
Kemudian, sebuah senyuman tersungging dari bibir merahnya. "Sudah pintar anak Mami rupanya! Sudah jadi orang bijak dia sekarang." Dia memujiku dengan penuh sanjungan. Sehingga aku tersipu malu di buatnya.
*
Sebelum pulang ke kafe, Mami mengajakku untuk berkeliling kota Batam terlebih dahulu. Menunjukkan lokasi tempat-tempat yang banyak di kunjungi di kota industri ini. Mami juga bercerita banyak tentang sejarah kota ini. Termasuk menceritakan sejarah berdirinya kawasan Sintai yang dulunya di rencanakan pemerintah sebagai Pusat Rehabilitasi para Pekerja **** Komersial yang terjaring di seluruh kota Batam.
Namun seiring berjalannya waktu, kawasan Sintai itu kini berubah menjadi pusat Lokalisasi Prostitusi yang dianggap legal oleh banyak orang. Tempat yang dulunya di harapkan sebagai tempat pembinaan para wanita malam agar kembali ke jalan yang benar dan bisa berbaur dengan masyarakat luas, kini malah berubah menjadi tempat pencetak para Pekerja **** Komersial itu sendiri, yang melegenda.
Banyak wanita-wanita muda dari luar daerah yang datang ke Kota Batam untuk mencari pekerjaan karena pesatnya pertumbuhan ekonomi di pulau ini. Namun diantara ribuan orang itu, tidak semua bernasib baik. Ada yang di jual, di tipu dan ada pula yang di tinggalkan begitu saja. Namun banyak juga yang datang ke Sintai dengan tujuan yang jelas karena merasa lebih aman dan dapat jaminan dari pemerintah. Yah, dari ribuan pendatang yang kurang beruntung itu, kami lah di antara salah satunya.
Aku hanya bisa menarik napas dalam, merasa sesak mendengar cerita Mami. Mencoba menerima nasib dan mengikhlaskan semuanya seperti yang Mami katakan tadi. Bagaimanapun juga, biarlah hitam menjadi hitam jangan harapkan jadi putih. Biarlah rembulan di atas sana jangan harapkan turun ke sini.
Eh, kok jadi nyanyi. Efek galau nih.
Setelah puas keliling-keliling, Mami mengajakku untuk singgah makan terlebih dahulu. Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, belum lengkap rasanya jika sedang bepergian kemana-mana tanpa makan terlebih dahulu sebelum kembali pulang. Mami memilih salah satu tempat nongkrong yang banyak di kunjungi oleh wisatawan dari luar daerah. Dan sudah cukup terkenal juga di kota Batam. Namanya Nagoya food court.
__ADS_1
Kami menikmati makan malam di sini, walaupun sebenarnya ini masih sekitar pukul lima sore. Tempatnya asyik, luas dan ramai pengunjung. Banyak Stand makanan yang berjejer menawarkan menu andalan mereka. Beranekaragam kuliner yang mereka jajakan. Banyak juga yang pakai bahasa Inggris dan Jepang di daftar menu yang mereka sodorkan. Mulai dari masakan tradisional, masakan daerah hingga masakan manca negara tersedia di sini. Aku lebih memilih menu yang sudah aku kenal saja, takut salah pesan kalau menu yang pakai bahasa asing. Takutnya nggak cocok di lidah. Maklum, lidah orang kampung. Nggak bisa asal makan sembarangan.
Tak lama, makanan yang kami pesan sudah datang. Aku mulai menyicipi ayam penyet Jakarta kesukaanku. Walaupun tadi aku melihat di salah satu stand ada juga yang menjajakan kuliner dari Medan, yaitu soto medan dan lontong medan. Tapi aku nggak memesannya. Malu sama Mami. Walaupun tadi rasanya ingin sekali menyapa waitres yang berjaga di sana. Mana tau dia juga orang Medan. Tapi niat itu segera ku urungkan. Medan itu kan luas. Andaipun dia asli orang medan, kami tidak saling mengenal juga,kok. Iya kalau dia ramah, kalau dia sombong gimana?
Aku saja yang lahir dan besar selama dua puluh empat tahun di kota Medan, belum menjalani seluruh seluk beluk kota itu. Bukan karena tidak memiliki waktu yang luang. Hanya saja tidak memiliki uang yang cukup. Apalagi untuk menikmati tempat-tempat makan yang populer seperti ini. Banyak sih di sana yang tidak kalah terkenal dari ini, seperti stand makanan yang ada di kawasan Kesawan, kota tertua di Medan. Ada juga stand makanan di Merdeka Walk. Tapi apalah daya, nasib rakyat jelata seperti saya. Dari pada nongkrong sekali duduk menghabiskan ratusan ribu rupiah, mendingan masak sendiri di rumah. Bisa untuk belanja dua atau tiga hari uangnya. Bukan pelit, sih. Tapi hanya sekedar ingin berhemat.
Kadang malu juga sama tamu yang datang ke kafe saat bertanya tentang Medan. Apalagi yang mereka tanyakan itu tempat hiburan malamnya seperti Capital Building misalnya. Mana kutehek. Orang aku tidak pernah singgah. Cuma lewat doang. Jadi orang Medan itu ternyata susah juga buat menyembunyikan identitas asli. Selalu saja ketahuan sama orang lain karena logat bahasanya. Jadi, sudah berkali-kali aku ketahuan berbohong.
Menatap makanan lezat yang ada di hadapan seperti ini, rasanya sedih juga. Teringat wajah Riki nan jauh di sana. Sudah makan apa belum ya dia? Apakah berdosa jika aku makan enak di sini sedangkan mereka entah makan hari ini entah tidak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
Aku mengangguk, mengiyakan. Tidak enak juga jika aku bersedih dan merusak suasana saat ini. Apalagi, kami juga baru saja tadi bersedih sama-sama.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Mami lagi.
Aku menggeleng, mencoba menyembunyikan kesedihan yang ada dalam hatiku agar Mami jangan sampai tau.
__ADS_1
Mami hanya memegang sendok dan garpu yang ada di atas piringnya. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jangan bohong sama Mami! Ngomong aja kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Mana tau Mami bisa bantu!" katanya lagi.
Aku menggeleng lagi sembari menyuap sesendok nasi agar aku terlihat baik-baik saja. Tapi, setelah nasi dan secuil daging ayam itu masuk ke dalam mulut, rasanya sangat sulit untuk ditelan. Terasa tercekat di kerongkongan yang membuat air mataku mengalir dengan sendiri.
"Kamu kenapa? Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, bilang saja sama Mami! Jujur saja, nggak usah malu!" Lagi-lagi Mami mendesakku.
" Yara rindu sama Riki." Akhirnya, kata-kata itu terucap juga dari mulutku.
Mami menyentuh bahuku. "Yang sabar ya! Kamu juga berjuang di sini demi dia. Biarlah kamu menangisinya sekarang, tapi jangan sampai kamu menangisinya di masa depan. Kamu harus bisa pastikan masa depan yang cerah untuk dia." Mami menguatkan.
Aku mengangguk dan mencoba mengusir rasa itu. Rasanya sangat sulit untuk di jabarkan. Andai saat seperti ini aku sedang berada di kafe tadi, mungkin aku sudah minum banyak untuk mengusir rasa itu. Yah, benar kata Dilan. Rindu itu berat. Aku saja tidak kuat. Rasanya ingin mati saja. Apalagi rindunya sama anak dan orang tua.
Ya Allah! Kuatkan Lah hati hamba yang lemah ini.
__ADS_1
*****