa kasihan, mereka malah mencibirku seperti itu.


"Udah, udah kerja sana! Nggak boleh seperti itu sama anak baru," ucap Mami pada mereka. Melerai.


*


Aku kembali naik ke lantai atas. Tak lama kemudian, Mami datang menyusul masuk ke kamarku. Mungkin dia merasa nggak enak karena dari tadi aku hanya diam dan nggak merespon sama sekali apa saja yang mereka bicarakan. Aku benar-benar kecewa dan berniat ingin pulang.


"Kalau kamu nggak mau melayani, kamu bisa menemani tamu yang minum saja. Nggak usah sampai ngamar segala," bujuk Mami padaku.


"Sayang juga kan, kalau kamu pulang sekarang belum sempat kerja. Jadi nggak bisa bawa apa-apa," ucapnya lagi seperti sedang merayu, agar niatanku tadi kubatalkan.


"Mami juga nggak enak sama Amel kalau sampai kamu pulang. Dia kan sudah nitipin kamu di sini sama Mami! Kamu itu sekarang jadi tanggung jawab Mami. Kalau sampai terjadi sesuatu nanti di jalan sama kamu, bagaimana?"


Benar juga apa yang Mami katakan. Waktu datang kesini pun, aku yang mengiba meminta pada Amel agar mau membawaku. Tapi, setelah aku tahu semua keburukannya di sini, kenapa malah aku meminta untuk pulang. Bukankah itu akan jadi beban sendiri untuknya? Dimana aibnya sekarang ada di tanganku.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika aku tetap memaksa, mungkin Mami dan Amel tidak akan membiarkanku pergi dengan mudah. Mereka pasti akan berbuat sesuatu agar aku tidak bisa keluar dari tempat ini. Entah pun mereka akan menyekap dan menjadikan aku tawanan di sini. Aku benar-benar merasa ketakutan.


"Bagaimana? Apakah kamu mau mengikuti saran Mami tadi?" Mami menyentuh bahuku pelan. Jujur, aku sangat takut melihat gelagatnya. Jangan-jangan dia ingin...Aku bergidik ngeri.


Aku mengangguk pelan tanda setuju. Untuk sementara, aku akan bertahan disini dulu, menunggu mereka lalai dan aku bisa kabur melarikan diri. Ada baiknya aku menerima sarannya barusan sebagai pelayan minuman saja. Jika aku sudah punya uang, barulah aku akan pergi diam-diam.


*


'Kak! ibu kos-kosan kakak datang lagi nih minta uangnya yang masih nunggak. Mamak juga belum ada uang. Jadi kami harus bilang apa?' 


Untuk kesekian kalinya, adikku_Ambang_berkirim pesan. Mengatakan kalau sudah beberapa orang datang menagih hutang Bang Diki ke rumah ibu. Padahal, aku sendiri tidak tau Bang Diki minjam uang itu berapa, ke siapa dan di habiskan untuk apa.


'Bilang aja bulan depan baru kakak lunasin, Dek!'


'Ya udah, nanti Ambang bilang sama Mamak.'


Aku membanting ponsel ke atas kasur secara asal, merasa kesal sama kelakuan Bang Diki yang masih saja seperti itu. Anehnya, entah kenapa orang-orang yang dia pinjami uang itu malah datang menagih ke rumah ibuku. Bahkan kata adikku, mereka menagih sambil marah-marah dan membentak-bentak. Kasihan sama ibu, sudah tua harus di bentak-bentak orang asing seperti itu.


"Kenapa, Ra? Ada masalah lagi?" Tiba-tiba Mami masuk ke kamarku.


Aku hanya menggeleng, malu jika harus bercerita sama Mami lagi. Selama di sini, dia sudah sangat banyak membantuku. Bahkan, dia juga yang membelikanku ponsel ini waktu itu, karena aku nggak jadi pulang dan mau menuruti semua perkataannya. Entah apa alasannya dia memberiku hadiah seperti itu.


"Kalau ada masalah lagi, cerita aja sama Mami! Nggak usah sungkan. Anggap saja Mami ini sebagai pengganti orang tua kamu di sini. Nanti, kalau kamu sudah cerita, biar kita cari bareng-bareng jalan keluarnya!" Dia duduk tepat di sampingku.


Aku yang sudah tidak tau lagi harus berbuat apa, akhirnya menyerah juga.


"Yara perlu uang lagi, Mi. Yara sudah siap untuk ngamar malam ini." 

__ADS_1


******


__ADS_2